Pages

Perfect World Online Pointer

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 4

--.DelvetiaN.--



Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 4


Genre : Yaoi - Romance Fan Fiction
Author : Kiki Wellian S.
Background Song : Yiruma – River flows in you
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
*NB : Menerima Segala bentuk pujian, kritikan sopan, dan kritikan pedas tapi membangun. Selamat membaca! ^^”

Ini adalah karya ke dua Kiki. Semoga dapat menjadi cerita yang menarik bagi para pembaca.
Kiki berharap agar cerita ini dapat menjadi cerita yang lebih baik dari sebelumnya.
Selamat membaca… ^.^”
Terimakasih!

~Miguel P.O.V~

Sayup-sayup aku melihat wajah tampan dan manis nya, amat manis… Mungkin terlalu manis untuk wajah seorang cowok. Atau mungkin bisa di bilang cantik ya? Hahaha…

Ingin sekali aku tidur sembari memeluknya… Hanya memeluknya, takkan lebih!
Namun, apa daya? Aku dapat memandangi wajah cantik nya dari jarak sedekat ini sudah sangat beruntung dan bahagia.

Selamat malam Euri… Aku janji akan selalu melindungi mu dari apapun dan siapapun. Aku menyayangimu

Lalu aku mulai memejamkan mata ku dan mencoba untuk tidur.


Hampir saja aku tertidur, namun tak lama kemudian aku merasakan tangan Euri berada di pipi ku dan menepuk-nepuk pipi ku.

“Mig, bangun dong! Aku ngga’ bisa tidur nih…!” pinta Euri

“Hmmm… Ada apa sih? Aku ngantuk nih! Besok kan masuk pagi sekolahnya Errr… Coba deh buat tidur aja, n’tar lama-lama juga tidur-tidur sendiri.” tukas ku, lalu ku lihat Euri lebih mendekat ke tubuhku dan mulai memejamkan mata nya
-
-
-

“Mig…?” Euri mengganggu tidur ku lagi

“Hmmm…” gumam ku

“Aku dah nyoba buat tidur tapi tetep aja ngga’ bisa. Temenin dong, sepi nih begadang sendirian. Pengen tidur tapi ngga’ bisa.” pinta Euri lagi

“huft! Iya-iya… Terus mau ngapain sekarang malem-malem gini?” tanya ku

“Hmmm… Apa ya? Nonton film yuk di laptop mu?” kata nya, lalu aku mulai mengambil dan menyalakan laptop ku

“Aku ngga’ punya film-film yang terbaru. N’tar lihat aja deh kamu suka nya yang mana. Pilih aja sendiri ya!” timpal ku, lalu menyerahkan laptop ku dan aku kembali merebahkan tubuh ku di kasur. Hmmm… benar-benar udah ngantuk! Dah 5 watt nih mata

“Mig?

Hey?

Yah, tidur lagi nih anak.” gerutu Euri, masih terdengar jelas di telinga ku namun aku pura-pura tidur dan tak lama kemudian aku mulai tertidur.

_____________________________________________________________________

~Author P.O.V~


Euri mulai membuka-buka isi laptop Miguel. Dari mulai My Document, local disc : E, hingga local disc : D.

“Hmmm… film nya bagus-bagus sih, ada juga yang baru. Tapi aku ngga’ suka film tipe-tipe kayak gitu. Kok laptop nya miguel isi nya film-film pembantaian, pembunuhan, horror, dan kawan-kawannya gitu ya? Pengen lihat, tapi kalo nonton nya sendirian dan malam-malam gini ya ogah ah!” desis Euri

“Hmmm… main game aja deh!” besit Euri.


Sekitar 2 jam Euri bermain game di laptop tersebut. Lalu tak lama kemudian dia mulai mengantuk dan berniat menutup folder tersebut lalu mematikan laptop dan kembali untuk tidur. Namun saat dia hendak menutup folder-folder data film dan game, dia di kejutkan oleh sesuatu.

“Hmmm… folder apa nih? Pake di hidden segala.” gumam Euri

Klik!

“Wah, apa’an nih? Film yang lainnya nih kayaknya. Kenapa aku dari tadi ngga’ aktifin Show hidden folder dari tadi ya. Moga bagus nih!” Euri mulai membuka salah satu dari sekian banyak film yang ada

Klik!

“Oh my god! Film apa’an ini? !?” gumam Euri, agak berteriak karena kaget. Lalu segera menoleh ke belakang, memastikan Miguel masih tertidur lelap

“Gilaaa…! Kok cowok sama cowok gituan sih?” desis Euri

Saat itu, adegan di film tersebut menampilkan dua pasangan cowok yang mulai berciuman, saling melepas baju dan merebahkan tubuhnya di kasur. Salah seorang cowok menindih tubuh pasangan nya dan mencium area bibir, leher, nipple, hingga perut dan terakhir junior.

