Pages

Perfect World Online Pointer

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 6

--.DelvetiaN.--

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 6


Genre : Yaoi - Romance Fan Fiction
Author : Kiki Wellian S.
Background Song : Yiruma – River flows in you
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com

*NB : Menerima Segala bentuk pujian, kritikan sopan, dan kritikan pedas tapi membangun. Selamat membaca! ^^”


Ini adalah karya ke dua Kiki. Semoga dapat menjadi cerita yang menarik bagi para pembaca.
Kiki berharap agar cerita ini dapat menjadi cerita yang lebih baik dari sebelumnya.
Selamat membaca… ^.^”
Terimakasih!




~Author P.O.V~

Kado yang di bawa Euri jatuh ke lantai. Olive begitu gugup karena melihat kekasihnya tengah berada di depan kamarnya. Tak butuh waktu lama, Euri segera bergegas turun dari kamar dan meninggalkan rumah tersebut.

“Eurriii!” teriak Olive, namun Euri tetap bergegas meninggalkan rumah tersebut walau sebenarnya dia mendengar panggilan Olive

“Ginoo, bawa aku kembali ke hotel.” Pinta Euri setelah sampai di depan mobil

“Baik Tuan!” timpal Andre, lalu segera menyalakan mesin dan melajukan mobil tersebut

“By the way, bagaimana tadi reaksi Olive? Sureprisenya sukses kan? Dia suka dengan kado nya?” Tanya Andre

“Yeah! Benar-benar sureprise! Dia suka dengan kadonya kok. Thanks udah bantu milihin kadonya.” Timpal Euri dengan senyum palsunya

“Syukur deh kalo dia suka. Tapi kenapa pulangnya buru-buru? Ngga’ jadi ngajak Olive dinner? Kan ini hari ulang tahunnya.” Kata Andre

“Ngga’ jadi. Dia lagi sibuk di kamarnya…! Tolong ya, jangan bahas ini lagi.” Timpal Euri yang mulai kesal

“Baik Tuan! Maaf kalo’ kata-kata saya ada yang menyinggung.” Kata Andre

“Iya, ngga’papa. Nanti sesampainya di hotel, kita langsung kemasi barang-barang dan balik ke Bulacan.” kata Euri
“kenapa cepat sekali? Kita baru saja sampai di sini kemarin. Liburannya ngga’ jadi?” Tanya Andre

“Udahlah, tugas kamu itu cuman anterin dan jagain aku doang!” timpal Euri, semakin kesal

“Iya, maafkan saya! Saya hanya khawatir dengan Tuan!” kata Andre cemas

“Ngga’…! Aku yang salah, aku yang terlalu emosi dan lagi ngga’ mood buat ngomong apa-apa sekarang.” kata Euri
-
-
-
Sesampainya di hotel, Euri segera mengemasi barang-barangnya di bantu oleh Ginoo Andre. Lalu bergegas pulang, menuju ke kota Bulacan.
Selama di perjalanan, Euri hanya memandangi pemandangan indah kota Manila dari kaca mobilnya. Kota yang penuh dengan kenangan tentang masa kecilnya, Papa nya, sahabat-sahabatnya dulu, dan terakhir tentang Olive. Euri benar-benar terpukul dan begitu kecewa dengan Olive dan sahabatnya.

“Mereka berdua udah ngehianatin aku! Aku aja masih terpukul dengan kepergian papa, sekarang mereka berdua nambahin beban penderitaanku..! Shit!
Aku jadi pengen ngelupain semua tentang kota ini. Kota ini bener-bener bikin aku muak dengan kehadiran mereka…!” besit Euri dalam hati

Lalu masa lalu tentang perjumpaan pertama Euri dengan Olive mulai teringat kembali di dalam benak Euri.

~Flash back~

Saat Euri tengah berada di dalam mobil, hendak menuju ke skolahnya. Tiba-tiba dia di kejutkan oleh seorang gadis yang saat itu tengah tersungkur di jalan.

“Berhenti bentar Sir!” pinta Euri pada sopirnya (Saat itu Ginoo Andre belum menjadi sopir Euri) Lalu Euri turun dari mobil

“Kamu ngga’papa?” tanya Euri setelah turun dari mobilnya, lalu segera membantu gadis tersebut berdiri

“Ehmmm… Ngga’papa kok! Thanks!” gadis tersebut mulai berdiri

“Kok bisa jatoh dari sepeda?” tanya Euri, lalu menaikkan sepeda gadis tersebut kembali ke posisi berdiri

“Tadi aku di serempet sama pengendara motor yang ugal-ugalan.” gumam gadis tersebut

“Ehmmm… Sialan! Terus, mana orangnya?” tanya Euri

“Orang nya udah pergi, ninggalin aku gitu aja pas tau aku jatuh!” timpal gadis itu

