Pages

Perfect World Online Pointer

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 1

Eternal Violin of Symphony (E.V.O.S) – Part 1



Genre                    : Yaoi - Romance Fan Fiction

Author                   : Kiki Wellian S.

Background Song : Yiruma – River flows in you

Contact :

· Fb : Kiki Wellian Delvetian

· Blog : flipflop-delvetian.blogspot.com


*NB : Menerima Segala bentuk pujian, kritikan sopan, dan kritikan pedas tapi membangun. Selamat membaca! ^^”



Ini adalah karya ke dua Kiki. Semoga dapat menjadi cerita yang menarik bagi para pembaca.

Kiki berharap agar cerita ini dapat menjadi cerita yang lebih baik dari sebelumnya.

Selamat membaca… ^.^”

Terimakasih!




~Author P.O.V~


Di danau Vervidia yang cukup terkenal di kota Bulacan, Fillipina. Terdapat seorang remaja laki-laki yang tengah duduk di tepi danau. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari koper hitam nya.

Dia mengambil sebuah biola dan mulai memainkannya dengan tatapan kosong ke arah seberang danau Vervidia. Tampak jelas raut wajah nya yang begitu sedih di sertai tatapan kosong ke arah seberang danau tersebut.


Tak lama kemudian, tetes air mata pun mulai mengalir di pipi lembut nya.


Pandangannya tetap kosong, memandangi kilauan air danau yang di terpa sinar mentari. Sembari memainkan biola nya, dia menangis. Terlihat begitu jelas kesedihan yang amat dalam dan tengah di timpa nya. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke atas langit biru. Memikirkan dan mengenang seseorang yang tengah istirahat dengan tenang di alam sana.



Lalu, terlihat seorang pria berumur 20’an menghampiri anak laki-laki tersebut, dan mengatakan sesuatu dalam Bahasa Tagalog (Bahasa Fillipina).


“Batang master, hana bahay! Nanay naghahanap para sa iyo. Akking lalong madaling panahon upang maihatid ang iyong order, Hindi mo pa kinakain, Ang iyong mama mag-alla.” kata seorang sopir berwajah tampan yang berumur sekitar 20’an. Mengenakan seragam berwarna hitam dan kaca mata hitam nya.


“Yes, Ginoo!” sahut anak laki-laki tersebut, lalu mengusap air mata nya kemudian segera memasukkan biola nya ke dalam koper dan segera masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam.


Translate : “Tuan muda, ayo pulang! Di cariin Mama. Saya di suruh segera nganterin tuan muda pulang. Tuan kan belum makan dari tadi, Mama khawatir sekali.”

“Iya, mas!”


-

-

-

Selama di perjalanan, dia membuka kembali koper hitam yang berisi biola tersebut. Dia memandangi ukiran tulisan yang terdapat di bagian belakang leher biola tersebut :

“To : Euri

Our love always heard in your heart”

-Dad & Mom-



Air mata yang tadi telah terhenti kini tumpah lagi mengaliri pipi hingga dagu nya. Menetes di ukiran tulisan biola tersebut dan mengalir jatuh ke bawah.


“Dad, Really I miss you!” desis nya. Kini air mata nya semakin deras dan menetes satu per satu pada biola tersebut



Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di sebuah rumah mewah berwarna putih yang berada di kota Bulacan, Fillipina.




“Maligyang pagdating” Sapa salah seorang pembantu yang ada di depan pintu rumah mewah tersebut, lalu membukakan pintu dan mengedarkan tangannya, yang berarti ‘silahkan masuk!’


“Yes, Ginoo!” sahut anak laki-laki tersebut


Translate : “Selamat datang Tuan muda”

“Iya, mas!”





Tak lama kemudian, anak laki-laki tersebut yang bernama Euri, mulai melangkah menuju ruang makan dan duduk di salah satu kursi tersebut.




