Pages

Perfect World Online Pointer

"The Paper Planes" * (Sheet 5)

--.DelvetiaN.--



By : Kiki Wellian





Fb : Nell Leander Atharein (Add Ya! )





Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com











“The Paper Planes”












Tak perlu kertas kualitas atas



Tak perlu keahlian seniman terkenal



Tak perlu jemari tangan indah



Tuk melipatmu menjadi bentuk



Tuk membuatmu ada



Menjadi sebuah “Pesawat Kertas”



Yang sederhana namun pekat akan makna





Tak perlu perhitungan matang



Tak perlu kecerdasan insinyur



Tak perlu mesin-mesin canggih



Tuk membuatmu mengangkasa



Membumbung tinggi melintasi langit biru





Hanya tinggal melipat dan terus melipat



Melipat dengan segenap harap



Tuk membuatmu menjadi bentuk





Hanya tinggal berlari dan melesatkan



Melesatkanmu dengan penuh kekuatan



Tuk membuatmu tinggi mengangkasa





Layaknya sebuah kehidupan,



Kita takkan pernah tahu



Akan setinggi apa ia mengangkasa



Melintasi langit biru



Kita takkan bisa menduga



Kapan ia akan terjatuh



menghempas tanah gersang



Yang penuh debu memilukan





***





“What?” protes Nell.



“Kenapa lagi Nell?” tanya Bu Risma menyelidik



“Ngg… Ngga’papa.”



“Gilaaaa…! Seumur-umur impian gue tuh duduk sebangku ama Rion, tapi dia yang baru masuk ke sekolah ini aja udah bisa langsung duduk sama Rion.” umpat Nell dalam hati



“Udah yuk, langsung duduk aja!” ajak Rion sembari merangkul pundak Rama. Ia juga menatap Nell kesal



“Ya sudah, pelajaran kita lanjutkan lagi.

Oh iya, Rama… Nanti kamu sudah bisa ambil buku-buku pelajaran.” kata Bu Risma



“Iya, Bu! Makasih!”



Sedangkan Nell hanya menatapnya kesal, lalu memalingkan wajahnya dan merebahkan kepalanya di atas meja.



“Hash! Bete gue!” dengus Nell



“GALAU?” tanya Elfan polos



“Udah lah lo ikhlasin aja Si Rion. Kayaknya mereka deket banget tuh!

Lagian masih banyak cowok-cowok lain yang ngejar-ngejar lo dan lebih cakep dari Si Rion.” hibur Tommy



“Setres lo, Tom! Gue naksir sama Rion bukan cuman karna dia cakep!”



“Trus apa yang lo suka dari dia selain karna dia cakep?”



“Cukup gue yang tau! Pokoknya intinya dia beda dari cowok-cowok yang lainnya!

Pokoknya gue maunya Rion. Titik!”



“Iye-iye! Kita bakal usahain buat elu!” seru Elfan, diikuti anggukan sahabat-sahabat Nell yang lain



•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦





Tak lama kemudian Bel tanda istirahat pun berbunyi. Rion menuju kantin bersama Rama. Sedangkan Nell terlihat begitu kesal dan hendak membuntuti mereka diam-diam.



“Liat tuh! Mesra banget dah Si Rion jalan sambil meluk Rama.” celetuk Gerry, berniat membuat Nell cemburu



“Anjrit! Seumur-umur gue ngga’ pernah digituin sama Rion.” omel Nell



“Emang mereka pacaran yah? Bukannya Rion street?” tanya Elfan



“Straight… BUKAN street.” omel Tommy



“Iya-iya. Wajar lah, gue kan baru nyebur jadi belum terlalu tau banyak ama isitilah-istilah itu.”



“Setahun itu termasuk baru? ckckck…” cetus Nell tak percaya. Elfan hanya tersenyum polos



“Gue jitak juga nih!” maki Nell kesal



“Gue sih ngga’ tau! Tapi mereka kesannya akrab banget!” timpal Alfath, menanggapi pertanyaan Elfan



“Sialan tuh anak! Dateng-dateng udah ngerebut Rion dari gue!

