♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 11 – Best Friends)¸•°*”˜♥
Author : Kiki Welliansyah
Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fantasy
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
• Twitt : @Izmun_Dellionz
a story about Naufal Nafarone, as Naufal
and
Yelsin Malvino, as Malvin…
What happened?
May it’s real?
Where’s my soul?
Why must me?
When this bad dreams will be end?
Believed me… I never want it! I must be loved with HIM? Really, I hate it!
===========================================
Author : Kiki Welliansyah
Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fantasy
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
• Twitt : @Izmun_Dellionz
a story about Naufal Nafarone, as Naufal
and
Yelsin Malvino, as Malvin…
What happened?
May it’s real?
Where’s my soul?
Why must me?
When this bad dreams will be end?
Believed me… I never want it! I must be loved with HIM? Really, I hate it!
===========================================
~Author P.O.V~
Cerita Sebelumnya…
“Fal!” gumam Malvin
lirih
“Pergi lo!” pekik
Naufal
“Tapi, Fal! Guee..”
“Kalo’ lo ngga’ mau
pergi dari hadapan gue, mending gue yang pergi!
Elo seneng kan lihat
gue kayak gini?
Bukannya cita-cita lo
sama geng lo tuh lihat gue dikeluarin dari geng Ijo lumut?!
Gue harusnya ngga’
ikutan sama masalah kalian berdua! Gara-gara kalian berdua, gue kehilangan semuanya.
Dulu Key, sekarang gue kehilangan sahabat-sahabat gue, ntar apalagi?” kata
Naufal, lalu bangkit dan berlalu dari kelas
Malvin hanya terdiam,
sedangkan Sherly terus saja berusaha menenangkan Naufal.
“Anjrriiiiitttt!
Arrrrggghhhhhh!” pekik
Malvin sembari meremas kepalanya
Hafiz dan Tristan
hanya menatap Malvin dari bangku mereka. Malvin menatap mereka berdua dengan
tatapan tajam, “Kalian berdua mau ngeluarin gue dari geng ama team basket?”
Namun Hafiz dan Alvid hanya terdiam…
“ Fine! Terserah kalian!”
pekik Malvin penuh amarah
Sedangkan Hafiz dan
Alvid hanya terdiam, lalu mengalihkan pandangannya.
Disisi lain Sherly
terus saja berusaha menenangkan Naufal…
“Elo ngga’ usah
ngikutin gue!” seru Naufal
“Elo mau kemana?”
tanya Sherly penasaran
“Ke kantin. Pasti geng
Ijo lumut lagi pada di sana.
Lo jangan ngikutin
gue!” seru Naufal. Namun Sherly tetap saja mengikuti Naufal dari belakang
“Huh! Terserahlah!”
gumam Naufal kesal
“Elo mau ngapain lagi
sih pake’ nyamperin mereka segala?” tanya Sherly, namun Naufal tak menjawab
Sesampainya di depan
kantin, Naufal segera mengedarkan pandangannya…
“Itu mereka!” gumam
Naufal. Naufal segera berlari menuju meja tersebut. Sherly pun segera mengikuti
Naufal dari belakang
“Ngapain lo ke sini?
Elo bukan anggota geng ini lagi!” bentak Sandy
“Oh! Gue tau, lo ke
sini mau ngemis-ngemis supaya kita bertiga mau nerima lo lagi, gitu?
Ngarep banget lo! Mending
lo ke WC aja sama cowo’ lo tuh! Mesum… Kan enak pagi-pagi gini kan lagi
dingin-dinginnya. Sekolah juga masih sepi, belum pada banyak yang dateng.
Ahahahahaaa…” sahut Tristan. Sedangkan Fian hanya terdiam, berusaha menutupi
rasa simpatinya terhadap Naufal
“Jaga mulut lo! Siapa
juga yang ngarep buat balik ke geng alay kalian!
Ngga’ nyangka ya, persahabatan
kita cuman sampe’ di sini. Jujur, asal kalian tau! Gue lebih kecewa sama kalian
daripada Feldy dan juga gengnya. Ngga’ nyangka ya, kalian bertiga yang ngakunya
sahabat sejati gue, katanya bakal selalu ada disisi gue disaat gue dalam
keadaan bagaimanapun, juga bakal selalu support dan bantu gue ketika gue ada
masalah apapun.
Tapi mana?