“Eh, siku sama lutut mu berdarah tuh! Mending kamu berangkat sekolahnya bareng sama aku aja!” pinta Euri

“Ah, ngga’ usah! Aku berangkat sendiri aja! Aku masih bisa kok!” kilah gadis itu

“Udah lah ngga’papa. Lagian sekolah kita sama tuh!” timpal Euri, setelah melihat bet seragam gadis itu

“_____” gadis itu hanya terdiam

“udah lah ngga’papa! Yuk!” lalu Euri segera menyuruh gadis itu masuk ke mobilnya

“Nanti aku suruh orang suruhanku buat ngurus motor sepeda motor kamu. Kamu tenang aja!” lanjut Euri

“Thanks banget yah!” kata gadis itu

“Urwell! By the way, nama kamu siapa?” kata Euri sembari mengambil kotak obat yang ada di mobil nya

“Aku Olive.” kata Olive, lalu mengulurkan tangannya

“Euri!” timpal Euri, menyambut tangan Olive lalu mulai membersihkan luka Olive dan mengobatinya

“Aw!” lenguh Olive

“Tahan sebentar.” pinta Euri

“By the way, meski kita satu sekolah, kok aku belum pernah lihat kamu ya? Kamu anak kelas mana?”

“Oh, aku pindahan dari Thailand. Aku baru pindah ke sini dan masuk ke sekolah ini. Aku anak kelas VIII – A.” timpal Olive

“Pantes! makanya ngga’ pernah lihat kamu. Hehe…” kata Euri
-
-
-

Semenjak itu, Euri dan Olive semakin akrab. Euri selalu ada untuk Olive di saat Euri membutuhkan bantuan / tempat untuk berbagi. Begitu juga sebaliknya dengan Olive. Semakin lama, keakraban mereka semakin kuat! Dan mereka berdua sama-sama merasakan perasaan lain yang melebihi kasih sayang seorang sahabat sekali pun. Akhirnya mereka berdua menjalin kasih saat baru memasuki masa-masa kelas IX. Joe adalah sahabat Euri, setiap ada masalah dengan Olive, Euri selalu berbagi kisah dengan Joe. Hingga saat kelulusan, Euri masih satu sekolah yang sama dengan Olive. Joe sekolah di tempat yang berbeda dengan Euri dan Olive. Namun tak di sangka, kedekatan Joe dan Olive ternyata melebihi yang Euri kira.

~End Flashback~

-
-
-

Sedangkan Olive dan cowok tersebut bertengkar hebat di kamar!

“Udah lah, semuanya udah terbongkar! Ngga’ usah mikirin Euri…!” kata cowok tersebut

“Tapi Joe, aku juga sayang banget sama dia seperti aku sayang sama kamu. Aku bener-bener nyesel udah nyakitin Euri.” kata Olive, lalu air mata nya mulai mengalir

“Oh, jadi sekarang kamu pilih aku atau dia, hah?!” bentak Joe

“Aku bingung Joe. Sebenarnya aku lebih sayang sama Euri. Tapi di satu sisi aku juga sayang sama kamu. Meski aku lebih sayang sama Euri, tapi aku ngga’ nyaman dengan sikapnya. Selama ini dia kurang perhatian sama aku, dia selalu sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Apalagi saat ini, dia telah sekolah di salah satu asrama di Bulacan. Aku semakin di acuhin, dan aku juga ngga’ betah pacaran jarak jauh. Dia ngga’ seperti kamu, yang selalu ngasih perhatian sama aku. Aku butuh perhatian, Joe!!! Aku selalu kesepian di rumah karena orangtua ku selalu mengutamakan bisnis mereka. Dan sekarang, aku nyesel udah ngehianatin Euri. Aku ngehianatin kepercayaan dia…!” terang Olive

“Aku ngerti perasaan kamu, bahkan aku juga ngga’ peduli meski terkadang aku merasa hanya sebagai pelarian mu doang. Tapi sekarang semuanya udah terbongkar! Kamu ngga’ mungkin bisa sama Euri lagi. Cobalah untuk mencintai aku dan cobalah buat lebih mencintai aku di bandingkan Euri! Aku sayang banget sama kamu!” kata Joe

“Aku ngga’ nganggep kamu sebagai pelarian ku… Iya, maafin aku. Aku akan nyoba buat lebih mencintai kamu! Maafin aku sayang!” lalu Olive memeluk Joe

“Iya, ngga’papa. Aku ngerti banget perasaan kamu!” timpal Joe, lalu melepaskan pelukan tersebut

“Tapi untuk saat ini tolong ngertiin aku. Jujur, aku masih terpukul dan bersalah banget udah nyakitin Euri.” pinta Olive

