Pages

Perfect World Online Pointer

PIJAT (part I)

(oleh:Eurie Ervin Diez)




sepeda motor supraku berjalan tidak terlalu cepat menyusuri jalan raya solo semarang
jalan yang lebar dan sepi
aku benar-benar menikmati perjalanan pagi ini
di depanku nampak gunung merapi merbabu berdiri kokoh sejajar
gunung merapi masih saja mengepulkan asap yang terlihat memanjang ke utara
semua nampak sangat indah....

aku paling suka perjalanan memakai sepeda motor
atau mungkin karena hanya ini yang aku punya
sepeda motor supra tahun 2004 berwarna merah hitam
sudah beberapa kali pak danar menyarankan aku untuk membeli mobil
tapi entahlah....
setelah sepuluh tahun yang lalu aku kecelakaan, aku jadi malas untuk naik mobil
jadilah selama tujuh tahun ini sepeda motor ini menemaniku
kalau terlihat dari angka di spedo... sudah lebih dari 200 ribu kilometer sepeda motor ini berjalan
wahhhh....baru nyadar, ternyata sepeda motor tua ini sudah begitu banyak berjasa

aku dari solo...
ada kegiatan TOT tentang management selama lima hari di hotel berbintang di solo
dan....
aku satu-satunya peserta yang memakai sepeda motor

sebenarnya pak danar sudah sangat baik, akan meminjamkan mobilnya dengan sopir perusahaan untuk mengantarku
tapi...aku bersikeras, mau naik sepeda motor dari semarang ke solo

beberapa peserta TOT sempat kaget setelah tahu aku pakai sepeda motor
aku cuma tersenyum menanggapinya
yahhh...aku memang nggak peduli dengan urusan yang beginian
gengsi atau entah apalah...
bahkan ada nyeletuk..."hari gini naek sepeda motor..."
aku cuek...
saat parkirpun...tukang parkir tak percaya kalau aku peserta TOT
semua gara-gara aku naik sepeda motor
aneh.....
sampai aku harus menunjukkan kartu tanda peserta segala

setelah lima hari, tak kuduga bahwa acara penutupan dilaksanakan pagi hari
dalam jadwal penutupan jam empat sore
ternyata beberapa acara di padatkan

ahhh...sepagi ini mosok aku harus balik ke semarang
masuk kerja lagi????
nggak lah....
sesekali aku tak akan masuk kerja
toh pak danar taunya aku masih kegiatan di solo

jam 10 pagi....
aku telah tiba di kota salatiga
tiba-tiba hatiku bingung

kutatap gunung merbabu di depan sana
di lerengnya menawarkan keindahan dan kesejukan untuk aku jelajah
ada tempat wisata yang sejuk disana...kopeng

aku terhenti
termangu bingung
dibalik gunung merbabu ada kota sejuk...magelang
disana ada teguh...ahhh...ya ada teguh
hmmm...sejenak aku menatap gunung merbabu...

dan pelan sepeda motorku berbelok ke kiri
menuju jalan yang lebih sempit
menyusuri gunung merbabu
yang menawarkan sebuah petualangan

sebenarnya kopeng hanyalah tempat biasa di lereng utara gunung merbabu
aku sudah beberapa kali lewat sini
tapi entahlah...kesejukan tempat ini terus saja mengundangku kesini lagi

kadang aku berfikir, jika desanya teguh di bangun mungkin tak kalah menarik di banding kopeng
hmmm....jadi ingat desa lereng prau

yang aku suka dari kopeng adalah kesejukannya yang sulit untuk di dapatkan di tempat lain
bukan dingin
tapi sejuk

panoramanya juga indah
banyak tempat peristirahatan menawarkan kenyamanan
tapi entahlah...aku tetep suka dengan kesejukan di luar
bukan di dalam bangunan

aku terhenti sejenak di kopeng
duduk....
menikmati jagung bakar
menikmati segelas kopi jahe
menikmati hamparan lembah rawa pening yang luar biasa

Aku duduk di bangku panjang depan warung kecil
Sengaja aku duduk di depan warung, tidak di dalam
Aku ingin menikmati kesejukan sambil memandang alam di depanku
Kubawa piring dengan beberapa gorengan dan segelas besar kopi jahe
Perlahan kuhirup dan seruput kopi jahe yang panas, hingga tenggorokanku terasa hangat

Kulihat di depan sana…
Lembah luas…dan di tengahnya kemilau air danau rawa pening
Disisinya ada dua gunung…gunung telomoyo dan gunung ungaran..mengapit
Dan kini aku paham…mengapa di lembah itu terdapat danau rawa pening
Rawa itu mungkin terjadi karena lembah itu dikelilingi oleh gunung dan pegunungan sehingga air dari air di sekitarnya tidak dapat mengali kemanapun
Jadilah rawa pening…
Itu hanya teoriku saja sih…

“jeruk mass…” suara wanita tiba-tiba
Aku menoleh dengan cepat
Aku tersenyum menggeleng pelan

Kulihat wanita setengah baya yang bertubuh gempal sambil menggendong barang dagangannya
Pedagang asongan….
Yahhh…dia menggendong kotak berisi mulai dari rokok, permen, tissue dan buah jeruk serta tomat

“masse kan belum nyoba jeruk sini to? Manis- manis lho” rayunya
Dia duduk disisiku…
Aku Cuma tersenyum
“mosok dingin gini makan jeruk mbak, entar kembung malah” aku memberi alasan
“ahhh masse ini, mosok jeruk bikin kembung to?...yang ada malah bikin seger, silakan mas…coba dulu” dia terus berusaha merayuku

Aku menoleh tersenyum
“maaf mbak, aku lagi minum kopi jahe, entar kalau makan jeruk jadi nggak nikmat kopinya” kilahku
“ya udah…rokok mas?” rayunya lagi
Uhhh…pedagang ini nggak kenal menyerah rupanya
“waahhhh…aku nggak ngerokok mbak”
“oalah…laki-laki kok nggak ngerokok to?”
“hehehe emangnya kenapa mbak?”
“ya nggak po po, Cuma nggak jantan gitu lho”
“halahhh…kata siapa” sanggahku
“ya kataku…eeh mase dari mana to?”
“solo” jawabku singkat

Sejenak kami terdiam
Uhhh..pedagang ini sungguh merusak moodku untuk menikmati pemandangan disini

“masss….” Tiba-tiba dia berbisik disisiku
aku menoleh kaget
“ada apa mbak?”
“hmmm…masse pasti kesini nyari jeruk yang bikin anget ya?” dia agak berbisik pelan sambil mengerlingkan mata

Mendadak keningku berkerut
Aku bingung
“jeruk yang bikin anget?...akhhh mana ada mbak?”
“oalahh masse ini, pura-pura nggak tau ato gimana gitu lho…itu tuh jeruk yang bikin anget..”
“nggak!...aku minum kopi jahe saja, daripada jeruk anget” sergahku
Entahlah, aku merasa obrolan ini semakin nggak nyambung saja

Aku menghela nafas panjang…
Sebenarnya aku ingin dengan cepat beranjak dari tempat ini, meninggalkan mbak pedagang asongan
Tapi terus terang saja, aku nggak enak hati meninggalkannya begitu saja

“mass…” bisiknya lagi
Kali ini dia sedikit menjawil lenganku
Aku menoleh kaget

“masse pasti lagi nyari yang bikin anget-anget ya” matanya sambil mengerling kearahku
“hahh” aku kaget
Sekarang aku baru menyadari…
Aku baru paham apa yang dimaksud dengan ‘yang anget-anget’
Mungkin aku dikira mau nyari wanita penghibur

“mas… aku bisa kok nyariin, pilih yang masih kinyis-kinyis atau yang semok, semua ada…murah lho…?” rayunya lagi
Aku masih tertegun kaget
“mas..untuk tempat banyak, semua bisa diatur lah, masse tinggal pilih saja, mau tempat yang gimana, nanti soal tarif menyesuaikan lah”
Waduuhhhhh….paraahhhh….

