Pages

Perfect World Online Pointer

• Cium Gue Lagi! (Part 6) •

--.DelvetiaN.--


• Cium Gue Lagi! (Part 6) •

Author : Kiki Welliansyah
Genre : Romance-Comedy, Fantasy
Genre : Yaoi - Romance Fan Fiction
Contact :
• Fb : Kiki Wellian Delvetian
• Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com
• Twitt : @Izmun_Dellionz

a story about Naufal Nafarone, as Naufal
and
Yelsin Malvino, as Malvin…

What happened?

May it’s real?

Where’s my soul?

Why must me?

When this bad dreams will be end?
Believed me… I never want it! I must be loved with HIM? Really, I hate it!
===========================================



Cerita Sebelumnya,,,


~Naufal P.O.V~

drrrrttt…. drrrtttt…. drrrttttt….

Sialan! Siapa sih yang sms?
Ganggu gue ngelamunin Key ajah! Huft!

From : Naufal (yang sebenarnya adalah Malvin yang memakai Hp Naufal)
“Fal, waktu lo tinggal 20 menit lagi! Lo sampe’ mana sekarang?”

Reply : “WHATTTT?? !
Adduuuuhhh… Masih 5 km’an lagi. Gimana nih?
Pake’ acara macet segala pula!
Nyampe’ ngga’ ya dalam waktu 33 menit?”


From : Naufal (yang sebenarnya adalah Malvin yang memakai Hp Naufal)
“Pokoknya lo mesti cepet nyampe’!
Nyawa gue ada ditangan lo sekarang…
Ya udah, kita berdoa aja moga lo bisa sampe’ tepat waktu.

Reply : “Amin!
Aduuuhhh… Jaraknya masih sekitar 5 km’an tapi mesti nyampe’ dalam waktu 33 menit dan ini aja kejebak macet. Nyampe ngga’ tuh? Gue takut banget sumpah!”

“Paaa…! Cepetan nyetirnya!” pekikku frustasi

“Iya, tapi kamu lihat sendiri kan, masih macet gitu!”

Tiinnn… Tiinnn… Tiiiiinnnnnnnn….

Aku beranjak, lalu menekan-nekan klakson mobil Papa…

“Whoy, cepetan!” pekikku pada beberapa pengendara motor di depan

“Fal, kamu kenapa? Sabar dong, namanya juga macet!
Kamu ada janji sama temenmu, kok dari tadi bawaannya pengen buru-buru aja?” omel Papa

“Lebih dari janji! Pokoknya Papa mesti cepetan nyetirnya!” gumamku frustasi

Aku begitu frustasi memandangi kemacetan tersebut. Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah duduk manis layaknya seorang pangeran yang sebentar lagi akan mendapati takdirnya. Apakah akan selamat, ataukah akan terjadi hal-hal buruk antara aku dan Malvin seandainya dalam waktu 33 menit ini aku masih belum sampai di rumah.

Beberapa menit kemudian barulah aku menyadari bahwa Key tengah memperhatikanku. Aku begitu gugup, sembari berusaha mengendalikan deru nafasku.

Saat aku mengedarkan pandanganku, pandangan kami berdua bertemu. Dia memandangiku dengan pandangan kosong yang sulit ku artikan. Karena gugup, Aku segera mengalihkan pandanganku.

Ku lihat kemacetan tersebut mulai berangsur-angsur mereda. Mobil kami pun mulai dapat melaju dengan kecepatan medium. Aku mulai merasa lega sembari menghela nafas untuk menenangkan fikiranku.

“Kok kamu diem aja dari tadi Key?” tanya Papa, memecah keheningan

“Ehmm… Ga… Gapapa Om! Cuman lagi nikmatin pemandangan kota aja!
Ternyata kota Surabaya indah ya Om?!” gumam Key gugup

Nah, gitu dong ngomong! Aku sebenernya kangen banget sama suara kamu, Key…

“Iya dong! Kamu tenang aja, nanti Om bakal ngajak kamu jalan-jalan keliling kota Surabaya.
Udah sepuluh tahun kan kamu ngga’ ke sini? Kota Surabaya sudah mengalami banyak perubahan.”