Tapi apa kenyataannya?
Bulshiiiittt!
Kalian ngga’ lebih
dari sekedar Big Liar and Betrayer!
Kalian ngga’ jauh kok
sama Feldy dan gengnya. Gue cukup tau aja siapa kalian sebenernya, kayak apa
kalian sebenernya. Gue udah salah besar nilai kalian! Bahkan meski kejadian itu
bikin gue sakit hati banget tapi seenggaknya berkat kejadian itu gue bisa tau,
mana yang bener-bener sahabat gue dan mana yang bukan!” timpal Naufal geram.
Sedangkan Sandy dan anggota geng Ijo lumut lainnya hanya terdiam sembari
menatap tajam ke arah Naufal
“Udah lah Fal, kita
balik aja yuk!” bujuk Sherly
“Bentar!” bentak
Naufal
“Dan satu hal yang
mesti kalian tau, gue ke sini bukannya mau ngemis-ngemis buat balik lagi ke
geng banci milik kalian! Gue cuman mau ngejelasin masalah yang sebenernya itu
kayak gimana, juga mau ngejelasin hubungan gue sama Malvin itu apa sebenernya
biar kalian ngga’ mandang gue dengan gambaran sepicik itu! Kalian ngakunya
sahabat gue, tapi apa?
Jangan kan ngesupport
dan bantuin gue, dengerin penjelasan gue aja engga’!
Thanks deh buat
semuanya, moga suatu saat kebenaran bakalan terungkap dan mata hati kalian
bakalan kebuka! Karna meski gue kecewa banget sama kalian, tapi gue ngga’ mau
kalian gambarin tentang gue dengan gambaran sepicik itu! ! !” terang Naufal,
lalu berlalu. Diikuti Sherly yang langsung berjalan di samping Naufal
“Two thumbs buat lo,
Fal!” seru Sherly bersemangat
“Apaan sih?!” gumam
Naufal kesal. Namun sebenarnya dia berusaha menyembunyikan senyumannya
“By the way waktu
kalian bentar lagi abis nih. Udah hampir satu jam!
Elo mesti cepet-cepet
ketemu sama Malvin.” seru Sherly
“Oh, iya! Gue hampir
aja lupa!”
“Ya udah, kita
sekarang buruan nyari Malvin!
Tadi sih dia di
kelas…” timpal Sherly. Naufal hanya mengangguk
“Oops! Gue lupa!
Toilet udah ngga’ aman
lagi, Fal! Kita mesti nyari tempat yang lain di area sekolah buat kalian
kissing. Kita mesti cepet nemuin, sebelum waktu kalian abis!
-
-
-
Di kantin…
Sedangkan disisi lain
geng Ijo lumut tengah bertengkar hebat…
Braaaalkkk!
“Elo bisa diem
nggakkk?!” bentak Sandy sembari memukul meja. Matanya menatap tajam ke arah
Fian. Sedangkan Tristan hanya menatap Fian penuh amarah
“Eh! Asal kalian tau,
apa yang tadi dikatain sama Naufal itu bener!
Kita sebagai
sahabatnya harusnya selalu ada buat dia, support dia, bantu dia dan coba buat
dengerin penjelasan dia. Tapi kalian berdua malah kayak gini!” balas Fian
“Oh! Jadi elo lebih belain
si Maho itu dari pada geng lo sendiri? !” seru Tristan
“Gue gapapa kok kalo’
seandainya kalian mau ngeluarin gue juga dari geng dan boyband ini.
Saat ini Naufal butuh
kita, sahabatnya!
Gue bakal selalu ada
buat dia. Persahabatan gue sama dia ngga’ akan berakhir cuman gara-gara masalah
yang saat ini dihadapi sama dia. Kita sebagai sahabatnya harusnya tetep nerima
dia apapun keadaan dia. Kalo’ emang bener Naufal seperti itu, terserah dia
kalo’ emang dia memilih jalan seperti itu. Asalkan apapun jalan yang dia pilih
ngga’ berdampak negatif ke kita juga, Why Not? Sahabat sejati tuh sahabat yang
bener-bener bisa nerima kita apa adanya apapun dan bagaimana pun keadaan kita.
Kalo’ kalian mau
ngeluarin gue dan mau tetep musuhin dia, whatever!