“Oh, Jesus, Forgive me!” besit Euri dalam hati. Merasa berdosa karena tidak sengaja melihat video tersebut. Namun ketika Euri hendak menutup video tersebut karena merasa begitu berdosa dan merasa jijik. Saat dia hendak menutup film tersebut, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas plastik yang ada di meja belajar Miguel (Saat ini Euri tengah bermain laptop di meja belajar Miguel).

“Hmmmm….” Miguel berdehem, merasa terusik dari tidurnya namun tak membuka mata. Di satu sisi, Euri segera menoleh dan memastikan bahwa Miguel masih terlelap. Lalu dia kembali menghadap laptop tersebut

“Belum selesai nonton film nya?” tiba-tiba Miguel membuka mata dan bertanya dari tempatnya rebahan

“Be… Belum Mig!” jawab Euri gugup. Lalu melebarkan bahu dan menegakkan duduk nya, mencoba menutupi laptop tersebut agar Miguel tak melihatnya dari kasur tersebut

“Ini udah malem lho! Aku ngga’ mau kamu telat sekolah besok. Lagipula n’tar kamu bisa masuk angin lho!” kata Miguel, lalu kembali memejamkan mata nya

“Iya, ini juga mau tidur.” timpal Euri, lalu segera menutup film tersebut dari VLC playernya

“Wew, banyak bener yah koleksi film porno dia.” besit Euri. Tiba-tiba tanpa sadar Euri mengurungkan niat nya untuk mematikan laptop tersebut. Dia penasaran dengan isi film-film yang lain. Setelah menoleh dan memastikan bahwa Miguel telah tertidur lagi, dia membuka beberapa film yang lainnya.

“Hmmm… yang ini sama ini, terus yang ini juga isi nya sama aja maen gitu-gituan. Cuman pemain sama tempat dan suasana nya aja yang berbeda.” besit Euri dalam hati

“Errr, kamu ngapain sih? Kamu itu normal. Udah ah, jijik lama-lama nonton ginian. Besok masuk pagi!” besit Euri dalam hati, lalu segera mematikan laptop tersebut dan kembali tidur di samping Miguel


Tuesday, 06.45 AM


“Errr… Bangun! Whoy, udah jam tujuh kurang seperempat nih. Cepet bangun, n’tar kamu telat!
Huh, udah berapa kali nih aku bangunin kamu tapi tetep aja tidur kayak kebo. Ya udah lah, aku berangkat dulu!” kata Miguel, lalu keluar kamar dan menutup pintu kamar
-
-
-

“Open your book, page 17th!” kata Mr. Alex, memulai pelajaran Mathematic pagi ini. Lalu anak-anak mulai membuka buku dan guru tersebut mulai mengabsen seluruh siswa

“Aduh, Euri mana sih! Masa masih belum bangun?!” Miguel mulai khawatir. Guru tersebut mulai mengabsen. Namun sistem absen di sekolah ini tidak di urutkan dari A-Z, melainkan dari nomor identitas daftar siswa yang ada di sekolah tersebut sehingga terkesan acak, tidak di mulai dari A-Z.

“Faheldy Nayoie!” kata guru tersebut dengan lantang

“Yes, Iam!” kata Heldy dengan lantang, sembari mengangkat tangan

“Miguel Immanuel Sarvano!”

“Here, sir!” kata Miguel, sembari mengangkat tangan

“Navicky Elfaneirus!”

“Yes, sir!” kata Vicky, sembari mengangkat tangan

“Mark Eagan Halian!”

“________” Mark hanya mengangkat tangan nya

“Key Yoshio Eiji!”

“Yes, I’am!” kata Key, sembari mengangkat tangan

“Euri Revin Antaresh!”

“Euri??”

“Ke mana Euri? Ngga’ masuk ya?”

“Dia terlambat mungkin, sir! Tolong jangan di alpha dulu. Please, sir!” pinta Miguel

“Huuuuuuu…. baru kalo Euri, di belain!” celetuk Vicky

“Hahaha… Kan darling nya tuh!” lanjut Heldy

“Ciyyeeeehhhh… Eheemmm…!” celetuk anak-anak lainnya

“Shut Up!” teriak Mr. Alex

“Ngga’ ada surat nya?” lanjut Mr. Alex

“Ngga’ ada sir!” kata anak lain

“Excuse me! Iam terribly sorry because iam late, sir!” kata Euri dengan nafas ngos-ngos’an

“Okay, karna kamu ngga’ pernah telat, kali ini di maafkan! Duduk!”