“Iya Om, Makasih!” gumam Key pelan. Sembari tersenyum simpul. Senyuman yang terlihat dipaksakan…

“Wah, seru dong Om!
Kok Aku sama Miguel ngga’ diajak juga sih?” sahut Om Euri

“Kalian kan udah gedhe! Jalan-jalan aja sendiri. Di rumah kan masih ada mobil lagi. Itung-itung ngabisin waktu berduaan di kota Surabaya. Hahaha…” timpal Papa

“Wah, bener juga! Berasa kayak honeymoon lagi ya, Say?!” seru Om Euri

“Eh, kok ngomong gituan di sini sih Sayang? Ada anak-anak tau!
Om sih yang mulai duluan!” dengus Om Miguel

“Lho, kok Om sih?” protes Papa

“Enak aja bilang anak-anak! Aku udah gedhe. Jadi biasa aja kok denger pembicaraan kayak gitu!” protesku ngga’ terima

“Masa’?” ledek Om Euri

“Iya lah!”

“Udah gedhe katanya, tapi kok jomblo mulu’?! Hahaha… Atau emang ngga’ laku?” balas Om Euri

“Wah, ngeremehin! Meski aku jomblo gini tapi fans-fansku di sekolah bejibun!
Yang naksir aku juga banyak kok! Lihat aja, bentar lagi aku bakal punya pacar yang perfect dan bakal aku kenalin ke Om!”

“Pacarnya ganteng apa cantik tuh ntar? Hahahahaa…” goda Om Miguel

“Wew! Ya cantik lah!” dengusku kesal

“Bener? Emang kamu doyan sama cewek?” sahut Om Euri

“Terserah deh! Aku cape’!”

“Wah, ngambek’an! Dasar!
Kan becanda! Hahahaa…” kata Om Euri

“Abis dari tadi becanda mulu! Aku tegasin ya, Aku itu ngga’ doyan sama cowok. Aku doyannya sama cewek! Inget itu baik-baik!”

“Sip Bos! Ditunggu deh ntar ceweknya. Cepet bawa ke rumah, kenalin sama semuanya.” tantang Om Euri

“Siapa takut! Aku bakal cepet punya cewek dan bawa cewek aku yang perfect itu ke rumah!”

“Sekolah dulu yang bener, baru pacaran!
Kalian malah ngajarin yang ngga’ bener ke Naufal!” protes Papa

“Iya nih!” tambahku

“Ahahahahaa… Ampuuunnn Om!” timpal Om Euri dan Om Miguel serempak

drrrrtttt… drrrttttt… drrrrtttt…

Ada sms, Aku segera membukanya. Jangan-jangan dari Malvin?

Benar, ternyata dari Malvin…

From : Naufal
“Eh, sisa waktunya tinggal 9 menit. Udah nyampe’ mana lo?”

Reply : “Tenang aja, bentar lagi nyampe’ Citra Land kok! Tadi macetnya akhirnya reda juga!
Im coming bebz… Hahaha…”

From : Naufal
“Beb-beb, emang lo pikir gue nasi bebek apa?
Ya udah, cepet ke kamar gue kalo’ lo udah nyampe’! Gue deg-deg’an banget dari tadi!”

Reply : “Sip deh! Ehmmm… Elo mah bukan bebek. Masih kebagusan tuh buat lo!
Elo mah E’ek. Wkwkwkwk… ”

From : Naufal
“WTF!”
-
-
-

“Udah sampe’ nih! Ayo turun!” pandu Papa, lalu mematikan mesin mobil

“Wah, cape’ banget! Pengen buru-buru mandi berendam aer anget nih! Trus langsung tidur deh!” gumam Om Euri

“Ide bagus! Ehmmm, mandinya barengan ya, Yang?” sahut Om Miguel

“Sip deh! Abis itu kita tidur berdua. Wkwkwkwk…”

“Dasar!” dengus Papa, lalu keluar dari mobil dan membuka bagasi mobil

“Fal, bantuin angkat barang-barang nih!”