Gue kecewa banget sama
kalian!” seru Fian, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berlalu
“Shiiittt!” pekik
Sandy geram sembari memukul meja. Sedangkan Tristan hanya menatap tajam ke arah
Fian yang tengah berjalan menuju koridor hingga menghilang di tikungan
-
-
-
Sedangkan disisi lain,
“Otak lo jenius
banget, Fel!” puji Bara, diikuti senyuman puas Dewa
“Iya dong! Gue gitu!”
“Trus apalagi rencana
lo buat ngerjain Malvin?” tanya Dewa
“Tu… Tunggu! Sekarang
ngga’ cuman Malvin, tapi Naufal juga udah ikut campur!
Kalian tadi denger
sendiri kan, dia pake’ ngancem kita segala! Bakal ngebales kita lebih dari ini.
Emang siapa dia, hah?” sahut Bara
“Elo bener, Bar! Ngga’
cuman Malvin, tapi Naufal juga!” seru Feldy
“Apa rencana lo
selanjutnya?
Elo ngga’ mau kan kena
balesan dari Naufal ama Malvin duluan?” tanya Dewa
“Kalian lihat aja
nanti!” gumam Feldy, diikuti senyuman simpul Bara dan Dewa
“Hahaha… Gue puas
banget! Berkat kejadian ini mereka berdua pasti dikeluarin dari geng dan juga
team basket ama boyband mereka. Dan berkat itu, Malvin ngga’ akan ikutan kompetisi
basket tahun ini!” seru Feldy puas
“Elo bener, Fel!
Ahahahaaa…
Dan ngga’ akan ada
lagi cewek-cewek yang naksir mereka, juga ngga’ akan ada lagi orang yang mau
temenan sama mereka. Mereka bakal bener-bener tersiksa selama di sekolah!
Masih mending kita
cuman ngelihatin foto itu dari Hp, ngga’ pake’ majang foto itu di mading
sekolah! Kalo’ guru-guru sampe’ tau, bakal lebih menderita mereka. Ahahahahaa…!
Apalagi ketahuan
KepSek!” timpal Bara
“Good Job!”
-
-
-
Disisi lain, setelah
bertemu dengan Malvin, tak lama kemudian jiwa mereka bertukar kembali. Naufal
di dalam tubuh Malvin dan sebaliknya…
“By the way, elo masih
benci sama gue, Fal?”
“_____” Naufal hanya
terdiam
“Fal?”
“Dikit…” gumam Naufal
“Hahahaa… Bagus dong!
Dikit-dikit lama-lama menjadi bukit!” ujar Malvin
“Lo pikir tabungan? !”
seru Naufal ketus. Malvin hanya terbahak, diikuti tawa Sherly. Sedangkan Naufal
hanya menatap Malvin kesal, namun sebenarnya dia berusaha menahan tawanya
Tak lama kemudian
tiba-tiba datang seorang cowok yang menghampiri Naufal...
“Ngapain lo ke sini?”
ujar Naufal
“Gu… Gue…”
“Pergi lo! Mending lo
kumpul sama mereka aja!
Kalian itu sama aja
tau nggakk!” bentak Naufal
“Fal, jangan gitu lah!
Gue tau kalo’ lo kecewa sama mereka, tapi coba biarin dia ngomong dulu!” gumam
Sherly
“Ya udah, lo mau apa
ke sini?” ujar Naufal
“Gi… Gini…
Setelah lo ngomong
kayak gitu di kantin, gue sama anggota geng Ijo lumut lainnya pada ribut.
Gue mulai sadar karna
kata-kata lo itu dan berniat mau terus sahabatan sama lo tapi Sandy sama
Tristan berbeda pendapat sama gue.
Bahkan gue udah ikhlas
kok kalo’ seandainya mereka bakal ngeluarin gue juga dari geng ama boyband itu.
Walaupun sekarang ini boyband kita udah terkenal banget, sering perform di
mall-mall, tapi gue ngga’ masalah. Persahabatan itu lebih penting!
Maafin gue, Fal!
Harusnya sebagai sahabat gue selalu ada buat lo, support dan bantu lo!” terang
Fian
“_______” Naufal hanya
terdiam, dia begitu terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Fian
“Hahaha… Tumben
omongan lo keren gitu! Berbobot! Hahahaaa… Biasanya kan lo Oneng!
Engga’, gue yang harusnya
minta maaf…
Thanks banget, Yan!
