Pages

Perfect World Online Pointer

♫ E.V.O.S – Season II ♥ (Final Distance - 02) ♪

--.DelvetiaN.--


E.V.O.S (Eternal Violin of Symphony) – Season II ♥ (Final Distance - 02) ♪


Genre                          : Yaoi - Romance Fan Fiction
Author                        : Kiki Wellian S.
Background Song    : 
--JYJ – In Heaven
--Utada Hikaru - Final Distance (Music Box Vers.)
--キミがいるから~ココロのとなりで~\

Contact                      :
  • Fb        : Kiki Wellian Delvetian
  • Blog    : flipflop-delvetian.blogspot.com

*NB : Menerima Segala bentuk pujian, kritikan sopan, dan kritikan pedas tapi membangun. Selamat membaca! ^^”


Ini adalah karya ke dua Kiki. Semoga dapat menjadi cerita yang menarik bagi para pembaca.
Kiki berharap agar cerita ini dapat menjadi cerita yang lebih baik dari sebelumnya.
Selamat membaca… ^.^”
Terimakasih!


~Author P.O.V~

Selama beberapa hari Vicky tak sadarkan diri, namun cowok tersebut sering menemani Vicky di rumah sakit hingga Vicky tiba-tiba sadar dan membuka matanya perlahan

“Arrrggghhh!” lenguhnya!
“Kamu ngga’papa?” tanya cowok tersebut
“Si… Siapa kamu?”
“Aku yang nolongin kamu pas kecelakaan di jalan beberapa hari yang lalu. Nama kamu siapa? Kamu tinggal dimana? Biar aku bisa hubungi keluarga kamu.” Timpal cowok tersebut
“Aku…?”
“Iya, nama kamu siapa?” tanya Eric. Lalu Vicky tampak kebingungan dan berusaha mengingat namanya
“Arrrggghhh!” lenguhnya saat berusaha mengingat namanya
“Aku ngga’ tau!” gumam Vicky. Sedangkan cowok tersebut hanya terperangah melihat Vicky
“Wew! Are you okay?” tanya cowok tersebut
“Hindi malaman…!” Translate : “Aku ngga’ tau!” gumam Vicky
“Artinya apa? Pakai English aja. Aku ngga’ bisa bahasa tagalog!” timpal Eric
“Ouwh, sorry. Maksudku, aku ngga’ tau apakah aku baik-baik saja. Aku ngga’ bisa mengingat siapa aku, nama ku, di mana aku tinggal!” timpal Vicky bingung
“Jangan-jangan…” Eric segera menemui dokter yang ada di rumah sakit tsb. Kata dokter tersebut, bahwa Vicky mengalami amnesia karena benturan keras yang mengenai saraf otaknya. Namun ingatannya akan dapat kembali suatu saat nanti. Tapi itu semua butuh waktu yang cukup lama. Eric segera kembali ke kamar tempat Vicky di rawat. Dia mengambil beberapa barang yang Vicky kenakan saat kecelakaan tersebut. Suster meletakkan barang-barang tersebut di meja sebelumnya setelah mengganti pakaian Vicky dengan pakaian rumah sakit… Eric mencari-cari identitas tentang Vicky. Dia merogoh-rogoh isi tas dan celana jeans Vicky. Alhasil dia menemukan sebuah dompet putih, lalu di bukanya dompet tersebut.