“Aduh Pa, aku mesti buru-buru ke rumah Malvin. Ada hal penting!” tolakku, lalu segera berlari menuju rumah Malvin. Seangkan Papa hanya menghela nafas…
-
-
-

Di kamar Malvin,,,

“Huft, hampir aja! Sisa waktunya tinggal 3 menit nih!” gumam Malvin lega, lalu merebahkan tubuhnya di kasur

“Kok lo ngga’ pake’ baju sih? Cuman pake’ boxer doang?
Jorok!” omelku

“Habis tadi gerah banget! Maklum, kan Surabaya panas!”

“Ya udah, buruan cium gue lagi!” pintaku

“Iya-iya!” Malvin bangkit, lalu mendekatiku. Aku segera menutup mataku…

Perlahan bibir kami mulai bertemu dan kami saling melumat. Entah karena kami sudah terbiasa berciuman, sekaligus karena suasana hangatnya sore hari, sehingga Malvin memelukku erat. Tak seperti biasanya… Lalu dia memperdalam ciuman tersebut. Ku rasa, dia mulai menikmati ciuman itu.
Lidahnya makin berani menyusuri tiap-tiap bagian rongga mulutku. Terkadang dia menghisap bibir dan lidahku penuh nafsu. Hingga sekitar dua menit lamanya kami berciuman.
Peluhku mulai bercucuran. Begitu juga dengan Malvin…
Diriku juga mulai tengah dikuasai suasana penuh kehangatan tersebut. Aku mempererat rangkulan tanganku di lehernya.

Hingga beberapa saat kemudian, Malvin melepas ciuman kami, lalu mendorongku hingga tertidur di kasur dan menindih tubuhku dengan penuh nafsu.
Di lumatnya bibirku penuh nafsu. Sebagian fikiranku masih dapat ku kontrol. Dengan kuat Aku mendorongnya menjauh hingga ciuman kami berakhir dan dia segera beranjak.
Ya Tuhan… Beraninya dia mencumbuku? Padahal kami tak terikat oleh hubungan apapun.
Dia mulai sadar, mulai terlepas dari suasana hangat dan penuh nafsu yang menguasai dirinya beberapa saat sebelumnya. Dia memandangiku gugup, sembari berusaha untuk mengatur nafasnya.

“Lo kenapa sih? Kok lo kayak gini sih?” pekikku tak percaya, lalu bangkit dan membenarkan kancing kemejaku yang terlepas

“So… Sorry Fal! Gu… Gue nyesel banget!
Gue kebawa suasana. Gu… Gue bener-bener ngga’ sengaja! Gue nyesel banget Fal!” gumamnya lirih

Aku hanya menghela nafas, lalu mengusap bibirku dengan punggung tanganku. Aku segera beranjak dan keluar dari kamarnya.

“Fal!” cegahnya. Namun aku tetap melanjutkan langkahku dan segera keluar dari rumahnya

Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja ku alami barusan. Aku mempercepat langkahku, lalu segera masuk ke rumahku…

“Dari mana aja kamu Sayang? Ada tamu jauh-jauh dari Fillipina tapi kamu kok malah keluyuran sih?” kata Mama

“Sorry Ma! Tadi ada perlu bentar sama Malvin.”

“Ya udah, sini ikutan makan bareng!” pinta Mama. Dengan terpaksa aku pun ikut bergabung

Sembari menguyah makananku, aku masih saja terbayang-bayang oleh kejadian menyebalkan yang baru saja terjadi.

Aku ngga’ habis pikir kenapa Malvin bisa gituin aku?
Aku bener-bener marah sama dia sekarang.

Aku hanya terdiam sembari menyelesaikan makananku. Sedangkan keluargaku saat ini tengah berbincang-bincang sembari menikmati makanan mereka masing-masing.

“Kok kamu diem aja dari tadi Sayang? “ tanya Mama

“Gapapa Ma… Ehmmm, aku ke kamar dulu ya! Aku cape’ banget!”

“Kok gitu sih? Ngga’ sopan banget! Padahal sekarang lagi ada tamu nih!” protes Mama

“Maaf ya Om Euri, Om Miguel, Ehmmm… Key juga!
Maaf ya, Naufal pamit mau ke kamar dulu!”