Gue salut banget sama lo! Elo lebih milih gue dari pada mereka.
Gue ngga’ nyangka lo
bisa ngelakuin ini.
Maafin keegoisan gue
tadi. Padahal geng dan boyband itu sekarang
lagi famous-famousnya, tapi lo malah lebih milih gue.” gumam Naufal
“Ahahahaa… Lebay lo,
Fal! Kata-katanya lebay!
Biasa aja kali’! Gue
kan sahabat lo!” ledek Fian
“Eh, sialan! Elo tuh
yang lebay!” protes Naufal
“Elo!”
“Udah-udah! Ngga’ usah
rebutan gelar alay!
Bukannya kalian semua
geng Ijo lumut itu pada lebay ya? Ahahahaaa…” celetuk Malvin
“Sialan! Ngajakin
berantem lagi lo?
Panggil geng lo!
Ayoooo…!” seru Naufal dan Fian serempak
Sedangkan Sherly dan
Malvin hanya tertawa geli…
“By the way, gue juga
dikeluarin kok dari geng gue.” gumam Malvin lirih
“WHAATT? !” pekik
Naufal dan Fian serempak
“Iya… Tapi gapapa kok!
Gue sadar, kalo’ emang mereka sahabat gue harusnya mereka bisa nerima gue apa
adanya. Malahan harusnya support dan bantu gue. Awalnya emang gue kecewa, kesel
juga. Tapi gapapa lah!
Kan sekarang sahabat
gue tuh kalian! Hehehe…” terang Malvin
“Hahaha… Bisa aja lo,
Vin!” timpal Fian
-
-
-
Sepulang sekolah,
Malvin, Sherly dan juga Fian berniat mengunjungi rumah Naufal bersama dengan
Naufal.
Di dalam mobil…
“Asiiikkk! Nyaman
banget!
Ada AC nya, kursinya
empuukk, desain out & indoornya keren, ada layarnya juga di sini, bisa
muter musik juga!” komentar Naufal saat Sherly baru saja melajukan mobilnya
“Eh, lo jangan
malu-maluin lagi dah!” ledek Naufal, lalu terbahak bersama Malvin dan juga
Sherly
“Hehehee… Maklum, ini
pertama kalinya gue naik mobil mewah.”
“Emang biasanya lo
naik mobil apa?” tanya Malvin
“Waaaahhhh! Jangan
salah, mobil gue keren banget! Warnanya item metallic, trus gue kalo’ pulang
sekolah gitu dijemput diperempatan deket sekolah trus dikemudiin sama sopir
pribadi gue!”
“Wew! Serius lo, Yan?
Asik dong?
Trus kenapa lo
sekarang masih katrok naik mobil mewah kayak gini? Pake’ bilang kalo’ baru naik
mobil mewah untuk pertama kalinya pula! Elo kan juga punya, plus ada sopir
pribadinya pula yang siap nganterin elo.” timpal Naufal
“Hahahaaa… Emang bener
ini pertama kalinya gue naik mobil mewah, soalnya gue biasanya pulang dijemput
diperempatan deket sekolah tuh, yang kata gue mobilnya mewah, item metallic,
itu tuh sebenernya angkot! Hahahaa…”
“Ngoookkk!” Naufal
menjewer telinga Fian
“Aduduuhhhh…! Sakiittt
bego’!
Elo kayak Emak gue aja
sih, maennya jewer!” protes Fian. Malvin dan SHerly hanya terbahak
-
-
-
©@Citra Land – Surabaya
Di rumah Naufal…
“Wah, panas-panas gini
enaknya minum es nih! Pasti seger banget!” celetuk Fian
“Dasar!
Mau minum apa?” tanya
Naufal
“Terserah deh, yang
penting manis! Hahaha…” timpal Fian
“Iya-iya, tunggu
bentar…”
“Gue juga ya, Fal!”
seru Sherly
“Beres!” gumam Naufal
“Malvin juga dong!
Hahahaa… Sampe’ kapan sih lo benci sama dia?” goda Sherly
“Diem lo!” sungut
Naufal, lalu berlalu menuju dapur diiringi gelak tawa anak-anak
Sherly dan Malvin
terduduk lemas di sofa, sedangkan Fian berjalan-jalan melihat-lihat beberapa
perubahan dalam rumah Naufal.
