By : Kiki Wellian
Fb : Nell Leander Atharein (Add Ya!
)
Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
“The Paper Planes”
Tak perlu kertas kualitas atas
Tak perlu keahlian seniman terkenal
Tak perlu jemari tangan indah
Tuk melipatmu menjadi bentuk
Tuk membuatmu ada
Menjadi sebuah “Pesawat Kertas”
Yang sederhana namun pekat akan makna
Tak perlu perhitungan matang
Tak perlu kecerdasan insinyur
Tak perlu mesin-mesin canggih
Tuk membuatmu mengangkasa
Membumbung tinggi melintasi langit biru
Hanya tinggal melipat dan terus melipat
Melipat dengan segenap harap
Tuk membuatmu menjadi bentuk
Hanya tinggal berlari dan melesatkan
Melesatkanmu dengan penuh kekuatan
Tuk membuatmu tinggi mengangkasa
Layaknya sebuah kehidupan,
Kita takkan pernah tahu
Akan setinggi apa ia mengangkasa
Melintasi langit biru
Kita takkan bisa menduga
Kapan ia akan terjatuh
menghempas tanah gersang
Yang penuh debu memilukan
***
Aku pun melanjutkan ceritaku…
Ketika aku berusia tujuh tahun, akhirnya Mama menikah dengan lelaki pilihannya.
Aku tersentuh melihat kebahagiaan yang terlukis di wajah Mama kala itu. Ia begitu bahagia. Begitu pula aku, karena sebentar lagi aku akan memiliki seorang Ayah baru. Rasa iri itu takkan menyelinap lagi. Rasa sakit itu akan terobati dengan kehadiran Ayah baruku.
Namun kenyataan berkata lain. Dua tahun kemudian Ayahku berubah. Kebahagiaan selama dua tahun yang terlanjur ku rasakan perlahan mulai lenyap.
Ia bukan lagi sosok Ayah yang ku kenal dulu. Yang begitu aku banggakan.
Setelah ia kehilangan pekerjaannya, ia berubah menjadi seseorang yang suka mabuk-mabukan. Bahkan Mama kala itu tak dapat mengubahnya walau Mama sering sekali mengingatkan dan menyadarkan Ayah kala itu. Sempat juga aku pernah mendapati Ayah bersama wanita lain. Namun aku terpaksa merahasiakan hal ini karena tak kuasa untuk mengatakannya pada Mama yang kala itu bekerja kerasa demi menghidupi keluarga kami dan terkadang sakit-sakitan. Disisi lain, aku tak mau keluarga kami hancur lagi.
***
Satu-satunya penghidupan kami kala itu hanya berasal dari Mama. Ia bekerja keras, banting tulang sendirian. Keluarga kami kala itu sangat kekurangan.
Tunggakan uang untuk pembayaran buku-buku pelajaran dan SPP sekolah ku kala itu belum juga dilunasi. Kala itu sekolah masih belum gratis. Masih ada biaya SPP yang harus dibayar setiap bulan dan tiap bulannya akan membengkak apabila tak kunjung dilunasi. Hingga lima bulan aku belum membayar biaya SPP ku.
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut membantu Mama secara diam-diam. Aku menjadi penjual koran, pengamen, dan lain sebagainya. Apapun itu yang penting dapat menghasilkan uang. Sebagian uangnya aku tabung dan sebagiannya lagi aku gunakan untuk membayar tunggakan sekolahku. Cukup lama aku bekerja, hingga suatu hari Mama mengetahuinya dan memarahiku habis-habisan. Kata-kata yang masih terngiang ditelingaku hingga kini, “Mama masih ada. Mama masih bernafas, Nak! Kamu masih tanggungan Mama. Kamu ngga’ usah ikutan kerja nyari uang. Itu tugas Mama! Tugas kamu hanya belajar! Bikin Mama bangga dengan prestasi kamu!
Gara-gara kamu jualan koran, nilai-nilai kamu menurun. Mulai sekarang kamu ngga’ usah bantu Mama. Biar Mama yang ngurus semuanya!”.