Kupandang serius wajah mbak pedagang asongan itu
Kulihat sorot matanya
Sekedar untuk melihat apa dia serius atau sekedar iseng saja…
Ohhhh…Tuhaannn…dia keliatan serius…serius jadi semacam ‘makelar’

“gimana mas?” tanyanya lagi tidak sabar
Aku tersenyum lebar

“hehehehe…mbak, aduhhh mbak’e ini salah lah, aku tuh kesini Cuma lewat, nggak nyari yang gituan mbak” kataku meyakinkan
“oalahhh mass…udahlah jangan malu-malu gitu dong, aku hafal kok, laki-laki yang lagi nyari kehangatan disini”
“hahh..yang bener mbak?...bener kok…aku disini Cuma lewat saja, tadi dari solo, lagian aku kan lagi capek, mosok malah nyari kegiatan yang bikin tambah capek to?”
Aku tersenyum
Tapi ini benar-benar bikin aku geli…

“udahlah mas…jangan pura-pura gitu lho, aku tahu masse ini sejak tadi matanya jelalatan, terus keliatan banget baru nyari”
“waduhhh emangnya mukaku kayak gimana sih, kok mbak bisa tau kalau aku lagi nyari?”
“hehehehe…masse ini lho”
“ya mbak, gimana?”
“yaaa…aku hapal lah, wajah masse ini wajah mesum gitu lho, matanya aja jelalatan, kayak penjahat kelamin lah…hehehehe…guyon lho mas, jangan marah to…”

Aku merengut
Dasar wanita sialan, mosok wajah alim gini dikatain wajah mesum dan penjahat kelamin

Aku segera bangkit
Menuju sepeda motor
Aku berkaca di sisi kaca spion

“lho masse ngapain?”
“liat mukaku mbak” jawabku ngasal
“hahahaha…liat saja, pasti terlihat mesum to?”

Uhhh..lama-lama aku kesal betulan nih
Aku kembali duduk
“ahhh mbak’e salah neh, mosok wajah alim gini di katain wajah mesum?”
“wuaayakk…wajah kayak gitu kok alim…alim dari hongkong?”
“walah…mbak’e ngennyek nih”
“hahahaha”
Dasar ‘makelar perempuan’ sialan

Kembali dia mencubit lenganku
“gimana mas?” katanya sambil mengerlingkan mata
Sialan!
“gimana apanya?”
“ya itu tadi to?”
“apanya”
“oalah mas…mas…itu tadi, mau yang anget-anget nggak?”
Aku kembali tersenyum
Sebenarnya ini senyum geli saja
Perempuan ini masih ngotot

“mbakk…dah kubilang aku tuh capek, mosok cari yang gituan…entar bisa-bisa modar!”Jawabku ngasal
“walahhhh mbok bilang dari tadi to kalo capek”
“iyo mbak, aku tuh capek”
“nahhh…yang ini pasti masse suka…”
“apaan mbak?”
“untuk ngilangin capek…pijat plus-plus mas”
“hah apaan tuh?”
“waualah masse ini lho, itu tuh pijat…”
“oh pijat to”
“gimana, mau pijat nggak? Tarifnya murah lho”

Entahlah tiba-tiba aku tertarik dengan pijat
Mungkin karena kegiatan selama ini membuat aku begitu capeknya
Aku memang lama nggak pijat

Aku terdiam
Kulihat wajahnya berbinar melihat perubahan wajahku

“pijatnya dimana?” tanyaku bingung
Aku memang bingung, karena sejak tadi aku nggak melihat papan panti pijat
“walahhh…tempatnya buanyak gitu kok, tinggal pilih saja…tuh…tuh tinggal pilih losmen yang kayak gimana, nanti tinggal aku panggilin tukang pijetnya, bueres kan…” katanya mantap

“yang mijat cowok atau cewek?”
“halah mas…mosok yang mijat laki-laki to mas, ya nggak asik lah, yang mijat itu cewek…cantik lho, kinyis-kinyis pokok’e, di tanggung enak lah, badan masse habis pijat pasti suegger gitu lho” katanya berapi-api dengan mata berbinar

“hahh cewek?” kataku kaget
Uhhh…terus terang aku sejak tadi berfikir yang mijat cowok kayak di film pinoy M2M
Jadi kaget juga lah

“piye to masse ini, ya cewek lah, oh ya kalo masse ragu, masse bisa pilih yang model kayak gimana, ada photonya lho”
“lho tukang pijat kok pake poto segala to mbak?”
“la iya lah ini kan pijat plus-plus…”
“pijat plus-plus? Apan tuh?”

Wanita itu mengambil nafas panjang
Aku memang benar-benar nggak begitu paham masalah ginian

“mass pijat plus-plus itu…pokok’e semuanya di pijat lah” jalasnya
“semuanya…???”
“iya masss..semuanya…bahkan ‘burungnya’ masse juga ikut dipijat biar manggung gitu lho, pokok’e siippp lah’
“hahhh…”
Aku kaget
Benar-benar kaget

Kulihat perempuan sialan itu
Sejak tadi merayuku
Dan kini sorot matanya begitu berbinar
Seolah dia seribu persen optimis…aku akan masuk dalam jebakannya…


Aku senyum-senyum lihat mbak pedagang asongan itu
Ohhh…wajahnya bulat, kulitnya coklat tua, tubuhnya tambun…hmmm menggemaskan
Dia memakai selendang lurik yang diampirkan ke lehernya
Mirip slayer…

Entahlah…
Tiba-tiba terbersit keinginanku untuk menggodanya
Hmmm…sekedar pengin tahu dunia prostitusi sajalah dari dia

“mbakk…??”
“yoo mas, piye?” jawabnya dengan mata berbinar
“yang mijat ada berapa orang mbak?”
“ohhh…ya buanyak mas, tapi yang titip ke aku Cuma enam saja, tapi walau Cuma enam, masse bisa milih dari yang usia SMA atau yang sudah dewasa….ssst…ada jandanya juga lho…wwooowww…dia itu favoritnya lho, soalnya…” dia berbisik lirih