Gue ngga’ mau tau pokoknya kalian mesti bisa jauhin dia dari Rion!” seru Nell



“Yaelah, itu mah gampang!” seru sahabat-sahabat Nell serempak



“Cari tau juga latar belakang Rama!”



Beberapa saat kemudian Rion dan Rama terlihat tengah duduk berdua di salah satu meja kantin dan terlihat tengah memakan semangkuk bakso. Namun Rama terlihat kesusahan menuangkan saos tomat. Rion segera membantunya.



“Hebat lo! Gue aja ngga’ bisa-bisa!” seru Rama



“Elo belum sarapan ya tadi? keliatan banget ngga’ ada tenaganya!” canda Rion sembari tetap berusaha mengguncang-guncang botol saus. Namun sebagian terkena dagu Rama



“Eh, sorry-sorry!” Rion cepat-cepat mengambil tissue dan mengusap dagu Rama yang terkena saos tomat.



“Anjrit! Ngga’ tahan gue! Cabut gays!” omel Nell yang tengah mengawasi dari kejauhan. Mereka berlima pun akhirnya menuju taman belakang sekolah dan duduk-duduk di salah satu bangku. Jauh dari keramaian…



“Nell?” sapa salah seorang lelaki yang tengah duduk-duduk di sana sembari memainkan gitarnya



“Lo… Locko? Ngapain lo di sini?” Nell cukup terkejut



“Daripada lo bingung mau kemana dan ngapain, mending lo temenin gue. Ya ngga’ guys?!” seru Locko sembari diikuti tawa anak-anak gengnya



“Elo masih ngarepin gue?

Setres!” ejek Nell sembari teringat masa lalu



“Gue masih nganggep kita pacaran kok!” ujar Locko enteng sembari mengusap dagu Nell



“Eh, lo jangan macem-macem!” hardik Tommy dan yang lainnya. Namun Nell memberi isyarat agar mereka diam dan tetap tenang



“Udah, kita cabut aja yuk!” ajak Nell



“Kemana sih? Sini aja lah, Sayang!” rayu Locko



“Eh, kita udah putus! Jangan manggil-manggil Sayang!” maki Nell mulai emosi



“Lo makin hari makin cakep aja!” ujar Locko. Namun Nell dan yang lainnya tak memperdulikan. Mereka berlima segera berlalu



“Kapan-kapan gue mampir ke rumah lo ya! Rumah lo sepi kan kayak biasanya?

Gue kangen, pengen nyicipin tubuh lo!” teriak Locko, diikuti tawa anak-anak gengnya yang lain



“Brengsek! Ngomong apa lo barusan? !” hardik Alfath dan yang lainnya



“Udah lah, kita ngga’ seharusnya perduliin mereka.” ujar Nell barusaha menenangkan sahabat-sahabatnya.



“Kalian tau kan Locko kayak gimana?

Kalian inget kan sama kejadian waktu dulu?

Gue sampe sekarang juga masih miris, masih trauma. Gue udah ngga’ mau lagi berurusan ama yang namanya Locko dan gengnya.

Kalo’ kalian cuman ngandelin emosi, kalian sama aja ngebahayain posisi kita. Terutama gue!

Gue minta sama kalian semua, Please jangan hirauin apapun yang dilakuin sama mereka.” terang Nell sembari menahan sakit karena teringat peristiwa dimasa lalu



“Nell bener! Udah lah, kita buruan cabut aja!” timpal Elfan, diikuti anak-anak lainnya. Namun yang paling terlihat masih dikuasai amarahnya ialah Tommy, Gerry dan Alfath. Mereka bertiga benar-benar tak terima dengan kata-kata Locko dan gengnya. Mereka terus memandang penuh amarah ke arah Locko dan gengnya.



“Tom…!



Al…!