“Hmmm… Nama nya Navicky Elfaneirus. Dia mahasiswa di BSU (Bulacan State University).” gumamnya setelah membaca kartu mahasiswa yang ada di dompet Vicky
“Ada apa?” tanya Vicky
“Nama kamu itu Navicky… Terus kamu itu mahasiswa di BSU. Ngga’ nyangka, kita satu universitas. Tapi kita beda fakultas, makanya aku ngga’ pernah lihat kamu.” timpal Eric
“Benarkah? Lalu, aku tinggal di mana?”
“Di sini juga ada alamatmu. Kalo’ kamu udah baikan, nanti aku yang akan nganter kamu pulang. Sementara ini aku mau ngunjungi rumahmu, mau ngabarin ke keluargamu kalo’ kamu lagi di rawat di rumah sakit.” gumam Eric
“Siapapun aku, siapapun keluargaku… Tolong, jangan kabari mereka. Aku takut, mereka pastinya akan sangat sedih!”
“Kenapa gitu? Justru kalo’ mereka ngga’tau kabar tentang kamu sama sekali malah mereka lebih sedih!” timpal Eric
“Tolong! Jangan kabari mereka. Setelah aku baikan dan keluar dari rumah sakit nanti, bolehkah aku tinggal di rumahmu?” tanya Vicky sopan
“What?” Eric terperangah
“Aku mohon!” rayu Vicky dengan wajah manisnya
“Okay, just till U’r remember everything!”  gumam Eric setelah berfikir beberapa saat. Vicky mengangguk senang
“Lagian aku ngga’mau keluargaku sedih lihat keadaan ku seperti sekarang ini. Aku juga ngerasa percuma ketemu sama mereka, soalnya aku aja ngga’ bisa nginget mereka.” keluh Vicky
“Ya udah, sekarang makan yuk!” tawar Eric, lalu segera mengambil semangkuk bubur yang telah di siapkan oleh pihak rumah sakit beberapa menit kemudian
“Ayo, buka mulutnya!” pinta Eric sembari tersenyum manis. Vicky ragu untuk menerima suapan dari Eric, namun akhirnya dia membuka mulutnya
“Enak?”
“Yeah!” gumam Vicky
“Makan yang banyak! Biar cepet sembuh! Terus minum obatnya tepat waktu. Aku akan selalu jagain dan rawat kamu…” Eric menggenggam tangan Vicky
“Thanks. Tapi siapapun kamu, bukankah kamu juga punya aktifitas? Apa kamu ngga’ kuliah, kok malah jagain dan ngerawat aku di sini selama beberapa hari ini?” tanya Vicky
“Sekarang kan masih masa-masa liburan setelah pergantian semester. Kuliahmu juga pasti masih libur! Nanti meski kamu tinggal di rumahku, kamu mesti tetep kuliah kalo’ liburannya udah selesai. Pasti dengan kehadiran teman-temanmu ingatanmu akan cepat kembali.” timpal Eric
“Yeah! That’s sounds great!” timpal Vicky