“Thanks, sir!” lalu Euri duduk. Dan pelajaran pun di mulai

“Kenapa kok tumben telat, Errr?” tanya Key

“Bukan urusan mu!” jawab Euri ketus

“Wah, belagu amat nih anak! Mulai berani nih sama kita-kita. N’tar kasih pelajaran aja tuh!” bisik Vicky, yang tengah duduk tepat di depan Key

“Ngga’ usah, aku lagi ngga’ mood buat ngerjain dia hari ini.” bisik Key

“Tumben amat? Ya udah, n’tar biar aku sama Heldy yang ngerjain dia.” kata Vicky

“whatever! Tapi jangan kelewatan ya! Kemarin kejadian di kolam tuh dah hampir nyangkut nyawa dia.” pinta Key

“Sip, brother!” kata Vicky, lalu mulai membisikkan sesuatu di telinga Heldy, lalu di telinga Lee. Dia juga berniat mengajak Mark, namun Mark tak begitu tertarik hari ini untuk ngerjain Euri.


Tak lama kemudian mereka bertiga mulai membuat sebuah rencana, lalu tertawa lepas membayangkan kejadian tersebut benar-benar terjadi.


“Hey, sedang apa kalian? Cepat di pelajari halaman 17!” teriak Mr. Alex, karena merasa terganggu dengan keramaian mereka bertiga

“Yes, sir! Sorry!” jawab ke tiga anak tersebut serempak
-
-
-

Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Lalu mereka bertiga mulai menjalankan aksi nya

-Lee bertugas membawa Miguel menjauh dari Euri, sehingga tak ada yang membantu Euri
Sedangkan Vicky dan Heldy mulai mendekati Euri. Vicky mengalihkan perhatian Euri ketika Heldy hendak menempelkan sesuatu ke punggung Euri.

“Mig, kamu punya penggaris ngga’?” tanya Lee

“Ada sih, tapi di dorm.” kata Miguel

“Yuk, ke dorm kamu. Aku pinjem dong!” kata Lee

“Aneh banget, kamu kan anak orang kaya. Masa ngga’ punya penggaris? Pasti nya alat tulis mu lebih lengkap dan mahal dari aku.” kata Miguel

“Aduh, bisa berabe nih… Aku bego banget ngga’ cari benda lain aja yang mau aku pinjem buat alasan. Moga ngga’ ketahuan dah!” besit Lee dalam hati

“Punya ku hilang, belum sempet beli juga.” kata Lee

“Ya udah, ayo!” Lalu Lee dan Miguel mulai meninggalkan kelas
-
-
-

Vicky dan Heldy mulai beraksi, lalu Heldy mulai menempelkan kertas yang telah di beri selotip ke punggung Euri. Segera Vicky melakukan tugas nya mengalihkan perhatian Euri.

“Hai Errr… Lagi apa nih?” tanya Vicky, setelah Heldy selesai menempelkan kertas tersebut

“Ngga’ punya mata ya? Lihat sendiri gitu kan, nih lagi nggambar manga. Napa?” jawab Euri ketus dan mulai curiga dengan mereka berdua. Namun dia tidak menyadari kertas tersebut telah tertempel di punggung nya karena Vicky mengalihkan perhatiannya

“Wah ketus amat dah! Cakep-cakep jangan galak-galak napa.
Hmmm… Kita berdua Cuma mau ngajak kamu ke kantin bareng!” kata Vicky

“Iya Err… mau ngga’? sahut Heldy. Namun Euri tetap saja menolak kesekian kali nya walau pun telah di rayu dengan berbagai cara. Mulai dari di traktir makan, dsb. Namun Vicky tak kehabisan cara. Dia mengambil buku gambar Euri lalu membawanya lari hingga ke area kantin agar Euri mengikuti nya hingga ke kantin sekolah yang pada saat itu ramai sekali. Karena keramaian itulah tujuan Vicky mengajak Euri ke kantin.

“Whoy! Balikin!” teriak Euri, lalu mulai mengejar Vicky

Sesampai nya di kantin, dia kehilangan jejak Vicky yang telah hilang di kerumunan para siswa yang tengah antri mengambil makanan

Lalu, tak lama kemudian ada beberapa anak tak di kenal yang mendekati Euri

Dan,,

CUP!