“Mama mana?” tanya Euri pada seorang pembantu yang tengah menyiapkan makanan dan minuman untuk nya ke dalam piring dan gelas kaca


“Seperti biasa nya, Tuan! Nyonya kerja. Namun hari ini berangkat lebih awal. Kata Nyonya, ada meeting dengan Client dari Manila.” kata pembantu tersebut


“Oh!” jawab Euri singkat, lalu mulai menyantap sarapan nya dengan malas, yang telah di siapkan oleh pembantu nya.



Ini adalah tepat 40 hari meninggal nya Tuan Dhanie (Ayah Euri). Seorang pengusaha yang kaya raya dan berbakat dalam bidang nya. Euri tak begitu mengerti terlalu jauh tentang kronologi kejadiannya. Dia hanya tahu bahwa Papa nya meninggal karena kecelakaan dengan mobil seorang pengendara lain. Selama ber minggu-minggu, Euri menghabiskan waktu nya di dalam kamar atau ketika jenuh dia pergi ke Danau Vervidia. Memainkan biola nya dan meratapi kepergian Papa yang begitu di cintai nya.

Euri beserta Keluarga nya benar-benar terpukul ketika mendapat kabar bahwa Papa nya tersebut meninggal dunia karena kecelakaan. Mobil milik Papa nya tersebut terlihat remuk, hancur total.

Wajah Euri terlihat begitu pucat karena jarang sekali makan. Kesehatannya semakin hari mulai semakin memburuk.



Dia baru saja pindah di kota Bulacan, Fillipina. Sebelum nya dia tinggal di Manila, Fillipina bersama keluarga nya sebelum Papa nya meninggal. Mama Euri mengambil keputusan untuk pindah rumah agar tak semakin berlarut-larut dalam kesedihan, karena di rumah lama nya terdapat begitu banyak kenangan-kenangan indah bersama Papa nya yang begitu sulit bahkan takkan pernah bisa di lupakan.

Euri menyetujui keputusan Mama nya tersebut. Sekarang tepat sekitar 10 hari dia dan Mama nya tinggal berdua di rumah ini. Euri sering kesepian berada di dalam rumah besar nan mewah ini. Dia tinggal hanya bersama Mama nya, sedangkan Mama nya sibuk bekerja dari pagi hingga malam hari. Namun, pembantu-pembantu nya begitu prihatin akan keadaan tersebut. Mereka selalu ada menemani Euri, terutama Sopir pribadi nya Euri : Ginoo Andri, yang selalu mengantarkan Euri kemana pun dia mau. Terutama untuk menghibur hati nya yang masih pilu karena meninggal nya Papa nya.

Sudah cukup lama Euri meninggalkan sekolah nya. Dia masih terpukul dengan kejadian tersebut. Dia sering melamun dengan tatapan kosong sembari memainkan biola nya. Mama nya menyuruh nya untuk segera masuk ke sekolah baru nya, namun Euri selalu menolaknya. Akan tetapi, besok senin adalah hari pertama nya masuk ke sekolah baru nya. Dia mulai sadar bahwa Papa nya pasti akan sedih dan kecewa pada nya bila Euri terus larut dalam kesedihan. Oleh karena itu, kemarin dia memutuskan untuk mulai bersekolah. Mama nya begitu gembira dan segera mendaftarkannya di salah satu sekolah terkenal di Bulacan, Fillipina.



Sedangkan biola itu adalah biola pemberian Papa nya yang begitu berharga bagi nya. Benda terakhir yang di berikan oleh Papa nya sebelum Papa nya tersebut meniggal dunia. Dia mendapatkan biola tersebut sebagai kado dari Papa nya ketika dia merayakan Ulang Tahunnya yang ke 17 tahun. Dia selalu memandangi ukiran tulisan pada biola tersebut yang di design khusus untuk nya.


“Me too! My love always heard in your heart Dad!” desis nya ketika mamandangi lagi ukiran tulisan yang ada pada biola tersebut, lalu air mata menetes lagi di pipi nya


-

-

-


Sunday, 06.00 AM


Terdengar alunan musik ‘River Flows in You’…


Euri terbangun dari tidur nya dan mengambil HP nya yang berbunyi tersebut.


