Pages

Perfect World Online Pointer

"The Paper Planes" * (Sheet 6)

--.DelvetiaN.--


"The Paper Planes" * (Sheet 6)



By : Kiki Wellian





Fb : Nell Leander Atharein (Add Ya! )





Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com











“The Paper Planes”












Tak perlu kertas kualitas atas



Tak perlu keahlian seniman terkenal



Tak perlu jemari tangan indah



Tuk melipatmu menjadi bentuk



Tuk membuatmu ada



Menjadi sebuah “Pesawat Kertas”



Yang sederhana namun pekat akan makna





Tak perlu perhitungan matang



Tak perlu kecerdasan insinyur



Tak perlu mesin-mesin canggih



Tuk membuatmu mengangkasa



Membumbung tinggi melintasi langit biru





Hanya tinggal melipat dan terus melipat



Melipat dengan segenap harap



Tuk membuatmu menjadi bentuk





Hanya tinggal berlari dan melesatkan



Melesatkanmu dengan penuh kekuatan



Tuk membuatmu tinggi mengangkasa





Layaknya sebuah kehidupan,



Kita takkan pernah tahu



Akan setinggi apa ia mengangkasa



Melintasi langit biru



Kita takkan bisa menduga



Kapan ia akan terjatuh



menghempas tanah gersang



Yang penuh debu memilukan



***


Di sisi lain Hanif tak kuasa melihat Nell menangis. Ia mendekatinya.
Ia memeluk Nell, namun Nell menepisnya dengan kasar, “Lancang!” hardiknya menggelegar

“Puas?
Sekarang gue tinggal nunggu Papa dapat kabar ini dari lo dan sisanya gue bakal diusir dari rumah ini karna seorang pengusaha terkenal malu punya anak kayak gue. Yang suka sama….”

“Cukup!” sela Hanif getir. Ia kembali memeluk Nell, berusaha menenangkannya. Sedangkan Nell terisak dalam pelukan Hanif.

“Semenjak Mama meninggal, selama ini Papa cuman ngasih gue materi. Ngga’ pernah ngasih gue kasih sayang. Salah kalo’ gue jadi kayak gini sekarang?” sambung Nell. Ia meringis kesakitan. Menahan luka yang selama ini Ia sembunyikan. “Gue kesepian! Sakit!” cecarnya getir.

Hanif mengerti, Ia melepas pelukannya dan mengusap air mata Nell, “Elo tenang aja, gue ngga’ bakal ngomong apapun. Gue bakal jaga ini baik-baik.” seketika itu Nell memeluk Hanif erat dan mengucapkan kata “thanks” berulang-ulang. Ia benar-benar takut, sedih, kesal, semuanya bercampur manjadi rentetan luapan emosi.

“Udah lah!

Dan gue janji, mulai saat ini lo ngga’ bakalan ngerasa sendiri lagi. Karna gue bakalan selalu ada buat lo!
Gimana pun juga Pak Fabian tetep bokap lo. Meskipun dia ngga’ pernah ada buat lo, tapi seenggaknya dia sibuk kerja itu juga demi elo. Walaupun itu salah, karna lo juga butuh kasih sayang. Apalagi nyokap lo udah ngga’ ada.
Tapi lo tenang aja, gue janji bakalan selalu ada buat lo.”

Nell menatap Hanif tak percaya,

Kini entah mengapa Ia merasa tenang.
Kesepian itu, kesendirian itu akan tertutupi dengan kehadiran Hanif disisinya.
Namun Nell masih ragu, benarkah? Sebaik itu kah Hanif sebenarnya?

Hanif kembali memeluk Nell. Beberapa saat hanya diam yang menyelimuti ruangan itu.


“Udah, jangan mewek lagi!” celetuk Hanif, memecah keheningan

Nell mengusap air matanya, “Enak aja! Lo pikir gue cowok apaan? Dasar Sopir ngga’ tau’ diri! Lo makin lama makin ngelunjak ya sama majikan!” cecar Nell sombong

Hanif hanya tertawa, “Lo ngga’ berubah ya! Gue pikir setelah kejadian ini lo bakalan baik ke gue!”

“Ngarep lu, ah!” timpal Nell

Lalu mereka berdua tertawa bersama…


•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦


Di sisi lain, Elfan tengah berdiri di depan kaca kamarnya. Memastikan bahwa penampilannya kala itu sudah benar-benar keren.

