♫
E.V.O.S (Eternal Violin of Symphony) – Season II ♥ (Final Distance - ENDING) ♪
Genre
: Yaoi - Romance Fan Fiction
Author :
Kiki Wellian S.
Background
Song :
--YUI – SUMMER SONG
--Epik High - One
--JYJ – In Heaven
--Utada Hikaru - Final Distance
(Music Box Vers.)
--キミがいるから~ココロのとなりで~\
Contact
:
- Fb : Kiki Wellian Delvetian
- Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
*NB : Menerima Segala bentuk pujian,
kritikan sopan, dan kritikan pedas tapi membangun. Selamat membaca! ^^”
Ini adalah karya ke dua Kiki. Semoga
dapat menjadi cerita yang menarik bagi para pembaca.
Kiki berharap agar cerita ini dapat
menjadi cerita yang lebih baik dari sebelumnya.
Selamat membaca… ^.^”
Terimakasih!
Buat Readers, makasih udah mau baca
cerita jelek ini hingga di part terakhir ini… Cerita dari jemari dan otak
seorang manusia yang tak sempurna, yang masih jauh dari kata sempurna.
Maaf kalo kalian ngerasa garing,
ngerasa cerita ini jelek, gagal atau mau ngebully apapun gapapa deh, terserah
kalian. Menulis cerita itu lebih sulit dari menghafal rumus-rumus fisika,
ngerjain tugas fisika, belajar parkoer, dsb. Pokoknya yang susah-susah gitu,
hahahaha.
Menulis itu SENI bagi aku, dan SENI
itu ngga’ bisa dinilai dengan materi sekalipun. Semuanya berawal dari hati,
bakat masing-masing manusia, juga jiwa dan ide penulis. Dan menulis itu ngga’
semudah ngritik dan ngasih saran, ngebully, dsb.
But, buat yang suka sama cerita ini
dan udah setia selalu baca cerita ini, thanks…
~Author P.O.V~
Sudah beberapa minggu Euri tak
sadarkan diri. Tangannya diinfus, tubuhnya pucat dan ada balutan perban di
kepalanya karena terjatuh dari mobil Miguel. Kepalanya terbentur aspal jalan,
kulit tangannya tergores aspal, sehingga dokter membalutnya dengan perban.
Hingga saat ini pun Miguel masih betah duduk di sampign Euri. Menggenggam
jemari tangannya, merawatnya selama di rumah sakit, dan juga sering mengajak
Euri berbicara walau ia tau bahwa Euri tak pernah membalas perkataannya.
“Errr… Aku punya kejutan buat kamu!”
lalu Mig mengeluarkan sebuah album foto coklat
“Di sini ada foto-foto kita berdua,
juga sama temen-temen waktu masih SMA. Dari dulu aku beli album foto ini dan
selalu isi dengan foto-foto kita. Udah lama kita ngga’ pernah ngisi album
foto ini lagi semenjak kamu pacaran sama Key…
Mulai sekarang kita buka lembaran
baru. Isi dengan foto dan kehidupan yang baru juga…
Aku udah ambil foto-foto Key yang
ada di album ini biar kamu bisa lebih mudah buat lupain dia. Kita bakal isi
album ini dengan foto-foto kita dan kehidupan baru kita.
Aku mencintaimu Euri…!” Mig mengecup
kening Euri lembut
Tak lama kemudian Miguel terkejut
melihat kening Euri mengernyit… Grafik yang ada di mesin penghitung detak
jantung itu pun semakin naik… Miguel begitu senang, lalu bergegas keluar dari
ruangan tersebut dan menghampiri Mama Euri yang tengah terditur di ruang
tunggu, juga segera memanggil dokter.
Mama Euri begitu senang saat melihat
anaknya telah sadar dari koma nya…
“Sayang… Kamu sudah sadar nak…!”
gumam Mama Euri senang, lalu mengecup kening Euri
“_____” Euri hanya terdiam, tubuhnya
masih benar-benar lemas
“Nak Miguel, Saya tinggal dulu ya!