“Gapapa kok! Mungkin Naufal kecape’an tuh Tante.” timpal Om Euri

Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Beberapa menit kemudian aku terlelap, hingga tiba-tiba aku terbangun karena mendengar derap langkah kaki seseorang

“Eh, lo lagi tidur Fal? Sorry banget ya, gara-gara gue lo jadi kebangun tidurnya.” seru Key menyesal, lalu duduk di kasur, di sampingku terbaring

“Gapapa kok! Ehhmmmm, kamu tidur sini?”

“Iya, Om yang nyuruh supaya gue tidurnya sekamar sama lo aja! Padahal gue niatnya mau tidur di kamar tamu aja. Gue ngga’ enak sama lo dan ngga’ pengen ganggu lo gitu!” terangnya

“Aduuuhhh, kok gitu? Gapapa kok! Kita kan sepupu, jadinya jangan ngerasa sungkan dan ngga’ enak gitu dong!
Sini, ikutan tidur juga! Lo pasti cape’ banget abis perjalanan jauh.”

“Ah, engga’ deh! Lo aja yang tidur. Gue jadi pengganggu nih ceritanya. Hehehe…” timpalnya

“Gapapa lagi! Gue tadi malah ngga’ ada niatan buat tidur sore, tapi ketiduran tadi. Lagian nih gue mau ke rumahnya Malvin bentar.”

“Malvin? Siapa tuh?” tanyanya

“Tetangga depan rumah. Dia emang baru beberapa bulan ini pindah ke sini, makanya lo ngga’ kenal. Kapan-kapan gue kenalin deh sama lo!
Ya udah, gue mau ke rumahnya Malvin dulu! Tidur yang nyenyak ya!”

“Hehehe… Iyah!”
-
-
-

Di rumah Malvin,,,

Sebenernya gue lagi males ketemu sama dia nih! Tapi mau gimana lagi, masa waktunya udah habis. Gue mesti deket sama dia kalo’ masa waktunya mau habis. Sumpah, bener-bener berat buat masuk ke kamarnya lagi. Gue takut kejadian tadi bakalan terulang lagi! Untung tadi gue masih bisa ngontrol fikiran dan nafsu gue. Kalo’ engga’, bisa-bisa hal-hal yang lebih lagi bakal terjadi…

Tok! Tok! Tok!

“Malvin?” seruku. Namun saat aku membuka kamarnya, dia tengah terlelap...

“Vin, bangun!” Aku mengguncang-guncang tubuhnya

“Ehhhhmmm…ppp!” lenguhnya

“Waktunya hampir abis… Tinggal sekitar 4 menit’an lagi. “ terangku

“Trus lo pengen nambah ngga’?”

“Ngga’ usah! Udah cukup kok!
Gue udah seneng kumpul bareng keluarga lama walau cuman sejam doang.” tolakku

“Kok tumben ngga’ mau? Padahal kemaren lo bilangnya pengen sering-sering tuker tubuh karna ada Key. Emang kenapa? Apa gara-gara kejadian tadi?
Sorry Fal! Gue bener-bener nyesel!”

“Ehmmmm, engga’! Bukan karna itu!
Udah, jangan bahas itu lagi! Anggap aja ngga’ pernah terjadi!” pintaku

“Iya, tapi gue masih ngerasa ngga’ enak sama lo!”

“Makanya itu jangan diungkit-ungkit lagi!” dengusku kesal

“Sip deh!”

“Eh, gue ngerasain sesuatu! Kayaknya bentar lagi deh!” seruku, lalu tak lama kemudian jiwa kami bertukar kembali

“Sekarang lo buruan ke rumah gue! Temenin Key terus ya selama di rumah!” pintaku

“Sip!” Malvin pun segera keluar dari kamar, lalu menuju rumahku
-
-
-

Keesokan harinya – Di Sekolah,,,

“Vin, gue sama Hafiz pengen ngmong sesuatu sama lo!” seru Alvid

“Apa?” timpalku

“Gue sama Hafiz sampe’ saat ini masih heran, kok si Naufal kemaren waktu di ruang ganti olahraga sampe’ segitunya belain lo?
Kalian temenan sekarang?” tanya Alvid

Aduuuuhhh… Gue mesti jawab apaan nih?

