Pages

Perfect World Online Pointer

“The Paper Planes” * (Sheet 3)

--.DelvetiaN.--


By : Kiki Wellian



Fb : Nell Leander Atharein (Add Ya! :D )



Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com









“The Paper Planes”









Tak perlu kertas kualitas atas

Tak perlu keahlian seniman terkenal

Tak perlu jemari tangan indah

Tuk melipatmu menjadi bentuk

Tuk membuatmu ada

Menjadi sebuah “Pesawat Kertas”

Yang sederhana namun pekat akan makna



Tak perlu perhitungan matang

Tak perlu kecerdasan insinyur

Tak perlu mesin-mesin canggih

Tuk membuatmu mengangkasa

Membumbung tinggi melintasi langit biru



Hanya tinggal melipat dan terus melipat

Melipat dengan segenap harap

Tuk membuatmu menjadi bentuk



Hanya tinggal berlari dan melesatkan

Melesatkanmu dengan penuh kekuatan

Tuk membuatmu tinggi mengangkasa



Layaknya sebuah kehidupan,

Kita takkan pernah tahu

Akan setinggi apa ia mengangkasa

Melintasi langit biru

Kita takkan bisa menduga

Kapan ia akan terjatuh

menghempas tanah gersang

Yang penuh debu memilukan



***


Aku mengakhiri ceritaku. Tak terasa air mata yang sejak tadi ku bendung lagi-lagi pecah.

“Elo tenang aja! Sekarang ada gue yang bakalan selalu ada buat lo.” gumamnya. Matanya berkaca-kaca. Sejak saat itu aku tinggal di warnet bersama Rion. Warnet tersebut berupa sebuah ruko yang cukup besar. Dibagian bawah sebagai warnet, sedangkan dibagian atas sebagai kamar untuk tidur. Terdapat juga sebuah dapur dan kamar mandi.
Hingga beberapa bulan lamanya aku tinggal bersama Rion. Kakaknya memberiku pekerjaan agar aku dapat membiayai kebutuhanku dan tetap bisa melanjutkan sekolahku yang sempat tertunda. Setiap setelah pulang sekolah hingga malam hari, aku menjadi seorang waiter di café miliknya. Selain usaha warnet ini, Kakaknya memiliki usaha sebuah café.

Café tersebut berada di tempat yang strategis dengan suasana dan desain interior yang begitu cozy. Aku tak terlalu paham dengan desain interior, namun menurutku desain Café tersebut bertema kan seperti rumah-rumah yang interiornya serba kayu seperti pada jaman-jaman Inggris tempo dulu.
Dindingnya tetap dari campuran semen dan bata, hanya saja bagian luarnya dilapisi dengan kayu-kayu cokelat yang tertata rapi dan terlihat mengkilat. Sehingga kesan yang kita dapat, rumah tersebut seperti terbuat dari kayu. Di setiap dinding di hiasi dengan lukisan-lukisan yang memukau mata. Namun dibagian depan hampir tidak memiliki dinding. Seperti café-café biasanya, bagian depannya terdiri dari kaca-kaca bening, lebar dan begitu tinggi sehingga orang-orang di luar yang lewat dapat melihat area dalam café tersebut.
Lantainya pun juga dilapisi dengan kayu, seperti di film-film yang pernah ku tonton. Meja-meja, kursi-kursi, semua perabotan serba kayu.

Di bagian langit-langit dihiasi dengan tanaman anggur yang merambat sempurna dan ditata sedemikian rupa memenuhi seluruh atap dengan dibantu oleh kerangka dari kayu. Sedangkan untuk lampu, seluruh lampunya menurutku seperti lampu-lampu Belanda di jaman klasik yang dibuat menempel permanen di dinding. Ada juga yang berbentuk seperti tiang, layaknya lampu taman di jaman-jaman belanda, namun menurutku ini versi mini nya atau semacam desain saja, karena tak setinggi lampu taman yang sebenarnya.
Saat malam hari, di setiap meja dihiasi dengan lilin-lilin cantik beserta tempat lilin klasik.

Cukup itu saja yang dapat ku jelaskan. Aku tak terlalu paham dengan desain interior atau apa lah itu.