Saya mau ngabarin Ginoo Andre.” kata Mama Euri
“Iya, biar saya yang jagain Euri.”
timpal Mig
“Key… Key mana?” itulah kata pertama
yang terucap dari mulut Euri. Mig benar-benar kalut… Orang yang selama ini
selalu menjaganya, merawatnya di rumah sakit dan begitu mencintainya harus
menahan perihnya hati mendengar kata pertama yang terucap dari Euri.
“Bahkan Key tak pernah menjenguk
Euri di rumah sakit, tapi kenapa dia… Arrrgggghhhh!” besit Mig dalam hati
“Kamu jangan banyak gerak, Errr…!
Kamu masih belum pulih bener.” kata Mig
“Mana Key…? Aku mau Key…!”
“Key? Di… Dia ngga’ ada di sini.
Ehmmm… Sekarang makan dulu ya, terus minum obat?” timpal Mig
“Enggak… Aku mau nya cuman Key…! Aku
ngga’ butuh makan!” timpal Euri
Mig makin kalut mendengar pernyataan
Euri…
“Key ngga’ ada Errr….!”
“Key mana… Aku butuh dia.. ! Aku
cuman mau dia.” air mata Euri mengalir
Mig kehabisan akal. Dia hanya dapat
memeluk Euri erat dan mencoba untuk menenangkannya…
Sejak lama Euri hidup seperti itu…
Kehilangan mentarinya. Berhari-hari setelah pulang dari rumah sakit, dia
menghabiskan waktunya di kamar, memainkan biolanya, membuka foto-fotonya
bersama Key, menulis sajak-sajak puisi di blog nya… Hingga begitu banyak orang
di dunia maya yang sering mendatangi blog nya untuk membaca hamparan
puisi-puisi indah buatannya.
Euri menulis puisi tersebut hanya
untuk mencurahkan perasaan kalutnya karena kehilangan Key…
@Vervidia Lake
Euri menulis puisi yang kesekian
kali nya di tepi danau bersama Mig…
Jemarinya lihai mengetik puisi
tersebut di laptop miliknya. Mig memeluknya dari belakang sembari mengecup
lehernya…
“Aku akan selalu ada buat kamu
Sayang…
Ijinkan aku, beri aku waktu untuk
dapat menggantikan mentarimu.” gumam Mig
Namun seperti hari-hari sebelumnya,
Euri hanya tersenyum simpul mencoba untuk menghargai perasaan Mig, lalu mulai
mengetik di laptopnya…
Mentariku… Kau di mana…
Gundah… Kalut…
Tubuhku terhempas dan terguling di
bukit nan curam…
Itulah yang ku rasa kini,
Sembari menatap raut kusam di air
danau
Bunga cinta yang ku tanam dan ku
pupuk, kini telah layu dan mengering…
Layaknya embun dan mentari, itu lah
perjumpaan semu kita yang kan terpisah dikala senja
Ku hanya dapat menatap kosong langit
biru sepanjang usiaku,
Berharap kau kan terbit dan bersinar
lagi…
Kehilangan mentariku yang selalu
menyinari dan menghangatkanku
Kini hanya terpaan angin dan hawa
dingin yang kurasa, tanpa hangat dan terangnya sinarmu
Hatiku beku, takkan lagi dapat
mencair
Siapa gerangan mentari baru ku yang
kan mencairkan hati ku…
Tiada mentari lain yang sepertimu…
Yang kan gantikan dirimu
Embun mu ini takkan pernah dapat
mencari pengganti sinar mu
Mentariku, di mana kah kau…
Cinta… Mengapa engkau hadir namun
akhirnya kau renggut mentariku
“Sayang, pulang yuk! Udah lama kita
di sini. Aku sampe’ hampir aja ketiduran tadi…
Kamu udah bikin puisinya?” tanya Mig
“Udah kok… Malahan udah aku posting
di blog aku. Abis ini jangan pulang dulu, temenin aku ke pengerajin kayu. Aku
mau ngukir nama Key di biolaku.”
“Tentu, ya udah! Ayo sini laptopnya…”
Euri menyodorkan laptopnya setelah mematikannya
“Ya udah, cepet naik!”