“Mimpi apa gue semalem yak?
Ide gue bagus juga. Gue ngebantu Nell keluar malem ini buat nemuin Rion, trus gue di rumahnya Nell buat nahan Si Hanif sekaligus deketin dia. Hahaha…” gumamnya senang

Namun tak lama kemudian ponselnya berdering

“Heh?” seru seseorang di seberang sana

“Ada apa?
Ntar jadi kan?” timpal Elfan.

“Sorry, ngga’ jadi. Ntar gue dianter sama Hanif kok!” terang Nell

“Hah?” dengus Elfan tak percaya

“Kok gitu sih?”

“Yaelah, ayolah!”

“Ceritanya panjang. Intinya Si Hanif udah tau semuanya. Terus, dia bakalan bantu gue buat deketin Si Rion.” jelas Nell senang

“Apa? Apa lo bilang? Lo ngga’ lagi becanda kan?” cecar Elfan shyock

“Pokoknya besok gue ceritain semuanya di kelas. Ya udah ya…”

“Eh tunggu-tunggu!” sela Elfan

“Apa lagi?”

“Lo mesti tanggung jawab. Gue udah dandan keren gini masa’ ngga’ jadi?” protes Elfan

“Hah? Ngapain lo dandan keren gitu?”

Namun tak lama kemudian Nell paham kenapa Elfan dengan begitu semangatnya tadi siang menawarkan untuk membantu menahan Hanif agar Ia dapat keluar rumah nanti malam.

“Oh, gue paham sekarang kenapa lo semangat banget mau ngebantuin gue, pake’ sok nawarin pula tadi siang…. Hahahaha…”

“Ah! Ketauan deh!
Lu sekali-kali o’on gitu dong! Jangan pinter-pinter!” keluh Elfan kesal

Nell hanya tertawa, “Ya udah, lo sekarang buruan ke rumah gue!”

“Ngapain? Katanya rencananya batal?”

“Udah lah! Nurut atau lo bakal sia-sia’in kesempatan ini?”

•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦


Di dalam mobil,

Malam itu Nell terlihat begitu memukau dengan setelan kemaja putih ditambah rompi kotak-kotak dan celana kulit berwarna hitam ukuran ¾ serta sandal gunung casual yang Ia kenakan. Kesannya benar-benar seperti anak kecil yang baru akan menginjak usia remaja, namun apapun yang Ia kenakan tetap saja terlihat bagus.

Ia duduk manis di belakang, sembari menahan tawa melihat tingkah Elfan yang duduk di depan bersama Hanif.

“Ehmmm… Ehmmm…”

Elfan kesal dengan tingkah Nell, “Kenapa lo? Keselek kadal?”

“Kagak! Tenggorokan gue cuman dikit serak aja!” kilah Nell sembari menahan tawanya. Sedangkan Elfan mencak-mencak ngga’ karuan, lalu memberi isyarat melalui gerakan matanya agar Nell diam

Setelah sampai di salah satu Café di daerah Blok M, Nell segera keluar dari mobil dan memberi isyarat pada Elfan yang seakan berkata, “Bersenang-senang lah!”. Elfan hanya tersenyum polos, sedangkan Hanif menatap Nell dengan pandangan penuh tanya.

“Jemput gue dua jam lagi! Ngga’ pake’ telat!”

Nell melambaikan tangan saat mobil itu telah melaju. Ia melangkah menuju Café tersebut penuh semangat.

***


-EZIO CAFÉ – 19.00 P.M-


Ada seseorang yang membukakan pintu, “Selamat malam! Selamat datang di EZIO CAFÉ.” sapa salah seorang waiter tampan dengan seragam khas Café tersebut

“Malam...
Ehmmm, pilihin meja yang bisa dengan leluasa ngelihat ke area kasir, trus di deket kaca.” pinta Nell. Kalian semua pasti tahu maksud permintaan Nell. Hahaha…

“Silahkan!” timpal Si Waiter, lalu menuntun Nell menuju sebuah meja yang dikehendakinya. Nell berjalan sembari terpukau memandangi desain Café tersebut.

Setelah Nell duduk, Ia membolak-balik menu sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok yang menjadi alasan mengapa Ia rela jauh-jauh datang kemari.

“Ehmmm… Gue pesen Hot Cappucino satu sama Croissant cheese satu. Trus, tolong yang nganter nanti Rion aja ya?” pinta Nell sembari berusaha menyembunyikan senyuman penuh semangatnya

Waiter tersebut berfikir sejenak. Entah memikirkan apa. Lalu mengangguk sopan dan segera berlalu.

Cukup lama Nell menunggu pesanan itu datang. Namun beberapa menit kemudian datanglah seorang Waiter namun dengan seragam yang berbeda.