Aku kembali tersenyum
“soalnya apa mbakk…??” aku juga ikut berbisik pelannn..
“hmmm…dia itu sudah pengalaman banget, pijatannya katanya hueenak dan…itu lhooo…servisnya juga yahuuuddd…” dia kembali berbisik
Kali ini bibirnya di tempelkan di telingaku

Aku Cuma bengong
“servis? Kok kayak volly saja mbak, pake servis segala?” tanyaku pura-pura bego
“wuaduhh, masse ini piye to? Pura-pura atau gimana?”
“nggak mbak, bener, servis apaan mbak?”
“walahhh servis gini lho…”
Dia memperagakan gerakan ‘ngocok’
Telapak tangannya mirip meres santan kelapa sambil naik turun
Aku pura-pura melotot

“mijet kok kayak gitu to?” tanyaku
“ini nih bukan mijet, tapi servisnya masss…”
“terus yang di gini-giniin apanya mbak?” tanyaku sambil ikut memperagakan gerakan ngocok
“wua hahahaha…” dia tertawa
“kok mbak’e malah ketawa to?”

Dia kembali menempelkan bibirnya di telingaku
“yang di ‘gituin’ itu burungnya masse…”
“hahh” aku pura-pura kaget

Dia semakin menambah lebar senyumnya
Kedua bola matanya berbinar
‘gimana mas, asik to?”
Aku mengangguk pelan
“iya mbak, Cuma…”
“Cuma apa mas?”
“hmmm…brarti pas aku di pijet aku harus telanjang gitu ya mbak?, wah kalo sampe telanjang aku ya malu to mbak?” pancingku
“lho mase iki piye to? Ya biar asik harus gitu to mas, mosok masih pake pakeyan…ya nggak asik tho”

Aku garuk-garuk kepala…
Sebenarnya ini gerakan palsuku yang seolah-olah aku ragu
“piye mas?”
“aku malu mbak?”
“nggak usah malu, wong semua pelanggan juga kayak gitu kok”

Aku kembali terdiam
Kutampilkan wajah raguku

Dia kembali mendekati telingaku
“mass…” bisiknya lagi
“ya mbak”
“kalo masse nambah limapuluh ribu, servisnya pake ini lho?”
Di menempelkan jarinya di bibir

“maksudnya??” tanyaku pura-pura nggak tau
“pake bibir mas” bisiknya di telingaku
“maksud mbak, ciuman yo?” tanyaku
“ya nggak lah, maksudku…’itu’ nya masse diemut…” jawabnya pelan dengan mata berbinar
“di emut?” tanyaku melotot

Dia mengangguk mantab
“ahhh nggak ahh” jawabku
“napa lagi to mas?”
“ehhh mbak, kalau muncrat pas diemut gimana?, aku kan jadi nggak enak to?”
“wallahhh…ya nggak apa-apa to mas, memang tujuan diemut biar muncrat kok”

Aku terdiam…
“piye mas…?”

Entahlah aku kembali ragu
Dalam hati penasaran juga nyobain pijat ala plus plus
Taku sejujurnya ada ketakutan juga, karena yang pasti pemijatnya pasti WTS…
Sekali lagi aku terdiam dalam alunan rasa penasaran yang berkecamuk dalam hati

"gimana masss...?" dia terus mendesakku
aku masih terdiam
"ahhh...nggak jadi ahh, kapan-kapan saja" jawabku sekenanya
"uhhh...masse ini, memangnya kenapa to mass...mau dibuat enak kok nggak mau to?'

aku tertawa geli
mbak ini rupanya tipe orang yang ulet
pantang menyerah, terus saja merayuku

"nggak ahh.." ujarku lagi
"lha iya, kenapa kok nggak mau?"
"hehehehe...takut kena penyakit mbak"
"penyakit?" dia mengernyit
"lha iyalah, wanita kayak gitu tu banyak penyakitnya mbak"
"walah mas, di tanggung bersih mas"
"tetep saja nggak mau aku"

dia merengut kecewa
aku paham...dia sejak tadi berusaha keras merayuku dan tidak mempan, pastilah dia kecewa"

aku tersenyum...
"maaf ya mbak, aku nggak mau wanita gituan, hmmm ya udah aku beli jeruknya saja mbak"
"jeruk?"
"iya...tadi mbak kan nawarin jeruk, sini aku beli ..."
"wahhhh...gitu dong..." tiba-tiba wajahnya cerah

dia sibuk mengambil sesuatu didasar kotak asongannya
"bentar ya, masse tinggal pilih jeruknya, bentar...fotonya ada disini..."

aku kaget
"lho...kok foto to?"
"katanya mau beli jeruk yang bikin anget, liat foto biar nggak salah pilih"

sekali lagi aku kaget
"bukaaaaannnnn...bukan jeruk yang ituuuu..." aku setengah berteriak
"terus?" dia melongo
"jeruk yang ini mbaaaakkkk..."
kataku sambil menunjuk jeruk berwarna kuning di kotak asongan

kustarter pelan sepeda motorku...
uhhh akhirnya dengan memborong buah jeruk khas kopeng, aku bisa lepas dari mbak pedagang asongan tersebut

kuletakkan plastik berisi buah jeruk dalam tas punggungku
terasa berat...
jeruk kopeng memang beda
berwarna hijau kekuningan dan hampir tak ada rasa masamnya
segar, cuma tidak bisa dikupas
diiris...semacam jeruk baby

"ehh...mass tungguuu..." suara teriakan
aku terhenti, menoleh
ohhh...kulihat mbak yang tadi berlari
tubuhnya yang gempal bergoyang seiring langkahnya yang cepat menghampiriku
uhhh...ada apa lagi nih?

"eh mas...tunggu, ini..ini mas"
dia mengacungkan kertas kecil semacam kartu
aku bingung...

nafasnya terengah-engah ketika sudah begitu dekat denganku
"ini lho mas...kartu namaku, kapan-kapan kalau masse 'butuh', bisa hubungi aku" ujarnya disela-sela nafasnya yang terengah-engah
hah...kartu nama?
woooww...pedagang asongan aja punya kartu nama, luar biasa
"kartu nama?" ujarku menatap kartu nama dengan raut bingung
"iyo to mas...gini-gini ...nggak ketinggalan jaman lah, harus punya kartu nama"

kuterima kartu nama darinya
kubaca namanya
DIAH PUSPITASARI

woww...

aku geli membaca namanya
nama yang sungguh tak sesuai dengan orangnya
"woww...mbak'e ini lho, namanya mirip bintang pilem..." ujarku menggodanya
dia tersenyum lebar
kulihat pipinya memerah karena kugoda
"ihhh masse ini lho, lha iyalah, wajah kan nggak jauh beda dengan bintang pilem to mas" jawabnya sambil mencubit lenganku
"hihihihi" kali ini aku tertawa geli beneran