Selama beberapa hari Eric terus menjaga dan merawat Vicky di rumah sakit… Menyuapinya, membantunya memakai pakaian, membayar segala biaya administrasi rumah sakit, menghiburnya, mengajaknya jalan-jalan di taman sekitar rumah sakit, dsb.

“Dia sudah boleh pulang sekarang dok?” tanya Eric senang saat suatu hari dokter memberi kabar tsb.
“Iya, selama di rumah tolong pastikan dia makan teratur dan rutin meminum obatnya. Lalu, jangan biarkan dia terlalu memaksakan untuk mengingat masa lalunya. Karena akan berakibat fatal pada saraf otaknya.” pesan dokter
“Baik dok! Terimakasih!” Tak lama kemudian Eric segera mengantar Vicky menuju rumahnya
-
-
-

“Ini apartment ku!” gumam Eric setelah membuka pintu apartmentnya
“Rapi, Bagus! Pasti kamu orangnya rajin.” timpal Vicky
“Ngga’ juga. Haha… By the way, ini handphonemu yang aku temukan di celana jeansmu. Siapa tau di sana ada foto-fotomu dengan keluarga / teman-temanmu, jadi ingatanmu bisa cepet kembali.” Vicky menerima handphone tersebut, lalu setelah dia mengaktifkan HP tersebut, puluhan sms dan bbm segera masuk. Namun Vicky tak membacanya, percuma… Dia takkan mengingat apapun. Tak lama kemudian dia membuka galeri foto. Di sana ada banyak foto Vicky tengah berpelukan bersama seorang cowok. Ada juga yang tidur bersama dengan seorang cowok di sebuah kamar hotel, ada juga fotonya tengah berciuman dengan cowok lain lagi, bercumbu mesra, dsb. Tiap foto nya selalu bermesraan namun dengan cowok yang berbeda-beda.
“Jadi, siapapun aku. Apakah aku ini gay?” besitnya dalam hati. Dia begitu shyock melihat foto-foto tersebut
“Lalu, aku bercumbu mesra dengan banyak cowok. Apakah aku ini seorang gigolo?” besitnya dalam hati. Dia begitu shyock, lalu meremas kepalanya dan membanting HP nya di kasur. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, dia mengingat suatu saat ketika dia tengah berada di kamar hotel bersama seorang cowok. Dia dan cowok itu bercumbu di dalam sebuah kamar hotel. Lalu cowok tersebut menyodorkan amplop putih berisi uang yang begitu banyak setelah permainan tersebut berakhir.
“Arrrrggghhhhh!” lenguh Vicky sembari memegangi kepalanya
“Vick, kamu kenapa? Apa kamu ingat sesuatu?” tanya Eric cemas, lalu segera membantu Vicky merebahkan tubuhnya di kasur
“Apa aku harus cerita semuanya sama dia? Siapapun aku, pasti aku menutupi rahasia ku bahwa aku gay dan aku seorang gigolo. Kalo’ aku sampai cerita sama dia, pasti dia akan jijik dan membenciku, terutama dia pasti akan mengusirku dari apatmentnya. No! ! ! I won’t that’s happened.” besit Vicky dalam hati
“Ah! Engga’… Aku ngga’ ingat apa-apa soal foto-foto itu. Ngga’ tau kenapa tiba-tiba kepalaku sakit banget.”
“Terus, kenapa kamu banting HP mu tadi? Apa di foto itu ada kenangan pahit tentang masa lalu kamu?” tanya Eric
“Ehhhhmmm…” Vicky tak dapat menjawab pernyataan Eric, lalu Eric segera bangkit dan mengambil HP tersebut. Dia berniat untuk melihat foto-foto yang ada di HP tersebut. Namun Vicky segera mencegahnya, dia melarang Eric melihat foto-foto tsb. Pada akhirnya Eric mengambil HP tsb dan menyerahkannya ke tangan Vicky.
Tak lama kemudian Vicky membuka beberapa sms dan bbm yang ada di HP nya setelah dia mengaktifkannya lagi.

From : Mike
“Kamu dimana? Kamu udah bikin janji sama aku. Semalaman aku nunggu kamu di hotel, tapi kamu ngga’ dateng-dateng. Terus beberapa hari ini aku coba hubungin kamu tapi nomor kamu tapi ngga’ aktif.”

From : Key
“Aku pergi liburan sama Euri dan Mark. Maaf ngga’ bisa nemeni kamu selama liburan ini. Jaga diri baik-baik! Sekali lagi, jauhi club malam! Moga kamu kali ini mau dengerin kata-kata ku. Aku udah cape’ nasehatin. Kamu bener-bener keras kepala!”

From : Yoshi
“Aku pengen banget bisa tidur sama kamu dan ngerasain tubuh indah kamu lagi. Kapan bisa ketemuan lagi?”

From : (+63 2) 799-4022 (Unknown)
“Aku baca profil kamu di manjam. Aku tertarik banget sama kamu. Kapan bisa ketemuan? Aku juga pengen kayak mereka yang udah nyobain tidur sama cowok secakep kamu.”
-
-
-

Vicky makin shyock setelah membaca sms dan bbm tersebut. “Jadi, aku bener-bener gay? Terus aku gigolo? What?” besitnya dalam hati
 “Kenapa bengong? Ya udah, ayo makan! Sekarang kan waktunya minum obat lagi.” kata Eric. Vicky hanya mengangguk… Setelah selesai makan, Vicky tertidur. Eric beranjak dari tempatnya duduk dan membenarkan selimut Vicky.
“Tidur yang nyenyak!” Eric mengusap kepala Vicky lembut lalu menggenggam tangannya
“Aku seneng kamu ada di sini, Aku jadi ada yang nemenin. Biasanya aku sendirian, sepi banget!” gumam Eric, lalu beralih memandang wajah Vicky
“Kamu tampan juga! Begitu manis…” Lalu Eric tersenyum simpul dan segera tidur di samping Vicky.
-
-
-