“Nell?” sapa nya tak percaya

Sedangkan Nell terlihat gugup, sembari berusaha menyembunyikan perasaannya yang tak karuan.

“Ngapain lo di sini?”

“Ngga’ boleh?” balas Nell berpura-pura ketus seperti biasanya

“Bukannya gitu! Tapi gue ngga’ nyangka aja lo bakal ke sini.” tukas Rion.

Nell menangkap apa yang sedang difikirkan Rion, “Emang gue harus selalu nongkrong di Café atau Restoran yang mewah banget dan serba mahal luar biasa gitu?”

“Ya menurut gue sih gitu. Elo kan anaknya perfeksionis.” cetus Rion dingin

Seketika itu Nell terbahak, “Ya ngga’ gitu juga kali’! Hahaha… Lagian menurut gue Café lo keren banget sumpah!”

“Oh… Sorry!” jawab Rion datar

“Eh, ayo duduk!”

“Tapi gue masih banyak kerjaan.” kilah Rion, lalu meletakkan pesanan Nell di mejanya. Ia masih kesal dengan sikap Nell tadi siang

“Ngga’ asik lo ah! Sekali ini aja kan ngga’papa. Lagian ini kan pertama kalinya gue ke sini. Trus, Café ini kan punya Kakak lo, jadi ngga’papa lah sekali-sekali gitu!” cecar Nell. Rion hanya menatap Nell tak percaya, sembari dengan terpaksa mulai duduk.

Sejenak mereka berhadap-hadapan. Hening, tak ada yang mulai berbicara.

“Suara lo ternyata keren juga!” sergah Rion, mengusir keheningan

“Maksud lo?”

“Iya, gue tadi siang ngeliat lo nyanyi di taman depan sekolah.” terang Rion

“Elo?” timpal Nell tak percaya. Ia begitu senang, namun di sisi lain begitu malu.

“Ngapain malu, suara lo bagus kok!” sela Rion tiba-tiba, seakan dapat menangkap apa yang sedang difikirkan Nell

Sedangkan Nell semakin gugup…

“Ehmmm… Elo mau ngga’ gabung di Band gue?” tawar Rion tiba-tiba

Perasaan Nell semakin tak karuan. “Mimpi apa gue semalem?” gumamnya dalam hati

“Elo ngga’ mau ya?”

“Ehmmm… Bukannya gitu!” kilah Nell cepat-cepat

“Trus?”

“Gu… Gue harus ngomong dulu sama manager gue buat manage jadwal gue.”

“Oh, iya! Elo kan model. Gue hampir lupa.” timpal Rion

“Bukan hampir lagi, tapi udah lupa. Hahaha…” celetuk Nell. Rion pun tertawa ringan

“Oh iya, soal tadi siang. Sorry gue udah ngebentak elo!” sela Rion tiba-tiba. Ia terlihat sedikit gugup

“Ngga’papa. Lagian gue yang salah. Ngga’ seharusnya gue ngatain Rama kayak gitu.
Lo tau sendiri sifat perfeksionis gue emang keterlaluan. Apalagi penampilan Rama parah gitu. Wajar lah, gue kan ngga’ pernah ngeliat anak sekolah kita dandanannya kayak gitu.” kilah Nell. Padahal Ia sebenarnya melakukan hal itu karena tak suka melihat Rama dekat dengan Rion

Rion hanya tersenyum simpul, “Iya, ngga’papa. Gue tadi udah nyuruh dia ke mall sama Kakak gue buat ngerubah penampilan dia. Makanya sekarang dia ngga’ masuk kerja.” jelas Rion

“Hah? Jadi selain tinggal di tempat lo, dia juga kerja di sini?”

“Iya… Kenapa emang?”

“Ngga’… Ngga’papa.” kilah Nell. Ia benar-benar kesal.

“Ya udah, cobain makanannya! Keburu dingin ntar!”

“Oh, iya-iya!” Nell pun segera mengalihkan pandangannya pada pesanan tersebut

“Latte art nya keren! Yang bikin siapa?” komentar Nell saat melihat Cappucino nya

“Gu… Gue.” jawab Rion kikuk. “Ah, lo terlalu muji! Itu biasa aja kok!” sambungnya

“Keren tauk! Apalagi gue suka sama panda.” timpal Nell sembari memandangi Latte Art berbentuk panda tersebut, “Lucu ya!”

“Hahaha… Jangan diliatin doang! Kapan dicicipinnya?”

“Ngga’ ah! Sayang!
Abisnya pandanya lucu banget!” keluh Nell

“Udah lah minum aja! Ntar setiap lo ke sini bakal gue bikinin kayak gitu!”