Awal aku bekerja di sini, aku benar-benar frustasi. Aku harus menghafalkan ratusan tipe dan rasa roti, kue, juga puluhan minuman dalam 7 hari. Yang benar saja!
Aku juga harus belajar mengoperasikan mesin pembuat kopi, latte, alat untuk foam fresh milk dan masih banyak lagi hanya untuk membuat Hot Cappucino, latte, C. Macchiato, dan kawan-kawannya yang lain. Aku selalu saja gagal membuatnya pada tahap foaming fresh milk. Entah untuk apa? Namun yang cukup ku tangkap, foaming fresh milk bertujuan untuk membuat susu tersebut lebih creamy, padat dan berbusa. Sehingga ketika akan menuangkan susu tersebut ke dalam cangkir yang berisi kopi, susu tersebut akan memberikan peranan tersendiri dalam membentuk suatu image pada latte tersebut, atau yang biasa disebut dengan “Latte Art”. Seperti yang ada di berbagai media, latte biasanya dihiasi dengan latte art berbentuk love, bunga, teddy bear, dll. Namun menurutku foaming fresh milk tak hanya sebagai desain, namun juga menambah rasa juga tekstur. Tapi entahlah… Aku hanya karyawan baru di sini, aku belum tahu banyak tentang kopi, aku belum bisa foaming fresh milk dan parahnya lagi aku tak suka kopi. Tapi anehnya aku bekerja di sini dan mau tak mau aku harus belajar juga untuk menjadi seorang Barista. Benar-benar gila! Menyukai kopi saja aku belum bisa, bagaimana bisa jadi Barista?
Masalahnya yang ada difikiranku begitu simple. Hanyalah kerja-kerja saja dan uangnya untuk kebutuhanku dan biaya sekolah. Itu saja!


Hingga suatu hari,

“Jangankan bikin latte art yang bagus, foaming fresh milk aja gue belum bisa!
Selalu aja gagal. Entah keenceran, entah berbuih terlalu besar. Kadang juga terlalu creamy dan akhirnya susu yang creamy dan berbusa ngendap di bawah gelas takar dan susu yang encer ada di atas permukaan. Akhirnya pas dituang ke dalam mug, hasilnya malah kayak kopi susu yang ada di warkop pinggir jalan. Ngga’ combine sama kopinya dan ngga’ bisa dibikin latte art. Ah! Setres gue!” keluhku frustasi pada suatu sore. Sedangkan Rion hanya terbahak.

“Udah 13 kali lo gagal. Lama-lama bangkrut nih café kalo’ lo gagal mulu dan buang-buang bahan aja dari tadi.
Ya udah, sini! Gue ajarin sekali lagi.” timpal Rion mulai menyerah

“Udah lah! Gue emang ngga’ bakat jadi Barista, Coffe Maker atau apapun itu. Kenapa sih harus pake’ mesin aneh kayak gitu? Bikin kopi aja ribet amat.
Kenapa juga susunya harus difoam segala? Kenapa ngga’ manual aja kayak di warkop itu tuh. Susunya langsung dicampurin gitu aja! Beres dah!
Toh rasanya juga ngga’ jauh beda. Cuman beda di tekstur aja menurut gue.” sambung ku. Namun Ia malah mencubit pipiku.

Aku mengerutkan kening, lalu dengan kesal mengoleskan bubuk kopi yang cukup banyak di pipi kirinya.
“Sialan! Berani lo sama gue!” seru nya sembari tersenyum licik. Ia tak mau kalah, seperti biasa Ia membalasku dengan mengelitik kedua pinggangku. Hal yang sejak dari dulu selalu menjadi kelemahanku, dan hanya dia lah yang tahu.

“Ampun-ampun!” rengekku sembari menahan sakitnya perutku karena terlalu banyak tertawa.

“Enak aja! Makanya lo jangan macem-macem sama gue!” balasnya. Ia malah memperkuat kelitikannya. Sontak aku tertawa semakin kencang dan menggeliat kegelian di atas lantai.

“Mas!”

“Mas!”

“Eh, iya! Maaf Bu!” Rion segera bangkit dari lantai dan menuju mesin cash register.

“Akur amat! Ade nya Mas?” celetuk Customer tersebut

“Eh, Bukan! Hmmm… Temen kerja Bu! Sekaligus temen sekolah juga. Sekali lagi maaf ya Bu!” jawab Rion kikuk

“Iya, ngga’papa kok!” timpal Customer tersebut sembari tersenyum manis

“Ada tambahan lain Ibu?” tanya Rion, mulai fokus pada pekerjaan.

“Sudah, ini aja!”