Aku hanya dapat menuruti perkataan Mama kala itu, walau sebenarnya pendapatan Mama masih tergolong belum meraih kata cukup untuk kehidupan keluarga kami. Namun yang dapat ku petik, yang aku sadari dan yang aku pelajari dari sosok Mama ialah kesabarannya, perjuangannya, semangatnya yang tak pernah berkurang kala itu. Ia wanita pertama dan terakhir dalam hidupku yang begitu hebat. Begitu aku banggakan. Begitu aku sayangi dengan sepenuh hati.
Walau aku nyaris tak percaya, namun berkat kerja keras Mamaku seorang diri, ia dapat membiayai kebutuhan makan kami setiap hari. Ia juga dapat menyekolahkanku hingga lulus SD hingga kini, aku telah menginjak bangku SMP.
***
Aku tumbuh menjadi sosok lelaki remaja yang tangguh, mandiri dan terbiasa hidup menderita dan serba kekurangan. Orang yang begitu berharaga yang ku miliki saat itu hanyalah Mamaku dan sahabatku, Rion.
Ya… Katakan aku durhaka, terserah katakan apapun tentangku. Memang aku tak menganggap Ayahku. Aku begitu membencinya. Setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan dan jadi pengangguran tak berguna di rumah. Tak jarang aku melihatnya bersama wanita lain saat Mama tidak ada di rumah karena harus bekerja dari pagi hingga malam. Aku hanya dapat terdiam, meringkuk di bawah pintu kamarku kala itu. Aku terbiasa mengenal kasih sayang darinya berupa tamparan, pukulan, atau apapun itu. Namun setiap ia membentak apalagi memukul Mama, aku tak terima. Aku takkan membiarkannya menyentuh Mamaku sedikitpun. Hal itu lebih menyakitkan daripada menyandang lebam di sekujur tubuhku. “Lebih baik kau memarahiku, memukulku, bahkan membunuhku sekalipun. Asalkan jangan Mama! Jangan kau sentuh Mamaku! Aku takkan membiarkannya.” hardikku kalap kala itu, yang selalu ku ucapkan kala ia berani memarahi apalagi memukul Mamaku.
Saat aku menginjak kelas tiga SMP, aku mengenal tetangga baruku. Ia seorang lelaki yang sudah ku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Melalui dirinya aku dapat mengenal kasih sayang sosok seorang Ayah, melaluinya pula aku dapat merasakan perlindungan dari sosok seorang Ayah. Ia berusia dua tahun diatasku. Namanya Ito.
Kami berdua begitu dekat kala itu, hingga karena adanya dirinya aku sempat melupakan sahabatku, Rion.
Ia seorang anak semata wayang dari keluarga terpandang. Ia memiliki segalanya yang tak pernah ku miliki. Ia dilimpahi banyak fasilitas oleh orangtuanya. Namun sejak kecil ia jarang mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Ia sering ditinggal orangtuanya bisnis diluar kota, bahkan diluar negeri. Aku yang kala itu menjadi sahabat sekaligus adiknya selalu diminta untuk menemaninya saat ia kesepian di rumah. Di rumahnya, aku sempat merasakan nikmatnya menjadi orang yang bergelimang harta. Sedikit mengobati segala penderitaan yang ku lalui selama ini. Juga sejenak melenakan…
Di rumahnya ada fasilitas yang begitu lengkap. Kami sering main PS bersama, berenang bersama, menonton dvd film-film terkenal bersama, dsb. Di sana juga terdapat banyak makanan dan minuman lezat. Yang pastinya mahal. yang tak pernah ku makan dan ku minum selama ini.
Semakin lama kami semakin akrab. Hingga suatu hari, seperti biasa ia memintaku menemaninya. Namun ada hal ganjil darinya yang tak ku mengeti kala itu. Setelah sekian lama, baru kali ini ia menggenggam tanganku, memelukku dan mencumbuku penuh nafsu. Aku yang saat itu merasa aneh atas perlakuannya langsung meronta dan memandangnya penuh kebencian. Namun aku kalah kuat, ia berhasil menguasai keadaan. Ia berhasil menguasai tubuhku. Ia berhasil merasakan setiap pori tubuhku. Akhirnya hal yang tak pernah terbayangkan oleh ku itu pun terjadi.