“Kamu udah bangun dari tadi?” tanya Eric yang baru bangun dari tidurnya
“Hm’em… Kamu pules banget tidurnya!” Vicky tersenyum ramah. Dia tengah tiduran di samping Eric sembari memainkan HP nya
Eric hanya tersenyum, lalu memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Vicky
“Ada apa?” tanya Vicky
“Gapapa… Ehmmm, untuk masalah mobilmu tenang aja! Aku udah ngurus itu sejak tempo hari.”
“Thanks…” timpal Vicky
“Urwell!”
“Ehmmm… Aku boleh tanya sesuatu ngga’?”
“Apa?” timpal Eric
“Kenapa aku bisa kecelakaan waktu itu dan jadi seperti ini? Tolong ceritain semua yang kamu tahu!”
“Ehmmm… Waktu itu aku lagi mau ke toko roti. Aku mau nyeberang jalan, eh ngga’ taunya kamu melaju dengan mobilmu kenceng banget! Kamu kaget lihat ada aku yang lagi nyeberang jalan dan akhirnya kamu banting stir. Kamu nabrak pagar taman kota. Itu aja yang aku tau! Tapi waktu aku nolongin kamu, ada bau alkohol di tubuh kamu. Kemungkinan kamu nyetir pas lagi mabuk!” terang Eric
“Benarkah? Terus, kan aku hampir nabrak kamu karna kecerobohanku, tapi kenapa kamu malah nolongin aku? Harusnya kamu ngebiarin aku gitu aja! Kenapa kamu baik banget sama aku? Harusnya kamu benci banget sama aku!”
“Itu udah kewajiban aku. Kita mesti saling tolong-menolong! Aku ngga’ marah apalagi dendam sama kamu. Waktu itu aku langsung telfon ambulan dan di bantu sama beberapa orang yang lagi ada di situ.” timpal Eric
“Kamu baik banget, kamu nolongin aku, kamu bayar biaya rumah sakit aku, kamu selalu ngerawat dan ngejagain aku. Gimana aku bayar semua kebaikan kamu?” tanya Vicky. Kepalanya tertunduk lemas
“Ngga’usah! Aku tulus nolongin kamu.” Lalu Eric tersenyum simpul sembari menepuk bahu Vicky
“Ngga’ bisa! Tolong bilang, apa yang bisa aku lakuin buat bales semua itu? Please!”
“Ehmmmm….” Eric mulai berfikir
“Please! Aku ngga’ enak, aku pengen bales semua kebaikan kamu.”
“Aku ngga’ minta apa-apa. Aku cuman minta kamu nemenin aku! Jujur, aku tinggal di sini sendirian. Tiap hari aku kesepian! Moga meskipun kamu udah ingat semua ingatan kamu, moga kamu masih mau main ke sini.”
“Pasti…!” Vicky tersenyum simpul, lalu menepuk bahu Eric
“Thanks Vick!” lalu Eric menggenggam tangan Vicky yang ada di bahunya dan menggengamnya. Dia menatap Vicky begitu dalam, lalu tersenyum manis
“______” Vicky hanya terdiam, lalu melepas genggaman tangan Eric
“Sorry!”
“Gapapa kok!” timpal Vicky
“Ya udah, mandi sana! Hari ini aku mau ngajak kamu jalan-jalan mumpung masih liburan. Kan besok senin kita udah balik kuliah kayak biasanya. Pastinya kamu jenuh beberapa hari di rumah sakit terus!” tawar Eric
“Benarkah? Thanks! Kamu mau ngajak aku ke mana?”
“Udah lah! Mandi dulu… Aku punya kejutan buat kamu!” pinta Eric
“Haha… Dasar! Ya udah deh!” lalu Vicky masuk ke kamar mandi
-
-
-

“Kamu ajak aku kemana sih? Ngapain pake di tutup segala mata ku?” keluh Vicky
“Tunggu, kita bentar lagi nyampe.” lalu tak lama kemudian mobil tersebut berhenti. Eric segera membawa Vicky keluar dari mobil dan perlahan membuka penutup matanya
“Pantai…!” pekik Vicky
“Kamu suka? Pantai itu tempat yang tepat buat orang jenuh dan yang baru keluar dari rumah sakit. Setau aku sih gitu! Hehehe…”
“Hmmm… Aku suka! Pemandangannya indah.” komentar Vicky
“Hehe… Sekalian nikmati liburan, soalnya besok senin udah masuk lagi!” timpal Eric
-
-
-