Ger…!” bentak Nell. Akhirnya mereka pun kembali melangkah menuju kelas



“Heran gue, kenapa sih lo punya mantan kayak dia?” sergah Tommy setelah sampai di kelas



“Iya tuh!” timpal anak-anak lainnya



“Gue udah males sebenernya berurusan lagi sama Locko dan gengnya. Gue udah trauma banget! Tapi kenapa akhir-akhir ini mereka mulai ngeganggu gue lagi?

Apa sih yang mereka incer dari gue kali ini?” keluh Nell kesal



“Udah lah jangan bahas ini lagi, n’tar malah ngebikin elo terbebani. Gue juga khawatir lo bakalan kepikiran terus. Masa lalu ngga’ usah diungkit-ungkit lagi.

Mending sekarang kita cari cara gimana caranya biar bisa deketin lo sama Rion?” ujar Elfan



“Sip! Lo bener.”



“Ehmmm, gue ada ide nih. Gimana kalo’ mulai sekarang lo sering-sering mampir ke Café nya Rion? Denger-denger Kakanya kan punya Café gitu di daerah Blok M.” sela Tommy



“Bener tuh! Sapa tau bisa lebih deket ntar!” tambah Gerry



“Bagus sih idenya. Tapi ngga’ berani ah gue.”



“Ngga’ berani apa gengsi?” celetuk Alfath



“Dua-duanya sih.” keluh Nell



“Elo pengen ngeliat si Rama sama Rion terus?

Trus lo galau terus gitu gaje dan cuman bisa ngeluh ke kita. Lo mau kayak gitu terus?” bujuk Elfan



“Iya, gue bakal sering ke sana. PUAS?”



“Nah gitu dong! Ntar malem lo mulai dateng ke sana. Trus besoknya lo cerita ke kita semua. Oke!”



“Oh, iya! Tapi lo kesananya jangan dianter sama Hanif. Naek Bus Way aja!” saran Tommy



“What? Males amat! Mesti nunggu lama, kena asap kendaraan, debu. Trus kalo’ ada fans-fans yang rese’ gimana?! Mikir pake’ otak!

lagian seumur-umur gue ngga’ pernah naek Bus Way.” cecar Nell



“Iya gue tau! Tapi masalahnya kalo’ elo naek Bus Way malah lebih enak. Ntar pulangnya lo bisa bareng sama Rion. Kalo’ lo dianter ama Hanif ngga’ bakalan bisa lah. Hanif pasti nungguin lo sampe’ lo pulang. Elo ngga’ bakalan bisa bebas.

Selama gue nyari tau tentang Rion, ternyata tiap abis pulang sekolah dia ikut kerja di Café kakaknya. Warnetnya dijaga sama karyawan Kakaknya kalo’ pagi sampe’ sore gitu.

Dia naik Bus Way biasanya, ngga’ naik motor merahnya itu. Lo tau sendiri kan, Jakarta kalo’ sore gitu pasti macet-cet-cet. Nah, saran gue ntar lo pake’ masker aja biar ngga’ kena polusi sekalian nyembunyiin wajah lo biar ngga’ dikenalin sama fans-fans lo. Trus lo pulangnya naik Bus Way juga biar bisa sekalian bareng sama Rion. Oke kan ide gue?” jelas Tommy



“Iya, bener juga tuh! Berkorban dikit kek buat cinta!” timpal Elfan diikuti acungan jempol anak-anak lain



“Ta…Tapi, gimana caranya gue bisa keluar rumah tanpa sepengetahuan pembantu-pembantu gue, terutama Hanif?

Kalian tau sendiri kan bokap gue protektif banget! Gue keluar rumah cuman waktu sekolah ama pemotretan doang.” keluh Nell sedih



“Soal itu gampang, serahin ke gue!” seru Elfan enteng



“Lo… Lo yakin bisa?”



***



Setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi, Seperti biasa Nell duduk-duduk di taman depan sekolah sembari menunggu sopir nya datang menjemputnya. Sahabat-sahabatnya yang lain sudah pulang sejak tadi.



“Heran gue. Tiap hari gue selalu duduk manis di sini nungguin sopir buat jemput.

