Pages

Perfect World Online Pointer

♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 11 – Best Friends)¸•°*”˜♥

--.DelvetiaN.--



˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 11 – Best Friends)¸•°*”˜


Author : Kiki Welliansyah
Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fantasy
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
• Twitt :
@Izmun_Dellionz


a story about Naufal Nafarone, as Naufal

and

Yelsin Malvino, as Malvin…

What happened?

May it’s real?

Where’s my soul?

Why must me?

When this bad dreams will be end?
Believed me… I never want it! I must be loved with HIM? Really, I hate it!


===========================================


~Author P.O.V~






Cerita Sebelumnya…


“Fal!” gumam Malvin lirih

“Pergi lo!” pekik Naufal

“Tapi, Fal! Guee..”

“Kalo’ lo ngga’ mau pergi dari hadapan gue, mending gue yang pergi!
Elo seneng kan lihat gue kayak gini?
Bukannya cita-cita lo sama geng lo tuh lihat gue dikeluarin dari geng Ijo lumut?!
Gue harusnya ngga’ ikutan sama masalah kalian berdua! Gara-gara kalian berdua, gue kehilangan semuanya. Dulu Key, sekarang gue kehilangan sahabat-sahabat gue, ntar apalagi?” kata Naufal, lalu bangkit dan berlalu dari kelas

Malvin hanya terdiam, sedangkan Sherly terus saja berusaha menenangkan Naufal.

“Anjrriiiiitttt!

Arrrrggghhhhhh!” pekik Malvin sembari meremas kepalanya


Hafiz dan Tristan hanya menatap Malvin dari bangku mereka. Malvin menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, “Kalian berdua mau ngeluarin gue dari geng ama team basket?” Namun Hafiz dan Alvid hanya terdiam…

“ Fine! Terserah kalian!” pekik Malvin penuh amarah


Sedangkan Hafiz dan Alvid hanya terdiam, lalu mengalihkan pandangannya.


Disisi lain Sherly terus saja berusaha menenangkan Naufal…

“Elo ngga’ usah ngikutin gue!” seru Naufal

“Elo mau kemana?” tanya Sherly penasaran

“Ke kantin. Pasti geng Ijo lumut lagi pada di sana.
Lo jangan ngikutin gue!” seru Naufal. Namun Sherly tetap saja mengikuti Naufal dari belakang

“Huh! Terserahlah!” gumam Naufal kesal

“Elo mau ngapain lagi sih pake’ nyamperin mereka segala?” tanya Sherly, namun Naufal tak menjawab

Sesampainya di depan kantin, Naufal segera mengedarkan pandangannya…

“Itu mereka!” gumam Naufal. Naufal segera berlari menuju meja tersebut. Sherly pun segera mengikuti Naufal dari belakang

“Ngapain lo ke sini? Elo bukan anggota geng ini lagi!” bentak Sandy

“Oh! Gue tau, lo ke sini mau ngemis-ngemis supaya kita bertiga mau nerima lo lagi, gitu?
Ngarep banget lo! Mending lo ke WC aja sama cowo’ lo tuh! Mesum… Kan enak pagi-pagi gini kan lagi dingin-dinginnya. Sekolah juga masih sepi, belum pada banyak yang dateng. Ahahahahaaa…” sahut Tristan. Sedangkan Fian hanya terdiam, berusaha menutupi rasa simpatinya terhadap Naufal

“Jaga mulut lo! Siapa juga yang ngarep buat balik ke geng alay kalian!
Ngga’ nyangka ya, persahabatan kita cuman sampe’ di sini. Jujur, asal kalian tau! Gue lebih kecewa sama kalian daripada Feldy dan juga gengnya. Ngga’ nyangka ya, kalian bertiga yang ngakunya sahabat sejati gue, katanya bakal selalu ada disisi gue disaat gue dalam keadaan bagaimanapun, juga bakal selalu support dan bantu gue ketika gue ada masalah apapun.

Tapi mana?

Tapi apa kenyataannya?

Bulshiiiittt!

Kalian ngga’ lebih dari sekedar Big Liar and Betrayer!
Kalian ngga’ jauh kok sama Feldy dan gengnya. Gue cukup tau aja siapa kalian sebenernya, kayak apa kalian sebenernya. Gue udah salah besar nilai kalian! Bahkan meski kejadian itu bikin gue sakit hati banget tapi seenggaknya berkat kejadian itu gue bisa tau, mana yang bener-bener sahabat gue dan mana yang bukan!” timpal Naufal geram. Sedangkan Sandy dan anggota geng Ijo lumut lainnya hanya terdiam sembari menatap tajam ke arah Naufal

“Udah lah Fal, kita balik aja yuk!” bujuk Sherly

“Bentar!” bentak Naufal

“Dan satu hal yang mesti kalian tau, gue ke sini bukannya mau ngemis-ngemis buat balik lagi ke geng banci milik kalian! Gue cuman mau ngejelasin masalah yang sebenernya itu kayak gimana, juga mau ngejelasin hubungan gue sama Malvin itu apa sebenernya biar kalian ngga’ mandang gue dengan gambaran sepicik itu! Kalian ngakunya sahabat gue, tapi apa?
Jangan kan ngesupport dan bantuin gue, dengerin penjelasan gue aja engga’!
 
Thanks deh buat semuanya, moga suatu saat kebenaran bakalan terungkap dan mata hati kalian bakalan kebuka! Karna meski gue kecewa banget sama kalian, tapi gue ngga’ mau kalian gambarin tentang gue dengan gambaran sepicik itu! ! !” terang Naufal, lalu berlalu. Diikuti Sherly yang langsung berjalan di samping Naufal

“Two thumbs buat lo, Fal!” seru Sherly bersemangat

“Apaan sih?!” gumam Naufal kesal. Namun sebenarnya dia berusaha menyembunyikan senyumannya

“By the way waktu kalian bentar lagi abis nih. Udah hampir satu jam!
Elo mesti cepet-cepet ketemu sama Malvin.” seru Sherly

“Oh, iya! Gue hampir aja lupa!”

“Ya udah, kita sekarang buruan nyari Malvin!
Tadi sih dia di kelas…” timpal Sherly. Naufal hanya mengangguk

“Oops! Gue lupa!
Toilet udah ngga’ aman lagi, Fal! Kita mesti nyari tempat yang lain di area sekolah buat kalian kissing. Kita mesti cepet nemuin, sebelum waktu kalian abis!


-
-
-


Di kantin…


Sedangkan disisi lain geng Ijo lumut tengah bertengkar hebat…


Braaaalkkk!