“Iya, aku akan ngasih kamu waktu untuk sendiri dulu!” kata Joe

“Thanks! kamu emang selalu mengerti aku.” Lalu Olive beranjak dari kasur dan mengambil kado yang ada di lantai tersebut

Olive mulai membuka kado indah itu. Lalu membaca kartu ucapan yang di tuliskan oleh Euri


“Dear Olive…
Happy Birthday yang ke 17 ya! Moga panjang umur, ngga’ cemberut mulu dan ngambek’an, hehe… Moga tambah cantik juga yah! Biar aku selalu betah mandangin kamu. Wkwkwk (Gombal mode on)
Moga kamu di sana selalu sehat dan bisa pertahanin prestasi kamu di sekolah. Maafin aku ya, kalo’ akhir-akhir ini aku kurang perhatian sama kamu. Selain karna Hp aku ketinggalan, aku juga lagi sibuk buat belajar, ngerjain tugas dan ngejar ketertinggalan aku karena dulu udah lama aku ngga’ sekolah semenjak Papa meninggal. Tapi asal kamu tau meski saat ini kita jauh, hati ini selalu buat kamu.

Maaf kalo’ seandainya kado dari aku ngga’ sesuai sama keinginan kamu yah! Hehe…
Tapi aku akan ngasih kado terindah dan terbesar buat kamu.. yaitu, kesetiaan.
Meski kita jauh, aku janji akan selalu setia dan jaga hati ini hanya buat kamu…
Semoga kamu di sana juga begitu!
Sekali lagi, Happy birthday! I miss U! really, I miss U!”

Dari orang yang akan selalu mencintai dansetia untuk mu…

--Euri Revin Antaresh—

Seketika itu air mata Olive kembali menetes, semakin deras dari sebelumnya…
Lalu Olive mengambil kado dari Euri dan memakainya. Sebuah kalung dari emas putih, liontinnya yang berbentuk hati sengaja di ukir inisial nama mereka berdua “E & O”. Lalu ketika Olive membuka liontin berbentuk hati tersebut, di dalamnya ada foto mereka berdua saat masih SMP. Olive ingat betul foto itu di ambil saat mereka kencan di taman. Euri mengenakan jaket hitam dan baju garis-garis hitam putih, sedangkan Olive mengenakan dress berwarna pink. Mereka berdua foto bersama di taman, sembari membentuk jemari tangan mereka menjadi sebuah hati. Saat itu yang mengambil foto mereka berdua adalah Joe.

Air mata Olive semakin deras… Lalu Joe menghampiri Olive

“Ada apa?” tanya Joe. Lalu Olive memperlihatkan liontin tersebut pada Joe

“Arrrgghhh!” lenguh Joe sembari meremas kepalanya setelah melihat liontin dan foto tersebut. Joe mulai merasakan rasa bersalah yang amat dalam. Dia begitu ingat saat-saat foto itu di ambil. Dia yang mengambilnya sendiri…

“Aku emang sahabat yang berengsek!!!” lenguh Joe

“Udah sayang… Semuanya udah berakhir! Ngga’ usah di sesali lagi. Dulu emang aku ngehianatin dia karna dia kurang perhatian sama aku. Kamu, sahabatnya dia yang bahkan lebih perhatian sama aku dari pada Euri. ” kata Olive. Lalu Joe memeluk Olive erat

“Kamu tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu dan selalu ngasih perhatian ke kamu. Kita sama-sama coba untuk lupain masalah ini, terutama Euri. Kita mulai lembaran baru dari awal lagi antara kamu dan aku.” Lalu Joe mencium bibir Olive lembut

“Tapi kita harus tetep minta maaf suatu saat nanti. Tunggu waktu yang tepat, karna ntuk saat ini kayak nya ngga’ mungkin deh!” timpal Olive

“Aku tahu itu, sayang!” kata Joe, lalu mencium bibir Olive lagi dan memeluknya
-
-
-
Friday, 06.00 AM
Sesampainya Euri di kota Bulacan dan tiba di rumahnya, dia segera masuk ke kamar dan beristirahat sebentar. Saat bangun, dia Membuka laci yang ada di lemari nya, mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dan meletakkannya di lantai. Kotak tersebut berisi berbagai benda kenangan dari Olive. Ada sebuah jam tangan yang dulu di beri oleh Olive saat Euri ulang tahun, ada sapu tangan yang dulu di beri oleh Olive saat Euri tangannya terluka dulu, ada cincin perak yang dulu di beri oleh Olive saat hari valentine, ada buku diary yang isi nya di tulis oleh Olive dan di situ ada kisah tentang mereka berdua dari saat pertama bertemu waktu SMP hingga memasuki jenjang SMA dan ada barang-barang kenangan dari Olive lainnya. Euri memandanginya dengan penuh kekecewaan…

Di sambarnya pigura foto yang ada di meja dan dinding kamarnya. Pigura foto tersebut begitu banyak! Mulai dari foto saat SMP hingga SMA. Euri membawa kado dan pigura-pigura foto tersebut keluar dari kamarnya, lalu membuang benda-benda tersebut di tempat sampah besar yang ada di depan rumahnya. Tak lama kemudian ada seorang cowok tampan dan berkulit putih, mengenakan singlet abu-abu dengan handuk yang melingkar di lehernya dan tengah jogging di area kompleks perumahan tersebut. Cowok tersebut berhenti saat melihat Euri, memandanginya dari jauh lalu menghampiri Euri.