“Engga’ lah! Mungkin itu akal-akalannya aja! Sapa tau dia sekongkol sama Feldy. Dia cuman mau ngambil perhatian gue supaya gue nyangkanya kalo’ dia care sama gue, trus suatu saat dia bakal ngerjain gue lagi gitu! Kalian dodol banget, gitu aja ketipu?” terangku berbohong

“Wah, bener juga ya! Lo emang jenius banget!” seru Hafiz, diikuti anggukan Alvid

“Udah, ngga’ ada lagi yang mau kalian tanyain?”

“Udah, cuman itu aja!” timpal Alvid, lalu dia dan Hafiz kembali ke bangku mereka masing-masing

Selama pelajaran, aku begitu iri menyaksikan Malvin yang mulai semakin akrab dan dekat dengan anak-anak gengku. Mereka bersenda gurau, curhat-curhatan, ketawa-ketawa, bahkan sampai dimarahi guru gara-gara selama pelajaran rame terus.
Entah mengapa, aku merasa bahwa Malvin sama saja merebut teman-temanku dari tanganku. Aku sadar, itu hanyalah fikiran kekanakanku yang masih ada dalam diriku, juga disisi lain itu hanyalah keegoisanku semata.
-
-
-

Seperti biasa, sepulang sekolah aku dan Malvin berciuman di toilet sekolah. Tak lama kemudian dia segera menuju lapangan basket sekolah dan berkumpul bersama teman-temannya untuk latihan. Sedangkan aku langsung menuju tempat parkir bersama geng Ijo lumut…

“Hari ini latihan kita giliran di rumahnya Tristan ya?” gumamku

“Iya, tapi besok ajach dech latihannya! Kita ke mall ajach yuk?!” seru Sandy

“Ngapain? tanya Tristan

“Beli beberapa kebutuhan buat Boyband kita, trus kita mesti ke salon juga. Kita mesti ganti penampilan kita dan gaya rambut kita! Terutama elo Yan, lo mesti ganti penampilan cupu lo ituch!” terang Sandy

“Ga mau akh! Gue udah nyaman dengan penampilan gue kayak gini!” tolak Fian

“Ichhhh! Penampilan lo tuch cupu and norak bangeeetttzz! Kamseupay banget lah pokoknya!
Lo mau kalo’ julukan udik dan cupu dari anak-anak terus melekat ke elo?
Geng Ijo lumut tuch mesti keren dan gaoul-gaoul anggotanya! Dan anggota geng Ijo lumut yang udik dan cupu tuch cuman elo! lainnya udach okay! Pokoknya lo mesti nurut!” omel Sandy

“Ii… Iya deh! Tapi gue lagi boke’!” gumam Fian

“Tenang aja, masalah uang tuch urusan gue!” seru Sandy

“Beneran? Thanks banget yah, San!” timpal Fian

“Yuhuu!” seru Sandy

“Ya udah, let’s go guys…!” panduku, lalu kami segera mengambil motor dan melaju menyusuri jalanan Surabaya yang pastinya begitu panas saat siang hari. Terik matahari menyengat kulit kami.
Seperti biasa, Sandy mengeluh sedari tadi. Padahal dia sudah memakai hand body yang ada pelindung dari UV A and UV B, juga sudah memakai jaket kesayangannya, namun tmasih saja mengeluh…

Siang ini kami semua sepakat untuk menuju salah satu mall yang terkenal di Surabaya.

Tunjungan Plasa – Surabaya

“Ukkkhhhh! Segeeerrr deh kalo’ udah masuk mall gini!
Sumpah, gue ngga’ betah banget selama di jalan tadi! Panaaaassss…!” komentar Sandy

“Waaaahhhh… Keren banget ya dalemannya! Dari luar aja udah kelihatan mewah dan keren banget gitu!
Gue baru pertama kali ke sini.” komentar Fian

“Oh, iya-ya! Lo ngga’ pernah ke sini. Lo cuman pernah kita ajak ke Royal Plasa doang. Tapi lo jangan malu-maluin gitu dong! Meski lo baru pertama kali ke sini, tapi bersikap biasa aja!” gumam Tristan

