--.DelvetiaN.--
By : Kiki Wellian
Fb : Nell Leander Atharein (Add Ya! )
Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
“The Paper Planes”
Tak perlu kertas kualitas atas
Tak perlu keahlian seniman terkenal
Tak perlu jemari tangan indah
Tuk melipatmu menjadi bentuk
Tuk membuatmu ada
Menjadi sebuah “Pesawat Kertas”
Yang sederhana namun pekat akan makna
Tak perlu perhitungan matang
Tak perlu kecerdasan insinyur
Tak perlu mesin-mesin canggih
Tuk membuatmu mengangkasa
Membumbung tinggi melintasi langit biru
Hanya tinggal melipat dan terus melipat
Melipat dengan segenap harap
Tuk membuatmu menjadi bentuk
Hanya tinggal berlari dan melesatkan
Melesatkanmu dengan penuh kekuatan
Tuk membuatmu tinggi mengangkasa
Layaknya sebuah kehidupan,
Kita takkan pernah tahu
Akan setinggi apa ia mengangkasa
Melintasi langit biru
Kita takkan bisa menduga
Kapan ia akan terjatuh
menghempas tanah gersang
Yang penuh debu memilukan
***
“Ngapain lo ngeliatin gue?” tanya si sopir menyelidik. Namun Nell hanya terdiam.
“Heh?” bentak si sopir.
“Ah! Engga’! Sapa juga yang ngeliatin elo!
Gue cuman… Cuman…”
“Cuman APA?”
“Ehmmm… Cuman ngerasa jijik aja, ngapain sih lo pake’ CD doang gitu? Elo mau nganterin gue ke sekolah pake’ ginian doang, hah?
Lo pikir sekolah gue tuh sekolah anak-anak kayak apa?”
“Ngaco’ lo!
Gue terpaksa kayak gini!
Seragam gue basah kan gara-gara elo!” dampratnya kesal
“Bagus deh! Kalo’ lo ke sekolah gue pake’ gituan aja, bisa berabe!
Cukup gue aja yang nikmatin cuci mata gratisan pagi-pagi kayak gini. Hahaha…
Laen kali waktu dia bangunin gue lagi, gue siram lagi aja ya?
Biar bisa lihat dia shirtless lagi. Hahaha…
Walaupun dia cuman sopir pribadi gue, walaupun standar kriteria cowok
idaman gue tuh levelnya tinggi, tapi lumayan lah Si Hanif buat cuci-cuci
mata gitu. Hahahaha…” gumam Nell dalam hati.
“Kita berangkatnya kalo’ seragam gue udah kering aja!”
“Gue bisa telat bego’! Pokoknya gue ngga’ mau tau, lo mesti anterin gue!
Bodo’ amat lo mau kedinginan pake’ seragam basah!” cetus Nell egois
“Arrrggghh! Males gue lama-lama berurusan sama anak manja kayak lo!
Ya udah, Cepetan... ! Biar cepet kelar dan gue bisa tenang!” maki Hanif
Praak!
“Arrrggghhh! Gara-gara lo nih, i-pod kesayangan gue keinjek!” seru Nell frustasi.
“Salah sendiri naro’ i-pod aja di lantai, padahal ada meja. Makanya
kalo’ abis pake’ barang tuh dirapiin! Elo ngga’ kasihan sama Bi Rahmi
yang selalu ngerapiin kamar lo yang super berantakkan itu?” balas Hanif
yang mulai kesal. Namun Nell hanya merapikan rambutnya dan terlihat tak
mendengarkan Hanif.
“Heran gue… Seumur-umur punya sopir baru kali ini berani sama gue.”
gumam Nell sembari merebahkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya hanya
dibalut handuk sebatas pinggang hingga paha. Sehingga keindahan tubuhnya
terpancar begitu jelas, begitu memikat.
Sejenak Hanif terbius dengan keindahan paras dan tubuh Nell, namun Ia
segera membuang lamunannya. “Pokoknya lo mesti berangkat sekarang juga!
Kalo’ engga’…” seru Hanif, lalu bergegas mengambil seragam sekolah yang
tergantung di dinding.