“Hah?” Nell menatap Rion tak percaya. Ia benar-benar senang kala itu. Lalu dengan semangat menyeruput Cappucino nya

Rion tertawa melihat tingkah Nell, “Pelan-pelan!”

“Enak kok!” komentar Nell sembari menatap Rion

Rion terbahak, “Iya, tapi bibir lo belepotan!”

“Bodo’ ah!” seru Nell, lalu Ia segera mencicipi Croissant Cheese yang dipesannya tadi.

“Lu bandel amat sih! Dibilangin kok!
Sini!” Rion mendekat ke wajah Nell, lalu mengusap bibir Nell dengan jemarinya

Entah tak tahu bagaimana lagi caranya Nell dapat menyembunyikan perasaan senangnya kala itu. Ia tak percaya, Rion yang biasanya bersikap cuek dan pendiam di sekolah bisa sehangat ini ketika di Café.

Namun belum lama Nell menikmati saat-saat indah itu, segerombolan gadis-gadis di Café tersebut tengah berjalan ke arah nya. Ia cepat-cepat menjauhkan wajahnya dari Rion dan menutupi wajahnya dengan tab yang Ia bawa.

Seketika itu Rion menoleh ke belakang. Ia paham dengan situasi tersebut. Rion segera menarik Nell dan membawanya pergi

“Neeeeell!” teriak segerombolan gadis tersebut

Dengan cepat Rion membawa Nell pergi. Mereka berdua keluar dari Café tersebut dan berlari secepat mungkin.

“Kita mau kemana?” teriak Nell, karena jalanan kala itu begitu riuh ramai dengan suara kendaraan

“Kemana pun! Yang penting lo aman!” seru Rion cemas

Nell hanya tersenyum dan memandangi wajah Rion yang tengah serius berlari dan menggandeng tangannya

Rion kala itu masih mengenakan seragam kerjanya. Ia pun melepas topi dan epron yang Ia kenakan dan menyuruh Nell memakai topi tersebut serta memakai epron itu untuk menutupi wajahnya.

Namun saat Nell tengah berlari sembari mengenakan topi, Ia malah terjatuh dan tersungkur di jalanan ber-aspal. Rion terkejut, lalu segera membantunya berdiri. “Elo ngga’ papa?”

“Gue ngga’papa kok!” Nell segera bangkit sembari berusaha berdiri

“Lutut sama siku lo berdarah.” komentar Rion kaget saat melihat darah yang cukup banyak di daerah tersebut

“Gue ngga’papa!”

“Cepet naik punggung gue!”

“Ngg… Ngga’ usah! Gue masih bisa lari kok!” elak Nell

“Cepet!” bentak Rion. Akhirnya Rion menarik Nell dengan paksa ke arah punggungnya dan segera bangkit, lalu berlari...

Nell hanya terdiam. Perasaannya benar-benar campur aduk.

“Turunin gue!” pinta Nell beberapa saat kemudian

“Kaki lo sakit! Lo ngga’ bisa jalan. Biar gue cariin taksi dulu buat nganter lo ke rumah sakit.”

“Ngga’ usah! Gue bisa sendiri. Lagian gue ngga’ perlu ke rumah sakit. Cuman gini doang kok!
Gue mau langsung pulang aja!”

Rion berhenti berlari, lalu Nell segera turun dari punggung Rion. Saat Nell menoleh ke belakang, fans-fans yang mengejarnya sudah tak ada lagi.

“So… Sorry udah nyusahin elo!
Elo balik aja, gue ngga’ papa!” pinta Nell gugup, lalu berusaha berjalan. Ia sedikit kesusahan.

“Yakin?” tegas Rion. Nell mengangguk cepat-cepat

“Ya udah, ati-ati!” Rion segera berbalik, lalu berlalu

Nell terlihat meniup-niup sikunya sembari berusaha menghubungi Hanif. Sambil menunggu, Ia membuka akun twiter dan facebook’nya.

“Sumpah, malem ini gue bener-bener seneng! Ngga’ nyangka dia bakalan sehangat itu. Padahal biasanya dia cuek, dingin, ketus pula!” Seperti biasa, tak butuh waktu lama status nya langsung mendapat banyak like dan comment

Beberapa menit kemudian Hanif datang. Ia segera turun dan terkejut melihat keadaan Nell. Sedangkan Elfan menatap Nell kesal dari kaca mobil. Namun kemudian rasa kesalnya memudar karna melihat Nell terluka. Hanif segera membantu Nell berjalan dan membawanya masuk ke dalam mobil. Ia segera melaju dengan cepat.