“Hallo, sayang?” sapa seseorang di seberang sana


“Hoaammmzzt…!

Iya, Sayang! Ada apa? Tumben pagi-pagi udah telp.?” kata Euri, sembari menyandarkan tubuh nya pada kasur empuk nya


“Aku kangen banget sama kamu! Semenjak kamu pindah ke Bulacan, Aku kesepian.

Kapan kamu ke Manila lagi sayang?” timpal seorang cewe’ cantik yang ada di seberang sana. Tengah mengenakan gaun putih nya sembari duduk di ruang tamu dan menelfon Euri, kekasih nya.


“Aku ngga’ tau. Tapi secepat nya aku akan ke sana buat nemuin kamu sayang, sabar ya!” sahut Euri


“Iya, aku pasti akan selalu sabar nunggu kamu. Really, I miss you baby…” kata cewe’ tersebut, kini air mata mulai menetes dati mata indah nya


“Miss you too… “ sahut Euri


“By the way, gimana keadaan kamu di sana?

Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ya! Aku khawatir banget sama kamu. Aku takut kalo’ kamu sampai sakit!” kata cewe’ tersebut, kini mulai mengusap air mata nya


“Tenang aja sayang, aku udah ngga’ terlalu larut dalam kesedihan lagi. Dan besok senin, aku udah masuk sekolah lagi, di sekolah baru ku.” kata Euri sembari tersenyum simpul


“Wah! Asyik dong, dapet banyak temen baru di sana. Pasti banyak yang pengen deket sama kamu. Aku jadi was-was nih!” celetuk cewe’ tersebut


“Olive sayang, ngga’ usah khawatir ya! Hati Euri cuman milik Olive.” celetuk Euri namun dengan kesungguhan hati


“Ya udah, aku percaya kok sama kamu sayang. Ya udah, aku mesti ke toko buku trus ke gereja nih! kapan-kapan aku telfon lagi… Jangan lupa makan dan istirahat yang teratur ya sayang!” kata Olive, lalu mulai berjalan ke arah mobil merah yang telah di siap kan oleh sopir nya


“Oo, ako talagang sa pag-ibig sa iyo!” kata Euri


“Ako din talagang sa pag-ibig sa iyo!

Bye!” kata Olive, lalu mematikan panggilan dari pnselnya


Translate : “Iya, aku cinta banget sama kamu!”


“Aku juga cinta banget sama kamu! Sampai jumpa!”


-

-

-


Tak lama kemudian, Euri segera mandi dan sarapan pagi. Setelah semua nya selesai, dia melangkah menuju halaman depan rumah dan duduk di dalam jok belakang mobil mewah berwarna hitam.



“Hari ini, kita mau kemana Tuan muda?” tanya Ginoo Andre pada Euri


“Anterin aku ke rumah nya sahabatku!” jawab Euri



Selama di perjalanan, Euri sibuk dengan biola kesayangannya yang tengah mempelajari lagu baru.



“Oh my god! ‘River flows in you’ emang enak banget instrumennya, Tapi rada susah ya! Salut deh sama Yiruma, keren banget bisa nyiptain instrumen seindah ini!” gumam Euri


“Wah, Tuan muda lagi belajar lagu baru lagi ya, hari ini?

Semangat! Tuan pasti bisa!” kata Ginoo Andre yang menyemangati Euri


“Iya, hehehe. Aku selalu dengerin lagu ini kalo’ lagi sedih dan sekarang pengen belajar main’in lagu ini. Tapi rada susah!” gumam nya sembari memandangi nots-nots yang ada pada selembar kertas putih


“Semangat ya, Jangan menyerah! hehehe.” kata Ginoo Andre menyemangati



Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan rumah mewah berwarna abu-abu. Euri segera turun dari mobil nya, lalu di sambut dan di persilahkan masuk oleh pembantu yang ada di rumah tersebut.