"mbakk...mbakk...." ada suara wanita lain berteriak memanggil
kulihat seorang pedagang asongan yang lain berjalan cepat menghampiri kami
"mbaaaakkk...mbakkk wagiyaahhh...ada tamu tuh..." suaranya kembali terdengar memanggil

hah...wagiyah?
kedua pedangang asongan kini di dekatku
"jadi nama mbak, wagiyah to?" tanyaku
kulihat dia tersipu
"iya mas...cuma nama keren ku diah puspitasari"ujarnya
"hahahaha..."aku tertawa lebar
"ya udah, mbak diah puspitasariiii...saya pulang dulu ya...makasihhh, hehehe" aku pamit sambil menggoda dia
kulihat pedagang asongan yang tadi datang bingung, menoleh kepada mbak wagiyah alias mbak diah

kutarik gas pelan
dan pelan sepeda motorku meninggalkan kopeng
meninggalkan semua rayuannya

"masss..." dia kembali berteriak
seketika aku terhenti
"ya mbakk...ada apa?" aku kembali menoleh

"hey...nama masse siapaaaa?"
"rohmaatt.."jawabku sekenanya
"dadaaaa....mas rohmaaattt..." dia berteriak sambil melambaikan tangan
sekali lagi aku tertawa geli

menyusuri sepanjang jalan dari kopeng menuju kota magelang sungguh mengasyikkan
aku mengendarai sepeda motorku sepelan mungkin
menikmati pemandangan yang sungguh luar biasa
gunung telomoyo terasa begitu dekatnya
woowww...jadi ingat ketika aku berada di desanya teguh...

ketika hampir memasuki kota magelang
kulihat dari kejauhan sungai elo yang lebar
sungai inilah yang mengapit kota magelang disisi timur dan sisi baratnya sungai progo

dari kejauhan sungai elo begitu indahnya, berkelok-kelok disela-sela hijau hutan di sekitarnya
dari jauh pula terlihat jelas kota magelang
bagian tengahnya menyembul sebuah gunung kecil
gunung tidar
gunung tidar mirip candi borobudur, dan pohon pinusnya mirip stupa
bagaimanapun juga kota magelang khas...paling tidak dibanding dengan kota lain di jawa tengah
yang membuat begitu khas adalah gunung tidar ini
inilah satu-satunya kota yang bagian tengahnya terdapat gunung
sangat indah...

aku terhenti di alun-alun kota magelang
minum es kelapa muda
sangat nikmat
udara siang ini juga begitu cerahnya...
panas..sehingga es kelapa muda terasa begitu menyegarkan

tiba-tiba aku ingat teguh
ahhh...bukannya teguh tinggal di kota ini
woww...teguh,,,

kukeluarkan hp di saku bajuku
kutelepon teguh
dan....kudengar suara diseberang sana
sangat ribut

"mas aji ya..." suara teguh diseberang sana
aku tersenyum, jadi kangen dengan teguh
"iya guh..gimana kabarnya guh?"
"baik mas, mas aji gimana kabarnya?"
"baik juga kok guh...kamu dimana? bisa ketemu nggak guh?" tanyaku bertubi-tubi

aku menanti jawaban dari teguh
kunanti...
ada keriuhan diseberang sana
hmmm...mungkin teguh sedang bekerja
ohh tiba-tiba aku menyesal mengajak teguh bertemu

kutunggu untuk beebrapa saat, tidak ada jawaban
kutahu teguh pastilah ragu...dan mungkin juga bingung
                                         


                                                 --.DelvetiaN.--

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 1

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 1



Genre                    : Yaoi - Romance Fan Fiction

Author                   : Kiki Wellian S.

Background Song : Yiruma – River flows in you

Contact :

· Fb : Kiki Wellian Delvetian

· Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com


*NB : Menerima Segala bentuk pujian, kritikan sopan, dan kritikan pedas tapi membangun. Selamat membaca! ^^”



Ini adalah karya ke dua Kiki. Semoga dapat menjadi cerita yang menarik bagi para pembaca.

Kiki berharap agar cerita ini dapat menjadi cerita yang lebih baik dari sebelumnya.

Selamat membaca… ^.^”

Terimakasih!




~Author P.O.V~


Di danau Vervidia yang cukup terkenal di kota Bulacan, Fillipina. Terdapat seorang remaja laki-laki yang tengah duduk di tepi danau. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari koper hitam nya.

Dia mengambil sebuah biola dan mulai memainkannya dengan tatapan kosong ke arah seberang danau Vervidia. Tampak jelas raut wajah nya yang begitu sedih di sertai tatapan kosong ke arah seberang danau tersebut.


Tak lama kemudian, tetes air mata pun mulai mengalir di pipi lembut nya.


Pandangannya tetap kosong, memandangi kilauan air danau yang di terpa sinar mentari. Sembari memainkan biola nya, dia menangis. Terlihat begitu jelas kesedihan yang amat dalam dan tengah di timpa nya. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke atas langit biru. Memikirkan dan mengenang seseorang yang tengah istirahat dengan tenang di alam sana.



Lalu, terlihat seorang pria berumur 20’an menghampiri anak laki-laki tersebut, dan mengatakan sesuatu dalam Bahasa Tagalog (Bahasa Fillipina).


“Batang master, hana bahay! Nanay naghahanap para sa iyo. Akking lalong madaling panahon upang maihatid ang iyong order, Hindi mo pa kinakain, Ang iyong mama mag-alla.” kata seorang sopir berwajah tampan yang berumur sekitar 20’an. Mengenakan seragam berwarna hitam dan kaca mata hitam nya.


“Yes, Ginoo!” sahut anak laki-laki tersebut, lalu mengusap air mata nya kemudian segera memasukkan biola nya ke dalam koper dan segera masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam.


Translate : “Tuan muda, ayo pulang! Di cariin Mama. Saya di suruh segera nganterin tuan muda pulang. Tuan kan belum makan dari tadi, Mama khawatir sekali.”

“Iya, mas!”


-

-

-

Selama di perjalanan, dia membuka kembali koper hitam yang berisi biola tersebut. Dia memandangi ukiran tulisan yang terdapat di bagian belakang leher biola tersebut :

“To : Euri

Our love always heard in your heart”

-Dad & Mom-



Air mata yang tadi telah terhenti kini tumpah lagi mengaliri pipi hingga dagu nya. Menetes di ukiran tulisan biola tersebut dan mengalir jatuh ke bawah.


“Dad, Really I miss you!” desis nya. Kini air mata nya semakin deras dan menetes satu per satu pada biola tersebut



Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di sebuah rumah mewah berwarna putih yang berada di kota Bulacan, Fillipina.




“Maligyang pagdating” Sapa salah seorang pembantu yang ada di depan pintu rumah mewah tersebut, lalu membukakan pintu dan mengedarkan tangannya, yang berarti ‘silahkan masuk!’


“Yes, Ginoo!” sahut anak laki-laki tersebut


Translate : “Selamat datang Tuan muda”

“Iya, mas!”





Tak lama kemudian, anak laki-laki tersebut yang bernama Euri, mulai melangkah menuju ruang makan dan duduk di salah satu kursi tersebut.