“Kalo’ engga’ kenapa emang?” tantang Nell.
“Cepet pake’!
Kalo’ engga’, gue sendiri yang bakal make’in ke elo!” bentak Hanif
“Boleh!” timpal Nell
“Eh, ngomong apaan gue barusan? Arrrghhhh!” gumam Nell dalam hati
“Ngomong apa lo barusan?”
“Engga’! Elo salah denger kali’. Maksud gue tuh, iya gue bakal pake’.”
“Oh ya, denger! Walau gue cuman sopir tapi seenggaknya gue ngga’ serendah lo!
Mentang-mentang punya segalanya akhirnya lo jadi orang yang suka
ngerendahin orang lain, sombong, ngga’ tau diri, nge-sok pula! Sayang
banget, cakep-cakep tapi hatinya busuk!”
Nell hanya menatapnya tajam…
“Balik sana! Gue mau pake’ baju.”
“Iye-iye! Sapa juga yang bakalan ngintipin elo! Emang gue cowok apaan. Gue normal kali’! Hiiihh!” balas Hanif tak mau kalah
“Yeeee…! Kalo’ pun gue seandainya aja suka sama cowok juga gue ngga’ bakalan naksir sama cowok begajulan kayak elu!”
“Begajulan? Bahasa apa tuh?”
“Bahasa orang cakep!” timpal Nell kesal
“Emang lu cakep? Sejak kapan?
Emang ada sertifikatnya dari BPOC?”
“Apa tuh BPOC?”
“Badan Pemeriksaan Orang Cakep.”
“Hash! Males ngomong sama orang jayus!”
•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦
Di dalam mobil,
“Gara-gara lo, jam tangan biru gue ketinggalan!
Elo sih, ngajak buru-buru!” omel Nell.
“Emang penting?”
“Banget bego’!” bentak Nell kesal
“Trus?”
“Haassh!” desis Nell kesal sembari merapikan dasinya.
“Kalo’ senin hari biru, selasa hari apa?” tanya Hanif sok peduli
“Putih!” jawab Nell datar
“Emang kayak gitu penting ya? Senin harus pake’ tas, jam tangan, sepatu,
dll. semuanya mesti biru. Terus selasa putih, rabu sama hari lainnya
warna apa lagi?
Kayak di film yang pernah gue tonton aja!
sampe’ seminggu lo kayak gitu? Ngga’ penting banget! Kek bencong aja!” ejek Hanif. Nell hanya menghela nafas, lalu…
“Arrghhhh! Elo bener-bener ya!” hardik Hanif sembari membersihkan permen
karet yang ada di pipinya. Sedangkan Nell tengah membuka bungkus permen
karet yang lain, lalu mengunyahnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Ambil tissue! Cepet bersihin pipi gue!
Arrggghhhh! Pasti kena air liur lo dah! Najis tau ngga’! Rabies!”
“Elo ngomong sama gue? Kirain lagi nguap!
Udah ya, gue masih ngantuk. Mau tidur bentar!
Kalo’ udah nyampe, parkir yang bener trus bangunin gue!” sahut Nell, lalu mengenakan earphone dan memejamkan matanya.
“Kelakuan lo lebih rendah dari Pengemis itu tau ngga’!” lanjut Hanif
sembari membuka kaca mobil dan memberikan beberapa lembar uang kepada
Pengemis yang tengah mendekati mobil Nell saat lampu merah menyala.
Nell begitu kesal... Ia pun menendang-nendang Hanif yang tengah mengemudi saat lampu hijau telah menyala.
“Bego’! Bahaya tau’!” bentak Hanif sembari mengendalikan laju mobil. Namun Nell tak bergeming…
Brakkk!
“Arrrgggghhhh!” lenguh Hanif frustasi, lalu segera turun dari mobil dan
menghampiri seorang lelaki yang baru saja ditabraknya. Sedangkan Nell
hanya memalingkan wajahnya sembari mengunyah permen karet.
Beberapa menit kemudian Nell mulai turun dari mobil dengan kesal, lalu menghampiri
Sopirnya...
“Lama amat! Gue udah telat nih!” omelnya.