“Elo bisa diem nggakkk?!” bentak Sandy sembari memukul meja. Matanya menatap tajam ke arah Fian. Sedangkan Tristan hanya menatap Fian penuh amarah

“Eh! Asal kalian tau, apa yang tadi dikatain sama Naufal itu bener!
Kita sebagai sahabatnya harusnya selalu ada buat dia, support dia, bantu dia dan coba buat dengerin penjelasan dia. Tapi kalian berdua malah kayak gini!” balas Fian

“Oh! Jadi elo lebih belain si Maho itu dari pada geng lo sendiri? !” seru Tristan

“Gue gapapa kok kalo’ seandainya kalian mau ngeluarin gue juga dari geng dan boyband ini.
Saat ini Naufal butuh kita, sahabatnya!
Gue bakal selalu ada buat dia. Persahabatan gue sama dia ngga’ akan berakhir cuman gara-gara masalah yang saat ini dihadapi sama dia. Kita sebagai sahabatnya harusnya tetep nerima dia apapun keadaan dia. Kalo’ emang bener Naufal seperti itu, terserah dia kalo’ emang dia memilih jalan seperti itu. Asalkan apapun jalan yang dia pilih ngga’ berdampak negatif ke kita juga, Why Not? Sahabat sejati tuh sahabat yang bener-bener bisa nerima kita apa adanya apapun dan bagaimana pun keadaan kita.
Kalo’ kalian mau ngeluarin gue dan mau tetep musuhin dia, whatever!
Gue kecewa banget sama kalian!” seru Fian, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berlalu

“Shiiittt!” pekik Sandy geram sembari memukul meja. Sedangkan Tristan hanya menatap tajam ke arah Fian yang tengah berjalan menuju koridor hingga menghilang di tikungan

-
-
-

Sedangkan disisi lain,


“Otak lo jenius banget, Fel!” puji Bara, diikuti senyuman puas Dewa

“Iya dong! Gue gitu!”

“Trus apalagi rencana lo buat ngerjain Malvin?” tanya Dewa

“Tu… Tunggu! Sekarang ngga’ cuman Malvin, tapi Naufal juga udah ikut campur!
Kalian tadi denger sendiri kan, dia pake’ ngancem kita segala! Bakal ngebales kita lebih dari ini. Emang siapa dia, hah?” sahut Bara

“Elo bener, Bar! Ngga’ cuman Malvin, tapi Naufal juga!” seru Feldy

“Apa rencana lo selanjutnya?

Elo ngga’ mau kan kena balesan dari Naufal ama Malvin duluan?” tanya Dewa

“Kalian lihat aja nanti!” gumam Feldy, diikuti senyuman simpul Bara dan Dewa

“Hahaha… Gue puas banget! Berkat kejadian ini mereka berdua pasti dikeluarin dari geng dan juga team basket ama boyband mereka. Dan berkat itu, Malvin ngga’ akan ikutan kompetisi basket tahun ini!” seru Feldy puas

“Elo bener, Fel! Ahahahaaa…
Dan ngga’ akan ada lagi cewek-cewek yang naksir mereka, juga ngga’ akan ada lagi orang yang mau temenan sama mereka. Mereka bakal bener-bener tersiksa selama di sekolah!
Masih mending kita cuman ngelihatin foto itu dari Hp, ngga’ pake’ majang foto itu di mading sekolah! Kalo’ guru-guru sampe’ tau, bakal lebih menderita mereka. Ahahahahaa…!
Apalagi ketahuan KepSek!” timpal Bara

“Good Job!”


-
-
-


Disisi lain, setelah bertemu dengan Malvin, tak lama kemudian jiwa mereka bertukar kembali. Naufal di dalam tubuh Malvin dan sebaliknya…

“By the way, elo masih benci sama gue, Fal?”

“_____” Naufal hanya terdiam

“Fal?”

“Dikit…” gumam Naufal

“Hahahaa… Bagus dong! Dikit-dikit lama-lama menjadi bukit!” ujar Malvin

“Lo pikir tabungan? !” seru Naufal ketus. Malvin hanya terbahak, diikuti tawa Sherly. Sedangkan Naufal hanya menatap Malvin kesal, namun sebenarnya dia berusaha menahan tawanya


Tak lama kemudian tiba-tiba datang seorang cowok yang menghampiri Naufal...


“Ngapain lo ke sini?” ujar Naufal

“Gu… Gue…”

“Pergi lo! Mending lo kumpul sama mereka aja!
Kalian itu sama aja tau nggakk!” bentak Naufal

“Fal, jangan gitu lah! Gue tau kalo’ lo kecewa sama mereka, tapi coba biarin dia ngomong dulu!” gumam Sherly

“Ya udah, lo mau apa ke sini?” ujar Naufal

“Gi… Gini…
Setelah lo ngomong kayak gitu di kantin, gue sama anggota geng Ijo lumut lainnya pada ribut.
Gue mulai sadar karna kata-kata lo itu dan berniat mau terus sahabatan sama lo tapi Sandy sama Tristan berbeda pendapat sama gue.

Bahkan gue udah ikhlas kok kalo’ seandainya mereka bakal ngeluarin gue juga dari geng ama boyband itu. Walaupun sekarang ini boyband kita udah terkenal banget, sering perform di mall-mall, tapi gue ngga’ masalah. Persahabatan itu lebih penting!
Maafin gue, Fal! Harusnya sebagai sahabat gue selalu ada buat lo, support dan bantu lo!” terang Fian

“_______” Naufal hanya terdiam, dia begitu terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Fian

“Hahaha… Tumben omongan lo keren gitu! Berbobot! Hahahaaa… Biasanya kan lo Oneng!

Engga’, gue yang harusnya minta maaf…
Thanks banget, Yan! Gue salut banget sama lo! Elo lebih milih gue dari pada mereka.
Gue ngga’ nyangka lo bisa ngelakuin ini.
Maafin keegoisan gue tadi. Padahal geng dan boyband itu sekarang  lagi famous-famousnya, tapi lo malah lebih milih gue.” gumam Naufal

“Ahahahaa… Lebay lo, Fal! Kata-katanya lebay!
Biasa aja kali’! Gue kan sahabat lo!” ledek Fian

“Eh, sialan! Elo tuh yang lebay!” protes Naufal

“Elo!”