“Hehehe… Ya ma’ap!” timpal Fian

“Eh, ikut gue ke toilet dulu dong! Gue kebelet pipis nich, sekalian mau cuci muka biar ngga’ jerawatan, biar kulit gue tetep mulus. Kan tadi abis kena debu dan polusi di jalanan.” seru Sandy

“Gue juga nih, kebelet pipis! Hehehe…” gumamku

“Sip Bos!” seru anak-anak serempak
-
-
-

Di Toilet,,,

“Kalian tunggu sini ya!” pinta Sandy

“Eh, gue ikutan dong! Tiba-tiba kebelet pipis juga nih!” seru Fian

“Ya udah kalo’ gitu!” timpal Sandy, lalu kami bertiga masuk ke dalam. Sedangkan Tristan menunggu kami di luar! Hahahaha… Kasian!

“Wow! Tempat buat pipis sama pup aja keren dan bagus banget! Trus wangi, cling-cling gitu, harum pula! Trus enaknya ngga’ pake’ nimba. Hahahaa…” komentar Fian saat kami memasuki toilet tersebut

“OMG! Astaganaga lady gaga liburan sama olga!
Please dech, lo jangan malu-maluin kita! Kita semua kan udach bilang, kalo’ di mall jangan malu-maluin kita kayak dulu waktu kita di Royal Plasa. Huft!” omel Sandy

“Iya-iya, maaf!” seru Fian, lalu tertawa cekikikan

Kami bertiga pun segera menuju urinal untuk melakukan ritual pipis… Hehehe…
Setelah itu, kami menuju westafle. Sandy segera mengeluarkan sabun pembersih mukanya, lalu segera membersihkan wajahnya. Sedangkan aku tengah mencuci tanganku sembari merapikan rambutku.

“Adduuuuhhh! Ini caranya biar aernya keluar gimana sih? Diputer-puter dari tadi ngga’ bisa-bisa deh! Sebel! Mending di rumah gue, tinggal nimba di sumur!” keluh Fian

“OMG! Urusin temen lo tuch! Ajarin sana! Jangan bikin kita malu lagi!” gerutu Sandy

“Eh, Yan! Bukan diputer, tapi di tekan. Gini nih!” Aku mengajari Fian sembari tertawa cekikikan

“Oh, gitu to? Heheheee…Kirain diputer, kayak yang biasanya gitu! Pantesan gue puter dari tadi sampe’ ngintipin lobang aer kran westaflenya tapi ngga’ keluar-keluar aernya.” gumam Fian

“Ahahahaaa… Gokiel lo, sumpah!
Jangan malu-maluin kita lagi ya ntar!” pintaku

“Sip deh!”

Setelah selesai, aku dan Sandy keluar dari Toilet. Sedangkan Fian masih berada di dalam Toilet…

“Mana Fian?” tanya Tristan

“Katanya nyusul! Masih cuci tangan tadi.” jawabku

Tak lama kemudian Fian keluar…

“Nih, kasihin Mbaknya!” Aku menyodorkan uang seribu untuk Fian, lalu dengan sedikit keraguan Fian menyodorkan uang tersebut

“Ya elah, mau pipis ajah bayar!” bisik Fian

“Ya emang gitu! Di Royal Plasa juga gitu kan?!” timpal Tristan

“Eh, enak banget! Lo bawa tissue? Sini minta!” Sandy melihat Fian yang tengah menggenggam tissue yang cukup banyak, lalu merebut tissue tersebut beberapa potong dan mengelap butiran-butiran air yang masih melekat di wajahnya sehabis cuci muka tadi

“Oh, ini? Gue tadi ambil di toilet!
Ngga’ nyangka, di sana ada tissue banyak banget! Makanya gue tadi lama, cause masukin tissue banyak di tas gue buat jaga-jaga gitu. Kan lumayan!” timpal Fian

“WHAAAATTTT? ! Jadi ini tissue toilet?” pekik Sandy

“Iya, emang kenapa?
Ikh, jangan keras-keras! Ntar Mbaknya tau dan marah gara-gara aku ngambil tissuenya banyakan!” timpal Fian

“Lo dudutz banget sich! Jadi tissue yang gue pake’ ini tissue WC Toilet?” tanya Sandy frustasi

“Iya lah! Emang kenapa?”