“Lihat nih, gara-gara elo!” bentak Hanif.
“Ngg... Gapapa kok!” sela lelaki tersebut sembari meniup-niup sikunya yang perih dan berdarah.
“Oh, cuman gitu doang aja!” dengus Nell datar sembari mengeluarkan dompetnya.
Otomatis lelaki itu pun tersinggung dengan perlakuan Nell terhadapnya.
“Maaf, tapi ngga’ semua bisa dibeli dengan uang! Gue butuh tanggung
jawab, bukan rupiah!” hardik lelaki tersebut sembari menepis tangan
Nell. Seketika lembaran-lembaran uang itu pun berhamburan di udara.
“Anjrit! Elo belagu banget ya jadi orang! Kalo’ ngga’ mau duit ya udah!
Jadi orang susah aja belagu banget!” bentak Nell. “Cabut yuk! Di sini
ada banyak orang-orang menyebalkan!” sambung Nell sembari mengedarkan
pandangannya, ia melihat banyak fans yang sejak tadi memandanginya dari
jauh.
Nell lalu menendang sepeda gayuh lelaki tersebut dan berjalan menuju mobil…
“Maaf banget ya! Dia emang kayak gitu orangnya.”
“Iya, gapapa kok Kak!”
“Ini, kamu pake’ buat berobat ya! Kalo’ ada apa-apa, telp aku aja!” kata Hanif sembari menyodorkan uang dan kartu namanya.
“Ngg... Ngga’ usah Kak! Aku ngga’papa kok!” timpal lelaki tersebut, lalu mengembalikan uang dan kartu nama itu.
“Udah lah! Please, ambil aja! Ya udah, hati-hati ya! Maaf banget karna
kelakuan dia, maaf juga karna udah nabrak kamu. Arrgghhh! Ini semua
gara-gara dia!”
“Ngga’ usah… Beneran, ngga’papa kok!”
“Ehmm… Ya udah, nomor hp kamu berapa?”
Disisi lain...
“Dia kan Nell? Bener ngga’?” kata seorang gadis yang tengah menenteng tas-tas kresek berisi belanjaan.
“Bener... Dia kan Nell!” timpal cewek lainnya
“Iya, itu Nell!”
“Neeeeeell!” teriak beberapa gadis
“Gilaaaaa…! Dia ternyata aslinya cakep banget!”
“OMG! Shit! Beneran kan, lagi-lagi kejadian kayak gini keulang lagi!
Arggghhh! Semuanya gara-gara Hanif nih!” keluh Nell, lalu segera masuk
mobil dan menekan-nekan klakson dengan keras!
“Eh, sopir bego’! Cepeeeet!” teriak Nell
“Hasssh!” lenguh Hanif kesal. Sedangkan lelaki yang bersamanya hanya
tertawa puas melihat Nell yang kelabakan sendiri karna ulah
fans-fansnya.
“Syukurin!” gumam lelaki tersebut dalam hati.
“Kamu ikut aja gimana? Ntar aku anterin kamu ke rumah sakit.”
“Ngga’ usah, Kak! Aku ngga’papa kok! Cuman gini doang aja!”
“Beneran?”
“Iya! Cepetan sana gih! Dia kasihan, keburu dibejek-bejek sama fans-fans nya.”
“Maaf banget, aku tinggal duluan!” seru Hanif, lalu bergegas menuju mobil.
Lelaki itu hanya terbahak melihat tingkah Nell…
•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦
“Lemot banget sih! Cuman gara-gara tuh cowok sekarang gue mesti ngalamin
ini lagi! Ngapain sih lo lama-lama di sana sama tuh cowok? Kerja lo tuh
nganterin gue sampe’ tujuan dengan selamat, bukannya kenalan sama cowok
baru di jalan!” omel Nell
“Berisik lo!” omel Hanif
“Cepet cabut bego’!” pekik Nell frustasi
“Neeeeell! Neeeeeeeell!” teriak para gadis tersebut. Karena hal itu,
jalanan menjadi macet. Si Sopir dengan kesal segera melajukan mobil.