Aku merasa begitu kotor,
Aku merasa begitu hina!
Aku telah diperkosa,
Aku telah digagahi!
Aku bodoh, aku lemah…
Aku beranjak dari ranjangnya dan memutuskan untuk mandi. Berusaha mengusir, berusaha membersihkan noda itu. Namun tak kunjung hilang. Noda yang terlanjur melekat erat dan takkan pernah hilang walau diguyur air berkali-kali.
Aku merintih kesakitan kala itu, sembari membasuh tubuhku dengan air.
Rasa sakit itu masih terasa memilukan hingga kini.
Tak terasa air mataku mengalir. Rasa sakit dihatiku lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang kurasakan atas perbuatan kejinya. Hubungan ini keliru. Hubungan seperti ini kotor. Hubungan seperti ini hina!
Aku merasa lebih rendah dari pelacur murahan, lebih rendah dari binatang.
Aku merasa telah dikhianati…
Perlahan aku keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk putih dipinggangku. Aku sedikit kesusahan saat berjalan kala itu. Ito yang sedang terbaring kemudian bangkit dan mendekat. Ia menatap ku lekat. Ada pendar penyesalan di kedua matanya. Matanya berkaca-kaca kala itu.
“Maafin gue, dek! Gue emang kakak yang ngga’ berguna!
Harusnya gue ngelindungin elo, bukannya malah nyakitin lo. Gue udah dibutakan sama nafsu. Elo pantas benci sama gue. Elo boleh hukum gue!” racaunya penuh penyesalan kala itu. Lalu memelukku erat. Aku terhenyak beberapa saat. Tanpa sadar tangisku pecah. Disisi lain kebencian itu semakin pekat. Namun disisi lain aku tak berdaya. Aku begitu menyayanginya.
“Lupakan!” jeritku kalap penuh kebencian kala itu sembari berjalan tertatih menuju ranjang. Ia sigap menopangku, membantuku berjalan. Aku merasa jijik disentuhnya, ditopangnya, dipeluknya. Namun aku tak kuasa tuk menjauhkannya dari tubuhku.
Aku butuh ditopang!
Sembari berjalan tertatih. Perlahan…
Melawan rasa sakit yang merong-rong hati dan tubuhku.
Saat aku melepas handukku, aku begitu terkejut melihat noda merah di sana. Ito terlihat begitu cemas dan penuh penyesalan. Ia berniat menelfon dokter namun aku melarangnya. Aku takut orang lain akan mengetahui aib ini seandainya ia memanggil dokter kemari.
“Masih sakit?” tanyanya cemas. Aku hanya mengangguk sembari memeluknya erat.
Aku begitu ketakutan kala itu.
“Maafin kakak dek! Maaf…” ujarnya penuh penyesalan. Air matanya pecah kala itu.
“Arrrgghhhh…” rintihku kala itu, merasakan sakit yang kian lama kian bertambah.
Suhu tubuhku juga meninggi kala itu. Ito begitu cemas! Dengan sabar ia merawatku. Ia membersihkan darah-darah yang keluar. Ia mengompresku. Ia membuat dan menyuapiku semangkuk bubur, segelas teh hangat dan memberiku obat pereda rasa nyeri. Ia melakukan apapun semampunya dan tetap setia berada disisiku.
Setelah aku agak baikan, ia menyelimutiku dan menyuruhku istirahat. Aku terbaring tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Hanya selimut ini yang menutupi tubuhku. Begitupun ia…
“Maafin kakak dek…” ujarnya sembari memelukku erat. Ia mengecup keningku. Entah mengapa aku merasa lebih tenang kala itu. Aku pun mulai tertidur dalam pelukannya.
Hingga beberapa jam kemudian aku terbeliak. Terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil namaku. Suara seseorang yang tak asing bagiku.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Aku dan Kak Ito terbeliak kala itu. Terdiam mematung saat melihat Ayahku telah berada diambang pintu.
“Ayah cari kemana-mana tapi kamu ngga’ ada. Kata tetangga, seperti biasa kamu main ke rumahnya Ito! Ternyata ini yang kalian lakukan selama ini? !
Ternyata hubungan laknat semacam ini yang kalian jalani dan sembunyikan selama ini? !” amuk Ayah kalap kala itu.