“Mama mana?” tanya Euri pada seorang pembantu yang tengah menyiapkan makanan dan minuman untuk nya ke dalam piring dan gelas kaca


“Seperti biasa nya, Tuan! Nyonya kerja. Namun hari ini berangkat lebih awal. Kata Nyonya, ada meeting dengan Client dari Manila.” kata pembantu tersebut


“Oh!” jawab Euri singkat, lalu mulai menyantap sarapan nya dengan malas, yang telah di siapkan oleh pembantu nya.



Ini adalah tepat 40 hari meninggal nya Tuan Dhanie (Ayah Euri). Seorang pengusaha yang kaya raya dan berbakat dalam bidang nya. Euri tak begitu mengerti terlalu jauh tentang kronologi kejadiannya. Dia hanya tahu bahwa Papa nya meninggal karena kecelakaan dengan mobil seorang pengendara lain. Selama ber minggu-minggu, Euri menghabiskan waktu nya di dalam kamar atau ketika jenuh dia pergi ke Danau Vervidia. Memainkan biola nya dan meratapi kepergian Papa yang begitu di cintai nya.

Euri beserta Keluarga nya benar-benar terpukul ketika mendapat kabar bahwa Papa nya tersebut meninggal dunia karena kecelakaan. Mobil milik Papa nya tersebut terlihat remuk, hancur total.

Wajah Euri terlihat begitu pucat karena jarang sekali makan. Kesehatannya semakin hari mulai semakin memburuk.



Dia baru saja pindah di kota Bulacan, Fillipina. Sebelum nya dia tinggal di Manila, Fillipina bersama keluarga nya sebelum Papa nya meninggal. Mama Euri mengambil keputusan untuk pindah rumah agar tak semakin berlarut-larut dalam kesedihan, karena di rumah lama nya terdapat begitu banyak kenangan-kenangan indah bersama Papa nya yang begitu sulit bahkan takkan pernah bisa di lupakan.

Euri menyetujui keputusan Mama nya tersebut. Sekarang tepat sekitar 10 hari dia dan Mama nya tinggal berdua di rumah ini. Euri sering kesepian berada di dalam rumah besar nan mewah ini. Dia tinggal hanya bersama Mama nya, sedangkan Mama nya sibuk bekerja dari pagi hingga malam hari. Namun, pembantu-pembantu nya begitu prihatin akan keadaan tersebut. Mereka selalu ada menemani Euri, terutama Sopir pribadi nya Euri : Ginoo Andri, yang selalu mengantarkan Euri kemana pun dia mau. Terutama untuk menghibur hati nya yang masih pilu karena meninggal nya Papa nya.

Sudah cukup lama Euri meninggalkan sekolah nya. Dia masih terpukul dengan kejadian tersebut. Dia sering melamun dengan tatapan kosong sembari memainkan biola nya. Mama nya menyuruh nya untuk segera masuk ke sekolah baru nya, namun Euri selalu menolaknya. Akan tetapi, besok senin adalah hari pertama nya masuk ke sekolah baru nya. Dia mulai sadar bahwa Papa nya pasti akan sedih dan kecewa pada nya bila Euri terus larut dalam kesedihan. Oleh karena itu, kemarin dia memutuskan untuk mulai bersekolah. Mama nya begitu gembira dan segera mendaftarkannya di salah satu sekolah terkenal di Bulacan, Fillipina.



Sedangkan biola itu adalah biola pemberian Papa nya yang begitu berharga bagi nya. Benda terakhir yang di berikan oleh Papa nya sebelum Papa nya tersebut meniggal dunia. Dia mendapatkan biola tersebut sebagai kado dari Papa nya ketika dia merayakan Ulang Tahunnya yang ke 17 tahun. Dia selalu memandangi ukiran tulisan pada biola tersebut yang di design khusus untuk nya.


“Me too! My love always heard in your heart Dad!” desis nya ketika mamandangi lagi ukiran tulisan yang ada pada biola tersebut, lalu air mata menetes lagi di pipi nya


-

-

-


Sunday, 06.00 AM


Terdengar alunan musik ‘River Flows in You’…


Euri terbangun dari tidur nya dan mengambil HP nya yang berbunyi tersebut.


“Hallo, sayang?” sapa seseorang di seberang sana


“Hoaammmzzt…!

Iya, Sayang! Ada apa? Tumben pagi-pagi udah telp.?” kata Euri, sembari menyandarkan tubuh nya pada kasur empuk nya


“Aku kangen banget sama kamu! Semenjak kamu pindah ke Bulacan, Aku kesepian.

Kapan kamu ke Manila lagi sayang?” timpal seorang cewe’ cantik yang ada di seberang sana. Tengah mengenakan gaun putih nya sembari duduk di ruang tamu dan menelfon Euri, kekasih nya.


“Aku ngga’ tau. Tapi secepat nya aku akan ke sana buat nemuin kamu sayang, sabar ya!” sahut Euri


“Iya, aku pasti akan selalu sabar nunggu kamu. Really, I miss you baby…” kata cewe’ tersebut, kini air mata mulai menetes dati mata indah nya


“Miss you too… “ sahut Euri


“By the way, gimana keadaan kamu di sana?

Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ya! Aku khawatir banget sama kamu. Aku takut kalo’ kamu sampai sakit!” kata cewe’ tersebut, kini mulai mengusap air mata nya


“Tenang aja sayang, aku udah ngga’ terlalu larut dalam kesedihan lagi. Dan besok senin, aku udah masuk sekolah lagi, di sekolah baru ku.” kata Euri sembari tersenyum simpul


“Wah! Asyik dong, dapet banyak temen baru di sana. Pasti banyak yang pengen deket sama kamu. Aku jadi was-was nih!” celetuk cewe’ tersebut


“Olive sayang, ngga’ usah khawatir ya! Hati Euri cuman milik Olive.” celetuk Euri namun dengan kesungguhan hati


“Ya udah, aku percaya kok sama kamu sayang. Ya udah, aku mesti ke toko buku trus ke gereja nih! kapan-kapan aku telfon lagi… Jangan lupa makan dan istirahat yang teratur ya sayang!” kata Olive, lalu mulai berjalan ke arah mobil merah yang telah di siap kan oleh sopir nya


“Oo, ako talagang sa pag-ibig sa iyo!” kata Euri


“Ako din talagang sa pag-ibig sa iyo!

Bye!” kata Olive, lalu mematikan panggilan dari pnselnya


Translate : “Iya, aku cinta banget sama kamu!”


“Aku juga cinta banget sama kamu! Sampai jumpa!”


-

-

-


Tak lama kemudian, Euri segera mandi dan sarapan pagi. Setelah semua nya selesai, dia melangkah menuju halaman depan rumah dan duduk di dalam jok belakang mobil mewah berwarna hitam.



“Hari ini, kita mau kemana Tuan muda?” tanya Ginoo Andre pada Euri


“Anterin aku ke rumah nya sahabatku!” jawab Euri



Selama di perjalanan, Euri sibuk dengan biola kesayangannya yang tengah mempelajari lagu baru.