“Ganoo, nanti jemput aku jam 12 siang ya!” pinta Euri sopan


“Baik, Tuan muda! Saya pamit dulu!” sahut Ginoo Andre, lalu segera melaju dengan mobil tersebut


-

-

-


“Euri…! Lama ngga’ pernah main ke sini kamu! Apa kabar?” sapa seorang cowo’ yang tengah berada di ruang tamu


“Iya, sob! Hmmm… So well, Hmmm… Kemarin-kemarin masih sedih karena kejadian itu. Tapi sekarang udah ngga’ terlalu larut lagi dalam kesedihan, besok aku udah mulai masuk sekolah!” kata Euri dengan senyum simpul


“Well, that’s great! Gitu dong, itu baru Euri yang aku kenal. Yang selalu tegar hadapin masalah apa pun!” kata Axel, sahabat Euri


“Hehehe… bisa aja, thanks!” timpal Euri kikuk


“Duduk!” pinta Axel sopan



Kini mereka berdua tengah duduk di sofa – Ruang tamu



“By the way, sekolah baru mu di mana?” tanya Axel


“Hmmm… Di Maple Valley – Senior High School.” jawab Euri sembari tersenyum tipis


“Wah! kok ngga’ bilang-bilang dulu ke sahabat mu ini? Itu kan sekolah ku!” gerutu Axel


“Hehehe… jangan manyun gitu ah! kan aku sengaja mau ngasih kejutan!” tukas Euri sembari mengacak-acak rambut Axel


“Huft! Dasar!

Hmmm… Emang Mama mu ngijinin kamu sekolah di situ? Itu kan sekolah asrama.” tanya Axel


“Ngijinin kok! Emang kenapa kalo’ itu sekolah asrama?” kata Euri



Tak lama kemudian, seorang pembantu meletakkan dua gelas orange juice dan beberapa kue di meja. Lalu Euri dan Axel meminum orange juice yang baru saja di letakkan oleh pembantu tersebut.



“Next!

Hmmm… Ya kan kamu anak Mama gitu! Mama mu selalu over protective ke kamu. Ngga’ boleh ini, itu. But, sekarang beliau ngijinin kamu sekolah di asrama? Well, Impossible banget!” kata Axel, lalu memakan kue yang ada di meja


“Justru yang masukin aku ke sana Mama kok!

Mama bilang ke aku, kalo’ dia tuh khawatir banget sama aku dan ngga’ tega lihat keadaan ku akhir-akhir ini. Selama ini aku ngurung diri di kamar, kalo’ ngga’ gitu ya ke Danau Vervidia main biola dan kadang-kadang sambil nangis. Terus jarang makan dan ngga’ ada temen juga di rumah karna Mama sibuk terus sama kerjaan nya. Mama kan jadi tulang punggung keluarga sekarang. Dan karena Mama ngga’ tega lihat keadaan ku kayak gitu, akhir nya dia mutusin buat masukin aku ke asrama aja biar aku ada temen di sana. Gitu!” terang Euri panjang lebar


“Hmmm… keputusan Mama mu adalah keputusan yang baik! Dan sekarang aku seneng banget, karna sahabat lama ku bisa satu sekolah sama aku sekarang!” kata Axel, sembari mengangkat orange juice nya lagi dan mengarahkannya ke Euri, tanda untuk melakukan cheers!



Trinnggg…!



“Cheerrrsss…!” kata mereka berdua kompak!



Lalu mereka berdua tertawa lepas bersama.

Beban yang selama ini di rasakan oleh Euri, serasa hilang sesaat.

Ya, hanya sesaat saja!


-

-

-





Monday, 07.00 AM

at Maple Valley – Senior High School



~Euri P.O.V~


“C'mon! Euri… Kamu ngga’ boleh gugup!” batin ku dalam hati, menyemangati diri ku saat hendak memasuki sekolah tersebut


Semua barang-barang beserta keperluanku telah di siapkan dan di tata rapi di kamar asrama oleh beberapa pembantu ku dan di bantu oleh pegawai sekolah. Namun aku belum melihat kamar itu. Dewan sekolah meminta ku untuk segera masuk ke kelas pagi ini. May, nanti setelah pulang aku bisa melihat kamar ku dan melihat-lihat Dorm di sekolah ini.