Hatiku berkecamuk! Takut, sakit, perih, kecewa, bergumul menjadi satu kala itu. Menjadi sebuah tikaman yang langsung meluluh lantakkan hati kecilku kala itu. Kak Ito segera menenangkan Ayah dan berusaha menjelaskan, namun ia malah dihajar habis-habisan oleh Ayah. Aku tak kuasa menyaksikan Ito diperlakukan seperti itu. Aku mendekat ke arah mereka dan memisahkan Ayah darinya.
Karena peristiwa itu, antara keluarga kami dan keluarga Kak Ito bertengkar hebat. Saling menghina, mencecar, saling menyalahkan. Namun sementara ini kami tetap memakai jalur musyawarah antar dua keluarga.
“Kalo’ kalian masih memperpanjang masalah ini, kalian yang bakalan malu sendiri!” sergahku kala itu. Kesabaranku habis. Tak kuasa lagi melihat dan mendengar perdebatan mereka. Jenuh karena sebelumnya aku hanya membisu.
“Terutama elo!” aku menatap ayahku penuh kebencian.
“Biar aku aja yang pergi dari sini! Biar kalian semua ngga’ malu.
Coba bayangin kalo’ kalian tetep memperpanjang masalah ini? Yang ada malah kalian sendiri yang bakalan malu. Kalian bakalan terus tinggal di sini. Kalian juga bakalan terus nanggung malu kalo’ terus aja memperpanjang masalah ini. Tapi kalo’ kalian ngga’ memperpanjang masalah ini dan ngebiarin aku ninggalin tempat ini, kalian ngga’ akan malu. Aib itu ngga’ akan pernah muncul ke permukaan. Orang-orang ngga’ akan ada yang tau.” sambungku. Sejak mendengar keputusanku kala itu, perdebatan itu pun berakhir. Setelah mereka semua menimang-nimang, keputusanku memanglah yang terbaik. Walau sebenarnya Mama dan Kak Ito kala itu menjadi dua orang yang sangat menentang keputusanku kala itu. Yang lainnya menatapku penuh kemenangan. Menganggapku penjahat, menganggapku lelaki murahan, yang pantas mendapatkan semua itu. Padahal aku lah yang dijahati, aku lah yang digagahi, aku lah orang tak bersalah yang harus mendapatkan hukuman dan cacian yang tak pernah pantas ku dapatkan.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ayahku mengusirku dari rumah, sedangkan Mama masih saja tak rela saat aku meninggalkannya. Tangisnya pecah, ia merintih tak berdaya kala itu. Aku pun tak kuasa meninggalkan Mama sendirian bersama lelaki seperti Ayahku.
Sedangkan Kak Ito, orangtuanya tak mengusirnya. Dengar-dengar, orangtuanya menyuruhnya pindah sekolah di Bandung. Ia tinggal sendirian di apartment.
Hingga kini orangtuanya menganggap aku sebagai penyebab aib itu dan pembawa pengaruh buruk bagi putra semata wayangnya. Padahal sebenarnya putra mereka sendiri lah yang telah dikuasai oleh belenggu nafsu sesaat dan karena dia, masa depanku hancur. Hidupku berantakkan. Dan kini aku harus meninggalkan Mamaku. Orang yang begitu berharga bagiku.
Aku tak tahu harus tinggal dimana. Saat itu hanya Rion yang ku miliki. Hingga akhirnya semalam ia menyuruhku datang ke warnet milik kakanya.
Tak tahu sekuat apa nanti aku akan dapat menjalani kehidupan ku yang semakin sulit. Namun yang ku tahu pasti, dengan adanya Rion aku dapat lebih tegar dalam menjalani hidup. Aku merasa aman bersamanya. Dalam dinding kokoh yang dibentuknya. Dalam hangat perhatian yang disuguhkannya.
***
Aku mengakhiri ceritaku. Tak terasa air mata yang sejak tadi ku bendung lagi-lagi pecah.
“Elo tenang aja! Sekarang ada gue yang bakalan selalu ada buat lo.” gumamnya. Matanya berkaca-kaca.
***
To Be Continued...