“Wah, cukup banyak
yang berubah! Udah lama ngga’ pernah maen ke rumah lo lagi.
Terutama ini nih…”
gumam Fian, lalu menghampiri ruang keluarga
“Fal, ini TV?” seru
Fian
“Iya lah, masa’ tremos
aer!” sungut Naufal
“Waaahhh…! TV lo baru
ya?
Belinya dimana?” seru
Fian
“Di toko elektronik
lah, masa’ di toko pakan hewan!” sungut Naufal yang mulai kesal
“Pasti mahal ya?
Emang berapaan?
Emang nih TV bisa
ngapain aja sih?
Nih TV lebar amat
layarnya, tapi tipiiiiisss banget!
Ini TV apa keripik
tempe sih? Ngga’ takut patah apa ya kalo’ beli TV ginian?
Mending TV gue, gedhe
jadi ngga’ takut patah! Nah, ini tipis amat!” gumam Fian sembari menekan-nekan
tombol TV tersebut dan mengambil remote TV yang ada di meja
“Waaaahhhhh! Gambarnya
gedhe dan jelas banget! Puas banget!
Suaranya juga keras
amat! Ini TV apa layar tancep? Hahaha… jadi inget kampung nih! Berasa nonton
layar tancep ama warga kampung. Hahahaaa…
Jadi kangen sama Pak
Kades. Hehehee…” komentar Fian saat TV tersebut dinyalakan
“Eh, lo bisa diem
ngga’?” omel Naufal sambil mengacungkan pisau. Sherly dan Malvin hanya tertawa
di tempat
“Wiiddiiihhhh…!
Sadiiiisssszzzttt!” gumam Fian
Beberapa menit
kemudian Naufal kembali ke ruang tamu dengan membawa empat gelas minuman.
Anak-anak pun segera meminumnya,
“Emang pembantu lo
kemana?” tanya Sherly
“Ngga’ tau! Keluar
kayaknya. Ngga’ tau kemana…”
“Ya udah, lo mau
ngomong apaan Fal, pake nyuruh kita bertiga ke sini?” tanya Fian
“Elo sukanya to the
point’an ya! Sabar napa!”
“Yeee… Ngamuk mulu’
dari tadi!” sungut Fian
“Hmmm… Jadi gini, dulu
kalian semua penasaran kan sama siapa orang yang mukulin gue sampe’ babak belur
di lab kimia?” ujar Naufal membuka obrolan
“Iya!”
“Siapa?”
“Ngga’ usah
jauh-jauh!” terang Naufal
“Jangan-jangan si
Feldy maksud lo?” timpal Sherly
“Yap!”
“Elo serius Fal?
Kenapa lo dulu ngga’ mau ngasih tau ke gue? Kenapa?
Kalo’ lo dulu ngasih
tau ke gue, pasti udah gue bales tuh anak lebih dari itu!” gerutu Malvin
“Sabar Bang, sabar…!”
ujar Sherly
“So… Soalnya dia
ngancem gue! Trus gue juga ngga’ mau kalo’ masalah lo sama dia makin
berlarut-larut. Sampe’ kapan sih kalian bakal musuhan kayak gini terus? Balas
dendam bukannya menyelesaikan tapi malah memperkeruh masalah.
Gini ceritanya…” gumam
Naufal, lalu bercerita panjang lebar
“Jadi karna peristiwa
dulu, waktu gue ada di tubuh lo dan nimpuk bola basket ke Feldy, dia jadi bales
dendam ke lo?” tanya Malvin antusias
“Iya…! Dia ngga’ cuman
mukulin gue di lab, tapi sebelumnya dia berniat…”
“Udah, jangan
diterusin! Gue emosi banget dengernya!” potong Malvin
“Gue juga!” sahut
Sherly. Sedangkan Fian mengangguk mantap
“Sekarang lo sama
Sherly udah mulai memahami gue kan?
Alasan gue benci sama
lo karna banyak hal yang udah gue alami cuman gara-gara elo. Dari mulai tubuh
kita tertukar karna sumpah serapah nya Sherly yang udah lo sakitin hingga dia
bales elo, trus Feldy jadi ikutan ngincar gue selama dua tahun terakhir
gara-gara kejadian di ruang ganti olahraga itu, hingga sekarang ini, Masalah
foto itu…
Gimana caranya gue
bisa ngga’ benci sama lo Vin, kalo’ masalah yang gue alami begitu kompleks
cuman gara-gara elo?