Akhirnya para fans-fans itu pun mulai menyerah mengejarnya.
“Pelan-pelan kek!” omel Nell. Karena begitu kesal dengan kelakuan Nell
yang keterlaluan tadi, Si Sopir membalasnya dengan mempercepat laju
mobil. Ia tahu bahwa Nell phobia kecepatan. Sedangkan Nell hanya
terdiam, wajahnya pucat pasi sembari memejamkan matanya karena
ketakutan.
Sesampainya di sekolah, Nell segera membuka pintu mobil dan
membantingnya dengan keras karena begitu kesal dengan sopirnya. Hanif
hanya tersenyum puas, “Belajar yang rajin yah!” lalu segera berlalu.
“Rambut gue berantakkan! Sial!” gumam Nell yang tengah bercermin di kaca
jendela pos satpam sekolah sembari merapikan rambutnya dengan
jemarinya.
Nell segera mengeluarkan ponselnya dan menelfon salah seorang sahabatnya.
“Angkaaat!” gumam Nell kesal, lalu berniat membanting hp nya karena panggilannya tak dihiraukan.
“Eiiits! Jangan dibanting! Hp mahal itu!
Mending buat Abang aja!” seru Satpam sekolah tersebut
“Hassh!” lenguh Nell, lalu memasukkan hp nya ke dalam saku
“Kok sendirian aja? Biasanya sama anak-anak lainnya.”
“Biasa, Bang! Aku telat! Hahaha…” timpal Nell enteng
“Kamu mah meski telat 1000 kali juga ngga’ bakalan dikeluarin dari sekolah.” celetuk Si Satpam
“Yee… Enak aja! Meskipun gitu tapi aku ngga’ niat buat nelat-nelatin kok tiap hari.”
“Tapi bangunnya yang ditelat-telatin.” celetuk Si Satpam lagi
“Hahaha… Kalo’ urusannya ama mata sih aku ngga’ tahan!
Ya udah, aku masuk dulu!”
Nell menuju lapangan upacara.
“Kok?” komentar Nell saat menyaksikan lapangan tersebut sepi
“Ah! Parah! Masa’ iya upacaranya udahan?”
Ia pun segera menuju ruang kelasnya...
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” kata seorang guru yang tengah mengajar pada saat itu.
“Sorry Bu… Telat lagi!
Tadi jalanan macet, ada segerombolan fans yang ngepung mobil saya.”
“Ngga’papa Nell. Silahkan duduk!”
“Kebiasaan lo! Telat lagi!” seru Elfan, teman sebangkunya
“Berisik!” seru Nell sembari duduk di bangkunya
“Alasan lo basi banget! Dikepung fans? Wkwkwk…” celetuk Alfath
“Yeee… Emang bener kok! Cuman penyebab utamanya karna gue telat bangun trus gue tadi abis nabrak orang.”
“Haaaah? Trus orangnya gimana?” tanya anak-anak lain serempak
“Ngga’papa sih! Cuman luka di siku aja. Gue kasih duit, eh malah ditepis. Belagu banget kan?
Padahal kalo’ gue liat dari penampilannya sih biasa aja!
Dan yang bikin gue kesel tuh, Si Hanif malah lama-lamaan ngobrol sama
tuh cowok sampe’ keburu ada orang-orang yang ngenalin gue dan
orang-orang itu notabenenya fans gue.
Ya kalian tau lah apa yang terjadi abis itu… ”
“Hah?
Jangan-jangan Si Hanif demen kali’ ama tuh cowok?” komentar Elfan
“Iya tuh bener!” sahut yang lainnya
“Menurut gue juga gitu!
Eh iya, tadi pagi buat pertama kalinya gue ngeliat Si Hanif shirtless.
Gue baru tau ternyata badan dia bagus juga dan gue juga baru sadar
ternyata tampang dia lumayan cakep. Ngga’ bakal rugi lah kalo’ diajak
jalan ke mall gitu!”
“Masa?” timpal Gerry
“Tuh kan, bener apa kata gue dulu waktu dia pertama kali jadi sopir lo
dan pertama kali nganter lo ke sekolah. Dia itu cakeeeeppp tauk!”
komentar Elfan
“Jangan keras-keras, ntar Bu Risma denger!”