Bener-bener kayak anak SD. Setiap gue mau bawa mobil sendiri pasti dimarahin sama bokap.” Nell membuat status baru di twitter dan facebook nya dengan status yang sama. Tak butuh waktu lama untuk mendapat like dan comment yang banyak dari orang-orang dumay.



Nell duduk di rerumputan. Pandangannya teralihkan ke arah seberang sembari mendengarkan suara salah seorang lelaki yang tengah menyanyi diiringi permainan gitar anak-anak lainnya. Beberapa siswa yang masih di sekolah membentuk kerumunan, menyaksikan permainan mereka.



Nell pun menghampiri kerumunan tersebut.



“Stop!” sela Nell ditengah-tengah nyanyian



“Kenapa?” musik pun berhenti.



“Yang main gitar udah bagus, tapi yang nyanyi payah!” komentar Nell angkuh



“Menurut gue suaranya dia bagus banget kok! Ya ngga’ guys?”



“Yoi!” sahut anak-anak yang lain



“Really?” sahut Nell meremehkan. “Kalian itu ngga’ ngerti tekhnik vokal yang bener tuh kayak apa! Suara kayak gitu mah di jalanan banyak. Ngamen muter-muter jalan.” sambungnya



“Jangan ngomong doang! Kalo’ gitu coba lo nyanyiin lagu itu sekarang! Kasih contoh, daripada bacot doang!” tantang salah seorang lelaki yang tadi bernyanyi. Ia begitu tersinggung dengan sikap angkuh Nell



“Udah lah ngga’ usah digubris. Dia tuh anaknya Pak Fabian, orang yang punya sekolah ini.” bisik anak lainnya pada Si Vokalis



“Hah?” Si Vokalis terperangah



“Siapa takut!” seru Nell enteng



Si pemain gitar pun mulai kembali memainkan gitarnya. Petikan-petikannya begitu merdu. Perlahan Ia mulai memainkan bagian intro lagu “Jason M’raz - I’m Yours”.





Nell mulai mengambil nafas, lalu mulai mengambil suara. “Hoo..ooooo...ooo... Hoooo...oooo...

Hooooo...oooooo...woooouwooooo...oooo...ooooo!”.



Baru begitu saja, seluruh anak-anak yang menyaksikan Nell bernyanyi langsung terpukau dengan keindahan suaranya. Mereka langsung bertepuk tangan dan memberi semangat pada Nell.

Riuh tepukan tangan mereka membuat anak-anak lainnya tertarik untuk menyaksikan permainan musik tersebut.





Nell pun mulai bernyanyi, “Well you done done me and you bet I felt it.

I tried to be chill but you’re so hot I melted. I fell right throught the cracks.

And now I’m trying to get back...



Before the cool done run out I’ll be giving it my best-est.

And nothing’s going to stop me but divine intervention.

I reckon it’s again my turn, to win for or learn... some...

But I… won’t hesitate no more, no... more.

It cannot wait, I’m yours...”





Seluruh anak-anak yang menyaksikan pun semakin terpukau, terutama gerombolan anak-anak yang tadinya menantang Nell bernyanyi. Tak butuh waktu lama, kerumunan itu pun semakin padat didatangi para siswa-siswi yang saat itu masih berada di sekolah.

Entah dari mana dan kapan datangnya, Rion pun ternyata ikut menyaksikan dan terpukau dengan suara indah Nell.





Hal yang belum mereka ketahui, ternyata suara Nell begitu indah. Kini bertambah kekaguman mereka akan sosok seorang Nell yang memiliki bakat dalam banyak hal.





Nell pun tersenyum senang karena mereka semua menyukai nyanyiannya. Ia pun melanjutkan nyanyiannya, “Ye-i-ye.. Heeee..Heee.. But I beliefe I’m yours...

Open up your mind and see like me...

Open up your plans and damn you’re free..

Look into your heart and you’ll find love.. love.. love.. love...



Listen to the music of the moment people dance… and sing

We are just one big family... And it’s our god-forsaken right to be loved.. loved.. loved.. loved.. loved...