Selama dalam perjalanan melewati koridor dan hendak menuju ke loker ku, banyak sorot mata yang memperhatikan ku. Aku berjalan agak gugup dengan tangan yang cukup gemetar!



“Oh my god, kenapa sih mereka ngelihatin aku?” batin ku dalam hati


“Wew… very awesome!” gumam beberapa siswa yang cukup terdengar di telinga ku


“Oh my god! Very Handsome!” kata suara lainnya


“He’s very very cute!” sahut suara lainnya



“Oh my god! There’s a Prince Charming in M.V (Maple Valley) !” gumam seseorang pada teman-temannya, sembari membentuk barisan lingkaran seakan-akan sedang berbisik-bisik


“Mana?” kata suara lainnya


“Itu tuh, yang pake’ tas biru!” sahut suara lainnya


“Dia kayak nya anak baru, aku ngga’ pernah lihat dia di M.V” timpal suara lainnya


“Oh my god! Apa-apaan ini. Bersikap biasa aja dong! Aku kan jadi ngga’ enak!” batin ku



Kini aku semakin gugup ketika sampai di loker dan meletakkan beberapa buku-buku ku



“Well, dari awal turun dari mobil sampai sekarang tepat di depan kelas, mereka ngelihatin aku terus!

Oh my god! aku makin gugup buat masuk ke kelas.” besit ku dalam hati



Tak lama kemudian, bel tanda masuk sekolah berbunyi. Seorang guru wanita setengah baya menghampiri ku yang sedari tadi berdiri di depan kelas ku.



“Kamu anak baru pindahan dari Manila itu ya?” sapa guru tersebut


“Yes, Mom!” jawab ku kikuk


“C’mon, masuk ke kelas!” pinta guru tersebut ramah


-

-

-


“Morning class!” sapa guru tersebut


“Morning Mom!” sapa seluruh siswa serentak


“Hari ini kalian dapat temen baru di kelas ini. Semoga jadi teman yang akur dan saling membantu ya! Jangan ada lagi pertengkaran. Kita semua di kelas ini adalah saudara.

Okay, Euri! Cmon!” kata guru tersebut



Tak lama kemudian, aku masuk ke dalam kelas dengan gugup. Tangan ku lebih gemetar dari sebelum nya.




“Okay, introduce your self!” pinta guru tersebut ramah



Aku mengangguk,,,



“Shut Up!” teriak guru tersebut karena para siswa begitu ribut setelah melihat ku masuk ke dalam kelas

Lalu, para siswa segera diam dan suasana kelas menjadi hening…



“Well, temen-temen… Perkenalkan :

Nama ku : Euri Revin Antaresh, panggil saja Euri

Umur : 17 tahun

Aku pindahan dari Manila, dan aku sekarang tinggal di Plaridel 3rd Street, Bulacan bersama Mama ku.

Hobi : Main biola, menggambar, dengerin musik, etc.” kata ku, lalu aku menundukkan kepala ku. Aku benar-benar gugup!


“Well, kapan-kapan boleh mampir ke rumah mu kan? hehehe.” kata salah seorang siswa


“Udah punya pacar belum?” tanya salah seorang siswa lainnya yang benar-benar mengagetkan ku


“Oh my god! Ini kan sekolah asrama cowok… Dan yang sekolah di sini semua nya kan cowok. Kenapa sedari tadi turun dari mobil hingga saat ini mereka semua memperhatikan ku?

Apa penampilan ku ada yang salah ya?

atau,

Jangan-jangan…” besit ku dalam hati dan terpotong oleh sahut’an siswa lainnya


“Iya nih, Jawab dong! Udah punya pacar belum?” tanya siswa lainnya dengan antusias


“It’s enough! Ngapain sih kalian nanyain hal-hal pribadi kayak gitu? Kalian kan cowok! ! !” omel guru tersebut


“Huuuuu….!!!” celetuk anak-anak sekelas serempak!