“Saya posting dulu ya pesanannya!
Hot Cappucino nya dua, Tiramisu Latte nya satu, Croissant cheese nya satu, White Choco Almond nya satu, sama Smoked Beef Sandwich nya dua ya!
Totalnya Rp. 116.000,00.” kata Rion, menyebutkan pesanan satu per satu sembari menekan-nekan tombol mesin cash register. Ibu itu pun langsung mengeluarkan debit card. Rion segera menggesek card tersebut dan meminta Ibu itu memasukkan no. pin.
Tak lama kemudian bill paper keluar dari mesin tersebut, Rion mempostingnya pada cash register dan bill paper juga keluar dari mesin itu.

“Terimakasih! Silahkan datang kembali!” seru Rion ramah.

Aku pun segera menghampirinya, “Ajarin gue juga dong! Kayaknya enak juga tuh jadi Kasir. Keren!”

“Keren-keren… Kepala lo peyang?
Mesin cash register nya ada finger print nya. Elo kan karyawan baru, jadi belum didaftarin.”

“Ribet amat!” desahku.

“Ya emang gitu, biar safety. Lagipula lo kan belum ahli, belum pernah diajarin pula. Kalo’ ntar banyak void kan berabe juga!” ejeknya sok ketus

“Void apaan?” tanyaku polos. Ia hanya menghela nafas.

“Hadeh! Void tuh yang jualan ketoprak di deket rumah kita tuh!”

“Hah? Itu mah Bang So’id. Seriusan kek! Ditanyain baik-baik juga!” omelku. Ia hanya terbahak. Lagi-lagi seperti ini. Selalu saja kalau giliran kami berdua bekerja di café ini pada shift yang sama, pasti lebih sering bercandanya dari pada profesional kerja.


***



-Author P.O.V-

Disisi lain,

Di sebuh rumah yang begitu mewah dan berdiri megah, dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap dan segala kemewahan yang melenakan.

•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦


Tok! Tok! Tok!

“Den, bangun…!”

“Deeen... !”

“Ehmmmp... !” lenguh seseorang di dalam kamar tersebut, lalu menutupi kepalanya dengan bantal.

“Maaf Den, tapi Aden mesti cepet siap-siap trus berangkat sekolah!”

“Deen...?”

“Berisik! Pergiiii...!” hardik seseorang di dalam kamar itu. Pembantu itu pun berlalu dengan perasaan cemas. Sesampainya di teras, wanita setengah baya tersebut segera menemui seorang lelaki berumur 20 tahun’an yang tengah sibuk membersihkan mobil.

“Mas!”
“Maaas...!” teriak pembantu setengah baya itu dengan nafas tersengal-sengal dan terlihat begitu letih.

“Iya, ada apa Bu?” sahut seorang sopir yang sedang membersihkan kaca mobil, lalu menghampirinya.

“Maaf kalo’ Ibu minta tolong lagi. Tapi kayak biasanya, susah sekali ngebangunin...”.

“Ngga’papa Bu!” potong sopir tersebut ramah.

“Makasih banyak, Mas!” ujar pembantu itu, lalu mereka berdua segera memasuki rumah.

“Sini Bu, naik lift aja biar cepet nyampe!” ajak si sopir

“Aduh, Ibu takut kalo’ naik lift. Naik tangga aja Mas!”

“Ya udah kalo’ gitu!”

“Maaf ngerepotin, Mas!”

“Ngga’papa, Bu!” sahut si sopir, lalu dengan sabar mulai menaiki tangga bersama pembantu setengah baya tersebut hingga sampai di lantai dua

“Ehmmm…!” lenguh Bu Rahmi sembari mengusap peluhnya

“Bu, biar saya aja! Ibu ngga’ usah ikut, Ibu istirahat aja!”

“Ta... Tapi Mas, ini tugas saya.”

“Ngga’papa, Bu! Mulai sekarang yang ngebangunin dia biar saya aja! Dia baru mau bangun kalo’ saya yang ngebangunin. Bu Rahmi ke dapur aja ngelanjutin kerjaan Ibu yang lainnya atau istirahat aja! Ibu udah kecape’an banget.” bujuk si sopir

“Ma... Makasih banyak, Mas!” ujar wanita setengah baya itu. Ia begitu tersentuh dengan kebaikan hati si sopir sekaligus sedikit bernostalgia karena teringat dengan anak laki-lakinya yang telah meninggal dunia. Seandainya anak laki-lakinya masih hidup, mungkin sekarang akan seperti si sopir, karena kebetulan mereka berdua sebaya.