So I… won’t hesitate no more, no.. more...

It cannot wait, I’m sure...

There’s no need to complicate

Our time is short. This is our fate.

I’m your’s...” dan seterusnya. Nell menyelesaikan lagu tersebut dengan begitu sempurna. Suaranya begitu indah. Orang-orang begitu menikmatinya sembari terbius keindahan senyuman yang terpancar selama ia menyanyikan lagu tersebut.





Selama ini hanya ada pendar keangkuhan.

Hanya ada senyuman licik.

Hanya ada pandangan meremehkan.



Tak pernah ada senyuman seindah itu.

Tak pernah ada senyuman semenawan itu.

Tak pernah ada pandangan setulus itu.

Yang begitu indah dan memikat...



Kita dapat menikmatinya,



Hanya ketika Ia bernyanyi…





•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦ •♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦ •♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦





Semuanya begitu terpukau. Tepuk tangan yang begitu riuh mengantar langkah Nell.

Ia berjalan menuju gerbang sekolah karena sopirnya telah tiba. Dan ternyata Nell tak mengetahui bahwa sebenarnya Rion juga ikut menyaksikan Ia bernyanyi di taman sekolah.



Kerumunan itu pun mulai mereda. Sekelompok anak yang tadi menantang Nell begitu terpikat dengan suara seindah itu. Mereka berniat mengganti vokalis band mereka dengan Nell. Namun sebelum ada yang membuka percakapan, Si Vokalis sudah mengerti arti dari tatapan kawan-kawannya tersebut.

Ia menjauh dan segera berlalu. Berjalan penuh dendam dan amarah.



Awan gelap yang sedari tadi menghiasi langit siang itu tak lama kemudian turun menjadi rintik hujan…

Kian lama kian deras…



“Brengsek…!” pekik lelaki itu sembari memukul-mukul rerumputan. Ia meradang. Luka yang tak tampak itu merayap, naik ke permukaan.



“Lo punya segalanya Nell! Lo punya semuanya!

Bahkan gara-gara lo, gue sekarang kehilangan posisi gue!

Apa ngga’ cukup semua yang udah lo milikin, sampe’ lo harus ngerebut posisi gue!



Gue ngga’ bakal pernah ngelupain ini!

Gue bakal ngebales elo! Tunggu aja, Nell!” raungnya penuh amarah lalu terduduk lemas di taman belakang sekolah sembari menahan dinginnya air hujan yang mengguyur tubuhnya.

Derai air hujan sekaligus menambah perihnya luka yang Ia rasakan.



--Pada kenyataannya Nell tak bermaksud mengambil posisinya. Bahkan Ia tak butuh posisi itu. Ia bisa menjadi seorang penyanyi terkenal dengan mudah, namun Ia hanya ingin menjadi seorang model.

Pada kenyataannya Nell hanya berbuat sesuai perangai yang terlanjur melekat sejak dulu dalam diri nya.

Ia hanya seorang lelaki angkuh, perfeksionis dan ditambah Ia memilki bakat. Sehingga Ia ikut bernyanyi di taman kala itu. Ia hanya ingin memberi tahu bernyanyi yang bagus dengan tekhnik vokal yang sesuai seperti apa. Ia tak pernah berniat mengambil posisi Sang Vokalis.

Namun setiap manusia memang memiliki cara pandang mereka masing-masing.

Nell juga salah, karena sifat sombongnya. Sedangkan Sang Vokalis juga salah karena Ia memandang dan menilai Nell telah merebut posisinya.



Sudah lah, jangan membahas siapa yang salah. Takkan ada habisnya. Lagipula pendapat setiap orang berbeda-beda.

Aku hanya penulis cerita kehidupan mereka dan kalian pembaca ceritaku.



Okay, Kembali ke ceritanya--





Di sisi lain, Rion sampai sekarang masih melamun. Sibuk dengan fikirannya sendiri.

Entah apa...? Entah mengapa...?