“Udah-udah! Ngga’ usah rebutan gelar alay!
Bukannya kalian semua geng Ijo lumut itu pada lebay ya? Ahahahaaa…” celetuk Malvin

“Sialan! Ngajakin berantem lagi lo?
Panggil geng lo! Ayoooo…!” seru Naufal dan Fian serempak

Sedangkan Sherly dan Malvin hanya tertawa geli…

“By the way, gue juga dikeluarin kok dari geng gue.” gumam Malvin lirih

“WHAATT? !” pekik Naufal dan Fian serempak

“Iya… Tapi gapapa kok! Gue sadar, kalo’ emang mereka sahabat gue harusnya mereka bisa nerima gue apa adanya. Malahan harusnya support dan bantu gue. Awalnya emang gue kecewa, kesel juga. Tapi gapapa lah!
Kan sekarang sahabat gue tuh kalian! Hehehe…” terang Malvin

“Hahaha… Bisa aja lo, Vin!” timpal Fian

-
-
-

Sepulang sekolah, Malvin, Sherly dan juga Fian berniat mengunjungi rumah Naufal bersama dengan Naufal.


Di dalam mobil…


“Asiiikkk! Nyaman banget!
Ada AC nya, kursinya empuukk, desain out & indoornya keren, ada layarnya juga di sini, bisa muter musik juga!” komentar Naufal saat Sherly baru saja melajukan mobilnya

“Eh, lo jangan malu-maluin lagi dah!” ledek Naufal, lalu terbahak bersama Malvin dan juga Sherly

“Hehehee… Maklum, ini pertama kalinya gue naik mobil mewah.”

“Emang biasanya lo naik mobil apa?” tanya Malvin

“Waaaahhhh! Jangan salah, mobil gue keren banget! Warnanya item metallic, trus gue kalo’ pulang sekolah gitu dijemput diperempatan deket sekolah trus dikemudiin sama sopir pribadi gue!”

“Wew! Serius lo, Yan? Asik dong?
Trus kenapa lo sekarang masih katrok naik mobil mewah kayak gini? Pake’ bilang kalo’ baru naik mobil mewah untuk pertama kalinya pula! Elo kan juga punya, plus ada sopir pribadinya pula yang siap nganterin elo.” timpal Naufal

“Hahahaaa… Emang bener ini pertama kalinya gue naik mobil mewah, soalnya gue biasanya pulang dijemput diperempatan deket sekolah tuh, yang kata gue mobilnya mewah, item metallic, itu tuh sebenernya angkot! Hahahaa…”

“Ngoookkk!” Naufal menjewer telinga Fian

“Aduduuhhhh…! Sakiittt bego’!
Elo kayak Emak gue aja sih, maennya jewer!” protes Fian. Malvin dan SHerly hanya terbahak

-
-
-


©@Citra Land – Surabaya

Di rumah Naufal…


“Wah, panas-panas gini enaknya minum es nih! Pasti seger banget!” celetuk Fian

“Dasar!

Mau minum apa?” tanya Naufal

“Terserah deh, yang penting manis! Hahaha…” timpal Fian

“Iya-iya, tunggu bentar…”

“Gue juga ya, Fal!” seru Sherly

“Beres!” gumam Naufal

“Malvin juga dong! Hahahaa… Sampe’ kapan sih lo benci sama dia?” goda Sherly

“Diem lo!” sungut Naufal, lalu berlalu menuju dapur diiringi gelak tawa anak-anak

Sherly dan Malvin terduduk lemas di sofa, sedangkan Fian berjalan-jalan melihat-lihat beberapa perubahan dalam rumah Naufal.

“Wah, cukup banyak yang berubah! Udah lama ngga’ pernah maen ke rumah lo lagi.

Terutama ini nih…” gumam Fian, lalu menghampiri ruang keluarga

“Fal, ini TV?” seru Fian

“Iya lah, masa’ tremos aer!” sungut Naufal

“Waaahhh…! TV lo baru ya?

Belinya dimana?” seru Fian

“Di toko elektronik lah, masa’ di toko pakan hewan!” sungut Naufal yang mulai kesal

“Pasti mahal ya?

Emang berapaan?

Emang nih TV bisa ngapain aja sih?

Nih TV lebar amat layarnya, tapi tipiiiiisss banget!

Ini TV apa keripik tempe sih? Ngga’ takut patah apa ya kalo’ beli TV ginian?
Mending TV gue, gedhe jadi ngga’ takut patah! Nah, ini tipis amat!” gumam Fian sembari menekan-nekan tombol TV tersebut dan mengambil remote TV yang ada di meja

“Waaaahhhhh! Gambarnya gedhe dan jelas banget! Puas banget!
Suaranya juga keras amat! Ini TV apa layar tancep? Hahaha… jadi inget kampung nih! Berasa nonton layar tancep ama warga kampung. Hahahaaa…
Jadi kangen sama Pak Kades. Hehehee…” komentar Fian saat TV tersebut dinyalakan

“Eh, lo bisa diem ngga’?” omel Naufal sambil mengacungkan pisau. Sherly dan Malvin hanya tertawa di tempat

“Wiiddiiihhhh…! Sadiiiisssszzzttt!” gumam Fian

Beberapa menit kemudian Naufal kembali ke ruang tamu dengan membawa empat gelas minuman. Anak-anak pun segera meminumnya,

“Emang pembantu lo kemana?” tanya Sherly

“Ngga’ tau! Keluar kayaknya. Ngga’ tau kemana…”

“Ya udah, lo mau ngomong apaan Fal, pake nyuruh kita bertiga ke sini?” tanya Fian

“Elo sukanya to the point’an ya! Sabar napa!”

“Yeee… Ngamuk mulu’ dari tadi!” sungut Fian

“Hmmm… Jadi gini, dulu kalian semua penasaran kan sama siapa orang yang mukulin gue sampe’ babak belur di lab kimia?” ujar Naufal membuka obrolan

“Iya!”

“Siapa?”

“Ngga’ usah jauh-jauh!” terang Naufal

“Jangan-jangan si Feldy maksud lo?” timpal Sherly

“Yap!”

“Elo serius Fal? Kenapa lo dulu ngga’ mau ngasih tau ke gue? Kenapa?
Kalo’ lo dulu ngasih tau ke gue, pasti udah gue bales tuh anak lebih dari itu!” gerutu Malvin

“Sabar Bang, sabar…!” ujar Sherly

“So… Soalnya dia ngancem gue! Trus gue juga ngga’ mau kalo’ masalah lo sama dia makin berlarut-larut. Sampe’ kapan sih kalian bakal musuhan kayak gini terus? Balas dendam bukannya menyelesaikan tapi malah memperkeruh masalah.
Gini ceritanya…” gumam Naufal, lalu bercerita panjang lebar

“Jadi karna peristiwa dulu, waktu gue ada di tubuh lo dan nimpuk bola basket ke Feldy, dia jadi bales dendam ke lo?” tanya Malvin antusias

“Iya…! Dia ngga’ cuman mukulin gue di lab, tapi sebelumnya dia berniat…”

“Udah, jangan diterusin! Gue emosi banget dengernya!” potong Malvin

“Gue juga!” sahut Sherly. Sedangkan Fian mengangguk mantap

“Sekarang lo sama Sherly udah mulai memahami gue kan?
Alasan gue benci sama lo karna banyak hal yang udah gue alami cuman gara-gara elo. Dari mulai tubuh kita tertukar karna sumpah serapah nya Sherly yang udah lo sakitin hingga dia bales elo, trus Feldy jadi ikutan ngincar gue selama dua tahun terakhir gara-gara kejadian di ruang ganti olahraga itu, hingga sekarang ini, Masalah foto itu…

Gimana caranya gue bisa ngga’ benci sama lo Vin, kalo’ masalah yang gue alami begitu kompleks cuman gara-gara elo?