“Ssttt… Lo kenapa?” bisik Elfan

“Panjang ceritanya.”

“Belum dua jam tapi kok lo udah ngajakin pulang sih?” keluh Elfan kesal karena niatnya mengajak Hanif jalan-jalan terganggu

“Oneng! Pake’ nanya lagi!
Elo mau gue pulang sendirian? Kaki gue bener-bener sakit tauk!”

“Hahaha… Sorry-sorry.
Sakit?” tanya Elfan polos. Nell langsung memukul-mukul punggung Elfan.

Ia meringis kesakitan, “Lagian lo ngapain aja sih sampe’ jatoh gitu?
Rion maennya kasar ya?”

Jangan-jangan kalian maennya di dapur Café? Hahaha…” celetuk Elfan

Nell semakin kesal, lalu memukul kepala Elfan dengan bantal yang ada di mobil tersebut hingga Ia mengeluh karna kepalanya mulai sedikit pusing

“Pikiran lo ngeres mulu! Lo tiap malem mantengin bokep berapa banyak sih? Hah?” amuk Nell kalap. Ia benar-benar kesal dan terus memukuli kepala Elfan. Hanif hanya menggeleng dan terus mengemudi dengan fokus

***

Mereka bertiga sampai di depan rumah sejam kemudian. Hanif segera membantu Nell masuk ke kamar. Ia marah-marah karna Nell keras kepala dan tak mau diajak ke rumah sakit atau klinik. Sedangkan beberapa pembantu yang lain segera mengobati luka Nell.
Tak lama kemudian Hanif berniat mengantar Elfan pulang. Sedangkan Nell hanya tertawa melihat ekspresi wajah Elfan yang terlihat begitu senang.


•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Nell tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya. Ia melenguh kesakitan saat merasakan sebagian tubuhnya masih terasa nyeri. Namun saat Ia menoleh, ada seseorang yang tengah tidur di sampingnya. Nell cukup kaget, Ia mendekat untuk melihat wajah orang itu. Sedangkan orang itu ikut terbangun karena Nell tak bisa diam dan menatap Nell kesal.

“Lu… Lu ngapain di sini?” tanya Nell menyelidik. Namun orang itu hanya menguap, lalu berusaha tidur lagi

“Lu semalem abis ngapain gue, hah?” omel Nell kesal, lalu segera membuka selimut. Ia hanya mengenakan boxer sponge bob nya. Nell segera bangkit, lalu mendorong orang tersebut hingga terjatuh dari ranjang

“Arrrggghhhh!” lenguh orang tersebut. Lalu Ia membuka selimutnya, segera bangkit dan menatap Nell kesal. Ia hanya mengenakan celana dalam. Nell shyock melihat hal itu. Ia terus berteriak-teriak, apa yang telah orang itu lakukan pada Nell semalam?

Hanif menjitak kepala Nell, “Gue masih normal kali’!”

Nell tak percaya. Dengan bodoh dan polosnya Ia segera masuk ke kamar mandi dan membuka boxernya. Ia bercermin untuk mengechek seluruh tubuhnya. Ia juga mengechek “hole” nya. Hahaha…

Beberapa saat kemudian Ia keluar dari kamar mandi dengan lega. Sedangkan Hanif cukup mengerti apa yang dilakukan Nell di dalam kamar mandi dan langsung menjitak kepala Nell lagi, namun lebih keras dari sebelumnya.

Nell berteriak kesakitan, “Sorry, gue kan cuman waspada aja!”

“Kelewatan lo tuh! Lu pikir gue cowok apaan? Kalau pun gue gay, gue ngga’ bakal naksir cowok kek elo!”

Nell kesal, “Itu kata-kata gue! Ngga’ kreatif lo!”

Hanif mengernyitkan kening, lalu segera mengenakan celana jeans’nya dan kembali tidur.

“Trus ngapain lo tidur di sini? Cuman pake’ CD pula. Wajar lah gue curiga!”

“Gue emang kebiasaan kayak gini kalo’ tidur. Entah di kamar gue sendiri atau di kamar orang lain. Gue ngga’ betah kalo’ tidur pake’ baju gitu. Ribet!
Semalem Bi Rahmi yang minta. Abis gue nganter Elfan, lo udah tidur di kamar. Lu ngigau-ngigau gak jelas sambil terus manggil nama “Rion”. Trus karna Bi Rahmi khawatir, dia nyuruh gue buat tidur di kamar lo aja semalem. Lagipula lo lagi sakit, jadi kalo’ malem-malem ada apa-apa atau lo butuh sesuatu gue bisa bantuin.” jelas Hanif panjang lebar. Sedangkan Nell hanya terbahak sembari melihat ekspresi kesal Hanif

“Semalem lu mimpi apaan sih tentang Rion?” tanya Hanif penasaran. Nell langsung kikuk

“Jangan-jangan lo mimpi yang ngga’ bener ya tentang Rion?”