“Aduh, sampe kapan kamu gendong aku
terus? Aku kasihan kamu Mig…” keluh Euri
“Gapapa Sayang… Kamu kan baru
beberapa minggu keluar dari rumah sakit, tubuh kamu masih lemah. Perban di
kepala kamu aja belum boleh di lepas sama dokter. Udah ah jangan cerewet, ayo
naik ke punggungku!”
Euri ragu, namun akhirnya dia naik
ke punggung Mig, lalu mereka berdua melaju dengan mobil Mig menuju ke tempat
pengrajin kayu
“Sir, tolong ukirin nama KEY di
biola aku ya…!” pinta Euri
“Iya… Mau di tunggu atau di ambil
besok?”
“Di tunggu aja…!” timpal Euri
Setelah selesai, mereka berdua
pulang menuju rumah Euri di Plaridel…
“By the way, gimana ya kabarnya Key
sekarang?” gumam Euri
“Apapun keadaan dia, moga baik-baik
aja…!” timpal Mig, lalu menyelimuti tubuh Euri yang tengah rebahan di kasur
“Aku kangen banget sama dia…” gumam
Euri, sembari menatap kosong atap kamarnya
“Iya, aku ngerti… Ya udah, kamu
mesti istirahat!” Mig mengusap pipi Euri lembut
“Makasih ya Mig, selama ini kamu
selalu ada terus buat aku.”
“Anything for you!” gumam Mig, lalu
mengecup kening Euri
“Sorry kalo aku masih belum bisa
ngelupain Key dan masih belum bisa mencintai kamu, padahal kamu udah banyak
berkorban buat aku.” gumam Euri kalut
“Gapapa sayang… Aku akan selalu
menunggu dan mengerti kamu.”
“Tapi kamu menunggu udah 2 tahun
lebih, dan itu bukan waktu yang sebentar. Sejak SMA kamu cinta sama aku, tapi
aku lebih memilih Key dan hingga sekarang pun meski aku dan Key udah berpisah,
tapi kamu masih saja menungguku. Ada banyak lelaki yang lebih segalanya dari
ku, Mig… Dan masih banyak lelaki yang menunggu dan memujamu. Kenapa aku?”
timpal Euri
“Takkan ada yang bisa
menggantikanmu, Errr…!
Bagiku, takkan ada lelaki yang
sebaik dirimu…” gumam Mig, lalu menggengam tangan Euri
“Thanks Mig… Aku bener-bener kagum
sama kesetiaan kamu, selama ini kamu selalu nunggu aku. 2 tahun lebih itu tak
sebentar… Aku bener-bener manusia bodoh, karna menyia-nyiakan lelaki sebaik
kamu Mig…” Euri bangkit, lalu memeluk Miguel erat… Air matanya mengalir
“Udah lah, gapapa kok! Aku ngga’
pernah lelah nunggu kamu hingga kamu mencintai aku.” lalu Mig mengecup bibir
Euri lembut
“_____” Euri begitu terkejut, lalu
menunduk… Jantungnya berdegup kencang
“So… Sorry Errr…! Aku kebawa suasana
dan…”
“Gapapa kok!” potong Euri gugup,
lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangannya
“Sekali lagi, maafin aku…”
Meski tanpa Key, Euri tau bahwa
hari, waktu terus berjalan… Kehidupan terus berjalan. Apapun dan sepahit
apapun, kita harus terus melangkah. Membuka lembaran hidup yang baru, bersama
orang yang baru pula… Miguel… Iya… Miguel… Saat ini Euri mencoba mulai untuk
membuka hatinya dan mencoba untuk mencintai Miguel…
Setelah Euri sehat, dia kembali ke
apartmentnnya di Malolos dan melanjutkan kuliahnya bersama Miguel.
Mig memutuskan untuk pindah ke
apartment Euri… Ardo begitu kesal, dan seperti biasa selalu mengganggu Euri.
Namun Mig selalu ada di sisi Euri, takkan membiarkan seorang pun melukai bahkan
menyentuh kulitnya. Ardo semakin geram melihat kedekatan mereka berdua, namun
tak ada yang bisa di lakukannya.