“Ngga’ Asyik nih! ! !” kata seorang siswa lainnya


“Huft! Bete dah!” sahut seorang siswa lainnya



“Shut Up! ! !” teriak guru killer tersebut, Kini semua nya benar-benar hening.


“Okay, Hmmm…” gumam guru tersebut sembari mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk yang kosong untuk ku



“ Euri, kamu duduk sama Miguel!” pinta guru tersebut ramah!


“Okay, Mom!” sahut ku



Aku duduk di bangku ke 4 dari depan yang berada di baris bangku tengah kelas ini.

Aku duduk di sebelah seorang cowok berambut hitam, lurus dengan gaya Emo nya.

Sorot mata nya begitu tajam mengarah ke depan kelas, lalu memandangi ku sejenak ketika aku duduk di samping nya.



“Hai, Aku Euri. Kamu?” tanya ku ber basa-basi, sembari mengulurkan tangan ku


“Udah tau!” jawab nya ketus


“Oh, iya! hehe… By the way, nama kamu siapa?” tanya ku lagi. Kini aku menarik lagi uluran tangan ku. Dia benar-benar mengacuhkan ku, Shit!


“Kan kamu dah tau!” jawab nya ketus!


“Oh, Iya… Miguel kan?” tanya ku gugup




Kini dia hanya terdiam. Tak lama kemudian, membuang muka ke arah lain.




“Oh, my god! Ngga’ asyik banget sih tuh cowo’! Dingin banget, ketus, kasar! Nyebelin banget dah!” umpat ku dalam hati



Sepanjang pelajaran, tak henti-henti nya sorot mata anak-anak di kelas ini yang curi-curi pandang ke arah ku.



“Oh my god! kayak nya setelah jam istirahat tiba, aku mesti buru-buru ke toilet. Aku pengen ngaca, apa sih yang salah dengan penampilan ku? !” besit ku dalam hati


-

-

-


Setelah waktu istirahat tiba, aku melangkahkan kaki ku menuju toilet.

Toilet di sini benar-benar bersih dan mewah. Bau nya juga harum.


“Well, ngga’ ada yang salah tuh dengan penampilan ku hari ini.” gumam ku, setelah memeriksa penampilan ku di depan cermin. Lalu, mencuci tangan ku di westafle


Kini, aku melihat pantulan wajah seseorang dari cermin. Dia memperhatikan ku dari belakang ku.

Terus memperhatikan ku, hingga aku gugup dan berniat untuk segera keluar dari toilet ini.



Sreeett…!



Dia menarik tangan ku dan membawa ku menuju ke sisi dinding toilet.



“Eh, What’s up?” bentak ku


“Gapapa. Aku pengen kenalan aja sama kamu.” kata nya di sertai senyum simpul


“A… Aku Euri, 17 tahun, tinggal di Plaridel 3rd street. Udah kan?

Ya udah, aku mau balik ke kelas!” kata ku singkat


“Hmmm… Cakep-cakep tapi cuek banget!” sungut nya


“WHAT EVER!” sentak ku


“Seneng bisa ketemu sama kamu! Lain kali boleh mampir ke rumah mu kan?” timpal nya sembari tersenyum lebar



Aku tak menjawab nya. Aku segera melangkah menyusuri koridor sekolah dan berniat mencari Axel. Kemarin dia memberitahu ku di mana kelas nya.



“Axel C’mon!” teriak ku, setelah melihat nya tengah duduk-duduk di depan kelas nya


“Yup, ada apa sob?” tanya nya, setelah menghampiri ku


“Hmmm… Aku mau nanya sesuatu, tapi jangan di sini. Kamu tau tempat sepi ngga’ di area sini?” tanya ku


“Hmmm… Okay!” sahut nya



Setelah kami berdua sampai di suatu taman yang cukup sepi. Aku mulai mempertanyakan pada nya perihal situasi dan tingkah laku siswa-siswa yang ada di sini. Mengenai mulai dari mereka yang suka memperhatikan cowok dan bahkan aku menceritakan pada nya, bahwa dari tadi aku masuk ke sekolah ini hingga istirahat, banyak sorot mata yang memperhatikan ku. Lalu, tadi ada beberapa cowok yang sekelas bersama ku dan menanyakan apakah aku sudah mempunyai seorang pacar atau belum. Dan baru saja di toilet tadi ada seorang cowok yang mengajak ku berkenalan dan berniat mengunjungi rumah ku.