Anak tersebut mencium pipi Euri, lalu segera bergegas lari

“Shit! Maksud kamu apa? Whoy! ! !” Euri terlihat begitu kesal, lalu mengusap pipi nya

Tak lama kemudian ada dua orang anak lain yang mencium pipi kiri dan kanan Euri secara bergantian, lalu berlari. Euri sekali lagi mendengus kesal!

Lalu Vicky berlari ke tengah area kantin, berdiri di atas meja dan berteriak :
“Whoy, semua nya! Perhatian! ! !” Lalu anak-anak seisi kantin mulai menoleh ke arah Vicky

“Sapa yang pengen bisa nyium cowok yang super cakep?” teriak Vicky

“Aku!” Teriak anak-anak bersahut-sahutan! ! !

“Tuh, si Euri! Free deh buat kalian! Ciumin aja mpe puas! Hahahaaa…!” kata Vicky. Lalu Euri mulai merasa bingung dengan apa yang di maksud oleh Vicky. Tak lama kemudian, begitu banyak anak mulai berlari ke arah Euri.

“What’s up?” Euri kebingungan

CUP! CUP!CUP! CUP! CUP!
CUP! CUP!
CUP!
CUP! CUP!


Begitu banyak anak mulai berkerumun dan menciumi pipi Euri

“Apa yang kalian lakukan!? Shit!” Euri mulai memberontak dan berusaha keluar dari kerumunan ana-anak yang ada di situ, namun karena begitu banyak nya anak akhir nya usaha nya untuk keluar dari kerumunan tersebut tetap saja gagal.

“Hey! Menjauh dari Euri!” tiba-tiba ada seorang anak yang menolong Euri. Hebatnya, seluruh anak-anak tersebut langsung menghentikan aksi nya dan mulai berlari ketakutan.

_________________________________________________


Lalu cowok tersebut segera menghampiri Euri dan menggandeng tangan nya. Membawa nya berlari dan menjauh dari area kantin.

“Kamu gapapa Errr?” kata cowok tersebut setelah mereka berdua berada di taman sekolah yang indah dan sepi

“Gapapa kok!” kata Euri ketus

“Kok bisa sih mereka pada nyiumin kamu?” tanya cowok tersebut

“Aku juga ngga’ tau, tiba-tiba mereka semua udah pada lari ke arah ku dan nyiumin pipi ku. Shit!” kata Euri kesal

“Kok aneh gitu ya? Hmmm… Pasti ada penyebabnya.” lalu cowok tersebut melepaskan genggaman tangannya dari tangan Euri dan mengajak Euri duduk di salah satu gazebo taman

“Tunggu-tunggu!” kata cowok tersebut

“Apaan?” timpal Euri

“Ini apa?” kata cowok tersebut. Mengambil selembar kertas yang tertempel di punggung Euri dan membaca tulisan yang ada di kertas tersebut

“Oh, ini dia sebabnya. Coba baca deh!” Lalu Euri segera mengambil kertas tersebut dari tangan cowok itu

Kertas tersebut ternyata bertuliskan, --Uy, halik sa akin mang yaring! Humingi ako sa iyo! Oo, halik ang kanyang laro na hindi tumayo Ya! Ahhh… !--
Translate : --Hei, cium aku dong! Ku mohon! Buruan ya ciumnya, uda ngga’ tahan nih! Ahhhh…!

Emosi Euri memuncak. Dia meremas kertas tersebut dan menginjaknya dengan penuh amarah!

“Siapa yang nempelin itu ke kamu? Kamu tau ngga’? kata cowok tersebut. Lalu Euri mulai mengira dan mengingat-ingat siapa pelakunya.

“Hmmm… Vicky sama Heldy, pasti dia pelakunya! Maka nya mereka berdua tadi tumben-tumbennya deketin aku, ngajak aku ke kantin, dsb. Pasti buat ngalihin perhatianku.” gumam Euri

“Kelewatan banget tuh mereka! Tenang aja, aku pasti bakal kasih pelajaran sama mereka berdua!” kata cowok tersebut penuh amarah

“Udah lah Key! Ngga’ usah pura-pura. Pasti kamu juga terlibat kan?
Ngapain juga tadi kamu nolongin aku dari anak-anak?
Bukannya kalo aku menderita, itu yang kamu dan Geng mu harepin, Hah! ! !” bentak Euri

“Demi Tuhan Errr… Aku ngga’ terlibat sama rencana mereka. Bahkan seandainya aku terlibat, aku ngga’ mungkin ngerjain kamu sampe’ separah ini. Ini dah kelewatan banget!
Semenjak kejadian kami nyeburin kamu di kolam dan aku ngolesin lem di bangku kamu, aku udah mulai males ngerjain kamu lagi Errr… Aku udah sadar dan bener-bener nyesel, Cuma karna kami semua merasa tersaingi dengan ketampanan, kepandaian, dan kepopuleran kamu di sekolah ini, kami jadi pengen ngerjain kamu biar kamu ngga’ betah di sekolah ini dan pergi dari sini. Tapi demi Tuhan, aku udah sadar dan kali ini aku ngga’ terlibat sama sekali dengan semua ini.” terang Key, dengan penuh penyesalan