Dan dari semua itu yang bikin gue paling ngga’ rela, karna gara-gara elo, gue jadi kehilangan Key.” terang Naufal. Sedangkan Malvin hanya terdiam sembari menahan amarah dan kebencian terhadap dirinya sendiri

“Elo emang ngga’ berguna, Vin!” gumam Malvin dalam hati

“Gue paham, Fal! Paham banget!
Maafin gue karna udah ngatain lo egois waktu itu…” gumam Sherly

“Gapapa… Yang penting sekarang lo udah ngerti.”

“Elo pantes kok benci sama gue, Fal! Gue pantes nerima semua ini. Maaf banget, karna gue, elo jadi menderit, Fal!
Trus yang bikin gue paling emosi, gara-gara Feldy yang udah mukulin lo dan berniat ngelakuin itu ke elo waktu di lab itu!
Gue bener-bener ngga’ terima, Fal! Gue bakal bales dia, pasti! ! !” ujar Malvin sembari meremas kepalanya

“Eh, tunggu deh! Feldy sama gengnya mau gituin elo?
Elo kan cowok, Fal! Kalo’ mereka berniat gituin elo, berarti mereka ‘itu’ dong?” sela Sherly

“Eh, iya! Bener juga!
Tapi bisa-bisanya mereka ngelihatin foto gue ama Naufal padahal mereka tuh yang sebenernya ‘begitu’. Demen sama co… co… cowok!” tambah Malvin

“Tu… Tunggu! Kalian ngomongin apaan sih ini?
Gue sih paham-paham aja yang lainnya, tapi yang bikin gue ngga’ paham tuh apa yang kalian maksud dengan tukeran tubuh? Trus bukannya kejadian waktu itu tuh elo sendiri yang nimpuk bola basket ke Feldy sampe’ hidungnya berdarah, Fal? Sekarang kenapa elo malah nyesel?
Elo berniat belain Malvin, padahal dia musuh kita. Tapi sekarang elo sendiri yang nyesel, karna masalah itu Feldy jadi ngincer elo. Gue ngga’ paham di sini. Itu kan kehendak lo sendiri, kenapa sekarang elo yang nyesel apalagi pake’ nyalahin Malvin? Malvin kan ngga’ ngapa-ngapain…

Trus, Key itu bukannya sodara lo yang dari Fillipina itu? Emang lo kehilangan dia kayak gimana sih? Gue ngga’ paham!

Oh ya, satu lagi! Dari tadi gue pengen nanya tapi takuuuttt…

Se… Sebenernya kenapa sih kalian berdua ciuman di toilet diem-diem? Apa bener kalian ‘itu’… Ehmmmm… Gitu lah!

Trus, bukannya peraturan di geng kita itu ngga’ boleh pacaran, tapi kenapa lo malah pacaran, sama Malvin pula. Dia kan cowok! Trus foto lo ama dia ciuman udah kesebar tadi.” tanya Fian

“Eh, nanyanya satu-satu! Gue aja lupa sama pertanyaan lo. Banyak amat!” omel Naufal

“Heheheee… Ya maaf!” timpal Fian

“Haduuuhhh… Bakalan cape’ dan seret nih!
Gue ceritain dari awal ya, gini…” kata Malvin, lalu bercerita panjang lebar

“WHAAATTTT?” pekik Fian tak percaya

“Itu semua bener!” timpal Sherly

“Ngga’ mungin… Mustahil!” seru Fian

“Ngga’ usah teriak-teriak kali’!” omel Naufal

“Makanya itu, jadi si Feldy itu kemungkinan mergokin gue sama Naufal pas ciuman di toilet buat tukeran posisi. Karna gue harus latihan basket dan Naufal latihan boyband.
Trus, gue sama Naufal selama ini ciuman tuh bukannya maho, homo, atau apalah! Tapi karna masalah itu kita harus sering ciuman. Walaupun kita ngga’ homo, tapi pada akhirnya kita mesti dituntut buat bener-bener tulus saling cinta supaya bisa balik ke tubuh masing-masing. Jadi ya sama aja belajar buat jadi homo. Huft!

Trus, waktu di basket itu tuh gue yang ada di tubuhnya Naufal dan sebaliknya. Makanya itu Feldy nyakitin Naufal yang lagi ada di tubuh gue. Feldy ngira kalo’ itu tuh gue. Gue ngga’ terima lihat Feldy nyakitin Naufal, jadi gue bales nimpuk Feldy sekenceng-kencengnya. Dan bego’nya, gue tuh lupa kalo’ gue lagi ada di tubuh Naufal. Makanya itu Feldy ngebales Naufal pas di lab kimia itu. Elo bisa nangkep kan maksud gue? Emang sih agak rumit!” terang Malvin panjang lebar

“Aduhhhh… Rumit amat sih?

Gue sih bisa nyerna dikit-dikit, tapi gue masih belum percaya kalo’ jiwa kalian emang ketuker.
Kalo’ sekarang gimana? Kalian ada di tubuh masing-masing atau ketukar?”

”Sekarang ini gue ada di tubuh gue sendiri dan sebaliknya. Soalnya sepulang sekolah tadi gue ciuman sama Malvin tapi ngga’ di toilet, di tempat lain. Toilet udah ngga’ aman soalnya.
Bentar lagi juga satu jam kami abis, jadi ntar lo bisa ngerasain perbedaannya waktu gue0 jadi Malvin dan sebaliknya.” terang Naufal

“Oh, gue paham sekarang. Trus, yang masalah Key itu gimana?” tanya Fian

“Oh, itu masalah pribadi gue! Elo ngga’ perlu tau. Tapi gue janji, kalo’ gue udah siap buat buka diri gue, siapa gue sebenernya, gue bakal kasih tau ke elo kok!” timpal Naufal

“Wah, ngga’ asik!