Namun perlahan ia mulai sedikit mengenal tentang Nell lewat lantunan nyanyiannya. Ia masih ingat ekspresi itu... Keindahan yang hanya dapat dilihat ketika Nell menyanyi.

Ia masih ingat akan dentuman musik dan keindahan suara itu.

Namun derasnya hujan kala itu menggugahnya dari lamunan. Ia tiba-tiba ingat akan sesuatu…



“Hujan?”



“Ah, gue bener-bener keterlaluan!” Rion segera menuju area parkir dan mengambil motor merahnya. Ia segera menemui seseorang yang sedari tadi telah menunggunya.



Seseorang tersebut terlihat basah kuyup dan tengah meneduh di salah satu bangunan kosong di dekat sekolah.



“Sorry lama!” cetus Rion penuh penyesalan setelah menemui Rama yang telah lama menunggu Rion sedari tadi. Ia nampak berantakkan, basah kuyup sembari memeluk tubuhnya sendiri.



“Ngg… Ngga’papa…! “ ujar Rama berat dan terlihat menggigil kedinginan



Rion yang saat itu belum terlalu basah segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya di tubuh Rama. Namun Rama malah melepasnya, “Ngga’ usah, lo aja yang make’! Gu… Gue ngga’ papa kok!”



“Ngga’papa gimana? Elo udah pucet banget dan menggigil git!” Rion kembali mengenakan jaket tersebut pada tubuh Rama dan memeluk Rama dari belakang



Seketika itu lah entah mengapa jantung Rama berdegup kencang. Ia merasa nyaman, Ia merasa lebih hangat, namun Ia tak tahu harus berbuat apa. Sebagian hatinya ingin menolak, ingin melepas pelukan itu. Namun Ia merasa nyaman dan Ia tahu bahwa pelukan itu takkan didapatnya setiap waktu.

Ia menikmati tiap detik-demi-detik selama Rama memeluknya. Sedangkan Rama pun mempererat pelukannya saat hujan semakin deras dan angin semakin kencang.



Di sisi lain, Rama merasa hal ini salah. Entah mengapa saat Rion memeluknya, perasaan aneh itu menyelinap. Menggugahnya dari tidur lamanya selama ini.

Menggugahnya dari perasaan sahabat yang telah lama Ia tanam pada diri Rion.



“Kita neduh dulu aja ya! Kalo’ udah mendingan baru pulang.” ujar Rion memecah keheningan. Rama hanya mengangguk sembari menikmati detik-demi-detik pelukan itu.

Rama juga mencium aroma tubuh Rion yang begitu melenakan. Ia terlanjur nyaman dalam dekapan itu, Ia merasa aman dalam dekapan itu. Namun debar jantungnya semakin menjadi.



“Tuhan, perasaan apa ini?

Apakah ini masih perasaan terhadap sahabat?” tanya Rama dalam hati



•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦





Di sisi lain, Nell sudah sampai di rumah dan tengah membuka akun facebook nya lewat laptop pribadinya sembari mengenakan selimut tebal.

Ia melihat foto-foto beberapa orang-orang yang baru dikenalnya lewat facebook.



“Badannya bagus-bagus, cakep pula! Kriteria gue banget!” gumam Nell



Ia terus menjelajahi tiap-tiap dunia maya tersebut. Namun selalu saja, setiap Ia mencoba mencari sosok lelaki lain, namun debar perasaan itu hanya untuk Rion. Ia hanya sekedar kagum pada orang-orang yang masuk dalam kriterianya. Namun debar itu hanya Ia rasakan saat bertemu dengan Rion.

Saat memandangi Rion dari jauh, saat melihat senyuman di wajah Rion yang jarang sekali Ia temukan karena Rion tipikal cowok cuek dan pendiam.

Saat Rion bermain basket, saat Rion membentaknya karena kesal dengan sikap Nell yang keterlaluan, saat Rion tertawa ketika melihat Nell dihukum karena mengerjai guru yang tengah mengajar kala itu.



Kenangan-kenangan itu menyeruak dalam kepalanya.