“Oh, jadi sebusuk itu ya kalian!
Kalian selama ini ngerjain aku cuma pengen supaya aku pergi kan dari sekolah ini? Okay, aku juga udah muak dengan semua hal tentang Maple Valley, terutama KAMU dan GENG mu, Key!” bentak Euri, lalu berlari menuju ke arah kelas

“Errr….! Dengerin dulu Errr…
Errr….!!!” Teriak Key, namun Euri segera berlalu. Key kembali duduk di gazebo tersebut sembari menyesali segalanya. Merenungi segala nya dan mulai merasakan sakitnya kehilangan.

"Aku ngga' bakal biarin Euri pergi...!!!" desis Key
-
-
-

@Classroom

Amarah Euri mulai semakin memanas ketika dia masuk ke dalam kelas dan melihat Vicky, Heldy dan Lee tertawa terbahak-bahak dengan anak-anak lainnya bercerita tentang kejadian tadi di kantin

“Errr… Maafin aku, karna aku ngga’ ada di samping kamu tadi. Aku bego banget, mau aja di bohongin sama Lee.” kata Miguel, sembari menggenggam tangan Euri, namun Euri menepisnya dengan kasar dan berteriak di depan kelas

“WHOY, BERENGS*K! ! !
What the f*ck! ! ! Salah aku apa sih sama kalian, hah! Sampe kalian segitunya ngerjain aku tiap hari. Selama ini aku selalu sabar, nahan emosi ku dan coba selalu buat maafin kalian dan ikhlasin semuanya. Tapi kejadian di kolam dan kali ini kelewatan benget! Kalian pikir aku cowok kemayu, lemah, yang ngga’ bisa apa-apa, ngga’ bisa bela diri aku sendiri dan cuman bisa berdiam diri dengan bodohnya sedangkan kalian terus aja ngerjain aku gitu, hah?! Aku bukan cowok lemah, kemayu dan apa pun lah seperti yang kalian pikir. Aku juga bisa marah kalo emang kesabaranku udah abis. Mungkin karena selama ini aku terlalu baik dan sabar sehingga kalian makin berani ngerjain aku dan makin dalam ngecap aku cowok lemah, kemayu dan ngga’ bisa apa-apa, terutama bela diri aku sendiri.
Inget, kesabaran orang ada batasnya. Dan kali ini kesabaran ku udah di luar batas nya, aku mau cari perhitungan sama kalian!
Selama ini, kurang sabar dan baik apa aku sama kalian, hah! ! !
Sini kalian semua! ! !” tantang Euri sembari menaikkan lengan baju nya. Lalu Vicky, Heldy dan Lee menghampiri Euri

“Errr, kamu mau ngapain? Cukup Errr! Ngga' biasanya kamu kayak gini. Kamu bukan Euri yang aku kenal!” pinta Miguel

“Kalo kamu emang sahabatku dan sayang sama aku, jangan halangin aku! ! ! Kesabaranku udah habis Mig! Selama ini kurang sabar apa lagi sih aku?! Kalo aku diem aja, sampe kapan mereka ngerjain aku terus, hah?!” bentak Euri

“_______” Miguel hanya terdiam dan menuruti apa kata Euri

“Sini loe! ! !” bentak Euri (tidak biasanya Euri memakai kata-kata yang cukup kasar, seperti “Loe, Gue, Berengs*k, dsb. kecuali dia benar-benar marah)

“Oh, udah mulai berani loe ya!” tantang Vicky, lalu mencengkeram rahang Euri. Anak-anak seisi kelas hanya dapat melihatnya dengan tatapan tak percaya, baru kali ini sosok lain dari Euri terungkap

Euri menepis cengkeraman tangan Vicky, lalu mendorongnya hingga mundur beberapa langkah dan punggungnya terhantam sisi meja.

“Shit! ! !” gerutu Vicky, kesakitan

Buggghhh!

Heldy memukul rahang Euri, lalu Euri mundur beberapa langkah, membungkuk dan memegangi rahangnya karena kesakitan. Darah segar pun mulai perlahan menetes dari mulut Euri. Sedangkan Lee mulai mengambil langkah mendekat dan mulai menghantam punggung Euri dengan siku kanannya ketika Euri tengah membungkuk kesakitan

Buggghhh!!!