“Kenapa di buang?” tanya cowok itu saat melihat Euri membuang begitu banyak barang-barang di tempat sampah

“Udah ngga’ butuh!” kata Euri ketus tanpa melihat cowok itu

“Kan sayang…” timpal cowok itu. Lalu Euri menatapnya tajam

“Eh…! Sorry, aku ngga’ bermaksud. Ehmmm…!” kata cowok itu gugup

“Nevermind!” lalu Euri beranjak dari tempat itu

“Wait!” kata cowok itu, lalu Euri berbalik dan menatapnya heran

“By the way kamu anak baru di kompleks ini ya, yang baru pindah dari Manila itu?” tanya cowok itu. Lalu Euri mengangguk malas, karena suasana hatinya lagi buruk

“Kenalin, aku Cliff. Aku tinggal tepat di samping rumah kamu.” kata Cliff, lalu tersenyum simpul dan mengulurkan tangan

“Euri” timpal Euri singkat, lalu membalas uluran tangan cowok itu

“Nama yang bagus!” puji Cliff

“Thanks!” jawab Euri singkat

“By the way, aku kok ngga’ pernah lihat kamu ya, padahal rumah kita bersebelahan? Aku cuman tahu Mama mu aja, dan denger-denger beliau punya seorang anak laki-laki, tapi aku ngga’ pernah lihat kamu selama ini.” tanya Cliff

“Ehmmm…! Aku sekolah di asrama, jadi jarang di rumah. sebenarnya 2 minggu sekali boleh mampir ke rumah, tapi aku malas. Aku balik ke rumah 1 bulan sekali.” timpal Euri, lalu mencoba untuk tersenyum ramah

“Oh, jadi sekarang baru balik dari asrama? Kapan balik lagi?” tanya Cliff

“3 minggu lagi… Aku kena skorsing!” kata Euri singkat

“Wah, bagus dong!” desis Cliff, namun Euri mendengarnya

“Maksud kamu apa, hah?” kata Euri sinis

“Hmm… Ngga’-ngga’! Maksud aku ya bagus, aku jadi ada temennya di kompleks ini. Soalnya di sini selalu sepi dan jarang ada anak yang seumuran sama aku kayak kamu gini. Jadi di sini aku ngga’ punya temen sapa-sapa.” jelas Cliff

“Okay, nevermind!” kata Euri, lalu berbalik dan hendak masuk ke rumahnya

“Wa,,, wait!” kata Cliff

“Apa lagi?” kata Euri malas

“Aku hampir lupa, nih undangan buat kamu. Besok minggu aku ulang tahun yang ke 17, di rayain di rumahku. Dateng yah!” pinta Cliff, lalu memberikan selembar undangan berwarna putih. Lalu Euri mengambilnya dan kembali melangkah menuju rumahnya

“Aku harap kamu bisa dateng! Aku tunggu!” teriak cowok itu, namun Euri tak berbalik dan tetap melangkah memasuki rumahnya

Sesampainya di kamar, Euri meletakkan undangan tersebut. Sedangkan Cliff diam-diam berbalik dan mengambil barang-barang yang di buang oleh Euri tadi lalu bergegas pulang dan masuk ke kamarnya. Setelah mandi, Cliff melihat barang-barang tersebut.

“Galau!” desisnya

“Pasti dia lagi galau baru putus sama ceweknya, makanya dia buang semua barang-barang kenangan dari ceweknya dan foto-fotonya bersama ceweknya. Makanya dia cuek banget tadi! Aku ngerti, pasti dia lagi sedih.” besitnya dalam hati

“Jadi dia itu straight? Hmmm… Mantan ceweknya cantik juga. Aku kira dia itu gay juga! Huft, Bodohnya aku kenapa ngira dia gay juga, pake ngedeketin dan kenalan secara resmi sama dia. Gaydar ku kurang di asah lagi nih! Moga dia ngga’ menganggapku negatif!” besit Cliff

Tapi aku yakin, suatu saat aku bisa deket sama kamu dan bisa dapetin kamu Euri…!
Semangat Cliff! Hahaha” desisnya, lalu menyimpan barang-barang Euri tersebut di bawah tempat tidurnya
-
-
-

______________________________________________________

To Be Continued

0 komentar:

Posting Komentar