“Gila lo!” kilah Nell. Namun Hanif menatap Nell dengan pandangan aneh, lalu senyum-senyum sendiri

•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦


Pagi itu Rion terlihat berangkat bersama Rama menggunakan motor merahnya. Kali ini Rama mau diajak berangkat ke sekolah bersama Rion karena Rion mengancam tak akan mau mengajak Rama bicara apabila Rama tak menuruti kemauannya. Rama hanya menatap Rion tak percaya. Di sekolah hanya Rion yang Ia kenal, bagaimana bisa bila Rion tak mengajaknya bicara.
Terkadang Rion egois. Namun Ia melakukan hal bodoh seperti itu karena khawatir apabila Rama berangkat sendirian lagi.
Bertepatan dengan itu Nell terlihat baru turun dari mobil bersama Hanif. Ia dibantu berjalan oleh Hanif menuju ke kelas. Nell marah-marah, Ia malu karena Ia terlihat seperti anak manja di depan anak-anak seisi sekolah. Namun Hanif tetap ngotot untuk membantunya berjalan hingga sampai kelas.

Nell melihat Rion bersama Rama baru turun dari motor. Ia benar-benar kesal. Sedangkan Rion melihat Nell berjalan menuju kelas dibantu oleh Sopirnya. Ia merasa tak enak karena peristiwa semalam dan ingin tahu bagaimana keadaan Nell sekarang…

***


Di kelas, sahabat-sahabat Nell langsung bergerombol mendekatinya, terutama siswi-siswi kelas itu yang notabenenya fans fanatik Nell. Gadis-gadis itu langsung bertanya ini-itu sembari menawarkan untuk membawakan berbagai hal.

“Minggir-minggir! Nell butuh ruangan lenggang. Kasian!” seru Tommy, berusaha mengusir gadis-gadis tersebut. Mereka pun kembali ke bangku masing-masing sambil mendengus kesal.

Saat Tommy bertanya apa yang terjadi, Elfan langsung menjelaskan semuanya dengan detail.

“Lo cocok banget jadi Paparazi.” komentar Nell. Elfan hanya tersenyum polos

“Gimana semalem?” Alfath dan shabat-sahabat Nell yang lain tak sabar ingin mendengar cerita Nell. Lalu Nell dengan sabar mulai bercerita…

***


Di sisi lain banyak anak-anak di sekolah yang memperhatikan Rama, terutama gadis-gadis. Penampilannya benar-benar berbeda. Ia sedikit tak nyaman dengan hal itu. Sedangkan Rion mengerti dan berusaha menghiburnya, “Tenang aja! Lo keren kok!”. Rama tersenyum simpul, lalu Rion mengajaknya ke kantin karna mereka belum sarapan tadi pagi.
Seperti biasa, Rion membaca komik sambil menunggu Bakso pesanan mereka datang.

“Semalem Nell ke Café.” ujar Rion, membuka percakapan

“Hah? Ngapain cowok sombong itu ke sana?” Rama benar-benar kaget

“Entah! Tapi dia cuman pengen mampir. Dia denger dari anak lainnya kalo’ gue sibuk di Café Kakak gue sekarang, ngga’ lagi di warnet.”

“Trus, kalian ngobrol apa aja?”

“Kenapa nanya gitu?”

Rama gugup, Ia tak menjawab. Ia juga bingung kenapa menanyakan hal itu. Ia tak mengerti dengan perasaannya.

Tak lama kemudian seorang lelaki setengah baya mengantar dua mangkuk Bakso bersama dua gelas teh hangat.

“Cuman ngobrol soal Band aja! Suara dia bagus.” jelas Rion singkat

“Suaranya bagus?” tanya Rama bingung. Rion membenarkan, lalu Ia menceritakan bahwa Ia telat menemui Rama saat pulang sekolah kemarin karna melihat Nell bernyanyi bersama anak kelas XI di taman. Rion menambahkan, “Suaranya bukan hanya bagus, tapi benar-benar bagus!”