Euri tersungkur ke lantai. Lalu Heldy menghampiri Euri dan menindih tubuh nya. Dia memukuli tubuh Euri bertubi-tubi tepat area punggung dan belakang kepala nya

“Arrrrrrrggghhh!” desah Euri kesakitan

Lalu Lee ikut bergabung, dia menendang sisi perut Euri lalu menginjak salah satu kaki nya. Anak-anak seisi kelas hanya dapat terperangah melihat hal itu. Miguel semakin cemas!

“Errrrrrr….!” teriak Miguel, lalu mulai hendak membantu Euri

“Ngg…Ngaak usah ikut campur!” teriak Euri

“Tapi Errr….! Mereka bertiga, sedangkan kamu sendirian. Ngga’ imbang.” protes Miguel, lalu Euri kembali melarang Miguel untuk ikut campur dengan masalahnya

Tak lama kemudian, Euri mencoba memberontak dan berhasil melepaskan tubuhnya dari tindihan Heldy. Lee terpental karena terkena tendangan Euri dan Heldy terjerembab ke arah kolong meja.
Namun Vicky bangun dari tampat nya terjatuh tadi, lalu berniat memukul Euri

Buggghh!

Euri menepisnya, lalu memukul sebelah mata Vicky.

“Aaarrggghhh! Berengs*k! ! !” gerutu Vicky, lalu memegangi mata nya dan tertunduk kesakitan. Euri segera memanfaatkan kesempatan tersebut, dia menghantam punggung Vicky dengan siku nya. Vicky tertunduk lemas di lantai, lalu Euri segera berlari ke arah Lee dan Heldy, menendang perut mereka berdua yang saat itu masih dalm posisi tersungkur

Buggghhh! Braaakkkk!
Buggghhh! ! !


“Akkkkhhhhh!” desah Lee dan Heldy kesakitan

Euri tetap keukeuh menendang perut mereka dan sesekali menjambak rambut mereka berdua. Mereka berdua mulai lemas dan tak sanggup lagi menghadapi Euri. Sedangkan Vicky mulai ngeri melihat kemarahan Euri, lalu dia segera memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlari dan balas dendam. Namun Euri tak sempat mengejarnya. Dia masih fokus menghadapi kedua orang di hadapannya

Vicky segera berlari untuk membalas dendam namun dengan cara licik. Saat Euri tengah memukuli dan menendangi Heldy dan Lee, Vicky segera berlari ke arah ruang konseling lalu melapor ke guru konseling dengan laporan palsu / fitnah.

“Sir, Mom… Everyone, please come! I need your help!” teriak Vicky, sembari ngos-ngosan

“Ada apa? terus kamu kenapa babak belur begitu?” tanya salah satu guru, dan guru lainnya mulai terlihat panik

“Huh! Huh!” Vicky masih ngos-ngosan

“Cerita nya pelan-pelan aja!” pinta guru tersebut

“Ngga’ bisa Mom, Sir. Pokoknya kalian semua mesti segera ke kelas XI – A. Kami bertiga ngga’ salah apa-apa tapi Euri tiba-tiba amarahnya memuncak dan mukulin kita semua!” fitnah Vicky

“Okay, tunjukkan anak itu!” pinta guru tersebut. Lalu Vicky dan ke tiga guru konseling tersebut segera menuju ke kelas

Di sisi lain, Key baru kembali dari taman dan ketika memasuki kelas, dia di kagetkan oleh peristiwa tersbut

“Eerrr…!!!” Key segera berlari dan menghampiri Euri. Memeluknya dari belakang untuk berusaha menarik nya menjauh, namun gagal. Euri menyikut perut Key dan kembali memukuli Heldy dan Lee.
Lalu Miguel membantu Key, dan segera berusaha menghentikan Euri…

“Udah Errr… Cukup! Mereka bisa mati!” pinta Miguel. Euri lagi-lagi berhasil melepaskan diri dari Miguel dan Key, lalu kembali memukuli Heldy dan Lee.