Fb : Nell Leander Atharein (Add Ya!
)Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
“The Paper Planes”
Tak perlu kertas kualitas atas
Tak perlu keahlian seniman terkenal
Tak perlu jemari tangan indah
Tuk melipatmu menjadi bentuk
Tuk membuatmu ada
Menjadi sebuah “Pesawat Kertas”
Yang sederhana namun pekat akan makna
Tak perlu perhitungan matang
Tak perlu kecerdasan insinyur
Tak perlu mesin-mesin canggih
Tuk membuatmu mengangkasa
Membumbung tinggi melintasi langit biru
Hanya tinggal melipat dan terus melipat
Melipat dengan segenap harap
Tuk membuatmu menjadi bentuk
Hanya tinggal berlari dan melesatkan
Melesatkanmu dengan penuh kekuatan
Tuk membuatmu tinggi mengangkasa
Layaknya sebuah kehidupan,
Kita takkan pernah tahu
Akan setinggi apa ia mengangkasa
Melintasi langit biru
Kita takkan bisa menduga
Kapan ia akan terjatuh
menghempas tanah gersang
Yang penuh debu memilukan
***
Aku pun melanjutkan ceritaku…
Ketika aku berusia tujuh tahun, akhirnya Mama menikah dengan lelaki pilihannya.
Aku tersentuh melihat kebahagiaan yang terlukis di wajah Mama kala itu. Ia begitu bahagia. Begitu pula aku, karena sebentar lagi aku akan memiliki seorang Ayah baru. Rasa iri itu takkan menyelinap lagi. Rasa sakit itu akan terobati dengan kehadiran Ayah baruku.
Namun kenyataan berkata lain. Dua tahun kemudian Ayahku berubah. Kebahagiaan selama dua tahun yang terlanjur ku rasakan perlahan mulai lenyap.
Ia bukan lagi sosok Ayah yang ku kenal dulu. Yang begitu aku banggakan.
Setelah ia kehilangan pekerjaannya, ia berubah menjadi seseorang yang suka mabuk-mabukan. Bahkan Mama kala itu tak dapat mengubahnya walau Mama sering sekali mengingatkan dan menyadarkan Ayah kala itu. Sempat juga aku pernah mendapati Ayah bersama wanita lain. Namun aku terpaksa merahasiakan hal ini karena tak kuasa untuk mengatakannya pada Mama yang kala itu bekerja kerasa demi menghidupi keluarga kami dan terkadang sakit-sakitan. Disisi lain, aku tak mau keluarga kami hancur lagi.
***
Satu-satunya penghidupan kami kala itu hanya berasal dari Mama. Ia bekerja keras, banting tulang sendirian. Keluarga kami kala itu sangat kekurangan.
Tunggakan uang untuk pembayaran buku-buku pelajaran dan SPP sekolah ku kala itu belum juga dilunasi. Kala itu sekolah masih belum gratis. Masih ada biaya SPP yang harus dibayar setiap bulan dan tiap bulannya akan membengkak apabila tak kunjung dilunasi. Hingga lima bulan aku belum membayar biaya SPP ku.
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut membantu Mama secara diam-diam. Aku menjadi penjual koran, pengamen, dan lain sebagainya. Apapun itu yang penting dapat menghasilkan uang. Sebagian uangnya aku tabung dan sebagiannya lagi aku gunakan untuk membayar tunggakan sekolahku. Cukup lama aku bekerja, hingga suatu hari Mama mengetahuinya dan memarahiku habis-habisan. Kata-kata yang masih terngiang ditelingaku hingga kini, “Mama masih ada. Mama masih bernafas, Nak! Kamu masih tanggungan Mama. Kamu ngga’ usah ikutan kerja nyari uang. Itu tugas Mama! Tugas kamu hanya belajar! Bikin Mama bangga dengan prestasi kamu!
Gara-gara kamu jualan koran, nilai-nilai kamu menurun. Mulai sekarang kamu ngga’ usah bantu Mama. Biar Mama yang ngurus semuanya!”.