“Jangan-jangan lo suka sama Hanif?” sela Tommy
“Soal yang disuruh ngerjain ama Bu Risma halaman berapa sih?” tanya Nell
saat mengedarkan pandangannya, melihat anak-anak lain tengah sibuk
mengerjakan soal
“33-37” timpal Alfath
“Eh, malah ngobrol sendiri ngalihin permbicaraan. Jawab kek!” omel Tommy
“Ah! Engga’ kok! Cuman dia enak aja buat cuci mata di rumah.” elak Nell sembari membuka buku pelajaran
“Kalo’ lo suatu saat naksir dia gimana?” tanya Gerry
“Ngga’ mungkin ah! Gue tuh udah cinta mati sama Si Rion!”
“Ehmmm… Ehmmmm… Sok suit batu gunting kertas! Ahahahaha…” celetuk Elfan ditambah tawa anak-anak lainnya
“Lebay lo ah!” omel Nell sembari berusaha menyembunyikan senyumannya
“Kalo’ gitu Hanif buat gue aja yak?” pinta Elfan
“Boleh-boleh…! Tapi setau gue dia straight lhoh!”
“Tenang aja, ntar gue yang bakalan usaha buat bikin dia suka sama gue!”
“Pede lu!” ejek Nell
“Eh gays, ngomong-ngomong Si Rion kemana nih, kok bangkunya kosong?
Ngga’ masuk?”
“Masuk kok, tadi gue liat dia kayak biasanya baca komik di bangku.” terang Tommy
“Eh, katanya bakalan ada anak baru yah di kelas kita?” sela Elfan
“Iya, gue juga denger-denger sih gitu.” timpal Alfath
“Cowok apa cewek?”
“Katanya sih cowok.”
“Cakep?” tanya Gerry tiba-tiba
“Heran gue! Kalo’ ngomongin cowok gitu kalian cepet banget!
Gue dicuekin…!
Si Rion manaaaa? Whoy?” maki Nell kesal
“Udah lah lo ikut dengerin aja!
Rion dibahas ntar aja, ini lebih penting!” omel Elfan
“Cakep atau ngga’nya sih belum tau. Tapi yang jadi masalah tuh, denger-denger Si Rion deket banget sama tuh anak!” terang Gerry.
“What?
Ngga’ mungkin ah! Gue aja udah sekian lama ngejar-ngejar Rion tapi gagal
mulu! Padahal gue cakep, cerdas, model terkenal pula. Kurangnya gue apa
sih?
Gue jadi penasaran sama anak baru itu. Kayak apa sih tampangnya kok
sampe’ Si Rion bisa deket sama tuh anak!” Nell mulai cemas. Ia tak dapat
berkonsentrasi mengerjakan soal.
“Sudah selesai? Ayo, cepet dikumpulkan terus dikoreksi!” seru Bu Risma
“Yaelaaaahhh…! Belooooom Buuuuu…!” seru anak-anak sekelas serempak,
kompak, tak ada yang ketinggalan. Sedangkan Bu Risma hanya geleng-geleng
kepala
“Eh! Emang Rion gay juga ya?
Kayaknya engga’ deh! Buktinya Nell udah lama deketin tapi gagal mulu!
Mana ada gay yang ngga’ terpikat ama cowok kayak Nell. Bener ngga’?” bisik Alfath.
“Eh! Elo bener juga! Selama ini kan kita belum tau Si Rion suka cowok apa engga’. Tapi dia ngga’ punya cewe’ tuh! Aneh!
Kalo’ pun dia gay, dia pastinya naksir lah sama cowok kayak Nell.
Hmmmm…” tambah Tommy. Nell mulai berfikir sama seperti pikiran
sahabat-sahabatnya yang lain.
“Nell, buruan kerjain! Keburu dikumpulin ntar!” pinta Elfan, diikuti anggukan anak-anak lain
“Nyontek?” tegas Nell. Mereka semua langsung mengangguk kompak
“Hash! Kebiasaan!” keluh Nell, lalu segera berkonsentrasi mengerjakan soal demi soal
Tak lama kemudian...