“What the hell?
Eurrriii….! Stop it!” teriak guru pria, salah satu guru konseling. Lalu Euri tercengang melihat kedua guru konseling tersebut tengah berdiri di ambang pintu kelas. Euri benar-benar terkejut, ketakutan, marah, kesal, dsb. “Dasar banci loe! Pake ngelapor segala!” gerutu Euri. Vicky hanya tersenyum penuh kemenangan

“Kalian semua, ikut saya ke ruangan konseling! ! !” bentak guru wanita, salah satu guru konseling. Lalu guru wanita dan pria itu segera melangkah ke arah ruang konseling di ikuti oleh Heldy, Vicky, Lee dan Euri

“Kalian berdua ngga’ usah ikut! Kalian ngga’ terlibat dan ngga’ bisa di jadikan saksi.” bentak guru pria

“Tapi, sir!” protes Miguel dan Key. Akhirnya mereka hanya menurut dan kembali masuk ke kelas. Tak lama kemudian bel tanda istirahat berakhir mulai berbunyi. Dan pelajaran ke 3 di mulai. Selama pelajaran, Key dan Miguel tak henti-henti nya memikirkan Euri.
-
-
-

@Counseling room


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" bentak guru tersebut ke Euri

"Gini, sir! Mereka itu dari dulu sampe sekarang cari gara-gara terus. Banyak banget pokoknya ulah mereka. Tapi yang paling parah tuh mereka nyeburin aku ke kolam waktu pelajaran praktek renang. Sir, bisa ngebayangin kan? Aku di situ hampir aja mati. Untung ada temenku yang nolongin aku. Terus hari ini mereka nempelin kertas yang isi nya seakan-akan aku meminta di cium. Oh my god, dan apa yang terjadi? Aku di cium beberapa cowok di sekolah ini. Aku bener-bener shyock! Marah dan ngga' terima sama semua ini. Yang satu nya menyangkut nyawa seseorang dan hari ini nyangkut pelecehan seksual. Selama ini aku ngga' pernah balas mereka, baru tadi aja aku bener-bener kelepasan. Kesabaran orang ada batas nya, Sir!" terang Euri

"Memang nya ada bukti nya?
Kalau perihal nyeburin kamu ke kolam itu, ada buktinya?
Terus, perihal pelecehan itu apa ada buktinya?
Mana kertas yang mereka tempelin, yang kamu maksud itu?
Semuanya harus ada buktinya, kami sulit untuk bisa mempercayai kamu, Err... Sedangkan di satu sisi, yang kami lihat tadi kamu dengan begitu ambisinya memukuli mereka seperti itu. Nyawa mereka juga menjadi taruhannya. Sekali lagi, apa kamu punya bukti nya?" jelas guru tersebut

"Iya tuh, apa yang di ceritain dia itu ngga' bener, Sir! Mana mungkin kita setega itu nyeburin orang ke kolam. Trus masalah pelecehan itu, dia ngga' punya bukti kertas itu kan? Atau pun meski ada bukti kertas itu, bisa saja dia sengaja menulisnya dan merekayasa semua itu sendiri untuk membela diri nya. Mana kertas nya?" kata Vicky

"Itu semua ngga' bener sir! mereka ngefitnah saya.
Oh my god! Udah ngejahatin aku selama ini, sekarang ngefitnah aku. Shit!

Hmmm... Saya akan cari bukti itu, sir! Secepatnya akan saya cari." kata Euri

"Hahaha... bulshit dia tuh alibi Sir!
Masalah nyeburin itu, dia ngga' punya bukti. Masalah pelecehan itu, dia juga ngga' punya bukti kan Sir? Jelas-jelas sir tadi dah lihat di kelas, siapa yang jahat? Mukulin anak orang dengan begitu bengis nya di dalem kelas pula. Ngeganggu kegiatan belajar-mengajar aja.
Justru di sini kita yang punya bukti mengenai kejahatan dia, Sir!
Masalah pelecehan itu, dia ngga' ada bukti kan. Tapi kami punya bukti!" terang Heldy

"Maksud kalian apa hah?" bentak Euri

"Ini sir! Coba lihat ini. Itu bukti nyata dari kami. Dia bukan nya di tempeli kertas, dan di ciumi oleh anak-anak sini dan bukan pelecehan yang di lakukan oleh kami. Kata-kata dia itu FITNAH!!!
Coba lihat ini, dia ciuman dengan salah seorang siswa kelas XI - A. Anak-anak juga tahu kalo mereka sering mesum di kelas. Ciuman, pelukan, dsb. Bahkan ada kabar, mereka melakukannya di toilet juga. Cuman belum pernah ketahuan aja.
Foto ini aku ambil dari HP saat tanpa sengaja aku mergoki mereka berdua tengah mesum gitu di kelas saat sepi.
Sekarang sir udah bisa bayangin dan gambarin siapa yang salah, siapa yang jahat.
Dia tadi bukannya di ciumi anak-anak di sekolah ini. Anak-anak sekolah ini pastinya bukan Gay lah, normal lah! Pasti dia pake alesan itu buat alibi. Padahal asli nya dia ciuman sama cowok-cowok di kantin tadi atas kemauan dia sendiri. Ngga' punya rasa malu pula, ngelakuin hal seperti itu di kantin sekolah. Itu kan rame dan tempat umum.