“Oh my god! ‘River flows in you’ emang enak banget instrumennya, Tapi rada susah ya! Salut deh sama Yiruma, keren banget bisa nyiptain instrumen seindah ini!” gumam Euri


“Wah, Tuan muda lagi belajar lagu baru lagi ya, hari ini?

Semangat! Tuan pasti bisa!” kata Ginoo Andre yang menyemangati Euri


“Iya, hehehe. Aku selalu dengerin lagu ini kalo’ lagi sedih dan sekarang pengen belajar main’in lagu ini. Tapi rada susah!” gumam nya sembari memandangi nots-nots yang ada pada selembar kertas putih


“Semangat ya, Jangan menyerah! hehehe.” kata Ginoo Andre menyemangati



Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan rumah mewah berwarna abu-abu. Euri segera turun dari mobil nya, lalu di sambut dan di persilahkan masuk oleh pembantu yang ada di rumah tersebut.



“Ganoo, nanti jemput aku jam 12 siang ya!” pinta Euri sopan


“Baik, Tuan muda! Saya pamit dulu!” sahut Ginoo Andre, lalu segera melaju dengan mobil tersebut


-

-

-


“Euri…! Lama ngga’ pernah main ke sini kamu! Apa kabar?” sapa seorang cowo’ yang tengah berada di ruang tamu


“Iya, sob! Hmmm… So well, Hmmm… Kemarin-kemarin masih sedih karena kejadian itu. Tapi sekarang udah ngga’ terlalu larut lagi dalam kesedihan, besok aku udah mulai masuk sekolah!” kata Euri dengan senyum simpul


“Well, that’s great! Gitu dong, itu baru Euri yang aku kenal. Yang selalu tegar hadapin masalah apa pun!” kata Axel, sahabat Euri


“Hehehe… bisa aja, thanks!” timpal Euri kikuk


“Duduk!” pinta Axel sopan



Kini mereka berdua tengah duduk di sofa – Ruang tamu



“By the way, sekolah baru mu di mana?” tanya Axel


“Hmmm… Di Maple Valley – Senior High School.” jawab Euri sembari tersenyum tipis


“Wah! kok ngga’ bilang-bilang dulu ke sahabat mu ini? Itu kan sekolah ku!” gerutu Axel


“Hehehe… jangan manyun gitu ah! kan aku sengaja mau ngasih kejutan!” tukas Euri sembari mengacak-acak rambut Axel


“Huft! Dasar!

Hmmm… Emang Mama mu ngijinin kamu sekolah di situ? Itu kan sekolah asrama.” tanya Axel


“Ngijinin kok! Emang kenapa kalo’ itu sekolah asrama?” kata Euri



Tak lama kemudian, seorang pembantu meletakkan dua gelas orange juice dan beberapa kue di meja. Lalu Euri dan Axel meminum orange juice yang baru saja di letakkan oleh pembantu tersebut.



“Next!

Hmmm… Ya kan kamu anak Mama gitu! Mama mu selalu over protective ke kamu. Ngga’ boleh ini, itu. But, sekarang beliau ngijinin kamu sekolah di asrama? Well, Impossible banget!” kata Axel, lalu memakan kue yang ada di meja


“Justru yang masukin aku ke sana Mama kok!

Mama bilang ke aku, kalo’ dia tuh khawatir banget sama aku dan ngga’ tega lihat keadaan ku akhir-akhir ini. Selama ini aku ngurung diri di kamar, kalo’ ngga’ gitu ya ke Danau Vervidia main biola dan kadang-kadang sambil nangis. Terus jarang makan dan ngga’ ada temen juga di rumah karna Mama sibuk terus sama kerjaan nya. Mama kan jadi tulang punggung keluarga sekarang. Dan karena Mama ngga’ tega lihat keadaan ku kayak gitu, akhir nya dia mutusin buat masukin aku ke asrama aja biar aku ada temen di sana. Gitu!” terang Euri panjang lebar


“Hmmm… keputusan Mama mu adalah keputusan yang baik! Dan sekarang aku seneng banget, karna sahabat lama ku bisa satu sekolah sama aku sekarang!” kata Axel, sembari mengangkat orange juice nya lagi dan mengarahkannya ke Euri, tanda untuk melakukan cheers!



Trinnggg…!



“Cheerrrsss…!” kata mereka berdua kompak!



Lalu mereka berdua tertawa lepas bersama.

Beban yang selama ini di rasakan oleh Euri, serasa hilang sesaat.

Ya, hanya sesaat saja!


-

-

-





Monday, 07.00 AM

at Maple Valley – Senior High School



~Euri P.O.V~


“C'mon! Euri… Kamu ngga’ boleh gugup!” batin ku dalam hati, menyemangati diri ku saat hendak memasuki sekolah tersebut


Semua barang-barang beserta keperluanku telah di siapkan dan di tata rapi di kamar asrama oleh beberapa pembantu ku dan di bantu oleh pegawai sekolah. Namun aku belum melihat kamar itu. Dewan sekolah meminta ku untuk segera masuk ke kelas pagi ini. May, nanti setelah pulang aku bisa melihat kamar ku dan melihat-lihat Dorm di sekolah ini.



Selama dalam perjalanan melewati koridor dan hendak menuju ke loker ku, banyak sorot mata yang memperhatikan ku. Aku berjalan agak gugup dengan tangan yang cukup gemetar!



“Oh my god, kenapa sih mereka ngelihatin aku?” batin ku dalam hati


“Wew… very awesome!” gumam beberapa siswa yang cukup terdengar di telinga ku


“Oh my god! Very Handsome!” kata suara lainnya


“He’s very very cute!” sahut suara lainnya



“Oh my god! There’s a Prince Charming in M.V (Maple Valley) !” gumam seseorang pada teman-temannya, sembari membentuk barisan lingkaran seakan-akan sedang berbisik-bisik


“Mana?” kata suara lainnya


“Itu tuh, yang pake’ tas biru!” sahut suara lainnya


“Dia kayak nya anak baru, aku ngga’ pernah lihat dia di M.V” timpal suara lainnya


“Oh my god! Apa-apaan ini. Bersikap biasa aja dong! Aku kan jadi ngga’ enak!” batin ku



Kini aku semakin gugup ketika sampai di loker dan meletakkan beberapa buku-buku ku



“Well, dari awal turun dari mobil sampai sekarang tepat di depan kelas, mereka ngelihatin aku terus!

Oh my god! aku makin gugup buat masuk ke kelas.” besit ku dalam hati



Tak lama kemudian, bel tanda masuk sekolah berbunyi. Seorang guru wanita setengah baya menghampiri ku yang sedari tadi berdiri di depan kelas ku.



“Kamu anak baru pindahan dari Manila itu ya?” sapa guru tersebut


“Yes, Mom!” jawab ku kikuk


“C’mon, masuk ke kelas!” pinta guru tersebut ramah


-

-

-


“Morning class!” sapa guru tersebut


“Morning Mom!” sapa seluruh siswa serentak


“Hari ini kalian dapat temen baru di kelas ini. Semoga jadi teman yang akur dan saling membantu ya! Jangan ada lagi pertengkaran. Kita semua di kelas ini adalah saudara.