“FIIIIIAAAAANNNNNN…!!!” pekik Sandy, lalu membersihkan wajahnya dan kembali masuk ke Toilet untuk cuci muka lagi. Sedangkan aku dan Tristan hanya tertawa lepas di tempat sampai perut kami begitu sakit!

“Emang kenapa sih? Huuhhh! Kenapa sih gue selalu salah di hadapan Sandy!” keluh Fian

“Ahahahaaa… Abisnya lo emang dudutznya parah banget! Makin hari makin paraaaahhhh, sumpaahhh!
Tissue yang ada di WC itu buat pup. Kenapa di pake’ buat bersihin muka? Kan jorok! Ahahahahaaa…
Makanya wajar kalo’ Sandy marah-marah tadi.” terang Tristan

“Oh! Di sini pup nya ngga’ pake’ aer sama gayung dan ember gitu tapi pake’ tissue yang kayak di tipi-tipi itu yah?”

“Iya Fiaaaannnn! Ahahahahaaa… Makanya buang tuh tissuenya! Jorok!” timpalku

“Ah, kan sayang kalo’ dibuang mah! Lagian kan tissuenya modelnya tuh bisa muter gitu! Gulungan gitu tissuenya. Jadi ngga’ bakal lah kena pupnya orang.”

“Ya tapi kan sama aja jorok! Trus bisa aja kena pupnya orang. Bagaimanapun juga kan itu buat pup, jadi tetep aja jorok! Di WC kan banyak bakteri dan kuman!” terang Tristan

“Oh, iya-ya! Tapi gapapa ah! Aku bawa ke rumah ya? Lumayan buat tissue di meja makan. Nyokap pasti seneng karna ngga’ perlu beli tissue lagi!”

“Ahahahahaaa… Apa? Mau dipake buat tissue makan? Gila lo! Bener-bener dudutz sumpah! Wkwkwkwk…
Whatever lah! Lo keras kepala soalnya.” gumamku

“Gilaaa… Makin error aja lo Yan! Ahahahahaaa…” sahut Tristan

“Emang kenapa?”

“Gapapa Yan! Kita sih terserah elo ajah! Ahahahahaaa…” seruku

“Lo nemuin nih anak dari mana sih waktu MOS dulu? Ahahahaaa…” bisik Tristan

“Eh, ngawur lo! Gimana pun juga dia juga temen satu geng kita tau!” bisikku

Tak lama kemudian Sandy keluar dari Toilet dengan wajah kusutnya…

“Lo beneran cuci muka lagi? Ahahahahaaa…” ledek Tristan

“Iyah!” jawab Sandy malas

“Ya udah, kita lanjut yuk jalan-jalannya! Ahahahahaaa…” panduku, sembari berusaha menahan tawaku
-
-
-

Kami berhenti di salah satu optic…

“Ngapain kita di sini?” tanyaku

“Hmmm… Beli softlens buat Fian.” jawab Sandy

“Wah, itu kan mahal! Ngga’ usah deh San, gue ngga’ enak sama lo!” tolak Fian

“Gapapa! Lo tinggal nurut aja sama gue!
Hmmmm… Gue sama anak-anak aja yang milihin warna dan stylenya ya buat lo! Takutknya kalo’ lo yang milih ntar malah jelek dan ngga’ cocok!” timpal Sandy

“Iya San!”

“Lo minus berapa?” tanyaku

“Dua!”

“Oke deh! Kita bakal cariin yang keren dan cocok buat lo!” seruku

Setelah lama memilih-milih, tak lama kemudian kami mendapatkan softlens yang keren dan cocok untuk Fian. Warnanya cokelat madu dengan motifnya yang mengagumkan…
Aku tercengang saat mengetahui harganya. Namun kata Sandy, uang tak menjadi masalah buatnya.