Axel terlihat begitu gugup dan terdiam. Dia menjauhkan pandangan nya dari pandangan ku.



“Oh, c’mon! Ada apa sih di sini? Jawab!” tanya ku lagi



Tak lama kemudian, dia mulai berbicara. Namun sebelumnya, dia memperingatkan ku agar merahasiakan ini dan usahakan agar acuh menghadapi hal ini.



“Well, gini…

hingga 90% cowok yang sekolah di sini tuh pada ‘belok’. Banyak orang-orang yang tahu mengenai sekolah ini. Tapi, hanya siswa-siswa sekolah sini dan sekolah lain yang tahu. Kalo’ guru sih, ngga’ semua nya tahu! Hanya ada segelintir guru-guru yang tahu dan itu sangat sedikit.” terang nya



Aku terbelalak kaget mendengar hal tersebut. Aku memutar bola mata ku, mengedarkan pandangan ku ke seluruh sudut sekolah.

Lalu kembali menatap Axel…



“WHAT? Kamu serius?” tanya ku gugup


“Aku lebih dari serius Euri…! Dan perihal mereka semua pada ngelihatin dan perhatiin kamu, itu wajar. Mungkin mereka semua pada naksir sama kamu. Kan kamu cakep banget!

Papa mu orang Fillipina, sedangkan Mama mu orang Korea. Well, perpaduan yang yang baik hingga melahirkan seorang cowok secakep kamu!” timpal nya dengan senyuman simpul


“Truss…! Kamu termasuk seperti mereka / ngga’?” tanya ku hati-hati



Kali ini dia semakin gugup dan tangan nya gemetar. Dia tak berani bertemu pandang dengan ku.



“A… Aku…


Ehmmm…!


Iya, Euri… Aku salah satu dari mereka. Aku seperti mereka, Dan aku bakal terima kalau pun seandai nya setelah kamu tahu mengenai hal ini, kamu bakal ngejauhin aku. Asal kamu tahu, aku hanya ingin menjadi sahabat yang bisa selalu jujur untuk mu dan selalu ada untuk mu. Tapi, kalau pun seandai nya setelah kamu tahu hal ini dan kamu ngejauhin aku, gapapa. Aku bisa ngerti itu dan aku ngga’ akan marah sama kamu. Tapi, aku tetep berharap agar kita bisa terus sahabat’an sampai kapan pun.” terang nya



Kini jantung ku benar-benar berdegup kencang. Aku benar-benar kaget mendengar fakta dari sekolah ini beserta pengakuan dari sahabat ku bahwa dia salah satu dari mereka.



“Ngga’…! Aku ngga’ akan ngejauhin kamu. Aku nerima kamu sebagai sahabat ku apa ada nya. Dan aku, ngga’ pernah malu punya sahabat seperti mu apalagi sampai berniat buat ngejauhin kamu!

Jutru, aku bener-bener bangga dan salut punya sahabat seperti mu. Selama ini kamu selalu ada buat aku pas aku lagi sedih dan seneng! Sekali lagi, aku ngga’ akan pernah ngejauhin kamu! Aku terima apa pun keadaan kamu. Karna sahabat yang baik, adalah yang bisa menerima kita apa ada nya.” terang ku panjang lebar

Kini dia memeluk ku sebentar, lalu tersenyum lebar.


-

-

-


Monday, 15.14 PM



Sepulang sekolah, aku segera melihat kamar ku di Dorm, istirahat sejenak, menata beberapa baju-baju ku yang belum aku tata, lalu bergegas mandi. Setelah itu, aku berniat menemui Axel di kamar nya. Kami berada dalam satu Dorm yang sama.