Okay, Euri! Cmon!” kata guru tersebut



Tak lama kemudian, aku masuk ke dalam kelas dengan gugup. Tangan ku lebih gemetar dari sebelum nya.




“Okay, introduce your self!” pinta guru tersebut ramah



Aku mengangguk,,,



“Shut Up!” teriak guru tersebut karena para siswa begitu ribut setelah melihat ku masuk ke dalam kelas

Lalu, para siswa segera diam dan suasana kelas menjadi hening…



“Well, temen-temen… Perkenalkan :

Nama ku : Euri Revin Antaresh, panggil saja Euri

Umur : 17 tahun

Aku pindahan dari Manila, dan aku sekarang tinggal di Plaridel 3rd Street, Bulacan bersama Mama ku.

Hobi : Main biola, menggambar, dengerin musik, etc.” kata ku, lalu aku menundukkan kepala ku. Aku benar-benar gugup!


“Well, kapan-kapan boleh mampir ke rumah mu kan? hehehe.” kata salah seorang siswa


“Udah punya pacar belum?” tanya salah seorang siswa lainnya yang benar-benar mengagetkan ku


“Oh my god! Ini kan sekolah asrama cowok… Dan yang sekolah di sini semua nya kan cowok. Kenapa sedari tadi turun dari mobil hingga saat ini mereka semua memperhatikan ku?

Apa penampilan ku ada yang salah ya?

atau,

Jangan-jangan…” besit ku dalam hati dan terpotong oleh sahut’an siswa lainnya


“Iya nih, Jawab dong! Udah punya pacar belum?” tanya siswa lainnya dengan antusias


“It’s enough! Ngapain sih kalian nanyain hal-hal pribadi kayak gitu? Kalian kan cowok! ! !” omel guru tersebut


“Huuuuu….!!!” celetuk anak-anak sekelas serempak!


“Ngga’ Asyik nih! ! !” kata seorang siswa lainnya


“Huft! Bete dah!” sahut seorang siswa lainnya



“Shut Up! ! !” teriak guru killer tersebut, Kini semua nya benar-benar hening.


“Okay, Hmmm…” gumam guru tersebut sembari mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk yang kosong untuk ku



“ Euri, kamu duduk sama Miguel!” pinta guru tersebut ramah!


“Okay, Mom!” sahut ku



Aku duduk di bangku ke 4 dari depan yang berada di baris bangku tengah kelas ini.

Aku duduk di sebelah seorang cowok berambut hitam, lurus dengan gaya Emo nya.

Sorot mata nya begitu tajam mengarah ke depan kelas, lalu memandangi ku sejenak ketika aku duduk di samping nya.



“Hai, Aku Euri. Kamu?” tanya ku ber basa-basi, sembari mengulurkan tangan ku


“Udah tau!” jawab nya ketus


“Oh, iya! hehe… By the way, nama kamu siapa?” tanya ku lagi. Kini aku menarik lagi uluran tangan ku. Dia benar-benar mengacuhkan ku, Shit!


“Kan kamu dah tau!” jawab nya ketus!


“Oh, Iya… Miguel kan?” tanya ku gugup




Kini dia hanya terdiam. Tak lama kemudian, membuang muka ke arah lain.




“Oh, my god! Ngga’ asyik banget sih tuh cowo’! Dingin banget, ketus, kasar! Nyebelin banget dah!” umpat ku dalam hati



Sepanjang pelajaran, tak henti-henti nya sorot mata anak-anak di kelas ini yang curi-curi pandang ke arah ku.



“Oh my god! kayak nya setelah jam istirahat tiba, aku mesti buru-buru ke toilet. Aku pengen ngaca, apa sih yang salah dengan penampilan ku? !” besit ku dalam hati


-

-

-


Setelah waktu istirahat tiba, aku melangkahkan kaki ku menuju toilet.

Toilet di sini benar-benar bersih dan mewah. Bau nya juga harum.


“Well, ngga’ ada yang salah tuh dengan penampilan ku hari ini.” gumam ku, setelah memeriksa penampilan ku di depan cermin. Lalu, mencuci tangan ku di westafle


Kini, aku melihat pantulan wajah seseorang dari cermin. Dia memperhatikan ku dari belakang ku.

Terus memperhatikan ku, hingga aku gugup dan berniat untuk segera keluar dari toilet ini.



Sreeett…!



Dia menarik tangan ku dan membawa ku menuju ke sisi dinding toilet.



“Eh, What’s up?” bentak ku


“Gapapa. Aku pengen kenalan aja sama kamu.” kata nya di sertai senyum simpul


“A… Aku Euri, 17 tahun, tinggal di Plaridel 3rd street. Udah kan?

Ya udah, aku mau balik ke kelas!” kata ku singkat


“Hmmm… Cakep-cakep tapi cuek banget!” sungut nya


“WHAT EVER!” sentak ku


“Seneng bisa ketemu sama kamu! Lain kali boleh mampir ke rumah mu kan?” timpal nya sembari tersenyum lebar



Aku tak menjawab nya. Aku segera melangkah menyusuri koridor sekolah dan berniat mencari Axel. Kemarin dia memberitahu ku di mana kelas nya.



“Axel C’mon!” teriak ku, setelah melihat nya tengah duduk-duduk di depan kelas nya


“Yup, ada apa sob?” tanya nya, setelah menghampiri ku


“Hmmm… Aku mau nanya sesuatu, tapi jangan di sini. Kamu tau tempat sepi ngga’ di area sini?” tanya ku


“Hmmm… Okay!” sahut nya



Setelah kami berdua sampai di suatu taman yang cukup sepi. Aku mulai mempertanyakan pada nya perihal situasi dan tingkah laku siswa-siswa yang ada di sini. Mengenai mulai dari mereka yang suka memperhatikan cowok dan bahkan aku menceritakan pada nya, bahwa dari tadi aku masuk ke sekolah ini hingga istirahat, banyak sorot mata yang memperhatikan ku. Lalu, tadi ada beberapa cowok yang sekelas bersama ku dan menanyakan apakah aku sudah mempunyai seorang pacar atau belum. Dan baru saja di toilet tadi ada seorang cowok yang mengajak ku berkenalan dan berniat mengunjungi rumah ku.



Axel terlihat begitu gugup dan terdiam. Dia menjauhkan pandangan nya dari pandangan ku.



“Oh, c’mon! Ada apa sih di sini? Jawab!” tanya ku lagi



Tak lama kemudian, dia mulai berbicara. Namun sebelumnya, dia memperingatkan ku agar merahasiakan ini dan usahakan agar acuh menghadapi hal ini.