Dasar Gay murahan dan ngga' tahu malu loe! Ih!!!

Terus tadi sir, dia mukulin kita bertiga di kelas tuh karena takut kami aduin perihal bukti foto itu yang ada di HP saya. Dia takut kami ngadu, dan dia marah-marah. Dia ngancem kami dan mukulin kami biar kami ngga' berani lapor. Padahal kan kebusukan itu harus di ungkap dan harus dapet balasannya yang setimpal dengan perbuatannya. Dia itu ngga' mau image nya rusak dan rahasia nya sebagai Gay terbongkar!
Masalah nyebur ke kolam itu, dia bohong. Dia alibi aja, nyari-nyari kesalahan kita bertiga supaya dia ngga' di anggap salah. Atau bisa aja dia rekayasa semua, pura-pura kecebur gitu." kata Heldy

"Pembelaan kamu dan beserta bukti foto yang ada di HP ini saya terima. Sementara, HP kamu saya bawa dulu untuk bukti. Lalu Euri, apa pembelaan kamu?" kata guru tersebut

"Aku ngga' mau bela diri apa-apa lagi, Sir!
Sandiwara mereka itu bener-bener Top banget!" gumam Euri sembari tersenyum pahit, lalu menundukkan kepala nya

Sementara Hedly dan ke dua temannya tersenyum penuh kemenangan

"Otak kamu encer juga! Hahaha... Kamu udah nyiapin ini semua dari tadi ya? Biar tahu rasa tuh si Euri. Hampir aja kita kena hukum!" bisik Vicky ke Heldy

"Hahaha.... Emang dari dulu aku pinter!" bisik Heldy, lalu mereka berdua tersenyum licik.

"Okay kalo kamu ngga' ada pembelaan apa-apa. Berarti kamu memang yang bersalah. Sebagai hukumannya, kamu akan mendapat skorsing selama 3 minggu, karena kasus ini begitu banyak jadi hukumannya panjang. Terus hukuman ke dua, kamu dapat point 300. Kalo point kamu udah 350, kamu bakal di keluarin dari sekolah ini. Dan hukuman ke tiga, kami akan menelphone Mama kamu dan menyuruh nya membawa kamu kembali ke rumah untuk menjalani hukuman ini. Dan kami akan menceritakan semua masalah ini mulai dari pemukulan itu, ciuman di kelas, toilet, bukti foto ini, terus kamu memfitnah teman-teman kamu dan memukulinya, pokoknya semua nya. Semoga setelah hukuman tersebut kamu jalani, Mama kamu jadi lebih intensif lagi buat mendidik dan mengawasi pergaulan kamu, juga semoga kamu menjadi sadar akan segala perbuatan yang telah kamu lakukan. Kalian semua boleh keluar, saya akan menelphone Mama nya Euri dan akan mendiskusikan kasus ini bersama beliau dan dewan guru." terang guru tersebut, lalu mulai mencatat kasus tersebut ke dalam buku konseling

"Tapi sir! Tolong jangan telphone Mama ku. Aku ngga' pengen bikin Mama ku kecewa dan sedih! Dan satu hal, aku bukan GAY! dan Ini semua itu fit....!" kata-kata Euri terpotong

"Cukup!!! Cepat kembali ke kelas!" bentak guru tersebut. Lalu Heldy dan kedua kawannya tertawa penuh kemenangan dan segera kembali ke kelas. Euri pun mulai keluar dari ruangan tersebut dengan penuh amarah. Tak terasa, air mata yang di bendungnya dari tadi mulai menetes.

"Papa... Aku kangen papa!

Tuhan! Coba'an mu terlalu besar!!! Aku takkan sanggup memikul ini semua. Aku saat ini benar-benar hancur!!!" desis Euri. Lalu mengusap air mata yang menetes. Namun keluar dan keluar lagi. Lalu Euri mulai menyusuri langkah ke dorm. Saat ini dia begitu malas untuk melangkahkan kaki nya kembali ke kelas. Terlalu lelah dan sakit hati. Juga terlalu muak melihat wajah-wajah Heldy dan kawan-kawannya.

Sedangkan di ruang konseling,,
-
-
-

"Hallo, Ini benar Mama nya Euri?" tanya guru tersebut di telephone

"Sure, What's up, Sir?" tanya Mama Euri

"Begini..." kata guru tersebut

____________________________________________________

To Be Continued

0 komentar:

Posting Komentar