“Sama-sama. Ya udah, Ibu istirahat aja!” timpal si sopir. Wanita setengah baya itu hanya mengangguk, lalu mulai menuruni tangga. Sedangkan si sopir segera menuju lift dan menanti hingga sampai di lantai lima.
Perlahan Ia melangkah melewati koridor di lantai lima. Ia tak lagi gugup seperti hari-hari sebelumnya saat baru pertama kali membangunkan anak majikannya tersebut.

Tok! Tok! Tok!

“Eh, bangun!” serunya sembari mengetuk pintu dengan keras!

“Whoy! Budheg ya?” bentaknya kasar

Hening... Tak ada jawaban.

“Oke, kesabaran gue udah abis. Gue mending dimusuhin sama lo daripada gue sama Bi Rahmi mesti dipecat sama bokap lo cuman gara-gara ngga’ bisa ngebangunin anak manja macem elo!
Asal lo tau aja, tiap pagi Bi Rahmi mesti naik tangga sampe ke sini cuman buat ngebangunin lo. Elo ngga’ kasihan apa?” kata si sopir. Namun seseorang yang berada di dalam kamar tersebut tak menghiraukan perkataan si sopir dan kembali mencoba untuk tidur lagi. Si sopir hanya menghela nafas, lalu mulai mengetuk pintu lagi dengan ketukan yang lebih keras dari sebelumnya.

“Oke, kesabaran gue udah bener-bener abis! Terserah lo mau benci sama gue, yang penting gue sama Bi Rahmi ngga’ dipecat sama Bokap lo seperti pembantu-pembantu yang sebelumnya cuman karna ngga’ bisa ngebangunin elo!” sambung si sopir

“Eh, bangun nggaaaak? ! Bangun whoy!
Elo budheg atau gimana sih?” bentak si sopir sembari menggedor-gedor pintu.

Kini Ia mulai jengah.

“Anjrit!” damprat seseorang yang baru saja membuka pintu kamar. “Elo udah bosen idup ya? Berani banget ngebentak gue! Elo siapa, hah? Inget, lo tuh cuman sopir di rumah ini. Sopir kemaren sore pula!” sambungnya, lalu membuka pintu kamar.

“Bodo amat! Yang penting gue ngga’ dipecat sama Bokap lo! Yang berwenang buat mecat kami semua tuh dia, bukannya anak manja kayak elo yang bisanya cuman ngadu dan ngabisin duit aja!” balas si sopir tak mau kalah. Kali ini intonasinya lebih tinggi dari sebelumnya.

“Cepet mandi!” bentak si sopir sembari menatap tajam anak majikannya itu.

“Siap Bang!” seru lelaki itu, kemudian segera berlalu

“Tumben nih anak nurut? Cepet amat nurut? Biasanya mesti keluarin otot dulu baru nurut.” gumam si sopir heran.

Namun tiba-tiba,

Byuuur!

“Arrggghhhh! Ehmmmmmp... !
Haaah!” lenguh si sopir kelabakan sembari mengusap wajahnya yang basah kuyup.

“Makan tuh! Sebelum lo nyuruh gue mandi, elo mesti mandi duluan!” cetus lelaki tersebut sembari menggenggam gelas kosong yang tadinya berisi air mineral.

Si sopir begitu kesal...
Namun ia mengurungkan niatnya untuk membalas. Ia hanya dapat menerima perlakuan buruk dari anak majikannya itu.

Seperti itulah pemandangan setiap pagi di rumah mewah tersebut…

(Author : Oh iya, lupa cerita. hehehe… Fb ku yang dulu kan nick nya Kiki Wellian sekarang-sekarang ini aku ganti jadi Nell Leander Atharein tuh karna aku ngefans banget sama tokoh baru ini. Jadi, aku ganti nick Fb bukan berarti tokoh baru ini adalah aku secara sifat, gambaran fisik, dls. Bukan begitu!

Nell tetaplah Nell… Aku hanya menciptakan tokoh seperti Nell dan akhirnya mengidolakan tokoh itu, sampe-sampe Fb ku aku ganti nick nya karna saking ngefansnya.
Kalo’ ngga’ dijelasin gini ntar salah paham. Dan ngiranya aku tuh Nell.)