Aku hanya dapat menuruti perkataan Mama kala itu, walau sebenarnya pendapatan Mama masih tergolong belum meraih kata cukup untuk kehidupan keluarga kami. Namun yang dapat ku petik, yang aku sadari dan yang aku pelajari dari sosok Mama ialah kesabarannya, perjuangannya, semangatnya yang tak pernah berkurang kala itu. Ia wanita pertama dan terakhir dalam hidupku yang begitu hebat. Begitu aku banggakan. Begitu aku sayangi dengan sepenuh hati.
Walau aku nyaris tak percaya, namun berkat kerja keras Mamaku seorang diri, ia dapat membiayai kebutuhan makan kami setiap hari. Ia juga dapat menyekolahkanku hingga lulus SD hingga kini, aku telah menginjak bangku SMP.
***
Aku tumbuh menjadi sosok lelaki remaja yang tangguh, mandiri dan terbiasa hidup menderita dan serba kekurangan. Orang yang begitu berharaga yang ku miliki saat itu hanyalah Mamaku dan sahabatku, Rion.
Ya… Katakan aku durhaka, terserah katakan apapun tentangku. Memang aku tak menganggap Ayahku. Aku begitu membencinya. Setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan dan jadi pengangguran tak berguna di rumah. Tak jarang aku melihatnya bersama wanita lain saat Mama tidak ada di rumah karena harus bekerja dari pagi hingga malam. Aku hanya dapat terdiam, meringkuk di bawah pintu kamarku kala itu. Aku terbiasa mengenal kasih sayang darinya berupa tamparan, pukulan, atau apapun itu. Namun setiap ia membentak apalagi memukul Mama, aku tak terima. Aku takkan membiarkannya menyentuh Mamaku sedikitpun. Hal itu lebih menyakitkan daripada menyandang lebam di sekujur tubuhku. “Lebih baik kau memarahiku, memukulku, bahkan membunuhku sekalipun. Asalkan jangan Mama! Jangan kau sentuh Mamaku! Aku takkan membiarkannya.” hardikku kalap kala itu, yang selalu ku ucapkan kala ia berani memarahi apalagi memukul Mamaku.
Saat aku menginjak kelas tiga SMP, aku mengenal tetangga baruku. Ia seorang lelaki yang sudah ku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Melalui dirinya aku dapat mengenal kasih sayang sosok seorang Ayah, melaluinya pula aku dapat merasakan perlindungan dari sosok seorang Ayah. Ia berusia dua tahun diatasku. Namanya Ito.
Kami berdua begitu dekat kala itu, hingga karena adanya dirinya aku sempat melupakan sahabatku, Rion.
Ia seorang anak semata wayang dari keluarga terpandang. Ia memiliki segalanya yang tak pernah ku miliki. Ia dilimpahi banyak fasilitas oleh orangtuanya. Namun sejak kecil ia jarang mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Ia sering ditinggal orangtuanya bisnis diluar kota, bahkan diluar negeri. Aku yang kala itu menjadi sahabat sekaligus adiknya selalu diminta untuk menemaninya saat ia kesepian di rumah. Di rumahnya, aku sempat merasakan nikmatnya menjadi orang yang bergelimang harta. Sedikit mengobati segala penderitaan yang ku lalui selama ini. Juga sejenak melenakan…
Di rumahnya ada fasilitas yang begitu lengkap. Kami sering main PS bersama, berenang bersama, menonton dvd film-film terkenal bersama, dsb. Di sana juga terdapat banyak makanan dan minuman lezat. Yang pastinya mahal. yang tak pernah ku makan dan ku minum selama ini.
Semakin lama kami semakin akrab. Hingga suatu hari, seperti biasa ia memintaku menemaninya. Namun ada hal ganjil darinya yang tak ku mengeti kala itu. Setelah sekian lama, baru kali ini ia menggenggam tanganku, memelukku dan mencumbuku penuh nafsu. Aku yang saat itu merasa aneh atas perlakuannya langsung meronta dan memandangnya penuh kebencian. Namun aku kalah kuat, ia berhasil menguasai keadaan. Ia berhasil menguasai tubuhku. Ia berhasil merasakan setiap pori tubuhku. Akhirnya hal yang tak pernah terbayangkan oleh ku itu pun terjadi.
Aku merasa begitu kotor,
Aku merasa begitu hina!