Ya udah deh!” protes Fian


Beberapa menit kemudian,


“Ehhhmmmm…!” lenguh Malvin dan Naufal

“Ke… Kenapa kalian?” seru Fian kebingungan

“Biasa, waktu mereka udah abis. Elo ngga’ usah khawatir!” terang Sherly

“Se… Sekarang Naufal ada di tubuhnya Malvin?” tanya Fian

“Yup!” timpal Sherly


Perlahan Malvin dan Naufal mulai membuka mata satu per satu. Sedangkan Fian tengah terbengong-bengong dan kebingungan mengamati mereka berdua…


“Fal?”

“Bukan! Gue Malvin. Naufal ada di tubuh gue.” terang Malvin

Perlahan Fian mendekati tubuh Malvin, “Fal? Elo ada di sini?” tanya Fian gugup

“Iya! Ini gue. Kalo’ lo ngga’ percaya, lo bisa ngajuin pertanyaan tentang apa pun yang hanya kita berdua sama geng Ijo lumut doang yang tau.” terang Naufal

“Ehmmmm… Apa sebabnya Sandy mau nerima gue di geng kita waktu dulu? Padahal gue cupu banget, ngga’ gaul sama sekali, kamseupay pula!” tanya Fian sembari mengingat masa lalu

“Karna waktu itu lo selalu nolongin kita bertiga. Elo dengan ikhlasnya mau-maunya nurutin permintaan Sandy buat ngerjain tugas kita bertiga waktu kita lupa ngerjain PR ama tugas-tugas sekolah. Elo juga pendengar yang baek. Terus, gue kasihan sama lo! Apalagi lo banyak dibully dan dikerjain sama anak-anak di sekolah karna lo kampungan dan polos banget. Gue kasihan sama lo, akhirnya gue ngebujuk dan maksa Sandy supaya masukin lo di geng kita supaya lo ngga’ diinjek-injek lagi sama mereka. Awalnya dia marah-marah dan nganggep gue gila karna masukin orang kamseupay kayak elo, tapi lama-lama dia bilang “Terserah lo aja deh! Tapi kalo’ dia bikin geng kita turun pamor, awas aja!”
Dan lo akhirnya masuk ke geng kita hari Jumat, 07 Oktober 2011.” terang Naufal

“Gilaaaa…! Kereeennn-kereeennn! Elo inget banget sih?
Sekarang gue bener-bener percaya sama semua cerita kalian.” seru Fian. Naufal, Malvin dan Sherly hanya tersenyum simpul

-
-
-

To Be Continued






♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 10 - The Bitter Kisses)¸•°*”˜♥

--.DelvetiaN.--




♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 10 - The Bitter Kisses)¸•°*”˜♥


Author : Kiki Welliansyah
Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fantasy
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
• Twitt : @Izmun_Dellionz


a story about Naufal Nafarone, as Naufal

and

Yelsin Malvino, as Malvin…

What happened?

May it’s real?

Where’s my soul?

Why must me?

When this bad dreams will be end?
Believed me… I never want it! I must be loved with HIM? Really, I hate it!

===========================================


~Author P.O.V~






Cerita Sebelumnya…


~Flash back~


Sepanjang hari mereka berdua menjalani hukuman tersebut, hingga bel tanda pulang sekolah berbunyi dan hanya mereka berdua yang masih berada di dalam kelas tersebut. Anak-anak lainnya sudah pulang beberapa menit sebelumnya…

“Cape’ kan? Pegel?” ujar pendamping kelas tersebut

“Banget kak!” keluh Naufal

“Ya udah, hukuman kalian udah selesai. Lain kali jangan kayak gitu lagi! Paham?” seru pendamping kelas tersebut, lalu segera berlalu

“Thanks kak!” seru Naufal senang, lalu segera duduk untuk melemaskan otot tangan juga kakinya

“Eh!” lenguh Naufal kaget, saat Malvin mendekat ke arah wajahnya. Kini wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa centi. Seketika itu jantung Naufal pun berdegup kencang, darahnya berdesir hebat.

“Thanks!” gumam Malvin sembari mengusap peluh yang ada di kening Naufal

“_______” Naufal hanya terdiam, ia begitu gugup

“Kok diem? Pulang yuk?”

“Eh, sorry! Iya-iya!” timpal Naufal gugup

“Elo naik apa? Mau bareng gue?”

“Ngga’ ah! Gue udah biasa naik bus.” Tolak Naufal

“Gapapa… Emang rumah lo dimana?”

“Di Citra Land.”

“Beneran?”

“Iya! Emang kenapa?”

“Rumah gue juga di daerah situ. Gue baru pindahan di situ.”

“Hah? Seriusan?” timpal Naufal tak percaya

“Iya! Rumah gue di blok E.”

“Tu… Tunggu! Jangan-jangan rumah lo blok E No. 09?
Soalnya di blok E cuman rumah itu yang kosong dan katanya sih bakal dihuni sama orang baru.” tanya Naufal

“Kok lo tau?”

“Rumah gue di seberang rumah itu!” terang Naufal

“Oh ya? Serius?”

“Iya!” seru Naufal bersemangat

“Kebetulan banget! Berarti kita tetanggaan.
Ya udah, lo pulangnya bareng gue aja!”

“Iya deh!”

“Gitu dong!”
-
-
-


Sejak itu lah mereka mulai dekat, mulai saling mengenal…
Tak butuh waktu lama untuk menjalin keakraban diantara mereka.
Baik Naufal maupun Malvin, mereka sering bermain di rumah satu sama lain.
Keluarga Malvin maupun Naufal begitu saling mengenal.
Tak hanya di lingkungan rumah, mereka berdua juga selalu bersama ketika berada di sekolah. Hingga suatu hari, mereka berdua saling membenci satu sama lain.

Mereka berdua akhirnya menjadi musuh, sama-sama memiliki geng mereka masing-masing.
Setiap hari mereka saling mengolok, menjatuhkan, mengalahkan, dsb.
Semua itu karena ulah Feldy dan kedua sahabatnya…


“Guys!” seru Feldy pada kedua sahabatnya

“Yoi?” jawab mereka berdua serempak!

“Makin hari si Sherly makin deket aja sama si Malvin. Tuh anak ngga’ dengerin omongan gue! Awas aja ntar!” seru Feldy sembari menatap tajam ke arah Malvin yang tengah bersenda gurau dengan Sherly

“Kalian ada rencana buat ngerjain dia?” tanya Feldy pada kedua sahabatnya

“Apaan ya?” gumam Bara

“Tunggu…! Gue punya ide!” sahut Dewa

“Apaan?” tanya Feldy penasaran

“Kita ancurin aja persahabatannya Naufal sama Malvin. Kalian berdua tau kan, kalo’ mereka berdua itu deket banget sejak masa MOS sampe’ sekarang. Coba bayangin kalo’ persahabatan mereka ancur!
Lo pengen banget kan lihat Malvin menderita, Fel?