Dan dari semua itu
yang bikin gue paling ngga’ rela, karna gara-gara elo, gue jadi kehilangan
Key.” terang Naufal. Sedangkan Malvin hanya terdiam sembari menahan amarah dan kebencian
terhadap dirinya sendiri
“Elo emang ngga’
berguna, Vin!” gumam Malvin dalam hati
“Gue paham, Fal! Paham
banget!
Maafin gue karna udah
ngatain lo egois waktu itu…” gumam Sherly
“Gapapa… Yang penting
sekarang lo udah ngerti.”
“Elo pantes kok benci
sama gue, Fal! Gue pantes nerima semua ini. Maaf banget, karna gue, elo jadi
menderit, Fal!
Trus yang bikin gue
paling emosi, gara-gara Feldy yang udah mukulin lo dan berniat ngelakuin itu ke
elo waktu di lab itu!
Gue bener-bener ngga’
terima, Fal! Gue bakal bales dia, pasti! ! !” ujar Malvin sembari meremas
kepalanya
“Eh, tunggu deh! Feldy
sama gengnya mau gituin elo?
Elo kan cowok, Fal!
Kalo’ mereka berniat gituin elo, berarti mereka ‘itu’ dong?” sela Sherly
“Eh, iya! Bener juga!
Tapi bisa-bisanya
mereka ngelihatin foto gue ama Naufal padahal mereka tuh yang sebenernya ‘begitu’.
Demen sama co… co… cowok!” tambah Malvin
“Tu… Tunggu! Kalian
ngomongin apaan sih ini?
Gue sih paham-paham
aja yang lainnya, tapi yang bikin gue ngga’ paham tuh apa yang kalian maksud
dengan tukeran tubuh? Trus bukannya kejadian waktu itu tuh elo sendiri yang
nimpuk bola basket ke Feldy sampe’ hidungnya berdarah, Fal? Sekarang kenapa elo
malah nyesel?
Elo berniat belain
Malvin, padahal dia musuh kita. Tapi sekarang elo sendiri yang nyesel, karna
masalah itu Feldy jadi ngincer elo. Gue ngga’ paham di sini. Itu kan kehendak
lo sendiri, kenapa sekarang elo yang nyesel apalagi pake’ nyalahin Malvin?
Malvin kan ngga’ ngapa-ngapain…
Trus, Key itu bukannya
sodara lo yang dari Fillipina itu? Emang lo kehilangan dia kayak gimana sih?
Gue ngga’ paham!
Oh ya, satu lagi! Dari
tadi gue pengen nanya tapi takuuuttt…
Se… Sebenernya kenapa
sih kalian berdua ciuman di toilet diem-diem? Apa bener kalian ‘itu’… Ehmmmm…
Gitu lah!
Trus, bukannya
peraturan di geng kita itu ngga’ boleh pacaran, tapi kenapa lo malah pacaran,
sama Malvin pula. Dia kan cowok! Trus foto lo ama dia ciuman udah kesebar tadi.”
tanya Fian
“Eh, nanyanya
satu-satu! Gue aja lupa sama pertanyaan lo. Banyak amat!” omel Naufal
“Heheheee… Ya maaf!”
timpal Fian
“Haduuuhhh… Bakalan
cape’ dan seret nih!
Gue ceritain dari awal
ya, gini…” kata Malvin, lalu bercerita panjang lebar
“WHAAATTTT?” pekik
Fian tak percaya
“Itu semua bener!” timpal
Sherly
“Ngga’ mungin…
Mustahil!” seru Fian
“Ngga’ usah
teriak-teriak kali’!” omel Naufal
“Makanya itu, jadi si
Feldy itu kemungkinan mergokin gue sama Naufal pas ciuman di toilet buat
tukeran posisi. Karna gue harus latihan basket dan Naufal latihan boyband.
Trus, gue sama Naufal
selama ini ciuman tuh bukannya maho, homo, atau apalah! Tapi karna masalah itu
kita harus sering ciuman. Walaupun kita ngga’ homo, tapi pada akhirnya kita
mesti dituntut buat bener-bener tulus saling cinta supaya bisa balik ke tubuh
masing-masing. Jadi ya sama aja belajar buat jadi homo. Huft!