Aku telah diperkosa,
Aku telah digagahi!
Aku bodoh, aku lemah…
Aku beranjak dari ranjangnya dan memutuskan untuk mandi. Berusaha mengusir, berusaha membersihkan noda itu. Namun tak kunjung hilang. Noda yang terlanjur melekat erat dan takkan pernah hilang walau diguyur air berkali-kali.
Aku merintih kesakitan kala itu, sembari membasuh tubuhku dengan air.
Rasa sakit itu masih terasa memilukan hingga kini.
Tak terasa air mataku mengalir. Rasa sakit dihatiku lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang kurasakan atas perbuatan kejinya. Hubungan ini keliru. Hubungan seperti ini kotor. Hubungan seperti ini hina!
Aku merasa lebih rendah dari pelacur murahan, lebih rendah dari binatang.
Aku merasa telah dikhianati…
Perlahan aku keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk putih dipinggangku. Aku sedikit kesusahan saat berjalan kala itu. Ito yang sedang terbaring kemudian bangkit dan mendekat. Ia menatap ku lekat. Ada pendar penyesalan di kedua matanya. Matanya berkaca-kaca kala itu.
“Maafin gue, dek! Gue emang kakak yang ngga’ berguna!
Harusnya gue ngelindungin elo, bukannya malah nyakitin lo. Gue udah dibutakan sama nafsu. Elo pantas benci sama gue. Elo boleh hukum gue!” racaunya penuh penyesalan kala itu. Lalu memelukku erat. Aku terhenyak beberapa saat. Tanpa sadar tangisku pecah. Disisi lain kebencian itu semakin pekat. Namun disisi lain aku tak berdaya. Aku begitu menyayanginya.
“Lupakan!” jeritku kalap penuh kebencian kala itu sembari berjalan tertatih menuju ranjang. Ia sigap menopangku, membantuku berjalan. Aku merasa jijik disentuhnya, ditopangnya, dipeluknya. Namun aku tak kuasa tuk menjauhkannya dari tubuhku.
Aku butuh ditopang!
Sembari berjalan tertatih. Perlahan…
Melawan rasa sakit yang merong-rong hati dan tubuhku.
Saat aku melepas handukku, aku begitu terkejut melihat noda merah di sana. Ito terlihat begitu cemas dan penuh penyesalan. Ia berniat menelfon dokter namun aku melarangnya. Aku takut orang lain akan mengetahui aib ini seandainya ia memanggil dokter kemari.
“Masih sakit?” tanyanya cemas. Aku hanya mengangguk sembari memeluknya erat.
Aku begitu ketakutan kala itu.
“Maafin kakak dek! Maaf…” ujarnya penuh penyesalan. Air matanya pecah kala itu.
“Arrrgghhhh…” rintihku kala itu, merasakan sakit yang kian lama kian bertambah.
Suhu tubuhku juga meninggi kala itu. Ito begitu cemas! Dengan sabar ia merawatku. Ia membersihkan darah-darah yang keluar. Ia mengompresku. Ia membuat dan menyuapiku semangkuk bubur, segelas teh hangat dan memberiku obat pereda rasa nyeri. Ia melakukan apapun semampunya dan tetap setia berada disisiku.
Setelah aku agak baikan, ia menyelimutiku dan menyuruhku istirahat. Aku terbaring tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Hanya selimut ini yang menutupi tubuhku. Begitupun ia…
“Maafin kakak dek…” ujarnya sembari memelukku erat. Ia mengecup keningku. Entah mengapa aku merasa lebih tenang kala itu. Aku pun mulai tertidur dalam pelukannya.
Hingga beberapa jam kemudian aku terbeliak. Terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil namaku. Suara seseorang yang tak asing bagiku.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Aku dan Kak Ito terbeliak kala itu. Terdiam mematung saat melihat Ayahku telah berada diambang pintu.
“Ayah cari kemana-mana tapi kamu ngga’ ada. Kata tetangga, seperti biasa kamu main ke rumahnya Ito! Ternyata ini yang kalian lakukan selama ini? !
Ternyata hubungan laknat semacam ini yang kalian jalani dan sembunyikan selama ini? !” amuk Ayah kalap kala itu.