“Aduh!” Nell segera masuk ke dalam toilet saat perutnya tiba-tiba terasa sakit



“Ini pasti gara-gara kemaren makan maicih nih!” gumamnya





Namun di sisi lain Hanif tengah menuju kamar Nell. Seperti biasa, tugasnya mengantar Nell kemana saja, menjaga Nell, sekaligus memantau apakah dia masih tetap di rumah atau tidak.



“Nell?” serunya. Namun tak ada jawaban.



“Nell?” seru Hanif sembari mendongak ke dalam.



Hanif melangkah masuk, “Kemana nih anak?” gumamnya sembari mengedarkan pandangannya ke area kamar yang begitu luas tersebut. “Kalo’ dia sampe’ cabut, gue bakal dimarahin Pak Fabian nih! Haduh!

Bisa-bisa dipecat! Padahal gue butuh duit buat biaya kuliah gue. Arrrgghhh! Nih anak kemana sih? !” gumamnya frustasi



Ia melangkah ke arah ranjang. “Tuh kan, kebiasaan kalo’ make’ apa-apa gitu ditinggal gitu aja ngga’ diberesin! Dasar tuh anak, bandel banget!” gumam Hanif , lalu berniat mematikan laptop tersebut.



Namun saat hendak mematikan, Ia terkejut melihat foto-foto beberapa lelaki di laptop milik Nell. Ada yang dengan keadaan shirtless dan hanya mengenakan celana dalam, ada juga yang dalam keadaan telanjang.

Hanif begitu terkejut melihat foto-foto tersebut. Dan bertepatan dengan itu Nell baru saja keluar dari toilet. Tak lama kemudian pandangan mereka bertemu saat Hanif menyadari bahwa Nell tengah berdiri di depan toilet. Hening, tak ada yang mengatakan apapun terutama Nell yang saat itu begitu gugup. Fikirannya tak karuan. Sedangkan Hanif memandang Nell penuh tanda tanya, banyak hal yang ingin Ia tanyakan namun pastinya takkan berani Ia tanyakan. Ia hanya menatap Nell tanpa dapat berkata apa-apa.



“Sial! Bego’nya, gue belum ngechek toilet! Keburu ngechek laptop!” umpat Hanif kesal dalam hati



Nell menatap Hanif tak percaya. Matanya berkaca-kaca.

Berbagai kemungkinan terburuk melintas, membentuk kepenatan luar biasa dalam fikirannya.



Bagaimana kalau Ia mengadukan pada Papa?

Bagaimana kalau Ia menjauhiku dan jijik padaku?

Bagaimana kalau sikapnya berubah setelah Ia mengetahui siapa aku sebenarnya?



Hanya kata “bagaimana” yang terus berputar-putar dalam benaknya.



Nell menundukkan kepalanya. Tak berani menatap Hanif.

Tak terasa tangisnya pecah. Ia takut… Ia benar-benar takut… Terutama takut apabila Hanif mengadukannya pada Papa nya. Karena selama ini setiap kenakalan Nell pasti diadukan oleh Hanif. Itu lah salah satu tugas Hanif. Mengawasi Nell, sehingga Pak Fabian tak perlu capek bolak-balik antar kota atau negara hanya untuk mengetahui kondisi Nell. Dan Ia bisa fokus dengan bisnisnya.



Kembali pada situasi kala itu,



Di sisi lain Hanif tak kuasa melihat Nell menangis. Ia mendekatinya.

Ia memeluk Nell, namun Nell menepisnya dengan kasar, “Lancang!” hardiknya menggelegar



“Puas?

Sekarang gue tinggal nunggu Papa dapat kabar ini dari lo dan sisanya gue bakal diusir dari rumah ini karna seorang pengusaha terkenal malu punya anak kayak gue. Yang suka sama….”



“Cukup!” sela Hanif getir. Ia kembali memeluk Nell, berusaha menenangkannya. Sedangkan Nell terisak dalam pelukan Hanif.




•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦




To Be Continued...

0 komentar:

Posting Komentar