Trus, waktu di basket
itu tuh gue yang ada di tubuhnya Naufal dan sebaliknya. Makanya itu Feldy
nyakitin Naufal yang lagi ada di tubuh gue. Feldy ngira kalo’ itu tuh gue. Gue
ngga’ terima lihat Feldy nyakitin Naufal, jadi gue bales nimpuk Feldy
sekenceng-kencengnya. Dan bego’nya, gue tuh lupa kalo’ gue lagi ada di tubuh
Naufal. Makanya itu Feldy ngebales Naufal pas di lab kimia itu. Elo bisa
nangkep kan maksud gue? Emang sih agak rumit!” terang Malvin panjang lebar
“Aduhhhh… Rumit amat
sih?
Gue sih bisa nyerna
dikit-dikit, tapi gue masih belum percaya kalo’ jiwa kalian emang ketuker.
Kalo’ sekarang gimana?
Kalian ada di tubuh masing-masing atau ketukar?”
”Sekarang ini gue ada
di tubuh gue sendiri dan sebaliknya. Soalnya sepulang sekolah tadi gue ciuman
sama Malvin tapi ngga’ di toilet, di tempat lain. Toilet udah ngga’ aman
soalnya.
Bentar lagi juga satu
jam kami abis, jadi ntar lo bisa ngerasain perbedaannya waktu gue0 jadi Malvin dan
sebaliknya.” terang Naufal
“Oh, gue paham
sekarang. Trus, yang masalah Key itu gimana?” tanya Fian
“Oh, itu masalah
pribadi gue! Elo ngga’ perlu tau. Tapi gue janji, kalo’ gue udah siap buat buka
diri gue, siapa gue sebenernya, gue bakal kasih tau ke elo kok!” timpal Naufal
“Wah, ngga’ asik!
Ya udah deh!” protes
Fian
Beberapa menit
kemudian,
“Ehhhmmmm…!” lenguh
Malvin dan Naufal
“Ke… Kenapa kalian?”
seru Fian kebingungan
“Biasa, waktu mereka
udah abis. Elo ngga’ usah khawatir!” terang Sherly
“Se… Sekarang Naufal
ada di tubuhnya Malvin?” tanya Fian
“Yup!” timpal Sherly
Perlahan Malvin dan
Naufal mulai membuka mata satu per satu. Sedangkan Fian tengah
terbengong-bengong dan kebingungan mengamati mereka berdua…
“Fal?”
“Bukan! Gue Malvin.
Naufal ada di tubuh gue.” terang Malvin
Perlahan Fian
mendekati tubuh Malvin, “Fal? Elo ada di sini?” tanya Fian gugup
“Iya! Ini gue. Kalo’
lo ngga’ percaya, lo bisa ngajuin pertanyaan tentang apa pun yang hanya kita
berdua sama geng Ijo lumut doang yang tau.” terang Naufal
“Ehmmmm… Apa sebabnya
Sandy mau nerima gue di geng kita waktu dulu? Padahal gue cupu banget, ngga’
gaul sama sekali, kamseupay pula!” tanya Fian sembari mengingat masa lalu
“Karna waktu itu lo selalu
nolongin kita bertiga. Elo dengan ikhlasnya mau-maunya nurutin permintaan Sandy
buat ngerjain tugas kita bertiga waktu kita lupa ngerjain PR ama tugas-tugas
sekolah. Elo juga pendengar yang baek. Terus, gue kasihan sama lo! Apalagi lo
banyak dibully dan dikerjain sama anak-anak di sekolah karna lo kampungan dan
polos banget. Gue kasihan sama lo, akhirnya gue ngebujuk dan maksa Sandy supaya
masukin lo di geng kita supaya lo ngga’ diinjek-injek lagi sama mereka. Awalnya
dia marah-marah dan nganggep gue gila karna masukin orang kamseupay kayak elo,
tapi lama-lama dia bilang “Terserah lo aja deh! Tapi kalo’ dia bikin geng kita
turun pamor, awas aja!”
Dan lo akhirnya masuk
ke geng kita hari Jumat, 07 Oktober 2011.” terang Naufal
“Gilaaaa…! Kereeennn-kereeennn!
Elo inget banget sih?
Sekarang gue
bener-bener percaya sama semua cerita kalian.” seru Fian. Naufal, Malvin dan
Sherly hanya tersenyum simpul
-
-
-
To Be Continued