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” seru Bu Risma
Krieeettt!
Saat lelaki tersebut masuk, anak-anak sekelas mulai berbisik-bisik...
Siswa baru itu ialah Rama Sandhitya. Ia begitu rupawan, ditambah dengan
paras manisnya yang menawan. Rambutnya tebal, hitam, lurus, dan
berkilau. Alisnya begitu sempurna menggantung di atas matanya yang
menawan dan berwarna hitam gelap. Disana ia berdiri sekitar 170cm.
Tubuhnya ideal.
Ia memiliki kulit kuning langsat. Dengan sedikit otot-otot yang terlihat dibeberapa bagian tubuhnya.
Sedangkan di samping Rama berdiri lah seorang lelaki berbadan tegap dan berwajah tampan.
Ia lah Rion, lelaki yang sejak awal berada di sekolah ini begitu disukai oleh Nell.
Ia begitu tampan, parasnya begitu khas lelaki maskulin yang melenakan.
Rambutnya hitam kecoklatan, ditata indah dengan gaya spike-nya. Ia
memiliki mata elang yang begitu khas, ditambah dengan eyelids ganda yang
menggantung sempurna melengkapi keindahan matanya. Bola matanya hitam
menawan. Hidungnya mencuat indah, menambah ketampanan yang dimilikinya.
Bibir nya begitu khas dan menawan. Rahang dan dagunya terlukis begitu
indah dan terlihat begitu maskulin menambah ketampanan alur wajahnya.
Tubuhnya begitu atletis, dengan dada bidang dan perut atletis yang
begitu tercetak jelas melalui kemeja putihnya. Lengan-lengannya terlihat
begitu berisi, ditambah dengan otot-otot yang terlihat menghiasi
lengan-lengannya. Ia berkulit putih dan berdiri tegap tinggi menjulang
sekitar 175cm. Ia benar-benar lelaki idaman semua orang…
“Maaf saya telat di hari pertama saya masuk. Tadi saat saya berangkat ke sekolah ada kecelakaan kecil, Bu!” terang Rama.
“Oh, shit! Cowok itu lagi? !
Kenapa kejadian ini mirip banget sama film yang pernah gue tonton ya?
Tuhan, takdir yang engkau bikin kenapa ngga’ kreatif banget ya? Yang lain kek!
Masa’ mirip sama film?
Eh, tunggu! Dia masuk kelas sama Rion?
RIOOOONNN?
Jadi ini cowok yang kata anak-anak deket banget sama Si Rion?” cibir Nell dalam hati, lalu raut wajahnya berubah galau seketika
“Tapi kamu gapapa kan? Apa perlu Ibu suruh Rion antar kamu sekarang juga ke klinik sekolah?” tanya Bu Risma cemas
“Ngg... Gapapa kok Bu! Tadi Rion nyamperin saya ke sana dan ngobatin
saya. ” jawab lelaki tersebut gugup. Terperangah begitu saat matanya
bertemu pandang dengan Nell.
“Itu kan cowok sombong itu? ! Arrgggghhh! Kenapa bisa ketemu di sini?” umpatnya dalam hati.
“Iya, Bu! Rama ini sahabat saya sejak kecil. Karena ada masalah
keluarga, sekarang dia tinggal di tempat saya. Tadi pagi saya mau
nebengin dia buat ke sekolah bareng naek motor, tapi dia ngga’ mau dan
ngotot mau gowes pake sepeda sekalian olahraga gitu katanya. Ya udah!
Tapi sampe’ jam enam lebih dia ngga’ nyampe’-nyampe’. Pas saya telp, dia
bilang tadi jatoh makanya datengnya telat. Akhirnya saya samperin. Saya
khawatir banget tadi Bu’ dan mutusin buat maksa dia istirahat dulu baru
berangkat lagi ke sekolah, makanya kami telat.” jelas Rion
“Ngga’papa! Ya sudah, Silahkan kamu perkenalkan diri dulu ke temen-temen
baru kamu supaya bisa lebih cepat untuk saling kenal! Singkat aja, abis
itu kamu langsung duduk. Ibu khawatir sama kamu.” pinta Bu Risma ramah
“Perkenalkan, Saya Rama Sandhitya.