Hatiku berkecamuk! Takut, sakit, perih, kecewa, bergumul menjadi satu kala itu. Menjadi sebuah tikaman yang langsung meluluh lantakkan hati kecilku kala itu. Kak Ito segera menenangkan Ayah dan berusaha menjelaskan, namun ia malah dihajar habis-habisan oleh Ayah. Aku tak kuasa menyaksikan Ito diperlakukan seperti itu. Aku mendekat ke arah mereka dan memisahkan Ayah darinya.
Karena peristiwa itu, antara keluarga kami dan keluarga Kak Ito bertengkar hebat. Saling menghina, mencecar, saling menyalahkan. Namun sementara ini kami tetap memakai jalur musyawarah antar dua keluarga.
“Kalo’ kalian masih memperpanjang masalah ini, kalian yang bakalan malu sendiri!” sergahku kala itu. Kesabaranku habis. Tak kuasa lagi melihat dan mendengar perdebatan mereka. Jenuh karena sebelumnya aku hanya membisu.
“Terutama elo!” aku menatap ayahku penuh kebencian.
“Biar aku aja yang pergi dari sini! Biar kalian semua ngga’ malu.
Coba bayangin kalo’ kalian tetep memperpanjang masalah ini? Yang ada malah kalian sendiri yang bakalan malu. Kalian bakalan terus tinggal di sini. Kalian juga bakalan terus nanggung malu kalo’ terus aja memperpanjang masalah ini. Tapi kalo’ kalian ngga’ memperpanjang masalah ini dan ngebiarin aku ninggalin tempat ini, kalian ngga’ akan malu. Aib itu ngga’ akan pernah muncul ke permukaan. Orang-orang ngga’ akan ada yang tau.” sambungku. Sejak mendengar keputusanku kala itu, perdebatan itu pun berakhir. Setelah mereka semua menimang-nimang, keputusanku memanglah yang terbaik. Walau sebenarnya Mama dan Kak Ito kala itu menjadi dua orang yang sangat menentang keputusanku kala itu. Yang lainnya menatapku penuh kemenangan. Menganggapku penjahat, menganggapku lelaki murahan, yang pantas mendapatkan semua itu. Padahal aku lah yang dijahati, aku lah yang digagahi, aku lah orang tak bersalah yang harus mendapatkan hukuman dan cacian yang tak pernah pantas ku dapatkan.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ayahku mengusirku dari rumah, sedangkan Mama masih saja tak rela saat aku meninggalkannya. Tangisnya pecah, ia merintih tak berdaya kala itu. Aku pun tak kuasa meninggalkan Mama sendirian bersama lelaki seperti Ayahku.
Sedangkan Kak Ito, orangtuanya tak mengusirnya. Dengar-dengar, orangtuanya menyuruhnya pindah sekolah di Bandung. Ia tinggal sendirian di apartment.
Hingga kini orangtuanya menganggap aku sebagai penyebab aib itu dan pembawa pengaruh buruk bagi putra semata wayangnya. Padahal sebenarnya putra mereka sendiri lah yang telah dikuasai oleh belenggu nafsu sesaat dan karena dia, masa depanku hancur. Hidupku berantakkan. Dan kini aku harus meninggalkan Mamaku. Orang yang begitu berharga bagiku.
Aku tak tahu harus tinggal dimana. Saat itu hanya Rion yang ku miliki. Hingga akhirnya semalam ia menyuruhku datang ke warnet milik kakanya.
Tak tahu sekuat apa nanti aku akan dapat menjalani kehidupan ku yang semakin sulit. Namun yang ku tahu pasti, dengan adanya Rion aku dapat lebih tegar dalam menjalani hidup. Aku merasa aman bersamanya. Dalam dinding kokoh yang dibentuknya. Dalam hangat perhatian yang disuguhkannya.
***
Aku mengakhiri ceritaku. Tak terasa air mata yang sejak tadi ku bendung lagi-lagi pecah.
“Elo tenang aja! Sekarang ada gue yang bakalan selalu ada buat lo.” gumamnya. Matanya berkaca-kaca.
***
To Be Continued...



0 komentar:
Posting Komentar