Rama hanya membisu. Perasaannya berkecamuk. Kemarin Ia dengan sabar menunggu Rion di luar sekolah hingga kehujanan, basah kuyup dan kedinginan. Namun Rion ternyata malah asik menyaksikan Nell menyanyi. “Hanya karna hal itu Ia membiarkanku menunggunya lama hingga kehujanan?” gumamnya dalam hati. Entah mengapa Ia benar-benar kesal. Entah iri, entah cemburu. Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Namun Ia tahu, Ia merasa sakit. Entah mengapa, entah karna apa. Ia merasa takut kehilangan sahabatnya. Semenjak Nell ke Café, Ia merasa Rion dan Nell mulai dekat. Ia benar-benar takut, takut akan kehilangan Rion. Namun Ia tak mengerti, Ia takut kehilangan Rion sebagai sahabat atau karena perasaan lain?

“Kok diem? Buruan makan! Keburu dingin!” sergah Rion sembari memakan Baksonya dengan lahap. Rama tergugah dari lamunannya dan segera memakan Baksonya. Namun Ia masih saja merasa gundah. Entah mengapa…

***


Kembali ke kelas,

Setelah Nell menceritakan semuanya, Elfan, Alfath, Tommy dan Gerry langsung menatap Nell tak percaya. Tak biasanya Rion bersikap seperti itu. Biasanya Ia cuek dan dingin. Apalagi kemarin di kelas, Ia membentak Nell karena telah menghina Rama. Mereka berempat terus membahas hal itu.

“Gue juga ngga’ tau! Intinya dia lebih hangat kalo’ di Café.” jawab Nell singkat

Namun yang paling membuat mereka berempat shyock adalah saat Nell dengan cerobohnya membiarkan laptopnya begitu saja hingga Hanif masuk dan mengetahui semuanya. Dan parahnya lagi, mereka tak menyangka Hanif yang notabenenya Sopir baru di rumah Nell dengan baik hati berjanji akan menjaga hal itu baik-baik dan takkan berubah sikap pada Nell setelah mengetahui semuanya. Dan apalagi Hanif berjanji akan selalu ada untuk Nell saat Nell membutuhkan, saat Nell kesepian.

Sedangkan Elfan iri dengan Nell yang telah menceritakan momment indahnya bersama Rion di Café tadi malam dan membuat teman-temannya yang lain terkesan. Ia tak mau kalah. Ia pun menceritakan ngedate / kencan pertamanya dengan Hanif.
Namun ditengah-tengah saat Ia dengan semangat bercerita, Nell berceloteh. “Kencan? Hahaha… Lu aja yang nganggepnya gitu, tapi Hanif nganggepnya beda.”

Seketika itu Elfan langsung berhenti bercerita dan beranjak dari bangkunya.
“Hari ini gue duduk sama lo ya! Nell ngga’ asik!” pintanya pada Tommy. Sedangkan anak-anak lainnya hanya terbahak melihat tingkah Elfan yang lucu dan kekanakan

Bertepatan dengan itu, Rion masuk ke dalam kelas bersama Rama. Anak-anak seisi kelas langsung memandangi Rama. Ada juga yang langsung berkomentar bahwa penampilan Rama benar-benar berbeda. Benar-benar keren. Tentu saja, yang paling heboh ialah para gadis.
Sedangkan Nell dan gengnya menatap Rama sinis. Namun Tommy dan Gerry sedikit tertarik dengan perubahan penampilan Rama.

Di sisi lain, Rion tengah memperhatikan Nell dari bangkunya. Ia ingin menanyakan keadaannya, namun pada akhirnya masih saja duduk manis di kursinya, lalu kembali melanjutkan membaca komik. Sedangkan Rama yang berada di samping Rion tengah sibuk merubah tatanan rambutnya.

“Jangan! Udah bagus tuh!” omel Rion

“Gue ngga’ pede.” timpal Rama menyerah

“Lu keren kok!”

“Tapi lo tau kan, gue anaknya ngga’ neko-neko dan ngga’ suka jadi pusat perhatian.” gumam Rama kesal. Ia pun merapikan rambutnya. Menghancurkan tatanan rambut spike’nya

Rion marah, lalu membenarkan dan membentuk rambut tersebut agar kembali seperti semula, sedangkan Rama menepis-nepis tangan Rion.
Bertepatan dengan itu, Nell tengah menoleh ke belakang dari bangkunya dan kesal melihat kedekatan mereka berdua.

Tak lama kemudian Guru Fisika yang mengajar pada saat itu baru saja datang dan segera memulai pelajaran.