@Apartment in Malolos City
“Mig, temenin aku jalan-jalan dong! Bosen di apartment terus selama liburan. Sekali-kali kita berdua jalan-jalan kemana gitu?” keluh teman dekat Mig di kampus sekaligus teman nya se’apartment di Malolos
“Aduh! Lagi males nih do… Kemana sih?” tolak Mig
“Pengen jalan-jalan ke pantai. Tapi kamu temenin aku ya! Please?” pinta Ardo
“Aduh! Males… Sini, tidur aja! Liburan gini kan enakan tiduran dan males-males’an di kamar.”
“Aduh! Ngga’ asik banget sih! Ya udah, aku keluar sendiri.” keluh Ardo
“Eh-eh! Jangan! Apalagi kamu mau ke pantai. Udah jauh, terus kalo’ sakit ashma kamu kambuh gimana?” Mig tampak khawatir
“Makanya, kalo’ kamu sayang sama aku, ayo temenin!”
“Hmmm… Iya-iya!” Mig segera berganti pakaian, mengambil sweater, dompet dan kunci mobilnya, lalu merapikan rambutnya
“Yeah!” Ardo tampak begitu senang saat Mig telah siap untuk menemaninya ke pantai
“Udah, jangan manyun lagi!” Mig mengusap pipi Ardo lembut. Ardo terlihat gugup, lalu mengenggam tangan Mig
“Thanks!” timpal Ardo, lalu memeluk Mig sebentar
-
-
-

Selama di perjalanan Mig hanya terdiam, menanggapi celotehan Ardo hanya dengan jawaban “Iya, Oh! dan Tidak!”
“Ehmmm… Kamu bawa apa aja sih di ransel? Kok ke pantai aja udah kayak nginap berminggu-minggu gitu? Besok senin kita udah masuk kuliah lagi.” tanya Mig
“Hehe… Gapapa! Kan basah-basahan di sana, jadi bawa baju ganti, perlengkapan mandi sama makanan buat kita nanti.”
“Piknik juga gitu?” tanya Mig heran
“Iya Mig! Kan romantis tuh piknik berdua di tepi pantai.” Ardo membayangkan hal tsb. lalu tersenyum senang
“Haha… Ada-ada aja! Whatever!” timpal Mig
“_____” Ardo hanya terdiam, lalu menggenggam tangan Mig. Sedangkan Mig menoleh ke arah Ardo dan tersenyum simpul
“By the way, kamu masih cinta sama Euri sampai sekarang?” tanya Ardo tiba-tiba
“Hah? Kenapa kamu tiba-tiba bahas masalah ini?”
“Jawab Mig? !” keluh Ardo
“Sebenarnya aku ngga’ tega bilangnya ke kamu, tapi dari pada aku nyalahi perasaan aku dan bohongin kamu jadi mending aku jujur aja!
Yeah! Aku ngga’ bisa hapus perasaan ku ke dia dari dulu hingga saat ini!” keluh Mig kalut
“Gapapa kok! Aku malah seneng kalo’ kamu jujur. Aku kan udah bilang, aku bakal hapus dia dari hati mu. Aku bakal bikin kamu bisa mencintai aku! Kasih aku kesempatan, Mig! Kamu tenang aja… Dan aku akan selalu ada buat kamu Mig!” Ardo mempererat genggaman tangannya pada tangan Mig
“Iya sayang!” goda Mig
“Tumben kamu panggil aku sayang? Hahaha… Seneng banget sumpah!”
“Hehehe… Ya udah, jangan cerewet mulu! Nanti ngga’ nyampe-nyampe. Aku mau fokus nyetir!” pinta Mig
“Iya sayang!” lalu Ardo menyandarkan kepalanya ke bahu Mig
-
-

0 komentar:

Posting Komentar