Sebulan kemudian, Euri begitu
terkejut dan terpukul mendengar berita kematian Key… Ternyata setelah diperiksa
oleh dokter, ada bibit sel kanker yang telah menjalar di paru-paru Key.
Amputasi yang dilakukannya waktu itu sedikit terlambat. Ternyata sel-sel kanker
tersebut telah bersarang di paru-paru nya. Nyawa nya pun tak tertolong!
Terutama Vicky… Setelah ingatannya
kembali, dia begitu terpukul mendengar berita tersebut! Namun Eric selalu di
sisinya, menghiburnya dan menjaganya. Hingga Vicky akhirnya dapat menjauhi
dunia malamnya di club malam, mulai dapat melupakan Key dan mulai mecintai
Eric…
Begitu juga dengan Euri, dia mulai
mencintai Mig dan menjalin hubungan dengannya…
Miguel lah satu-satunya mentari yang
dapat menggantikan Key di hatinya…
@Vervidia Lake, 1 years later…
“Papa…
Olive…
dan,,
Key…” Euri membaca ukiran nama yang
terukir di biolanya
“Tiga orang yang begitu berharga
untukmu…” lanjut Mig, sembari memeluk pundak Euri
“Iya… Dan aku ngga’ mau Tuhan dengan
teganya nyiksa aku lagi!”
“Maksud kamu apa sayang?” timpal Mig
“Aku ngga’ mau di uji sama Tuhan
lagi. Aku ngga’ mau kehilangan orang yang aku sayang untuk yang ke’empat kali
nya. Jangan pernah tinggalin aku sendiri…
Aku sayang banget sama kamu!”
“Iya sayang… Moga kita takkan pernah
bisa terpisahkan, kecuali maut yang memisahkan kita.” Mig lalu memeluk tubuh
Euri erat
~Euri P.O.V~
“Tuhan… Jangan pernah pisahin aku
sama Miguel, kecuali maut yang memisahkan kami.
Bahkan orangtua kami akhirnya
menyetujui hubungan kami setelah mati-matian kami berusaha berkata jujur,
mengungkapkan segalanya dan berkorban mati-matian untuk mendapatkan restu dari
mereka. Aku takkan dapat bersabar lagi apabila engkau memisahkan kami dan
menguji serta mengambil lagi orang yang begitu aku sayangi .” doa Euri, lalu
membalas pelukan Miguel
Biola dan danau ini menjadi saksi
bisu kisah ku…
Dan aku tak mau Miguel nama nya juga
terukir di biola ini. Cukup Papa, Olive dan Key… Aku tak mau engkau menguji ku
untuk yang ke 4 kali nya, Tuhan…
Biarkan aku bahagia bersama lelaki
terakhir yang ku peluk saat ini, hingga kami bahagia bersama sampai maut
memisahkan kami.
Beberapa bulan kemudian setelah
menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan tetap kami menikah di Manila…
Kami hanya mengundang orang-orang
terdekat… Tak mungkin kami mengundang banyak orang pada pernikahan sesama
lelaki seperti ini. Terkadang aku tertawa geli… Dulu aku begitu jijik melihat
sesama lelaki memadu kasih di Maple Valley, tapi sekarang aku menikah dengan
lelaki pilihanku.
Vicky dan kekasihnya, Eric hadir di
pernikahan kami.
Bahkan Heldy dan Lee jauh-jauh dari
China turut hadir di pernikahan kami. Dengar-dengar, mereka sudah menikah di
China. Wow! Hahaha… Aku tak menyangka, mereka akan pacaran dan menikah
akhirnya.
Mark dan Ginoo Andre, Mama ku dan
Orangtuanya Miguel juga turut hadir…
Axel dan kekasihnya, Stefan juga
turut hadir…
Cliff dan Evan pastinya hadir…
Dan terakhir, orang yang tak ku
sangka akan datang…
Ardo, bersama dengan seorang lelaki.