Kalo’ si Malvin kehilangan sahabatnya, pasti dia bakalan menderita banget!” terang Dewa

“Walau agak gimana gitu rencana lo, tapi oke juga! Lagian gue juga lagi ngga’ ada ide buat ngerjain dia.” timpal Feldy

“Nih, gue udah ada rencana buat persahabatan mereka bubar…!”

“Apaan?” tanya Feldy antusias

“Gini, elo tau kan kalo’ Malvin dari dulu suka sama Naya?” kata Dewa

“Hm’em… Trus?” timpal Feldy

“Kita adu domba mereka berdua melalui Naya. Elo paham kan maksud gue?”

“Good job!” seru Feldy bersemangat

-
-
-

~End Flash back~



“Vin!” seru seseorang yang membangunkan lamunan Naufal. Diikuti dua orang anak yang berlari di belakangnya, lelaki tersebut berlari melewati koridor

“Gimana keadaan Naufal?” Tanya Sandy sembari menghela nafas

“Udah agak baikan sih!” timpal Naufal yang saat ini tengah berada di dalam tubuh Malvin

“Ya udach guys, kita buruan lihat keadaan Naufal yuk!” seru Sandy, lalu melangkah masuk menuju ruangan tersebut diikuti Fian dan Tristan


-
-
-

Beberapa bulan kemudian…


~Author P.O.V~


“Fal?”

“Eh!” Naufal tersentak kaget

“Ngapain lo di sini?”

“Eh! Ehmmm… Nungguin nyokap. Rapat wali murid untuk pengambilan raportnya belum selesai ya?” tanya Naufal

“Bentar lagi kayaknya. Emang lo ngapain di sini? Kenapa ngga’ di kantin aja bareng anak-anak yang lain?”

“Nggg… Gapapa! Lagi pengen sendiri aja!” timpal Naufal

“_______” Gadis tersebut hanya terdiam, lalu membalikkan badan

“Kemana?” tanya Naufal

“Gue takut ganggu lo aja! Katanya pengen sendiri?”

“Engga’ kok!

Duduk!” seru Naufal

“Aneh ya!”

“Apanya yang aneh?” tanya Naufal bingung

“Udah hampir dua tahun lo ada di tubuhnya dia, tapi tetep aja gue masih belum bisa terbiasa.” komentar gadis tersebut

“Maksud lo apa, Sher?” gumam Naufal

“Begitu lah! Gue yakin sebenernya elo paham kok sama maksud gue. Walaupun kalian berdua cukup sering ciuman buat balik ke tubuh masing-masing, tapi tetep aja kalian lebih banyak menghabiskan waktu bukan di tubuh kalian masing-masing.” terang Sherly

“Trus, maksud lo dengan kata “aneh” apa?”

Sherly tersenyum simpul, lalu menepuk bahu Naufal. “Yang bikin aneh, meskipun kalian udah ngejalanin hal ini selama hampir dua tahun, tapi sampe’ sekarang gue masih ngerasa ganjil waktu ngomong sama elo disaat lo ada di tubuh Malvin.” terang Sherly, lalu membenarkan dasinya

“Dasar!” seru Naufal sembari menjitak kepala Sherly, lalu tersenyum simpul

“Sakit bego’!”

“Hahaa… Sorry!”

“Ngga’ kerasa ya, sekarang kita udah kelas XII. Bentar lagi kita bakalan ninggalin masa-masa SMA.” gumam Sherly

“Iya juga ya!”

“Fal?”

“Hmmm…?” gumam Naufal sembari menatap langit

“Gue mau ngomong sesuatu sama elo!” pinta Sherly sembari menggenggam tangan Naufal

“Apa? Kayaknya serius banget!”

“Elo tau kan, sekarang udah dua tahun lebih kalian berdua ada di tubuh yang berbeda.”

“Trus?” gumam Naufal

“Apa lo ngga’ mau buka hati buat Malvin?
Supaya kalian berdua bisa cepet balik ke tubuh masing-masing. Dua tahun bukan waktu yang singkat, Fal!” terang Sherly

“________” Naufal hanya terdiam, lalu menatap rerumputan hijau dengan pandangan kosong

“Fal?”

“Please, jangan bahas ini lagi…”

“Elo ngga’ kasihan sama Malvin?
Dia udah nunggu selama dua tahun supaya lo mau nerima dia, supaya kalian bisa cepet lepas dari masalah itu. Apa lo ngga’ kasihan sama dia?
Apa lo ngga’ cape’ selama dua tahun hadapin masalah itu?”

“Percuma…”

“Kenapa?” seru Sherly

“Percuma, karna gue belum bisa tulus cinta sama dia. Meski dari dulu gue nerima dia, tapi kalo’ gue belum bisa tulus 100% tetep aja masalah itu ngga’ akan selesai.
Jadi lo jangan nyalahin gue karna sampe’ sekarang masalah itu belum juga selesai.”

“Gue bukannya nyalahin elo, tapi…”

“Gue butuh waktu, Sher!”

“Elo selalu ngomong gitu! Sampe’ kapan lo butuh waktu?
Dua tahun masih kurang, hah?
Lo ngga’ kasihan sama Malvin, sama segala pengorbanannya selama ini buat lo, sama segala kesabaran dia buat ngasih waktu ke elo?
Sampai kapan lo butuh waktu? Emang lo ngga’ cape’ hadapin masalah itu sampai saat ini? Lo ngga’ pengen balik ke tubuh lo?” timpal Sherly

“_________” Naufal hanya terdiam sembari menatap Sherly dengan tatapan kosong

“Fal? Jawab!” seru Sherly sembari mengguncang tubuh Naufal

“Apa semua ini karna dia? Lo masih cinta sama dia?
Iya?”

“________” sekali lagi, Naufal hanya terdiam dengan tatapan kosong sembari mengenang masa lalu

“Asal lo tau, bahkan dia udah dari dulu balik ke Fillipina, dia juga udah ngga’ cinta lagi sama lo gara-gara peristiwa itu. Dan gara-gara dia lo jadi benci sama Malvin, gara-gara dia juga lo ngga’ bisa tulus cinta sama Malvin dan gara-gara itu semua masalah itu sampe’ sekarang belum juga selesai.”

“Sekarang gue nanya sama lo, apa gue salah mencintai orang yang sejak gue kecil udah cinta sama dia tapi gue cuman bisa mendam perasaan itu, tapi ketika datang satu-satunya kesempatan buat milikin dia semuanya ancur cuman karna orang baru yang hadir dikehidupan gue ketika gue SMA?