Okay, Back to Story…

-Author P.O.V-

Sebut saja Nell. Itulah nama panggilan lelaki itu. Nell berasal dari bahasa yunani, yang memiliki arti : sinar / bersinar. Memang nama tersebut begitu sesuai untuk lelaki itu. Ia nyaris sempurna, ia memiliki segalanya. Dan ia-lah yang paling bersinar dalam segala hal baik dikalangan seluruh keluarga besarnya, dikalangan sekolah, dikalangan teman-temannya, dsb.
Ia memiliki wajah yang begitu rupawan. Tampan, namun tersimpan keindahan dan kecantikan seorang perempuan dalam tiap ukiran wajahnya yang rupawan. Terdapat kecantikan yang nyata dalam tubuh lelakinya. Ia berambut cokelat pirang lurus. Rambutnya begitu indah dan lembut.
Ia beralis tebal, yang menggantung begitu menawan diatas matanya. Ia juga memiliki bulu mata yang lentik dan mata cokelat yang begitu indah. Tatapan matanya memiliki kekuatan tersendiri. Setiap orang seakan terbius saat menatap keindahan matanya. Hidungnya mencuat indah, melengkapi keindahan parasnya. Bibirnya tipis dan merah menawan, melengkapi kecantikan yang tersimpan dalam paras tampannya.

Alur yang membentuk hidung, bibir dan dagunya demikian rupawan. Lesung dikedua pipinya menambah kesempurnaan parasnya. Selain itu tubuhnya ideal, begitu indah dan seputih susu. Bahkan kulitnya terlalu halus dan lembut untuk seorang laki-laki. Tingginya 170cm. Jemari tangan dan kakinya lentik. Walaupun ia seorang lelaki, namun ia begitu cantik. Ia bukan hanya tampan, ia cantik. Kecantikan perempuan yang berbaur begitu indahnya dengan ketampanan seorang laki-laki.
Selain kesempurnaan fisik, ia juga cerdas. Ia memiliki banyak bakat dalam berbagai hal. Melalui ayahnya pula, ia dilimpahi materi yang lebih dari sekedar kata cukup. Sehingga bakat-bakat yang dimilikinya dapat tersalurkan dengan begitu baik. Banyak orang yang menyayanginya, banyak yang menyanjung dan mengidolakannya, juga banyak yang ingin mendapatkan hatinya. Walaupun tak ada manusia yang sempurna, namun sebagai seorang manusia ia nyaris dapat dikatakan sempurna. Hanya saja ada satu hal yang tak sempurna bahkan begitu buruk dari nya. Yang membuatnya belum dapat dikatakan sempurna. Hanya karena satu hal...

Tak lain dan tak bukan ialah perangainya...

Seandainya saja perangainya seindah fisik yang dimilikinya, secemerlang kecerdasan yang dimilikinya.
Namun kenyataan berkata lain, Nell tetaplah Nell. Takkan dapat memiliki perangai sebaik Rama.

•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦

Setelah beberapa detik tersenyum puas karena telah mengerjai sopirnya, Nell pun segera memasuki kamarnya.

Kamar tersebut begitu mewah, begitu luas. Dengan desain interior yang begitu indah khas eropa dan ukiran-ukiran yang memukau menghiasi dinding-dinding dan segala perabot yang ada di dalamnya. Selain itu, kamar itu juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih nan mewah.
Di dinding-dinding kamar terpajang beberapa poster-poster dan foto-foto Nell.
Nell seorang model terkenal dan telah sering mengikuti pemotretan diberbagai merk majalah fashion terkenal.
Dari sekian banyak kemewahan di kamar itu, yang lebih mengagumkan lagi ialah lantai dan atapnya yang terbuat dari kaca bening, tebal. Dibawah lantai kamar tersebut terdapat kolam ikan yang begitu indah, sehingga ketika kita melangkah seakan kaki kita memasuki air kolam tersebut. Air kolam itu begitu jernih, dihiasi berbagai jenis ikan-ikan hias dan disempurnakan oleh keindahan tanaman dan karang-karang yang menghiasi dasar kolam tersebut.

Dikala malam, Nell selalu merebahkan tubuh letihnya di ranjang, ditemani dengan keindahan nyata di atasnya. Melalui atap kacanya, Ia sembari menikmati indahnya bintang yang berhamburan dan menghiasi langit malam. Atap tersebut terbuat dari kaca bening tebal berbentuk lingkaran atau bola layaknya planetarium. Ketika siang hari, penutup canggih yang terbuat dari besi dan baja yang begitu kuat digunakan untuk menutupi atap kamar dari panasnya terik mentari di siang hari. Namun disisi lain dari keindahan dan kemewahan kamar tersebut kamar itu begitu berantakkan. Komik-komik, majalah-majalah, keping-keping DVD, baju-baju, dsb. berserakan ditiap-tiap sudut kamar.