***


Di jam istirahat, Nell tengah menelfon Managernya dan memintanya mengatur jadwalnya lagi karena Ia juga akan berencana untuk merambah dunia musik. Managernya berkata bahwa jadwalnya sudah mutlak. Lagipula jadwalnya benar-benar padat.
Sedangkan Nell malah marah-marah dan berkata bahwa itu urusan Managernya. Bagaimanapun caranya Ia harus menyisakan waktu dua jam dalam sehari untuk latihannya bersama Band baru nya. Lalu dengan kesal Nell menutup telfonnya.
Ia kembali masuk ke kelas. Ia melihat Rion tengah sibuk membaca komik dan Rama terlihat sedang membujuknya untuk menemaninya ke kantin. Namun Rion tetap lebih mementingkan komiknya dari pada Rama dan berkata bahwa volume yang ke 45 ini benar-benar bagus dan menyuruh Rama juga membacanya nanti.

Rama terlihat sangat kesal, namun Nell tiba-tiba menghampiri mereka.
“Manager gue udah ngatur jadwal gue.” sela Nell yang datang tiba-tiba

“Beneran?” Rion benar-benar senang sembari menutup komiknya.

“Iya!” jawab Nell membenarkan. Walau sebenarnya Ia masih nego dengan Managernya. Belum fix diijinkan. Hahaha…

“Ram, gue tinggal dulu ya! Gue mau ngobrol bentar sama Nell.” ujar Rion, lalu memasukkan komiknya di laci mejanya dan berjalan keluar kelas bersama Nell. Sedangkan Rama terlihat sangat kesal karena Rion lebih memilih komiknya daripada dirinya. Namun saat Nell datang, Ia melupakan komiknya dan lebih memilih Nell.

“Heran gue… Dulu mereka ngga’ terlalu deket. Apalagi kemaren Rion ngebentak Nell karna udah ngehina gue. Tapi semenjak semalem Nell ke Café, semuanya jadi berubah. Mereka berdua ngapain aja sih di Café semalem?” gumam Rama penuh emosi
Rama sangat kesal, lalu berjalan sendirian menuju kantin. Namun karena kantin saat itu sangat ramai dengan antrian para siswa-siswi yang kelaparan, Rama malah berjalan menuju taman belakang sekolah.

Hah? Taman belakang sekolah???

***


Rion mengajak Nell menuju ruangan Band sekolah. Ia juga mengajak anggota Band’nya dan memperkenalkan Nell pada mereka. Namun saat mereka membuka pintu ruang Band, di sana sudah anak anak Band lain yang tengah memainkan alat-alat musik namun tak ada yang menjadi Vokalis’nya.

Ternyata mereka adalah anak-anak yang bernyanyi di taman bersama Nell kemarin. Mereka kesal melihat anak-anak Band Rion mengajak Nell ke ruangan tersebut. Mereka pun segera keluar dari ruangan itu dan ketika di luar, Pemimpin Band tersebut marah-marah karena mereka telat. Harusnya mereka menemui Nell lebih awal dan mengajaknya bergabung di Band mereka. Apalagi suara Nell sangat bagus dan kemarin mereka bermain musik bersama.

Di sisi lain, Nell tengah bermain musik bersama anggota Band Rion di dalam. Suaranya terdengar begitu indah.

Pemimpin Band itu pun semakin geram saat mendengar suara indah Nell dan memarahi anggotanya yang lain karena tak segera menemui Nell. Ia benar-benar frustasi.

***


Kembali ke saat dimana Rama batal ke kantin karena ramai dan malah berjalan menuju taman belakang sekolah. Bertepatan dengan itu ada segerombolan anak yang tengah duduk-duduk di sana. Mereka melihat Rama berjalan sendirian dan memanggilnya untuk bergabung bersama mereka. Karena Rama tengah kesal dan tak punya teman selain Rion, akhirnya Ia pun bergabung dengan gerombolan tersebut.

“Gue ngga’ pernah liat lo. Elo anak baru di sini?” tanya salah seorang lelaki dari geng itu, sepertinya Ia ketua geng tersebut

“I… Iya! Gue anak baru!
Rama…” timpal Rama canggung

“Sini, duduk! Gabung ama kita-kita aja daripada sendirian. Pasti lo belom punya banyak temen di sini.” pinta lelaki lainnya

Rama pun duduk, lalu ketua geng tersebut menjabat tangan Rama.
“Kenalin, gue Locko…” ujar Locko, sembari menatap Rama dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan anggota geng yang lain tersenyum sembari menatap Rama dengan tatapan aneh

•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦

•♦• To Be Continued •♦•

0 komentar:

Posting Komentar