Elo ngga’ tau, gimana kecewanya gue. Emang gue dulu udah coba buat ngelupain dia dan berusaha buat mencintai Malvin, tapi makin lama gue malah makin cinta sama orang itu dan malah makin benci sama Malvin.” terang Naufal

“Gue tau, semua itu salah gue. Gara-gara gue, lo jadi ikut masuk dalam masalahnya Malvin hingga harus tukeran tubuh. Dan lo mesti inget, Malvin khilaf, Fal!
Ketika Key nembak lo, Malvin ada di tubuh lo. Gue tau kalo’ lo bener-bener ngarepin hal itu sejak dulu. Tapi takdir berkata lain, Fal!
Mungkin saking cintanya dia sama lo, makanya ketika Key nembak lo, Malvin yang sedang berada di tubuh lo langsung nolak dan bilang kalo’ lo udah punya cowok, yaitu Malvin.”

“_______” Naufal hanya terdiam

“Semenjak kejadian itu Key bener-bener sakit hati dan beberapa bulan kemudian balik ke Fillipina sekaligus ngebatalin niatnya buat nerusin sekolahnya di Indonesia. Gue tau, Key pengen banget sekolah di Indonesia cuman demi lo, tapi karna Malvin semua itu jadi batal. Dulu lo udah berusaha ngelupain Key dan bakal berusaha mencintai Malvin, lo juga udah maafin Malvin karna hal itu. Malvin juga udah bener-bener nyesel.
Tapi semenjak dikelas XI, lo berubah. Elo jadi makin cinta sama Key dan jadi benci sama Malvin. Kalo’ gitu caranya, kapan kalian berdua bisa cepet-cepet balik ke tubuh masing-masing?”

“Cukup!”

“Elo dulu bilang udah tulus maafin Malvin, udah mulai tulus cinta sama dia dan udah bisa ngelupain Key. Tapi mana?”

“Cukup!”

“Elo tuh egois tau ngga’! Lo cuman mikirin perasaan lo dan berada disudut pandang lo sendiri tanpa pernah ngelirik sedikitpun sudut pandang Malvin.”

“Gue bilang, cukup!” pekik Naufal

“Fal!” pekik Sherly geram

“Asal lo tau aja ya, harusnya gue ngga’ ikut dalam masalah kalian berdua. Harusnya sekarang gue bahagia sama Key dan sekolah bareng dia di sini. Tapi gara-gara kalian berdua, semua itu jadi mustahil. Kenapa sih harus gue yang ikutan dalam masalah kalian?
Elo pernah ngga’ mikir gitu? Segampang itu lo ngatain gue egois!“ kata Naufal, lalu berlalu. Sedangkan Sherly hanya terdiam dan menatap punggung Naufal yang kian lama kian menjauh

-
-
-

Naufal berlari melewati koridor sekolah. Mencoba mencerna apa yang baru saja dilaluinya. Namun saat dia berbelok,


Braaaakkkk!


“Arrrggghhh…!” lenguh Naufal sembari memegangi sikunya

“Naufal?” seru cowok tersebut

“Kalo’ jalan mata lo berfungsi ngga’ sih? Punya mata tapi ngga’ digunain dengan baek!”

“So-sorry, Fal! Lo gapapa kan?” kata cowok tersebut, lalu segera bangkit dan membantu Naufal berdiri

“Elo lagi! Gue muak ketemu sama lo!
Ngga’ di rumah, ngga’ di sekolah.

Ngga’ usah! Gue bisa bangun sendiri!” seru Naufal sembari menepis tangan cowok tersebut

“Fal!”

“Mama?”

“Sampe’ kapan sih kamu bersikap kayak gitu sama Malvin?” bentak wanita setengah baya tersebut yang tiba-tiba berada di belakang Malvin

“Emang pengambilan raportnya udah selesai, Ma?
Aku naik kelas kan?” gumam Malvin, mengalihkan pembicaraan

“Nak Malvin, tante minta maaf banget ya atas sikap anak tante.”

“Gapapa kok, Tante. Malvin tadi yang salah, jalannya ngga’ lihat-lihat.” timpal Malvin

“Ya sudah, tante permisi dulu!”

“Iya, tante!”

“Fal, ayo pulang!” seru Mama Naufal

-
-
-

Beberapa hari kemudian…

06.00 A.M



Hp Naufal berbunyi…

From : Malvin

“Mau tukeran tubuh ngga’?”


Reply : “Iya!”


From : Malvin

“Ciuman di rumah gue apa rumah lo?”


Reply : “Di rumah lo aja! Cepet ke sini!”


Seperti biasa, meskipun Naufal membenci Malvin namun tetap saja Naufal selalu ingin bertukar tubuh setiap berangkat sekolah. Apalagi hari ini hari pertama menjadi seorang siswa kelas XII. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada sistem pengacakkan kelas...


-
-
-

Di sekolah…


Seperti biasa, mereka berdua bertukar tubuh. Malvin berada di tubuhnya sendiri, begitu pula Naufal.


Di kelas Malvin nampak tengah duduk-duduk sembari mengenang masa-masa saat kelas XI dulu. Tak lama kemudian Malvin tersadar dari lamunannya ketika seseorang berlari terengah-engah sembari memanggil-manggil namanya…

“Ada apa?” tanya Malvin

“Gawaaattt!” timpal Sherly

“Apaan?”

“Fo… Foto!” kata Sherly sembari terengah-engah dan berusaha mengatur nafasnya

“Pelan-pelan… Ada apa?”

“Si Feldy punya foto lo…” terang Sherly

“Foto yang mana?

Foto apaan emang? Pelan-pelan ngomongnya!”

“Gi… Gini!

Hasshhh…. Hassshhh!

Ehmmmm… Si Feldy punya foto lo pas waktu ciuman sama Naufal di toilet sekolah.
Gue ngga’ tau dari mana Feldy dapetin foto itu. Pasti dia ngambilnya waktu mergokin kalian ciuman di toilet. Waktu kalian tiap pulang sekolah kan selalu ciuman di toilet sekolah buat elo latihan basket dan Naufal latihan boyband nya. Pasti dia dapetin foto itu waktu mergokin kalian ciuman di toilet. Gue yakin!

Kita mesti cepet ke sana, Vin!”


Malvin hanya terdiam sembari berusaha menahan amarahnya yang semakin meluap. Dia pun segera bangkit dan menuju mading sekolah bersama Sherly.