Selama aku berjalan melewati koridor Dorm untuk menemui Axel, terdapat beberapa sorot mata yang memperhatikan ku selama aku melewati tiap-tiap kamar yang ada di sini.

Lama-lama, aku merasa risih dan takut juga apabila mereka bisa saja berniat buruk pada ku. Tapi aku tetap mencoba tetap berfikir positif.


Hingga saat aku berjalan hampir dekat dengan kamar nya Axel dan hendak berbelok ke kanan. Aku di kejutkan oleh gerombolan cowok-cowok di depan ku. Aku di hadang oleh 5 orang cowok yang menurut ku semua nya begitu tampan.



“Heh, ikut kami!” bentak salah seorang cowok yang berdiri di tengah-tengah gerombolan tersebut


“Ngapain?” tukas ku


“Udah lah, ngga’ usah cerewet! Cepet ikut kami!” bentak seorang cowok lainnya



Sekitar 2 menit, aku dan mereka ber-lima adu mulut. Dan pada akhir nya, mereka menyeret dan membawa ku paksa ke dalam kamar salah seorang dari mereka.

Ada beberapa sorot mata yang mengetahui kejadian tersebut. Namun mereka semua ketakutan saat melihat gerombolan cowok-cowok itu. Tak ada yang berani membantu ku, meski pada dasar nya beberapa dari mereka sangat ingin membantu ku.


“Eh, kamu anak baru, jadi ngga’ usah ngesok di M.V!” bentak seorang cowok berambut spike


“Bodo amat! Lagian, sapa juga yang ngesok? ! Aku biasa aja tuh!” sungut ku


“Cuih! berani banget kamu ngelawan dan ngebentak-bentak kayak gitu! Kamu ngga’ ngerti, siapa kami! !” sahut cowok lainnya, berambut emo


“Ngga’ tau! Emang kalian siapa?


Oh, aku tahu! Kalian tuh cuman cowok-cowok sok kegantengan yang ngesok dan sok kuasa di sini!


Cowok-cowok macam kalian, di pelosok-pelosok desa tuh banyak banget!” ejek ku


“C’mon Key! Kita kasih dia pelajaran!” gumam cowok lainnya yang berambut spike



Sepertinya cowok tampan bernama Key, yang berambut coklat dan model nya ala korea itu ketua dari geng tersebut.



Lalu, Key menarik kerah baju ku dan menatap ku tajam. Mata nya terlihat begitu ber api-api, siap meledakkan semua amarah yang sedari tadi di bendung nya.


Tangan kanan nya menarik kerah baju ku, sedangkan tangan kiri nya menjambak rambut ku dengan begitu kasar


“Sakit bego’!” sungut ku, sembari mendorong nya hingga tersentak ke belakang


“Mau kalian semua apa sih?” bentak ku


“Kita semua cuman nyuruh supaya kamu ngga’ ngesok di sekolah ini. Kamu cuman anak kemarin sore!” ancam seorang cowok berambut spike, lalu tangan kanan nya menekan pipi kiri dan kanan ku hingga pipi ku terasa begitu sakit, karena tertekan dan mengenai area rahang ku.


“Arrrggghhh…!” lenguh ku kesakitan


“Oke, Lagi pula aku ngga’ pernah ngerasa ngesok kok di sekolah ini. Mereka aja tuh yang merhatiin dan ngelihatin aku. Sekarang, cepet lepasin!” bentak ku


Tak lama kemudian, mereka mengeluarkan ku dari kamar tersebut.


Aku berjalan malas menuju ke kamar nya Axel.


Setiba nya di sana, aku curhat tentang semua yang baru saja terjadi.


Axel merasa begitu iba dan bersalah pada ku, karena belum menceritakan tentang Geng tersebut.


“Emang, mereka tuh Geng apa’an sih? Kok di takuti di sini?” tanya ku


Axel hanya terdiam dan menatap ku lekat…


-

-

-


To be continued

0 komentar:

Posting Komentar