Sepertinya itu kekasihnya…
Dia memberikan kami berdua ucapan
selamat… Sepertinya dia sudah menemukan cinta nya yang baru dan telah merelakan
Miguel.
Setelah menikah, kami berdua pindah
di Manila setelah membangun rumah di dekat pantai…
Setelah 3x Tuhan menguji ku,
ternyata pada akhirnya aku menemukan kebahagiaanku, bersama lelaki yang saat
ini duduk di teras rumah bersamaku sembari memandangi indahnya pantai diiringi
kicauan burung dan terpaan hangat mentari di pagi hari…
“Ehmmmmm….” lenguhku saat Miguel
tiba-tiba mengecup leherku
“Jangan lagi!” goda ku
“Aku mau lagi…!” canda Miguel
“Semalam kan udah! Masa
mentang-mentang kita lagi masa honey moon, terus kamu minta terus.” omelku
“Becanda sayang!” Mig mengusap
pipiku lembut
“Dasar!” Aku mencubit nipple nya
yang saat ini dia tengah shirtless. Hahaha…
“Eiittttt…. mau lari kemana kamu?
Sini!” pekik ku saat dia menghindar dan segera berlari hingga sampai di pasir
pantai
“Heeeeiiii….! Kalo kena, aku cubit
nipple mu sampe’ merah!” pekik ku. Orang-orang hanya dapat terperangah dan
tertawa geli melihat tingkah kami berdua, hingga akhirnya aku berhasil
mengejarnya, menangkap tubuhnya, memeluknya, hingga kami berdua terjatuh dan
terguling di pasir pantai lalu tertawa lepas…!
“udah ah ketawanya….!” gumamku
“Hahaha….
Ehmmm… Aku sayang banget sama kamu
Errr…!”
“basi! Tiap hari kamu ngomong gitu
mulu!” ledekku
“Serius!” gumamnya
“Eiitttt… Di sini banyak orang,
nyiumnya di rumah aja!” candaku
“Bairin! Bodo amat!
Kita makan ngga’ minta mereka kok!
Ehmmmm….ppppp” dia mengecup bibirku lembut
Aku hanya dapat menahan rasa maluku
kuat-kuat, sekaligus menikmati ciumannya…
“Dari cerita ini, aku dapat belajar
tentang penyesalan dari Olive
Aku dapat belajar tentang arti cinta
sejati dari Key…
Aku dapat belajar dari Vicky, Cliff
dan Ardo tentang merelakan seseorang yang kita cintai demi melihatnya tersenyum
bahagia bersama pilihannya walau takkan pernah dapat memilikinya
Aku dapat belajar tentang arti
persahabatan dari Axel
dan terakhir,,,
Aku dapat belajar dari Miguel
tentang kesetiaan menunggu seseorang yang kita cintai, merelakannya bahagia
bersama orang lain namun kita berusaha merelakannya dan tetap menunggunya,
tetap selalu ada untuknya, hingga akhirnya mendapatkan cinta dari orang yang
telah lama ditunggunya…
Dan biola ini, seperti judul dari
cerita ini… Eternal Violin of Symphony
Eternal = Abadi
Violin = Biola
of Symphony = oleh simfoni
Biola ini akan selalu abadi, menjadi
saksi bisu kisah dan simfoni kehidupan ku… Selalu menemaniku disaat sedih,
terukir nama ketiga orang yang begitu aku sayangi, selalu ku gunakan untuk
memainkan simfoni-simfoni indah yang selalu menenangkanku saat sedih.
Dan ini… Kalung pemberian Miguel
saat pernikahan kami di tanggal 14 februari 2012
Kalung dengan liontin biola, terukir
singkatan nama kami berdua “Riel” yang kan ku jaga dan ku simpan dengan baik
layaknya Miguel, begitu berharganya dia bagiku…
(Riel) Euri and Miguel 4ever…
_______________________________________________________
-.TAMAT.-
Tunggu ya karya ke-tiga Kiki... :)
Kiki mau coba buat cerita bergenre Comedy ^.^"
Kiki mau coba buat cerita bergenre Comedy ^.^"



0 komentar:
Posting Komentar