“Si Feldy dari dulu emang selalu pengen ngancurin gue! Dan sialnya Naufal kali ini ikutan kena masalah. Kali ini dia bakal nyusun rencana apa lagi… Shiitt!” Gerutu Malvin

“Semua itu bukan salah lo, Vin! Semua itu karna gue. Semua masalah ini karna gue!” gumam Sherly sembari berusaha menahan air matanya

“Engga’, Sher! Udah, lo jangan nyalahin diri sendiri!” timpal Malvin sembari menggenggam tangan Sherly

-
-
-

Sedangkan disisi lain Naufal baru saja tiba di sekolah. Saat melewati koridor sekolah, dia melihat beberapa anak yang berkerumun. Naufal begitu penasaran…

Tak lama kemudian dia segera menuju kerumunan tersebut.

“Awas-awas, si maho udah dateng tuh!” celetuk salah seorang cowok

“Ikhh, cakep-cakep homo. Makanya dia ngga’ pernah nerima salah seorang pun dari cewek-cewek di sekolah ini. Padahal kan banyak cewek yang suka sama dia.
Eh, ternyata sekong ciiinnn! Ahahahahaaa…” sahut salah seorang cewek

Naufal hanya terdiam. Mencoba mencerna apa yang tengah dialaminya saat ini.

“Masalah apa lagi ini?” gumam Naufal dalam hati

Dari balik kerumunan, terlihat Feldy tengah memperlihatkan Hp nya kepada kerumunan anak-anak tersebut sembari menatap Naufal dengan tatapan puas. Tak lama kemudian Feldy ganti memperlihatkan Hp nya kepada Naufal

Di layar Hp tersebut terlihat foto Naufal dan Malvin yang tengah berciuman di toilet sekolah

Naufal begitu terkejut! Jantungnya seakan berhenti berdetak, tubuhnya bergetar hebat. Dia hanya merunduk seakan merasa menjadi seorang manusia yang begitu hina.
Takut, kaget, marah, sedih, dll. Seakan bercampur keruh di dalam hati Naufal…

“Bubaaarrrr!” pekik Malvin yang tiba-tiba saja tiba di kerumunan tersebut bersama Sherly

“Wah, si romeo dateng tuh!” celetuk salah seorang anak

“Apa lagi, kalo’ bukan untuk jadi pahlawannya si Juliet!
Eh, cowok lo mewek tuh! Ahahahahaaa…!” celetuk Feldy, diikuti gelak tawa anak-anak lainnya

“Najis banget gue ngeliat mereka berdua! Hooeeekkk!” seru Dewa

“Cakep-cakep sekong!” tambah salah seorang cewek

“Eh, di dunia ini cewek masih banyak! Tapi kalian malah nyarinya batangan! Ahahahaa…
Jangan-jangan kalo’ sama cewek takut ngga’ bisa bangun ya?” seru Bara

“Fel, lo keterlaluan banget kali ini! Gue tau lo masih dendam sama Malvin karna gue!
Tapi lo ngga’ usah segininya buat ngerjain dia! Lo keterlaluan banget!
Trus, lo kan udah janji sama gue bakalan ngelupain masalah ini dan ngga’ akan bales dendam ke Malvin lagi. Janji lo mana?” gerutu Sherly

“Hahaha… Gue niatnya cuman mau ngerjain kecil-kecilan, eh pas sekitar tiga minggu yang lalu gue curiga kenapa mereka berdua sepulang sekolah selalu berduaan di toilet. Eh, ternyata mesum! Ahahahahaaa… Gue ngga’ salah dong kalo’ ngejepret mereka!
Ini sekolah, bukan gudangnya mesum buat para homo!” timpal Feldy

“Gue udah ngga’ tahan lagi! Umpat Naufal dalam hati. Kemudian Naufal bangkit, lalu segera berlalu dari kerumunan tersebut.


“Fal!” seru Malvin

“Kejar sono! Si juliet mewek tuh! Ahahahaa…!” celetuk Bara

“Mewek di WC tuh! Kejar sono, sekalian mesum di WC! Ahahahaa…!” tambah Dewa, diikuti gelak tawa dan tatapan jijik oleh anak-anak lainnya

“Siapa yang mewek, hah? Elo pikir gue bakal diem aja kayak cowok banci dan lebih mentingin rasa malu gue daripada dendam gue? Kalian SALAH!
Gue bakal bales kalian lebih dari ini!” seru Naufal


Malvin jadi ikutan emosi. Dia berniat memukuli Feldy dan gengnya, namun Sherly segera mencegah dan membujuknya. Akhirnya Malvin dan Sherly menuju ke kelas untuk menemui Naufal.


Malvin begitu terkejut, di kelas Naufal telah dikelilingi oleh anggota geng Ijo lumut.

“Lo udah bawa nama buruk geng ini. Lo tau kan, anggota geng ini tuch ngga’ boleh pacaran. Tapi elo, udah pacaran, sama cowok pula! Mulai sekarang lo bukan anggota geng Ijo lumut sekaligus boyband Gee-Ajouce lagi!
Gue kecewa banget sama lo, Fal! Padahal gue berharap banyak dari lo!” gerutu Sandy penuh amarah

“Tapi, San! Elo ngga’ tau apa-apa, gue bisa jelasin semuanya. Please, percaya sama gue!” protes Naufal

“Astaghfirullahhal’adzim… Gue ngga’ nyangka lo bakalan kayak gini, Fal!” tambah Fian

“Ta… Tapi! Kalian salah paham! Kalian ngga’ tau yang sebenernya gimana!” timpal Naufal

“Udah lah guys! Jijik gue lama-lama deket sama dia!” seru Tristan, lalu berlalu bersama Sandy dan Fian

Naufal hanya terduduk lemas dibangkunya sembari menahan amarah dan dendamnya yang meluap-meluap terhadap Feldy…

“Fal!” gumam Malvin lirih

“Pergi lo!” pekik Naufal

“Tapi, Fal! Guee..”

“Kalo’ lo ngga’ mau pergi dari hadapan gue, mending gue yang pergi!
Elo seneng kan lihat gue kayak gini?
Bukannya cita-cita lo sama geng lo tuh lihat gue dikeluarin dari geng Ijo lumut?!
Gue harusnya ngga’ ikutan sama masalah kalian berdua! Gara-gara kalian berdua, gue kehilangan semuanya. Dulu Key, sekarang gue kehilangan sahabat-sahabat gue, ntar apalagi?” kata Naufal, lalu bangkit dan berlalu dari kelas

Malvin hanya terdiam, sedangkan Sherly terus saja berusaha menenangkan Naufal.

“Anjrriiiiitttt!

Arrrrggghhhhhh!” pekik Malvin sembari meremas kepalanya


Hafiz dan Tristan hanya menatap Malvin dari bangku mereka. Malvin menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, “Kalian berdua mau ngeluarin gue dari geng ama team basket?” Namun Hafiz dan Alvid hanya terdiam…

“ Fine! Terserah kalian!” pekik Malvin penuh amarah

-
-
-


To Be Continued