“Well, gini…

hingga 90% cowok yang sekolah di sini tuh pada ‘belok’. Banyak orang-orang yang tahu mengenai sekolah ini. Tapi, hanya siswa-siswa sekolah sini dan sekolah lain yang tahu. Kalo’ guru sih, ngga’ semua nya tahu! Hanya ada segelintir guru-guru yang tahu dan itu sangat sedikit.” terang nya



Aku terbelalak kaget mendengar hal tersebut. Aku memutar bola mata ku, mengedarkan pandangan ku ke seluruh sudut sekolah.

Lalu kembali menatap Axel…



“WHAT? Kamu serius?” tanya ku gugup


“Aku lebih dari serius Euri…! Dan perihal mereka semua pada ngelihatin dan perhatiin kamu, itu wajar. Mungkin mereka semua pada naksir sama kamu. Kan kamu cakep banget!

Papa mu orang Fillipina, sedangkan Mama mu orang Korea. Well, perpaduan yang yang baik hingga melahirkan seorang cowok secakep kamu!” timpal nya dengan senyuman simpul


“Truss…! Kamu termasuk seperti mereka / ngga’?” tanya ku hati-hati



Kali ini dia semakin gugup dan tangan nya gemetar. Dia tak berani bertemu pandang dengan ku.



“A… Aku…


Ehmmm…!


Iya, Euri… Aku salah satu dari mereka. Aku seperti mereka, Dan aku bakal terima kalau pun seandai nya setelah kamu tahu mengenai hal ini, kamu bakal ngejauhin aku. Asal kamu tahu, aku hanya ingin menjadi sahabat yang bisa selalu jujur untuk mu dan selalu ada untuk mu. Tapi, kalau pun seandai nya setelah kamu tahu hal ini dan kamu ngejauhin aku, gapapa. Aku bisa ngerti itu dan aku ngga’ akan marah sama kamu. Tapi, aku tetep berharap agar kita bisa terus sahabat’an sampai kapan pun.” terang nya



Kini jantung ku benar-benar berdegup kencang. Aku benar-benar kaget mendengar fakta dari sekolah ini beserta pengakuan dari sahabat ku bahwa dia salah satu dari mereka.



“Ngga’…! Aku ngga’ akan ngejauhin kamu. Aku nerima kamu sebagai sahabat ku apa ada nya. Dan aku, ngga’ pernah malu punya sahabat seperti mu apalagi sampai berniat buat ngejauhin kamu!

Jutru, aku bener-bener bangga dan salut punya sahabat seperti mu. Selama ini kamu selalu ada buat aku pas aku lagi sedih dan seneng! Sekali lagi, aku ngga’ akan pernah ngejauhin kamu! Aku terima apa pun keadaan kamu. Karna sahabat yang baik, adalah yang bisa menerima kita apa ada nya.” terang ku panjang lebar

Kini dia memeluk ku sebentar, lalu tersenyum lebar.


-

-

-


Monday, 15.14 PM



Sepulang sekolah, aku segera melihat kamar ku di Dorm, istirahat sejenak, menata beberapa baju-baju ku yang belum aku tata, lalu bergegas mandi. Setelah itu, aku berniat menemui Axel di kamar nya. Kami berada dalam satu Dorm yang sama.


Selama aku berjalan melewati koridor Dorm untuk menemui Axel, terdapat beberapa sorot mata yang memperhatikan ku selama aku melewati tiap-tiap kamar yang ada di sini.

Lama-lama, aku merasa risih dan takut juga apabila mereka bisa saja berniat buruk pada ku. Tapi aku tetap mencoba tetap berfikir positif.


Hingga saat aku berjalan hampir dekat dengan kamar nya Axel dan hendak berbelok ke kanan. Aku di kejutkan oleh gerombolan cowok-cowok di depan ku. Aku di hadang oleh 5 orang cowok yang menurut ku semua nya begitu tampan.



“Heh, ikut kami!” bentak salah seorang cowok yang berdiri di tengah-tengah gerombolan tersebut


“Ngapain?” tukas ku


“Udah lah, ngga’ usah cerewet! Cepet ikut kami!” bentak seorang cowok lainnya



Sekitar 2 menit, aku dan mereka ber-lima adu mulut. Dan pada akhir nya, mereka menyeret dan membawa ku paksa ke dalam kamar salah seorang dari mereka.

Ada beberapa sorot mata yang mengetahui kejadian tersebut. Namun mereka semua ketakutan saat melihat gerombolan cowok-cowok itu. Tak ada yang berani membantu ku, meski pada dasar nya beberapa dari mereka sangat ingin membantu ku.


“Eh, kamu anak baru, jadi ngga’ usah ngesok di M.V!” bentak seorang cowok berambut spike


“Bodo amat! Lagian, sapa juga yang ngesok? ! Aku biasa aja tuh!” sungut ku


“Cuih! berani banget kamu ngelawan dan ngebentak-bentak kayak gitu! Kamu ngga’ ngerti, siapa kami! !” sahut cowok lainnya, berambut emo


“Ngga’ tau! Emang kalian siapa?


Oh, aku tahu! Kalian tuh cuman cowok-cowok sok kegantengan yang ngesok dan sok kuasa di sini!


Cowok-cowok macam kalian, di pelosok-pelosok desa tuh banyak banget!” ejek ku


“C’mon Key! Kita kasih dia pelajaran!” gumam cowok lainnya yang berambut spike



Sepertinya cowok tampan bernama Key, yang berambut coklat dan model nya ala korea itu ketua dari geng tersebut.



Lalu, Key menarik kerah baju ku dan menatap ku tajam. Mata nya terlihat begitu ber api-api, siap meledakkan semua amarah yang sedari tadi di bendung nya.


Tangan kanan nya menarik kerah baju ku, sedangkan tangan kiri nya menjambak rambut ku dengan begitu kasar


“Sakit bego’!” sungut ku, sembari mendorong nya hingga tersentak ke belakang


“Mau kalian semua apa sih?” bentak ku


“Kita semua cuman nyuruh supaya kamu ngga’ ngesok di sekolah ini. Kamu cuman anak kemarin sore!” ancam seorang cowok berambut spike, lalu tangan kanan nya menekan pipi kiri dan kanan ku hingga pipi ku terasa begitu sakit, karena tertekan dan mengenai area rahang ku.


“Arrrggghhh…!” lenguh ku kesakitan


“Oke, Lagi pula aku ngga’ pernah ngerasa ngesok kok di sekolah ini. Mereka aja tuh yang merhatiin dan ngelihatin aku. Sekarang, cepet lepasin!” bentak ku


Tak lama kemudian, mereka mengeluarkan ku dari kamar tersebut.


Aku berjalan malas menuju ke kamar nya Axel.


Setiba nya di sana, aku curhat tentang semua yang baru saja terjadi.


Axel merasa begitu iba dan bersalah pada ku, karena belum menceritakan tentang Geng tersebut.


“Emang, mereka tuh Geng apa’an sih? Kok di takuti di sini?” tanya ku


Axel hanya terdiam dan menatap ku lekat…


-

-

-


To be continued

Welcome in my Blog :)


Selamat datang di Blog saya. :)

Blog ini menyediakan berbagai cerita, cerpen, fan fiction, dsb. tentang Yaoi dan Yuri.