“Lepas kacamata cupu lo ituch!” pinta Sandy. Fian pun segera melepasnya dan memasukkannya ke dalam saku

“Mbak, tolong bantuin pake’nya ya!” pinta Sandy

“Iya! Ehmmm… Silahkan duduk kak!” seru SPG tersebut

“Ah, gue takut!” keluh Fian

“Ngga’ usah takut kak!” seru SPG tersebut sembari tersenyum ramah

“Ii… Iya deh Mbak!” Perlahan SPG tersebut memasangkan softlens itu ke kedua mata Fian satu persatu. Memang sedikit susah untuk memasangkan softlens tersebut pada Fian. Katanya takut ini lah, itu lah, takut matanya ntar kenapa-napa lah… Dasar kamseupay! Hahaha…

Setelah selesai, SPG tersebut mengajari Fian untuk memasang dan melepas softlens juga bagaimana cara untuk merawatnya…

“Okay, thanks!” seru Sandy setelah membayar bill nya

“Wah, keren banget lo sekarang! Ngga’ cupu lagi!” seruku

“Wah, lo jadi tambah cakep! Hehehehe…” sahut Tristan

“Keren banget! Ehmmmm, tinggal style rambut lo doang yang mesti di ubah.
C’mon guys! Kita ke salon!” pandu Sandy

“Yuhuu!” jawab kami serempak
-
-
-

Kami melanjutkan jalan-jalan kami dan berhenti di salah satu salon yang ada di mall untuk merubah penampilan kami, terutama Fian…

Sandy memilih untuk facial, creambath dan potong rambut. Sedangkan aku dan Tristan hanya potong rambut dan facial. Namun di akhir-akhir, aku meminta untuk colouring juga. Sedangkan khusus Fian, dia mesti di make over abiisss... Sandy memberikan perawatan paling banyak untuknya.
Sandy meminta hair styler tersebut untuk melakukan facial dan creambath untuk Fian, lalu meminta hair styler tersebut untuk meluruskan rambutnya, dll.

Beberapa menit kemudian kami bertiga selesai. Tinggal Fian yang masih menjalani perawatan tersebut.
Kami bertiga sengaja menunggunya di Starbucks sembari duduk-duduk dan ngopi-ngopi sebentar.
Aku memesan Cranberry White Chocolate Mocha dan Raspberry Temptation, Tristan memesan Toffee Nut Latte dan Cranberry Scones, sedangkan Sandy memesan Peppermint Mocha dan Strawberry Cream Cheese Cake…


“Penampilan gue udah oke kan sekarang?” tanya Sandy

“Kereeennn! Gaya rambut lo yang baru juga keren!” seruku, diikuti anggukan Tristan

“Thanks!” timpal Sandy puas

“Gue gimana?” tanyaku

“Keren banget Fal! Gue suka sama perubahan style poni, bangs, sama warna rambut lo yang sekarang!” seru Tristan

“Iyah! Warna rambut lo yang baru cocok banget sama lo! Kereeeennnnn…!” sahut Sandy

“Heheheee… Thanks! Ngga’ salah gue tadi milih warna cokelat agak pirang-pirang ini!
Ini paduan antara korean sama american style gitu.” gumamku

“Kalo’ gue gimana?” tanya Tristan penasaran

“Kereeennn! Lo cocok banget sama short spike style gitu! Jadi makin macho dan keren!” komentar Sandy

“Iya, Tan! Gue jadi naksir sama lo nih!” godaku

“Iddiiiihhhh…!” keluhnya

“Justkidd begoooo’! Ahahahahaaa…” seruku

“Eh, Fian lama banget sih!” keluh Sandy

“Sabar-sabar!”

Kami semakin jenuh menunggu Fian…


Lalu tak lama kemudian…

“Eh, guys! Itu Fian bukan?” seru Tristan

“Mana-mana? Gue penasaran sama hasilnya!” seru Sandy bersemangat

“OMG! Gilaaaaa…!” komentarku saat mengedarkan pandanganku dan melihat perubahan Fian

“Dia beneran Fian? OMG!” pekik Sandy tak percaya. Sedangkan aku dan Tristan masih terbengong-bengong melihat perubahan style Fian, sampai-sampai awalnya kami menyangka kalau dia bukanlah Fian
-
-
-

To Be Continued…


_________________

0 komentar:

Posting Komentar