Biasa dipanggil Rama. Pindahan dari Bandung.
Maaf, singkat aja. Moga kita bisa cepet berteman. Makasih!” ujar Rama gugup
“Namanya terlalu bagus buat orang kampungan kayak dia!” seru Nell enteng
tanpa rasa bersalah sedikitpun, “Tampangnya kusam, dekil, seragamnya
kusut, tas sama sepatunya juga ngga’ gaul, merek murahan, kumal pula!
Ngga’ pantes banget dia sekolah di sekolah elit kayak gini!
Tolong panggilin Security kek! Gepeng kok bisa sih masuk sini?” sambungnya. Seketika anak-anak sekelas pun tergelak!
“Nell, tolong jaga sikap kamu!” omel Bu Risma
“Hasshh!” lenguh Nell
“Mulut lo lebih kampungan dari dia!
Jaga mulut lo!” hardik Rion penuh amarah. Nell hanya menatap Rion tak percaya.
“Cuman gara-gara tuh cowok, Si Rion ngebentak gue?” cibir Nell miris dalam hati
“Ya sudah, sekarang kamu duduk di........” seru Bu Risma sembari mencari-cari bangku kosong.
“Ehmmmpp... Di situ!” tunjuk Bu Risma
“What?” protes Nell
“Kenapa lagi Nell?” tanya Bu Risma menyelidik
•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦•♦
To Be Continued...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Labels
- Beranda (1)
DelvetiaN
Selamat datang di Blog DelvetiaN yang menyediakan berbagai cerita, cerpen, fan fiction, dsb. yang menarik.
Mengenai Yaoi dan Yuri. :)
Mengenai Yaoi dan Yuri. :)
Total Tayangan Halaman
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Kiki Wellian Delvetian. Diberdayakan oleh Blogger.
Entri Populer
-
(oleh : Eurie Ervin Diez) “mas ajii…” suara teguh dari seberang sana Suasana masih berisik, seperti sedang dalam perjalanan ‘ya guhh…...
-
--.DelvetiaN.-- • Cium Gue Lagi! (Part 8 – White Pigeons) • Author : Kiki Welliansyah Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fantasy Soundtrack :...
-
--.DelvetiaN.-- • Cium Gue Lagi! (Part 3) • Author : Kiki Welliansyah Genre : Romance-Comedy, Fantasy Soundtrack : Seo In Guk – Shake...
-
--.DelvetiaN.-- • Cium Gue Lagi ! (Part 1) • Author : Kiki Welliansyah Genre : Romance-Comedy, Fantasy Soundtrack : Seo In Gu...
-
--.DelvetiaN.-- • Cium Gue Lagi! (Part 5) • Author : Kiki Welliansyah Genre : Romance-Comedy, Fantasy Genre : ...
-
--.DelvetiaN.-- ♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 4) ¸•°*”˜♥ Author : Kiki Welliansyah Genre : ...
-
--.DelvetiaN.-- ♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 10 - The Bitter Kisses)¸•°*”˜♥ Author : Kiki Welliansyah Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fan...
-
--.DelvetiaN.-- • Cium Gue Lagi! (Part 2) • Author : Kiki Welliansyah Genre : Romance-Comed...
-
--.DelvetiaN.-- • Cium Gue Lagi! (Part 7) • Author : Kiki Welliansyah Genre : Yaoi Romance-Comedy, Fantasy Soundtrack : Dave Koz - You ...
-
(oleh : Eurie Ervin Diez) Aku hanya menurunkan celananya sebatas lutut saja Toh ini hanya permainan ringan saja Dan tubuh super sexynya...
Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format
Mengenai Saya
- DelvetiaN
- Nama ku Kiki, 17y.o. . Stay di Sby. Aku cowo yg : -Manis -Baik -Jujur -Setia kawan -Pekerja keras -Easy going -Lucu -Kekanak-kanak'an dsb. ^.^"


0 komentar:
Posting Komentar