***

“Jam berapa sekarang?” tanya Nell

“Tau’ ah!” jawab si sopir ketus sembari sibuk dengan bajunya yang basah karena siraman air dari Nell tadi.

“Arrrgghhh!” lenguhnya kesal sembari mencari-cari jam wekernya.

“Sial!” serunya saat menyadari bahwa jam wekernya rusak karena tanpa sadar tadi pagi telah dibantingnya di sudut ruangan saat jam weker tersebut berdering.

“Tenang aja, ntar beli lagi! Orang kaya gitu!” sindir si sopir.

“Diem lo!” amuk Nell

“Ini kan baru jam setengah enam!” serunya kesal setelah mengecek jam di layar ponselnya.
Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan melucuti seluruh pakaiannya, lalu bergegas masuk ke dalam bath tube.

Saat ia mandi, tak lama kemudian terdengar suara telfon berbunyi.

“Ganggu aja! Siapa sih telfon pagi-pagi gini?” serunya kesal sembari meraih telfon dinding yang tengah berdering.

“Halo?”

“Eh, elo ngga’ sekolah? Buruan berangkat!
Sekarang kan hari senin.” kata seseorang diseberang sana

“Sial! Gue lupa kalo’ sekarang hari senin. Gue kira sekarang bukan hari senin jadi masuknya jam tujuh.”

“Parah! Hari aja lupa! Elo telat bangun lagi ya? Elo pasti juga belum nyiapin buku buat pelajaran hari ini kan? Ah! Kebiasaan lo tuh!” omel seseorang diseberang sana

“Diem ngga’! Omongan lo udah kayak Bi Rahmi yang kampungan dan sok ngatur itu!
Kalo’ ntar gue telat lagi, lo mesti temenin gue cabut!”

“Enak aja! Ini udah yang ke berapa kalinya lo ngajakin gue cabut sama anak-anak? Lama-lama gue bisa kena...”

“Pokoknya lo harus nemenin gue cabut kalo’ gue ntar telat! Ajak juga anak-anak kayak biasanya. Oke!” potong Nell

“Ah, tapi Nell...
Iya elo mah enak, kan elo anak dari pemilik sekolah jadi seenaknya aja cabut. Nah gue ama anak-anak gimana?”

tut… tut… tut…

“Oh, shit!” seru Nell kesal, lalu segera mencari-cari telfon tersebut di dalam bath tube nya

“Aduh! Bisa dimarahin Papa nih!” komentarnya saat melihat telfon tersebut basah dan penuh busa. Lalu Nell pun segera melanjutkan mandinya.

Beberapa menit kemudian...

Tok! Tok! Tok!

“Nell, cepetan! Udah hampir jam enam nih!
Elo luluran yah?” teriak si sopir tadi.

“Enak aja! Emang gue cowok apaan pake luluran segala.
Entar... Sabar napa! Yang penting kan gue udah usaha.” omel Nell yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari mengusap-usap rambut basahnya. Lalu Ia pun mengalihkan pandangannya pada si sopir yang tengah berdiri di hadapannya dan hanya mengenakan celana dalam.
Sejenak Nell terdiam. Memandangi tiap lekuk tubuh si sopir itu.
Ia memiliki paras yang rupawan, dengan lekuk wajah yang tegas khas lelaki dewasa. Tubuhnya terlihat begitu menawan dengan otot-otot yang tercetak jelas di tiap-tiap lekukannya. Dadanya yang bidang, perutnya yang atletis dan lengan-lengannya yang menawan melenakan Nell untuk beberapa saat.
Terlihat bulu-bulu ketiak yang menyembul dari kedua sisi lengannya dan menambah keindahan tubuh si sopir tersebut.

Lengkap sudah keindahan fisik si sopir tersebut yang sejenak melenakan dan membuat Nell terbius.

“Ngapain lo ngeliatin gue?” tanya si sopir menyelidik. Namun Nell hanya terdiam.

“Heh?” bentak si sopir.

“Ah! Engga’! Sapa juga yang ngeliatin elo!
Gue cuman… Cuman…”

“Cuman APA?”


***



To Be Continued...

0 komentar:

Posting Komentar